PASSION

PASSION
48. Kacamata Hitam



***


I desired you,


I felt in love with you


I offered you all I have, my friend


I become ascetic,


I undertook disciplines of love


I neither though nor understood,


I contracted the illness of my heart


Foreigner...


My friend, please return!


Remember me, don't forget me somehow..


Penggalan syair lagu lawas yang dinyanyikan Sam pada saat mabuk di bar hotel, kembali dinyanyikan pemuda itu lagi dalam keadaan sadar sambil memetik dawai gitarnya.


Sam duduk di atas panggung kecil kafetaria hotel Kaani, melantunkan lagu yang semestinya bernada cepat diubahnya menjadi sendu dan mendayu.


Sepanjang melantunkan lagu, ia tetap memejamkan matanya, tak mau menatap orang-orang yang menikmati makan siang sambil mendengarkannya bernyanyi.


Sebenarnya tak ada yang istimewa dari suara Sam, tapi entah mengapa Malik yang berada di sana, duduk bersama Luna, seperti ikut hanyut dalam perasaan pedih yang digaungkan Sam.


Sepanjang siang itu wajah Malik tegang, dan tak seulas senyum pun terlihat di situ.


"Apa kau sakit, Malik?" tanya Luna yang mengamatinya sedari tadi.


"Kau tidak menyentuh makan siangmu." menatap piring Malik yang tetap utuh, Luna mengkhawatirkan kekasih hatinya.


Malik menggeleng pelan.


"Ada apa?"


"Aku teringat mendiang Mom. Lagu ini biasa dinyanyikan Mom saat ia bekerja." jawab Malik sendu.


Luna mengusap pundak Malik dengan lembut.


Suara gemuruh tepuk tangan memenuhi kafetaria memberi penghargaan pada penampilan Sam yang sukses membuat sebagian pengunjung rileks.


"Hey, apa yang sudah kami lewatkan?" tiba-tiba Sara menyapa dan bergabung dengan mereka.


Menyadari kedatangan Sara tidak sendiri, Luna memberikan kursinya pada pasangan Sara, Adhitia. Sementara dia berdiri di samping Malik sambil terus mengusap punggung pemuda itu.


"Kau kenapa? Apa kau sakit?" tanya Sara melihat Malik yang tetap diam mematung dengan wajah kaku.


"Semua karena Sam. Dia membangkitkan kenangannya pada seseorang yang pergi dan tak mungkin kembali." jawab Luna.


"Aku? Apa salahku?" Sam ikut bergabung dalam meja mereka.


"Lagu apa yang baru kau nyanyikan?!" tanya Luna dengan nada sedikit kasar.


"Lagu kenangan sang mantan." jawab Sam asal.


Mata Malik melotot geram padanya. Yang dipelototi malah senyum-senyum sambil menikmati soda ringan yang diteguk langsung dari botol kaca.


"Mantan? Mantanmu atau Malik?" Sara penasaran.


"Apa hubungannya denganmu kalau itu mantanku atau Malik? Apa kau peduli?" ketus Sam.


Dari bawah meja, kaki Malik menendang kursi yang diduduki Sam hingga bergoyang dan bergeser ke belakang.


"Terlalu banyak penjaga." desis Sam menggerutu.


"Darimana saja kalian?" tanya Malik melirik ke Sara dan Adhitia yg duduk berdampingan.


"Kami dari rumah..." jawaban Sara terpotong saat tangan Adhitia menggenggam tangannya yang terlipat di atas meja.


"Rumah keong. Kami mengumpulkan rumah keong di tepi pantai." Adhitia menimpali jawaban Sara.


Sara menoleh padanya dengan alis menekuk, pemuda itu menggeleng halus seakan mengisyaratkan: Tak perlu memberitahu mereka.


"Kacamata baru?" Malik memperhatikan kacamata hitam yang dikenakan Adhitia, karena selama ini ia tidak pernah melihat pemuda itu memakai kacamata.


"Ini?" Adhitia menekan bingkai kacamatanya lebih dalam.


"Sara memilihnya di pasar oleh-oleh tadi." seraya memberikan senyum kemenangan pada Malik.


"Wah, bro! Sekarang kau benar-benar mirip bodyguard profesional, dibanding penampilanmu kemarin yang tampak seperti kacung." celetuk Sam.


Adhitia menutup sebelah telinganya dengan satu tangan, mencoba untuk tidak terpancing dengan ucapan Sam yang mengejek.


"Berapa harganya?" tanya Malik, tetap dengan gaya dinginnya, namun menyirat keingintahuan yang besar.


"15 dolar."


"10 dolar."


Adhitia dan Sara menyahut bersamaan, namun berbeda jawaban.


Sam dan Malik saling melempar pandang.


Berdeham, Malik mencondongkan posisi duduknya ke arah Sara.


"Itu ...dari harga $15 kami menawarnya menjadi $10." jawab Sara dengan kepala tertunduk.


Gadis ini mulai mencoba berbohong padaku. Aku benci ini!


batin Malik.


"Adhi, lagu yang kita nyanyikan semalam, aku tahu kau bisa menyanyikannya dengan baik. Ayo tunjukkan pada kekasihmu!" Sam berdiri, meraih tangan Adhitia yang menggenggam jemari Sara dan mengajaknya untuk mengikutinya.


"Aku..aku tidak bisa bernyanyi." Adhitia menolak halus.


"Aku belum pernah mendengarmu bernyanyi, Adhi." Sara tampak antusias.


"Senior, jangan! Gendang telingamu bisa rusak gara-gara suara fals-ku." Adhitia memohon untuk tidak mendorongnya mengikuti ajakan Sam.


"Ayolah. Kau bisa berbuat apa saja untuk Sara, kan? Atau aku yang akan bernyanyi di sana untuknya?" Malik ikut memanasi Adhitia.


Luna dan Sara menoleh bersamaan ke arah Malik. Luna dengan tatapan tidak suka, dan Sara dengan tatapan bengong.


"Kau? menyanyi?" Sara menertawakannya.


"Mau taruhan?" Malik pura-pura akan berdiri.


Adhitia maju mendekati mikrofon, sementara Sam berdiri di belakang keyboard.


Sara, Malik, dan Luna mengamati keduanya, menunggu dengan antusias detik-detik selanjutnya.


"This song for you, Sara." ucap Adhitia di hadapan para pengunjung kafe seraya menatap Sara sendu dan melemparkan kecupan manis jarak jauh.


Sara tersenyum dan tertunduk malu.


Adhitia menarik panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Jari-jari kekar yang biasa berbalut sarung tinju kini dengan gemulai memetik senar gitar.


*Foreigner, oh my friend...


keep your promises...


Don't forget me,


Remember me somehow..


Suara merdu Adhitia penuh tenaga membahana di ruangan itu*.


Malik terkesiap mendengarnya.


"Oh, tidak. Kenapa lagu ini lagi?" keluh Luna, menutup wajahnya dengan kedua tangan mulusnya.


Bisik-bisik terdengar dari para pengunjung kafetaria.


Adhitia berbalik dan meminta seseorang mengganti gitarnya denga gitar listrik.


Dengan penuh percaya diri Adhitia memainkan melodi sendu dari gitar listrik itu.


"Go, rockstar! Menangkan hati Sara!" seorang pengunjung kafe berteriak menyemangati Adhitia dalam bahasa Divehi.


Sara dan Malik menoleh sekilas ke arah suara.


Every moment the memories of us


Will make you toss and turn make you suffer...


I'll still awake, but sleep will not come to you


Such is the state you Will go and leave me in


I speak the truth, love..


You Will regret it greatly


Suara serak basah Adhitia melantunkan lagu yang dinyanyikan Sam sebelumnya, kali ini genre slow rock.


"Dimana kau beli kacamata seperti itu?" tanya Malik pada Sara, kembali membahas kacamata tadi.


"Di pasar tradisional oleh-oleh." jawab Sara tanpa menoleh ke arah Malik. Matanya terbuai oleh penampilan memukau Adhitia di atas panggung.


"Kau tidak membelikanku?" Malik bertanya lagi. Berusaha mengalihkan dunia khayalan Sara.


"Apa? Kacamata murah seperti itu? Kau bisa membeli yang lebih bagus dan lebih keren dari itu, Malik!" sahut Luna. Ia tidak suka prianya mencoba mencari perhatian gadis lain di depan matanya.


"Iya. Luna benar! Kalian bisa memilihnya di butik dekat hotel ini." Sara membenarkan ucapan Luna.


Malik tidak merubah ekspresi wajahnya.


"Kau tidak membelikannya untuk ayahmu? Adikmu?" Malik tetap melontarkan pertanyaan pada Sara.


Sara menghela nafasnya. Tampaknya Malik benar-benar tidak suka jika dirinya memperhatikan Adhitia yang memamerkan kebolehannya.


"Aku lupa membawa list-nya. Surat itu tertinggal di kamar." jawab Sara.


"Kau masih ingat jalan ke pasar itu?" lagi-lagi Malik bertanya.


"Tentu!"


Malik berdiri dan menyambar lengan Sara untuk ikut berdiri pula.


"Kita ambil surat Rena dan kembali ke pasar itu!" Malik menarik lengan Sara secara paksa, mengacuhkan Luna yang menatapnya dengan nanar di meja sendirian.


"Malik.." panggilnya lirih.


Dalam gerak slow motion, Sara tak kuasa melepas cengkeraman tangan Malik yang menariknya keluar dari kafetaria.


Foreigner, my friend..


Don't make me cry!


don't forget me, remember me somehow!


Adhitia mengakhiri lantunan lagu dan musik slowrocknya dengan lengkingan pilu bak rockstar dalam konser akbar.


Sorak-sorai dan riuh-rendah dari pengunjung kafe membahana ditambah tepukan tangan dan standing ovation yang meriah. Belum lagi siulan-siulan penyemangat bersahutan.


"Dam* it!! Anak ini rockstar sungguhan!!!" desis Sam yang ikut memberi pujian tersembunyi untuk Adhitia.


Adhitia melontarkan senyum puas dan ramah pada pengunjung kafetaria dan manajer kafe yang mengacungkan kedua jempolnya ke atas.


Senyuman itu langsung memudar tatkala ia tidak melihat Sara dan Adhitia di meja sebelumnya.


Pemuda manis itu mengembalikan gitar listrik yang dipakainya pada pemain band lain, lalu bergegas, berlari kecil ke arah meja yang mendapati Luna sedang memangku tangan sambil memijit pelipisnya.


"Dimana Sara?" tanyanya langsung.


"Malik membawa pergi." jawab Luna singkat


"Kemana?!" nada suara Adhitia mulai meninggi.


"Aku tak tahu! Mereka bicara soal surat dan langsung pergi." Luna menjawab dengan tertunduk, tak berani menatap wajah Adhitia.


Meski pria itu memakai kacamata gelap yang menyembunyikan sorot mata menakutkan, namun Luna dapat merasakan udara dingin yang terpancar dari sana, membuat tubuhnya menggigil dan bergetar.


*****


****


***


**


*