
*****
Sara menatap wajah Malik seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, mengisyaratkan pada Malik untuk menunda keberangkatan.
"Jika dia tidak ada, aku takkan pergi!! " Teriak Sara di dalam hatinya.
Malik menghela napasnya dengan berat.
Lalu berkata pada pramugari,
"Tunggu sebentar lagi."
"Baiklah, tuan Malik. Akan saya sampaikan pada pilot." jawab pramugari manis itu lalu meninggalkan Malik, menuju ruang kendali pilot.
Malik kembali memejamkan matanya tanpa mengubah posisi duduknya.
Sara pun kembali bersandar di kursinya sambil terus meminta kedatangan kehadiran Adhitia pada Tuhan.
'Tolonglah ya Tuhan! Adhi, aku takkan memaafkanmu jika kau biarkan aku sendirian di Maldives!!!!" ocehnya sendirian.
Sepuluh menit kemudian pramugari tadi kembali menghampiri Malik. Ekor mata Sara terus mengikuti langkahnya.
"Tuan, kita tidak bisa menunda lagi. Jadwal penerbangan hari ini sangat padat. Jika kita menunda lagi, pihak bandara tidak akan menyukainya." kata pramugari itu.
Sara bertambah tegang.
Malik menatap Sara dalam, seakan berkata,
"Maaf. Aku tak bisa berbuat lebih!"
"Tuan Malik..." panggil pramugari itu.
"Baik. Kita berangkat sekarang!" putus Malik.
Sara tersandar kembali karena lunglai. Tubuhnya lemas serasa tanpa belulang.
Wajah dan matanya memerah, serta air mata yang ia tahan sejak kemaren siang pun tumpah tak kuasa terbendung lagi.
Pramugari yang lain memberi peringatan tentang sabuk pengaman dan lain sebagainya menandakan pesawat akan lepas landas. Tak lama kemudian terasa kalau pesawat mulai bergerak.
"Maaf, tuan! Bagaimana anda bisa di sini? pesawat ini disewa secara pribadi!" terdengar suara ribut-ribut dari arah pintu belakang, tak jauh dari tempat duduk Malik.
"Nona, aku ikut di pesawat ini! Ini tiketku!"
Mendengar suara itu, serta merta Sara berdiri dan berbalik ke arah suara.
Malik heran karena melihat Sara berdiri dan langsung mengembangkan senyumnya di antara deraian air mata. Pria itu ikut menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang berbicara dengan pramugari.
Dilihatnya Adhitia menyandang tas ransel, berdiri di sebelah pramugari yang mengecek tiket dan paspornya.
"Baiklah, tuan. Anda bisa duduk. Pesawat sebentar lagi lepas landas." pramugari itu menyerahkan tiket dan paspor Adhitia.
Pemuda itu berjalan dan berhenti di kursi Malik.
"Maafkan aku, tuan Malik. Aku salah masuk gate! " ujarnya.
Malik melepas sabuk pengamannya dan berdiri menghadap Adhitia.
PLLAAKK!!
Malik memberikan Adhitia tamparan yang sangat kuat di wajahnya karena alasan konyol itu.
Sara dan Luna terkejut akan perlakuan Malik. Adhitia hanya pasrah dan tidak berkata apa pun lagi.
"Terlambat satu menit lagi, akan kulaporkan kau ke polisi karena membuat jadwal bandara kacau!!" ucap Malik dingin namun penuh kemarahan terpendam.
"Terima kasih, tuan!" Adhitia malah tersenyum dan menjabat tangan Malik yang telah memberi tanda merah di wajahnya.
"Cepat, duduklah di dekatnya.". Malik menyuruhnya segera menemui Sara.
Tanpa menunda lagi Adhitia langsung berlari mendekati Sara dan langsung memeluk erat tubuh gadis itu.
"Maafkan aku karena membuatmu gelisah." bisik Adhitia padanya.
"Jangan kau ulangi lagi! Atau aku akan membencimu seumur hidupku!" ucap Sara manja dan sedikit merajuk.
Adhitia tersenyum dan berkata,
"Tidak akan lagi. Maaf!"
Adhitia segera mencium kening Sara dengan lembut.
" Hei!! Halo!! Duduk dan pakai sabuk pengaman kalian. Masih banyak waktu untuk itu nanti saat kita tiba di Maldives!!!" teriak Malik jengkel karena melihat kemesraan Sara dan Adhitia secara jelas.
Adhitia dan Sara tertawa bersamaan lalu menuruti perkataan Malik.
"Pamer!!" celetuk Malik.
Namun senyum kecil tersungging di sudut bibirnya dan ia kini bisa bernapas dengan lebih santai lagi.
Pesawat itu pun terbang membawa mereka menuju Maldives dengan nyaman dan tanpa kendala.
*****
Perjalanan udara dari kota B menuju Maldives memakan waktu 3 jam lebih. Sepanjang waktu itu Sara terus menempel dan merebahkan kepalanya di bahu Adhitia yang kian hari makin berisi otot dan keras. Tampaknya sehari tidak melihat pemuda itu membuatnya sangat gelisah. Itu membuktikan kalau cinta Adhitia telah menjadi candu baginya.
Bandara dan Male (ibukota Maldives) terletak di dua pulau yang berbeda. Setelah mendarat di bandara, Malik tidak menuju hotel. Ia mengajak Luna, Sara, dan Adhitia makan siang di sebuah restoran terdekat bandara.
Sesekali Malik menatap ponselnya dan menulis sesuatu di situ.
"Mengapa kita tidak makan siang di hotel saja?" tanya Luna yang tampaknya tidak berselera dengan menu seafood di restoran itu.
"Tujuan kita berbeda. Aku akan langsung ke pulau Guraidhoo untuk urusan bisnis, sedangkan kalian akan diantar ke pulau Maafushi oleh sahabatku, Sam." jawab Malik santai sambil menikmati makan siangnya dengan lahap.
"Kau langsung memikirkan bisnis?" tanya Luna terkejut.
"Hanya satu malam saja, honey! Besok aku akan menyusul kalian di Maafushi. jawab Malik sambil mengusap kepala Luna dengan lembut.
"Apa yang akan kami lakukan di sana?" tanya Sara pada Malik.
Malik bingung.
"Aku? Aku belum pernah ke sini. Aku tidak tahu harus jalan-jalan kemana." jawab Adhitia lugu.
"Kalau begitu kalian harus menunggu Sam." sahut Malik santai.
Tak lama kemudian seorang pemuda berwajah oriental mendekati meja mereka dengan membawa buket bunga dan senyum lebar.
"Bro Malik?!" sapanya.
Malik menoleh dan berdiri dari duduknya.
"Sam??!!" serunya girang.
Mereka lalu berangkulan sambil tertawa lepas.
"Astaga!!! Aku sangat terkejut hingga hampir terkena serangan jantung saat kau menghubungiku." ucap Sam berlebihan.
Malik menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ada hal apa?" tanya Sam langsung to the points.
"Kita bahas itu nanti. Aku bersama mereka." sahut Malik.
Sam langsung menoleh ke arah Sara.
"Ini nyonya Malik. Aku sering melihatmu saat video call dengan Malik beberapa waktu lalu." Sam bersikap sok akrab dan memberikan buket bunga pada Sara.
Pemuda yang tingginya hampir sama dengan tinggi Adhitia itu langsung mendekat dan hendak memeluk Sara. Namun Adhitia langsung berdiri dan menghalanginya.
"Itu Adhitia. Pengawal pribadi istriku." Malik memperkenalkan Adhitia pada Sam.
Sam menatap Adhitia heran. Lalu Adhitia menjabat tangannya dengan singkat.
"Ini Luna, kekasihku." Malik juga memperkenalkan Luna pada Sam. Kali ini Sam tidak bersikap sok akrab.
"Wow, bro! Tunggu dulu!" Sam jelas terlihat bingung.
"Kau berbulan madu di sini bersama istrimu..membawa kekasihmu, juga pengawal istrimu yang protektif ini? Kalian swinger??!" Sam menebak.
Malik memukul kepala Sam dengan keras.
"Jaga bicaramu!!!" bentak Malik.
"Sorry, bro." ucap Sam menyesal dengan mata polosnya.
"Maaf aku tidak membawa bunga lebih untukmu, nona." ucap Sam pada Luna dan mengulurkan tangannya. Luna menerima kabar tangan Sam sambil tersenyum.
"Tidak perlu. Terima kasih." jawab Luna ramah.
Malik menarik Sam menjauh dari meja makan mereka.
"Aku harus segera ke Guraidhoo saat ini juga. Jaga mereka, terutama istriku. Bawa mereka ke hotel Kaani di Maafushi."
"Istrimu kan sudah punya pengawal. Aku hanya perlu menjaga kekasihmu." bantah Sam.
"Jangan pura-pura bodoh!!! Otakmu tidak tergerus abrasi ombak di sini kan?" bentak Malik.
Sam terdiam dan melirik ke arah Adhitia yang sedang menyuapi Sara.
"Besok aku akan menyusul ke Maafushi." lanjut Malik.
"Baiklah. Aku sudah siap dengan private boat untuk ke Maafushi." sahut Sam serius.
"Bagus. private boat-ku sudah menunggu di pelabuhan." Malik melirik ke jam tangannya dan kembali ke meja untuk mengambil jasnya.
"Honey, aku pergi sekarang." Malik mencium pipi Luna.
"Jaga dirimu. Jangan biarkan aku sendirian bersama mereka." ucap Luna dengan manja.
"Tidak akan. Aku janji besok aku sudah bersama kalian!" Malik mengusap wajah Luna dengan sayang.
"Kau pergi secepat ini?" tanya Sara.
"Maaf. Tapi ini sangat penting bagiku." jawab Malik
"Adhitia, jangan biarkan Sara sendirian. Ingat tugasmu!!!" pesan Malik pada Adhitia.
"Siap, tuan!" Adhitia menjawab mantap.
Malik pun segera bergegas pergi meninggalkan Sam bersama Luna, Sara dan Adhitia.
"Well, apa kalian menikmati makan siang di restoran ini? " Sam memecah keheningan di antara mereka setelah kepergian Malik.
'Aku tidak terlalu suka seafood." jawab Luna tegas.
"Ini lezat." sahut Adhitia.
Sam tersenyum sumringah.
"Bagaimana dengan nyonya Malik?" tanya Sam pada Sara.
Sara menatapnya lalu mengangguk pelan seraya memberi senyuman.
"Great!!! Kalau begitu, aku yang akan membayar semua makan siang ini." seru Sam dengan senyum masam, karena sebenarnya Malik belum membayar pesanan mereka semua.
*****
****
***
**
*
SAM