PASSION

PASSION
32. Melihat Hantu



"Apa aku akan mendapatkan cucu secepat ini???" Ayah Imran menatap wajah Malik serius.


Malik terbelalak.


"Gosip apa ini?" pikirnya.


"Bukan, ayah! Sis Sara tidak hamil. Tapi dia akan sekolah di kampus A! Kampus impian sis!!!" Rena dengan cepat menjelaskan pada ayahnya.


Malik memejamkan matanya dan bernafas dengan lega. Sebelumnya ia berpikir kalau Sara telah membuat hoax tentang kehamilan.


"Benarkah? Semua pasti karenamu, kan Malik?" Ibu langsung menebak.


"Tidak perlu ditanya lagi, itu sudah pasti." ayah Imran tertawa terkekeh-kekeh.


Malik menanggapinya hanya dengan tersenyum tipis.


Adhitia keluar dari dapur diikuti oleh Sara sambil mengelap dan menutupi mulutnya.


Malik menatap mereka dengan pandangan penasaran.


"Apa yang telah mereka lakukan di dapur barusan? Dasar cabul!" gerutu Malik dalam hati.


"Sayang, apa kau akan pulang bersamaku?" tanya Malik sambil terus tersenyum.


"Aku rasa tidak. Ada yang harus di urus di kampus sebentar lagi." jawab Sara.


Adhitia melangkah keluar menuju tempat mobil diparkir.


"Sis, ajak aku ke kampus itu, please! Aku penasaran sekali dengan kampus elite itu." rengek Rena sambil bergelayut manja di lengan Sara.


"Boleh, asal kau jangan berulah di sana." Sara menuruti keinginan Rena.


"Siap!!" ucap Rena bersemangat.


Mendengar kalau Sara akan pergi bersama Adhitia disertai Rena, membuat Malik sedikit bernafas lega.


Sesaat tadi Malik berpikir kalau Sara hanya mencari alasan untuk berduaan dengan Adhitia dan meneruskan perbuatan mereka di dapur tadi. Ternyata ia salah. Sara memang akan ke kampus untuk urusan belajarnya.


"Baiklah. Aku akan menelepon Romi untuk menjemputku di sini." kata Malik.


"Kau akan pergi sekarang?" Ayah Imran bertanya khawatir. Khawatir kalau permainan catur mereka akan berhenti di tengah jalan.


"Bagaimana kalau Ayah bermain catur dengan Dad? Aku akan mengantar Ayah ke rumah." usul Malik.


"Waaaahhhh.....Tuan Sultan bukan tandinganku. Level Dad-mu tingkat master, aku hanya Newbie." Ayah Imran mengelak mundur.


Malik tertawa mendengar itu.


"Kalau tidak belajar dari master, kapan newbie ini akan naik level?" Sara duduk mendekati Ayahnya.


"Betul itu!" Rena dan Ibu menyetujuinya.


"Selama ini Ayah selalu menang melawan kami karena kami tidak mengerti, kan?" tambah ibu.


"Baiklah..Baik!" Ayah Imran menuruti mereka.


Malik segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon asisten Romi.


*****


Mobil mewah putih milik keluarga tuan Sultan yang biasa membawa Sara memasuki halaman parkir di sebuah kampus besar nan megah.


Begitu mesin mobil berhenti, Sara segera keluar sambil membawa tas dan berkasnya.


"Apa perlu kutemani, senior?" Adhitia menawarkan bantuan.


"Tidak perlu. Aku hanya sebentar." jawab Sara sambil melambaikan tangan dan berbalik menuju ke sebuah gedung di komplek belajar itu.


Rena yang duduk sendirian di bangku tengah mulai membuka suara.


"Bro, apa kau sudah punya kekasih?" tanya Rena tiba-tiba.


"Ada apa, Rena? Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?" Adhitia balik bertanya.


"Kau tau, Aku dan sis Sara adalah saudara kandung. Aku dan sis Sara juga tidak berbeda jauh dari penampilan dan fisik." Rena menggeser duduknya pindah ke bangku kosong di sebelah Adhitia.


"Daripada bro mengejar sis Sara yang sudah resmi menjadi milik pria lain, mengapa bro tidak mencoba menjalin hubungan denganku." Rena dengan gamblang menembak perasaan Adhitia.


Adhitia terkejut dengan ucapan Rena. Dengan cepat ia menoleh dan melihat ke arah Rena.


Rena mendekatkan wajahnya dan memberi senyuman teramat manis.


"Apakah kau mengatakan hal sebenarnya yang ingin kau katakan?" Adhitia bertanya.


"Tentu saja. Aku menyukai bro Adhi sejak awal, hanya saja aku tidak berani karena hubungan bro dan sis Sara." tangan Rena sudah berani menyentuh paha Adhitia.


"Memang..ada kemiripan di wajah ini.." ucap Adhitia penuh kelembutan.


Rena tersenyum lebar. Wajahnya bersemu malu.


"Tapi..." Adhitia menguatkan jemarinya dan mencengkeram wajah Rena.


"..ada alasan kuat kenapa aku masih mengejar Sara. Dan kau jangan coba-coba menjauhkanku darinya!!!" ucapan lembut Adhitia berubah menjadi tajam dan sedikit mengancam.


Rena meringis kesakitan. Kedua tangannya menahan lengan Adhitia agar melepaskan cengkraman dari wajahnya. Tapi tenaga pemuda itu lebih kuat.


"M-maaf.." Rena berusaha bicara.


Adhitia mendorong wajah Rena dengan kasar dan melepas cengkeramannya. Rena memegangi wajahnya yang terasa kram karena tekanan jemari Adhitia yang begitu kuat.


"Jangan pernah ada di antara urusan aku, Sara, dan Malik." ucap Adhitia dengan raut muka tegas dan dingin.


Rena terkejut karena Adhitia berani menyebut Malik tanpa sebutan tuan seperti biasa.


"Dan jangan pernah lagi kau mendekati pria lain seperti tadi. Kali ini aku tidak akan menceritakan kelakuanmu ini pada Maheer!!" ancam Adhitia.


Mendengar nama Maheer, Rena makin terkejut. Bagaimana bro Adhitia tahu tentang Maheer?.


Maheer adalah kekasih Rena sejak setengah tahun lalu. Mereka menjalin hubungan backstreet. Rena dan Maheer satu kelas di sekolah. Rena tidak pernah menceritakan tentang Maheer pada siapapun termasuk pada Sara. Jadi Rena bingung bagaimana Adhitia bisa tahu tentang Maheer padahal Adhitia tidak pernah terlihat di sekolahnya.


"Maaf, bro." ucap Rena dengan nada menyesal dan takut.


"Kembali ke tempatmu. Sara akan segera datang!" perintah Adhitia.


Rena menurutinya tanpa berkata-kata.


Jantung Rena berdegup kencang. Nafasnya sulit diatur kembali. Ia tidak menyangka kalau Adhitia akan bersikap dingin dan kasar padanya. Pemuda berwajah manis dengan senyum hangat itu ternyata menyimpan sisi dingin dan susah ditebak.


Benar kata Adhitia, tak lama Rena kembali ke bangku belakang, Sara kembali ke mobil dan duduk bersebelahan dengan Rena.


"Maaf, apa aku terlalu lama?" ujar Sara saat masuk ke dalam mobil itu.


Rena menggeleng dengan cepat.


"Tidak, sis.," jawabnya.


"Selanjutnya kita akan kemana, senior?" tanya Adhitia pada Sara.


"Bagaimana kalau kita pergi ke bioskop? Kau mau kan, Rena?" usul Sara.


"Aku..tiba-tiba tak enak badan, sis. Mungkin lain kali. " Rena menolak.


Sara melihat kegelisahan di wajah dan bahasa tubuh Rena.


"Kau kenapa? Apa kau melihat hantu?" tanya Sara khawatir.


Rena melirik ke arah Adhitia. Adhitia menatapnya tajam dengan tatapan dingin melalui kaca spion depan.


"Mungkin iya. Aku tak suka tempat ini. Aku ingin pulang, sis." pinta Rena merengek.


"Baiklah. Kau mau pulang sekarang atau pulang bersama ayah? Saat ini ayah ada di rumah tuan Sultan, kau bisa beristirahat di kamarku sambil menunggu ayah selesai bermain catur dengan tuan Sultan?" Sara mengingat-ingat.


"Tidak! Aku cuma ingin pulang!" Rena mulai terlihat jelas panik dan sedikit berteriak.


Mendengar suara Rena yang berteriak pada Sara, Adhitia berbalik dan menggertak.


"Kau...!"


Rena bercepat menyembunyikan wajahnya di dada Sara.


"Okay...Okay...kita pulang sekarang." . Sara memeluk dan membelai kepala adiknya dengan sabar sambil mengangguk pada Adhitia.


Adhitia membetulkan posisi duduknya dan mulai mengaktifkan mesin mobil, lalu menjalankannya keluar dari area parkiran menuju jalanan kota.


*****


****


***


**


*


Adhitia