PASSION

PASSION
15. Aku Ada Selalu Untukmu



Keesokan harinya, berganti pagi yang cerah. Adhitia segera bergegas terburu-buru menuju ruang depan rumah utama tuan Sultan sambil mengunyah sarapan dan membetulkan kancing kemejanya yang belum terpasang sempurna.


Ia harus segera menemui Malik yang sudah menunggunya dari awal pagi seperti yang dikatakan Sara melalui telepon 15 menit yang lalu.


"Selamat pagi, tuan!" sapa Adhitia ramah dengan senyum hangat setelah merapikan pakaian dan rambutnya.


Malik tidak menjawab. Menoleh, matanya tajam melihat ke Adhitia. Malik berdiri dari duduknya.


"Ini dia.."batinnya.


Malik menghampirinya, memperhatikan wajah Adhitia dengan lekat, menatapnya dari atas kepala sampai ke ujung kaki, lalu ke kepala lagi.


".. pemuda super manis yang sangat digilai Sara." hatinya merasa sedikit kecewa. Menyayangkan kenapa Sara harus jatuh hati pada pemuda sederhana dan bersahaja ini. Dari segi wajah dan warna kulit Malik mengakui jika Adhitia unggul darinya, tapi itu tidak banyak. Sedangkan dari segi finansial dan karir, dia jauh lebih unggul.


"Nama?" tanya Malik tegas.


"Adhitia.", Adhitia menjawab singkat


"Usia?"


"20 tahun."


"Hubunganmu dengan asisten Romi?"


"Kami bertetangga."


"Hubunganmu dengan....istriku?"Malik menekan kata terakhir di telinga Adhitia.


Adhitia terkejut.


"Nng..tuan, itu.. "Adhitia gugup.


Malik melipat tangannya di depan dadanya sambil menunggu jawaban dari Adhitia.


"..istri tuan adalah seniorku." jawab Adhitia sambil tertunduk.


"Seniormu adalah nyonya muda Sara. Ingat itu!" tegas Malik.


"Karena kau sudah mengenal istriku, maka kau menerima pekerjaan tambahan. Selain supirnya, kau juga pengawal pribadinya." lanjut Malik.


Adhitia makin terkejut.


"Pe.. pengawal pribadi?"


"Belajarlah ilmu bela diri mulai dari sekarang. Sejatinya Pria yang akan melindungi wanita, bukan sebaliknya.," Malik menyindir Adhitia.


"Baik, tuan." jawab Adhitia dengan pandangan lurus bak kadet baru yang mengikuti pelatihan fisik.


"Nanti malam Dad, tuan Sultan, menyelenggarakan acara bonquet untuk mengumumkan pengalihan jabatan dan pemilik perusahaannya, sekaligus pengumuman pernikahanku dan Sara. Perusahaan Dad adalah perusahaan garmen terbesar ke-2 di negeri ini. Pasti akan ada banyak pengacau dan saingan bisnis yang akan 'bermain' secara diam-diam.", Malik menjelaskan dengan suara lugas.


"Aku juga tahu perasaanmu pada Istriku, apa yang kau bicarakan dengannya di telepon dan apa isi pesan singkatmu untuknya." kali ini Malik kembali berbisik.


Adhitia makin membungkam mulutnya. Aura ketidaknyamanan dan persaingan mulai menggerayangi tengkuknya.


"Dengan menjadi pengawal dan supir Sara, akan ada banyak waktumu bersamanya, jadi Dad tidak akan curiga." terang Malik.


"Tapi, ingat!!Jaga batasanmu!! Saat ini statusnya adalah masih Istriku!"


"Terimakasih, tuan Malik."


"Ok, jadi tugasmu hari ini mengantar dan mengawal istriku dan mengawasinya selama banquet nanti malam." perintah Malik.


"Siap, tuan!"


Pembicaraan mereka terhenti karena Sara datang bersama tuan Sultan.


"Dad, aku sudah menyiapkan obat dan vitaminmu. Bibi Mei akan memberikannya tepat waktu, tolong jangan dibuang." Sara berbicara dengan cerewetnya.


"Kenapa kau harus mengawasi obat-obatanku dengan ketat! Aku seperti merasa kembali diceramahi ibuku". Tuan Sultan menepuk jidatnya.


"Istriku, jam berapa kau akan pergi ke salon?", Malik mendekati Sara, membiarkan Adhitia melihat tangannya merangkul pundak gadis itu.


"Sekitar jam 9 nanti." jawab Sara.


Wajah Adhitia terlihat murung melihat kemesraan Malik dan Sara. Dan Malik tersenyum puas melihatnya.


"Hey, Sara bukan asistenmu. Kau kan punya Romi, buatlah semua tugas dan kerjaanmu selesai lebih cepat hari ini, atau acara nanti malam akan jadi berantakan." pesan tuan Sultan.


"Baik, tuan Sultan, perintahmu adalah keinginanku." Malik memeluk ayahnya, lalu berangkat kerja ke kantor dengan menyetir mobilnya sendiri.


***


Tepat pukul 9 pagi,


Adhitia mengantar Sara menuju salon ternama dengan mobil mewah berwarna putih. Seperti biasa Sara duduk di kursi belakang, asyik mengetik sesuatu di ponselnya.


"Nyonya, boleh aku bertanya?" tanya Adhitia.


"Disini tak ada orang lain selain kita berdua. Jangan memanggilku 'nyonya', ok?" protesnya.


"Ok, senior" Adhitia menurutinya.


"Tuan Malik dan senior terlihat harmonis dan sangat bahagia. Aku ikut senang melihatnya." Adhitia berbasa-basi walau sebenarnya hatinya merasa getir menyaksikan kemesraan tadi.


Sara tertawa kecil.


"Malik memang aktor yang berbakat. Apa yang kau lihat tadi bukanlah keinginannya. Dia bilang apa padamu tadi?" Sara menyimpan ponselnya. Ia lebih tertarik dengan tema obrolan Adhitia.


"Banyak. Tuan sangat memperhatikan kebutuhan dan keperluan senior. Tapi aku sangat ketakutan dengan tatapannya."


Sara tertegun.


"Bukan kau saja, aku juga selalu merinding jika ia menatap dengan tajam." ucapnya dalam hati.


"Dia...memang perhatian. Bisa dibilang gentleman-lah. Dia juga tidak pernah main-main dengan ucapannya." Sara memberi pandangan tentang Malik.


"Tapi perhatian dan sikap mesranya hanya ditunjukkan saat tuan Sultan ada di dekat kami. Pernikahan kami bukan pernikahan sesungguhnya. Ini adalah kesepakatan untuk menyenangkan hati tuan Sultan."


Adhitia spontan menginjak rem. Takut pendengarannya bermasalah, Ia menoleh ke arah Sara.


Sara tersenyum.


"Kami tidak pernah tidur satu ranjang. Walaupun tinggal dalam satu kamar, kami memiliki privasi masing-masing. Status nyonya muda ini hanya untuk satu tahun kedepan. Setelah itu, ia akan menikahi pacarnya dan aku... akan melanjutkan hidupku dengan normal seperti dulu." Sara melemparkan pandangannya ke arah jendela mobil. Sepertinya ia akan merindukan sesuatu yang belum ia ketahui.


"Maaf aku membuat Senior merasa sedih." ucap Adhitia bersimpati.


"Aku tidak sedih. Malah aku akan senang saat hari itu tiba. Hutang keluargaku dianggap lunas, keluargaku terbebas dari ancaman rentenir, dan aku akan bebas dari drama ini. Aku akan bebas mengejar impianku." Sara menyangkalnya.


"Tapi senior, menurutku pria normal bila terus berdekatan dengan wanita cantik, cerdas, dan menarik sepertimu, pasti akan kehilangan kendalinya suatu saat." Adhitia mencemaskannya.


Sara terdiam. Dalam hati ia membenarkan pendapat Adhitia. Ia mengingat kejadian beberapa hari lalu setelah malam reuni itu. Tubuhnya merinding. Tapi ia berusaha menutupi perasaannya.


"Aku bisa menjaga diri. Jangan khawatir!" katanya kemudian.


"Baiklah kalau begitu, senior. Aku akan selalu ada kapanpun senior membutuhkanku. Aku akan selalu ada di dekatmu. Dan sampai saat ini perasaanku pada senior masih seperti dulu. Aku masih menyukai senior. Bahkan rasa ini lebih besar dari sebelumnya." pengakuan Adhitia sambil tersenyum meyakinkan Sara.


Sara sedikit merasa tenang dan tersipu dengan ucapan Adhitia. Ia pun membalas senyuman itu.


Adhitia membenarkan posisi duduknya dan kembali menjalankan mobil menuju ke tempat yang dijadwalkan sebelumnya.


*****


UP! UP! UP!


TERIMA KASIH ATAS DUKUNGAN TEMAN-TEMAN YANG MAU MAMPIR MEMBACA DAN PARA SESAMA AUTHOR.


I LUV NOVELTOON.


SALAM HANGAT,


ANJANI DEVI


*****