PASSION

PASSION
64. Anugerah



Malik menarik lehernya tinggi hingga dapat melihat ke arah jendela saat Azis datang membonceng dengan sepeda motor tua seorang wanita berjas putih, memakai kerudung berwarna senada dengan pakaian yang di dalam jas sambil memeluk tas jinjing berwarna hitam.


"Malik, dokter wanita yang kau inginkan sudah tiba." ucap Amar dari depan pintu pondok seraya menatap Malik dengan tatapan sedikit kesal.


Bagaimana Amar tidak kesal, setelah mendapat cerita dari Salma jika Malik merajuk dan tidak mau pergi mengantar Sara menemui dokter sementara ia memaksa Sara memeriksakan diri ke dokter. Sedangkan Sara tidak mau pergi jika tidak ditemani Malik.


Awalnya Salma dan Azis berbaik hati dengan menjemput seorang dokter pria muda yang pernah memeriksakan Sara sebelumnya saat mereka pertama kali diselamatkan. Namun, Malik menolak dokter itu dan mengusirnya. Dia meminta Amar dan Salma mencarikan dokter wanita, yang terbaik di pulau itu.


"Dokter Maryam, silahkan masuk." Salma mempersilahkan dokter wanita yang dibawakan oleh Azis untuk segera masuk.


Malik bergegas berdiri dari duduknya, ikut menyambut dokter tersebut.


"Halo dokter, saya Malik. Tolong periksa kondisi istri saya." Malik memperkenalkan dirinya. Dokter yang bernama Maryam itu tersenyum ramah.


"Baiklah, tuan Malik."


Malik menuntun Sara dengan memegang kedua bahu gadis itu seraya menyodorkannya ke dokter Maryam. Sara tidak suka perlakuan Malik yang dinilainya terlalu kekanak-kanakan. Bibir gadis itu terus saja mengerucut ke depan dengan tatapan kesal mengarah ke Malik. Sementara yang ditatap berpura-pura tidak memperhatikan.


Dokter Maryam segera memeriksa denyut nadi Sara dan juga tekanan darahnya. Tidak lupa ia memeriksa kedua bola mata Sara dengan sinar senter kecilnya.


"Berapa usiamu, nak?" tanya dokter Maryam dengan suara pelan dan menenangkan.


"20 tahun, dokter." jawab Sara dengan pelan pula.


"Berapa lama kalian menikah?" tanyanya lagi.


Sara melirik ke arah Malik yang berdiri di depan pintu, bersikap seolah tidak peduli padahal sebenarnya ia menguping pembicaraan antara Sara dan dokter Maryam.


"Sekitar 3 bulan."


"Bisa kau berbaring di ranjang?" pinta Maryam. Sara segera menurutinya.


Malik segera mengalihkan pandangannya dari kedua wanita itu saat dokter Maryam membuka pakaian Sara di bagian perut dan menekan-nekan perut Sara dengan hati-hati.


Tak lama kemudian dokter Maryam tersenyum dan berkata.


"Perkiraanku benar. Anda tengah hamil muda."


Malik terkejut. Wajahnya tegang dan alisnya berkerut hingga hampir menyatu. Sara menatap wajah dokter Maryam dengan tatapan tak percaya. Bola matanya bergetar seakan hendak keluar dari kelopaknya.


"A..apa kau yakin, dokter?" Malik mendekat untuk memastikan ucapan dokter Maryam.


Dokter Maryam mengeluarkan alat test pack kehamilan.


"Jika Anda ragu, Anda bisa gunakan ini esok pagi untuk memastikannya." dokter Maryam memberikan test pack pada Malik.


Malik menerimanya dengan ragu-ragu, lalu menoleh ke arah Sara yang masih berbaring di ranjang. Melihat tatapan Malik yang bagai ingin menerkamnya, Sara segera membuang pandangannya ke arah lain.


"Jaga istrimu dengan baik, jangan sampai ia kelelahan. Perhatikan asupan gizi dan jangan lupa konsumsi buah-buahan segar." pesan dokter Maryam sebelum ia keluar dari pondok Malik.


Sekeluar dari pondok, dokter Maryam segera menemui Salma dan Amar untuk menerangkan kondisi Sara saat ini. Tampak raut wajah Salma menunjukkan kebahagiaan yang tulus. Wanita paruh baya itu segera berjalan bergegas ke arah pondok untuk memberikan selamat pada Malik dan Sara. Namun niatnya terhenti saat ia selangkah sebelum pintu pondok mendengar teriakan Malik yang tertahan.


"Katakan itu bohong!!"


Sara menunduk sambil menutup mulutnya, menahan rasa bersalah dan malu dihadapan Malik. Gadis itu terisak tertahan.


"Sara, katakan!!" paksa Malik seraya mengguncang pundak Sara dengan tidak sabar.


"Iya! Iya, itu benar!" pekik Sara.


Jawaban Sara seperti hantaman ombak besar yang meluluh-lantakkan istana pasir di dada Malik. Pria itu tidak mau mempercayai ucapan gadis yang terus membenamkan kepalanya ke kedua telapak tangan. Perlahan Malik melepas cekalan tangannya dari pundak Sara.


Malik menggeleng keras sambil tersenyum sinis.


"Penipu! Kau mengkhianatiku!" lirihnya tajam.


Sara mendongak cepat, menatap wajah frustasi Malik lekat. Aneh baginya mendengar pernyataan Malik yang mengatakan ia berkhianat.


Belum selesai Sara berujar, Salma masuk dan menyela obrolan mereka.


"Apa yang kalian ributkan? Apa kalian memang belum merencanakan memiliki anak?"


Malik dan Sara terkejut akan kehadiran Salma di ruangan. Keduanya terdiam dan tertunduk.


"Nak, usiamu memang masih terlalu muda untuk memiliki seorang anak, namun anak adalah anugrah. Dia rahmat yang dipercayakan oleh Allah pada seorang wanita." Salma menghampiri Sara dan merangkulnya.


"Anak adalah rezeki. Sekali kau menolaknya maka Allah tidak akan memberikan yang lebih baik lagi dari ini. Jika kalian menerimanya, maka Allah akan menambahkan kenikmatan hidup kalian." lanjut Salma.


Tapi masalahnya, anak ini bukan anakku!


Teriak Malik dalam benaknya. Salma tidak memahami situasi ini. Malik memilih untuk diam agar tidak tercipta drama yang memalukan untuknya dan Sara. Bagaimana pun juga nama baik keluarga Sultan tetap harus dijaga meski orang-orang di pulau ini tidak mengenalinya.


"Kau! Kenapa kau diam?" Tiba-tiba Salma berdiri dan mengarah ke Malik.


"Bagaimana gadis selugu ini bisa berkhianat darimu! Malam saat kalian ditemukan, aku yang menemukan banyak tanda kecupan merah, bahkan ada kebiruan di seluruh tubuhnya. Apa itu bukan perbuatanmu?!" Salma menyerang Malik dengan pertanyaan yang membuat mata Malik terbelalak lebar.


Gila!!! Itu pasti perbuatan Adhitia!!! Bukan aku!!!


Teriak Malik kembali dalam benaknya. Mana berani ia membuat tanda-tanda semacam itu, membayangkan untuk mencium Sara saja ia sudah tak tahan. Seketika keringat dingin bermunculan di keningnya.


Melihat Malik yang diam dengan keringat dingin bercucuran, dan tanpa suara menyahut. Sara kasihan melihatnya.


"Ibu Salma, maukah ibu tidur bersamaku malam nanti?" tanya Sara pada Salma.


Mengetahui dirinya hamil karena Adhitia, dan setelah disebut sebagai penipu oleh Malik, Sara tidak bisa lagi menatap wajah Malik secara langsung. Ia mencari perlindungan pada Salma.


Salma menoleh padanya dan berujar,


"Tentu, sayang. Malam ini aku akan tidur bersamamu di sini." Penuh perhatian dan lemah lembut Salma terhadap Sara.


"Dan kau, tuan muda! Kau tidur bersama pria lainnya di rumah sana!!" Penuh emosi Salma menunjuk ke arah pintu luar.


Sebagai tuan muda, Malik tidak pernah diusir dan diperlakukan kasar oleh orang lain. Dengan bersusah payah ia menahan ego yang terlanjur terlecehkan. Gemerutuk rahangnya saling beradu terdengar jelas. Pria itu lalu berjalan lurus ke pintu tanpa menoleh lagi, menuju luar ruangan.


Sesaat setelah Malik meninggalkan ruangan, Sara bernafas dengan lega. Di sekanya sisa air mata yang membasahi wajahnya dengan perlahan.


Salma menghampirinya dan memeluknya dengan erat.


"Selamat atas kehamilan pertamamu, Sara. Semoga kau dan calon bayimu selalu dalam perlindungan Allah." Salma berdoa.


Sara membalas pelukan hangat Salma. Ia seperti memeluk ibunya sendiri.


"Ibu...." rengeknya pelan.


"Tenanglah. Malik memerlukan waktu untuk memahami perasaannya. Aku yakin sebenarnya ia juga merasa gembira dengan kehamilanmu ini." ucap Salma meyakinkan.


Sara tersenyum masam. Seandainya anak yang ada di perutnya memang anak Malik, hal itu bisa saja terjadi. Tetapi, anak ini adalah anak Adhitia. Benih cinta Adhitia. Dan dimana keberadaan Adhitia sekarang ia tidak tahu. Apakah Adhitia selamat dan masih hidup, ataukah dia sudah...


Pikiran Sara melayang jauh. Bayangan sosok Adhitia seketika bermain di pelupuk matanya. Senyuman dengan lesung di pipinya. Sapaan hangatnya memanggil dengan sebutan "senior". Genggaman tangannya yang tidak pernah melepas dari tangannya. Alisnya yang menyatu dengan bibir yang mengerucut saat pemuda itu kesal dan marah. Sentuhan dan ciuman mesra yang dirasakan bagai mimpi di kapal Mayantha Luxury. Sara benar-benar merindukan pemuda itu. Dan itu membuat dadanya sesak dan terasa tertekan. Ia menahan rasa rindu itu.


"Lepaskan tangisanmu! Jangan menahannya, atau bayi yang ada di perutmu yang akan menelan air matamu." bisik Salma.


Tentu saja Sara langsung meraung dan menangis pilu. Beruntung baginya memiliki Salma di sampingnya yang mengerti keadaan dan kondisinya saat ini.


Mendengar raungan tangis pilu Sara, Malik yang berdiri jauh dari pondok memejamkan matanya kuat-kuat. Ia membenci suara itu. Entah sejak kapan ia tidak menyukai air mata jatuh dari bola bulat besar yang memancarkan kepolosan dari mata Sara. Namun saat ini ia sangat kecewa dengan Sara. Ia tidak ingin menemui Sara untuk beberapa saat dulu.


BERSAMBUNG


*****


****


***