PASSION

PASSION
50. Dilema



Malik menatap Sara lekat-lekat.


"Apa yang kalian lakukan di rumah sakit? Kenapa Adhitia tidak mau kau menceritakannya? Apa itu sangat pribadi?" curiga, ia menghujani Sara dengan banyak pertanyaan.


"Kau tahu, di pasar oleh-oleh tadi ada beberapa pemuda yang mencegat kami." Sara mulai bercerita dengan penuh antusias, seraya menarik Malik untuk duduk di kursi dan mendengarkan ceritanya.


"Tiga pria?" tebak Malik.


"Hah! Bagaimana kau tau? Apa kau membawa cctv ke pulau ini?" Sara menatapnya takjub.


Malik tersenyum, lalu menggeleng.


"Dan seperti kejadian-kejadian sebelumnya, Adhitia selalu bisa menyingkirkan mereka dengan mudah!" Sara meninju-ninjukan tangannya, menirukan gaya Adhitia berkelahi.


"Tentu. Dia hero- mu." respon Malik dengan sebelah alis terangkat.


"Kau tidak mempercayainya?"


"Aku percaya padamu." ucap Malik, berpura-pura antusias kembali.


"Kau tahu, Malik? Kenapa Adhitia memakai kacamata hitam hari ini? Karena mata kanannya terkena serpihan kaca lampu yang dipukulkan oleh para begundal tadi." cerita Sara kembali menggebu.


Malik mengganti posisi duduknya. Wajahnya menjadi tegang.


"Kau yakin?" Malik memastikan.


"Aku melihatnya sendiri. Aku dan seorang supir taksi mengantarnya ke rumah sakit. Adhitiaku memakai perban di mata kanannya. Karena itu dia membeli kacamata itu."


Malik tertegun.


"Jadi, bukan kau yang membelikan untuknya?"


Sara menggeleng.


"Aku terlalu panik.Aku tidak berpikir kesitu." jawab Sara lirih.


"Kau pasti sangat lelah. Beristirahatlah!" usulan Malik terdengar seperti perintah.


"Kau benar. Aku terasa lemah sekali akhir-akhir ini. Mungkin karena aku terlalu bersemangat di awal." Sara menuruti usulan Malik.


"Baiklah, aku pergi dulu. Jika kau perlu sesuatu, telpon aku. Jangan hubungi Adhitia." Malik beranjak dari kursinya.


"Kenapa?" Sara heran.


"Karena superhero-mu itu pasti perlu istirahat, kan? Dia terluka. Kita berikan dia waktu untuk mengurus matanya." jelas Malik dengan penuh kebijakan.


Tersenyum, Sara mengagumi pemuda itu setelah kekagumannya tertuju pada ayahnya dan Adhitia.


"Terima kasih." ucapnya lirih.


Malik menoleh, memergokinya sedang menatap dirinya tanpa berkedip.


"Jangan menatapku seperti itu, atau aku akan benar-benar menjadikanmu seorang istri sepenuhnya." seperti biasa, Malik memberinya tatapan tajam dan jahil.


"Kuanggap itu lamaranmu yang kedua. Saat kau mengatakan hal seperti itu untuk ketiga kali nanti, aku akan mengatakan 'Iya!' padamu." Tanpa berkedip, Sara dengan percaya diri mengatakan itu.


Malik terkejut mendengar itu. Namun beberapa detik kemudian ia tergelak keras.


"Astaga! Kera tak tahu malu! Sejak kapan mulutmu bisa bicara selincah ini?"


"Adhitia sering bicara seperti itu." jawab Sara lugu.


"Adhitia?"


"****! Kenapa hal yang negatif mudah sekali dicerna di otak gadis ini! Adhitia benar-benar membawa pengaruh buruk untuknya!!"


Malik mengumpat dalam hati.


***


TRIIINGG!


Pintu lift terbuka saat Luna mencoba melarikan diri dari pemandangan yang membuat pikiran dan hatinya kacau.


Bagaimana tidak kacau, pria yang selama ini selalu berpegang pada ucapan dan janjinya untuk setia, hari ini pria itu memeluk gadis lain dengan mesra di kamar gadis itu.


Dengan kepala tertunduk, ia melangkah keluar lift untuk mencari udara segar di pesisir pantai. Sam yang melihatnya bersikap tidak biasa, mendekati seorang pelayan hotel dan berbisik,


"Awasi wanita itu. Saat aku bertanya tentangnya, kau harus tahu!" sambil menunjuk ke Luna.


"Baik, Sir." Pelayan itu menyanggupi perintah Sam.


Sam menyapa Malik yang baru saja keluar dari kamar Sara.


"Bro, tunggu!"


Malik hanya menghentikan langkahnya tanpa balik menyapa Sam.


Sam menatap ke pintu kamar Sara dan wajah pemuda beralis tebal itu berulang kali.


"Kau dari sana?" tanya Sam seraya menunjuk ke kamar Sara.


"Iya."


"Bagaimana dia?" Sam mencoba mencoba memperlihatkan simpatinya.


"Dia sedang istirahat, ia sangat kelelahan." Malik menjawab sambil melangkah menuju kamarnya dan Luna.


Sam menahan lengannya yang ingin membuka pintu,


Malik menatapnya dengan tatapan tajamnya, menunjukkan ia tidak suka pada pertanyaan Sam.


"Apa yang kau pikirkan?" Ia balik bertanya.


Sam menyunggingkan senyuman tanpa makna.


Malik lanjut membuka pintu kamarnya saat Sam tidak memberikan jawaban.


"Oh, Malik. Para pelayan hotel di bawah bergosip kalau kau menarik dan memaksa istrimu untuk melayanimu. Mana aku tahu kalau itu salah!" cerita Sam, mengikuti langkah Malik masuk ke dalam kamar.


"Aku lelah, Sam! Aku tak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah." keluh Malik, langsung merebahkan diri di atas ranjang berukuran double deluxe di sana.


"Kau tahu, sejak dulu aku tidak pernah tertarik dengan sesuatu yang bukan milikku. Lagipula gadis itu sama sekali bukan gadis idamanku. Lalu kenapa aku bertingkah seperti tubuh ini bukan milikku lagi?! Hati ini berontak saat ia menyebut nama pemuda lain." Malik mencurahkan perasaannya.


Sam menarik sebuah kursi ke pinggir ranjang, mendudukinya dan menumpangkan kedua kakinya di tepi ranjang, berdekatan dengan Malik.


"Kau mengakuinya." Sam meyakinkan perasaan Malik.


"Mau tidak mau. Sadar atau tidak sadar, gadis itu telah mengikat pikiranmu. Hanya kau saja yang terlalu kaku dan terlalu memegang prinsipmu." lanjutnya.


"Entahlah." Menggelengkan kepala pelan, Malik masih menyangkal asumsi itu.


"Aku merasa, ada sesuatu yang harus aku lindungi dari Sara. Aku tahu ada yang tidak beres dengan Adhitia. Kedatangannya yang tiba-tiba, cerita tentang masa lalunya, sikapnya yang arogan yang ia sembunyikan dibalik kepolosannya. Aku tahu pemuda itu tidak selugu yang ditunjukkan."


Sam mendengarkan dengan seksama.


"Jika Sara terlalu jauh mencintainya, aku takut gadis itu akan kecewa dan merana." lanjut Malik.


"Bagaimana dengan Luna?" tanya Sam.


Malik menoleh ke arahnya.


"Apa maksudmu?"


"Kau pikir gadis itu tidak akan bersedih dan merasakan patah hati saat tahu kalau kau terlalu jauh memperhatikan Sara? Jika harus memilih, siapa yang akan kau pilih? Sara atau Luna?" Sam terus memberikannya pertanyaan pilihan.


Malik berpikir sesaat. Bagaimana dia bisa melupakan perasaan gadis yang telah menemaninya sepanjang tahun ini. Gadis yang ia renggut kesuciannya saat mabuk. Gadis yang kuat, yang terus bertahan di sisinya meski ayahnya menolak kehadirannya mentah-mentah. Gadis tabah yang masih mau memberikannya malam-malam yang indah meski harus melihat prianya bersanding dengan wanita lain.


Malik menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang lebar dan kekar.


"Aku dalam dilema ini, Sam! Karena itu, bantu aku!"


Sam menertawakannya dengan penuh ejekan.


"Cara memohon yang salah, tuan arogan!".


Malik tidak menanggapi ejekan Sam. Ia teringat sesuatu.


"Adhitia!" serunya.


"Sara bilang kalau mereka diganggu oleh preman di pasar pusat oleh-oleh. Karena melindungi Sara, Adhitia terkena pecahan kaca lampu di mata kanannya." lanjut Malik.


"Kejadian di pasar pusat oleh-oleh ya?" Sam merogoh ponselnya dari saku celana dan mulai mengetikkan sesuatu di layar.


"Mereka naik sebuah taksi menuju rumah sakit terdekat." Malik menambahkan.


"Okay...." Jari jempol Sam menari lincah di atas tuts keyboard ponsel canggihnya.


"Kita tinggal menunggu laporan dari polisi tentang kebenaran kejadian ini." Sam kembali menyimpan ponselnya di saku kembali.


"Aku harus menemui Adhitia." beranjak, Malik bergegas untuk menelpon Adhitia.


"Dimana kau sekarang? tanya Malik saat ia berhasil menghubungi Adhitia.


"Aku ada di kamar, tuan." terdengar jawaban suara Adhitia.


"Okay, tunggu aku di sana!" setelah berkata demikian, Malik menutup panggilan ponselnya lalu berjalan ke luar kamar, meninggal Sam sendirian di sana.


"Ya ampun! Dia anggap aku ini apa?!" gerutu Sam kesal, lalu ikut beranjak dan melangkah keluar kamar sambil bersenandung keras, menyindir Malik.


Ada apa dengan janji itu?


Dengan sumpah itu?


Dengan perhatian itu?


Hari disaat hatiku melupakanmu


Itu akan menjadi hari terakhir dalam hidupku


Ada apa dengan janji itu?


*****


****


***


**


*


Mallk