PASSION

PASSION
20. Kontrak Malik 2



Sara membuka pintu kamar mandi karena Malik terus memanggil namanya. Malik berdiri di sana sambil menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. Tatapan tajam Malik berubah menjadi pandangan rasa iba. Sara menundukkan kepalanya. Ia tidak mau Malik melihatnya dalam keadaan yang menyedihkan.


""Kau mau cerita?" Malik menawarkan bantuan. Sara menggeleng.


Ia berjalan menuju ke ranjang dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan meringkuk di dalamnya.


Malik mendekatinya lalu duduk di lantai, dekat pinggiran ranjang, seperti biasa ia duduk saat berbincang-bincang dengan Sara sebelum tidur malam. Ia memutar otaknya, mencoba mencari topik apa yang menarik dan bisa mengalihkan perhatian gadis itu dari kejadian buruk yang baru dialami.


"Dimana alamat penjahit Yumna?" Malik membuka percakapan.


"Di jalan Utara dekat minimarket NN." Sara menjawab dengan lemah dari balik selimut.


"Apakah dia penjahit besar yang ternama?"


"Dia terkenal di daerah kami."


"Jasa jahitannya pasti mahal." Malik terus memancing agar Sara menyahutinya.


"Bisa dilihat rancangannya dari gaun yang kau pakai tadi, kurasa dia mencontoh salah satu gaun rancangan Maria Grachvogel asal Inggris."


Sara mengibaskan selimut yang menutupi wajahnya dengan kasar.


"Apa kau bilang?!! Gaun itu aku yang merancangnya sendiri!!! Bukan Yumna , apalagi Maria.. Maria siapalah yang kau sebut tadi!!" Sara menjadi sewot.


"Benarkah?" Malik pura-pura terkejut. Pancingannya berhasil. Sesaat lalu gadis itu menolak berbicara, namun kini akan melancarkan kalimat panjang lebar yang membosankan.


"Tentu saja!!! Kau tahu, sejak masih kecil aku suka mix and match pakaian lama ibuku. Dulu kami sangat miskin, ayah dan ibu tidak bisa membelikan gaun yang baru untuk kami. Tapi aku membuat gaun yang indah untukku dan Rena dari pakaian lama ibuku. Ayah dan ibu bangga padaku." suara Sara terdengar begitu percaya diri.


"Kau menjahitnya sendiri?" Malik terus mencoba membangkitkan keceriaan gadis itu.


"Aku jahit pakai jarum tangan. Kami tidak punya mesin jahit " Sara menjawab sambil mengangguk cepat.


"Kau sekolah di kejuruan tata busana?" tanya Malik lagi.


"Tidak." , air muka Sara berubah murung kembali.


"Aku ingin sekolah di kejuruan Tata Busana, tapi ayah dan ibu memasukkannya ke sekolah kejuruan bisnis dan pembukuan keuangan. Kata mereka jika aku bersekolah di sana, aku akan mudah mendapatkan pekerjaan." ceritanya.


Malik tertegun. Lagi dan lagi, kisah gadis ini menyentuh hatinya.


"Kau tertarik dengan fashion design?" tanyanya.


Sara mengangguk pelan.


"Kau mau belajar fashion design di kampus?" Malik menawarinya untuk kuliah.


Sara bangkit dan mengangguk dengan keras. Semangatnya bangkit kembali dengan mudahnya hanya dengan beberapa kata.


"Aku bisa mendaftarkanmu di kampus internasional AA tahun ini."


"Kau gila! Kampus itu kan sangat terkenal! Biaya kuliah di sana tidak murah!!" Sara berteriak histeris.


Malik memukul kepalanya dengan pelan menggunakan bantal.


"Kau yang gila! Apa kau lupa kalau kau istri dari presiden direktur perusahaan besar?!" Malik mengingatkannya.


Sara tersenyum kuda, mengiyakan perkataan 'suami' kaya rayanya.


"Tapi ada syarat-syarat yang harus kau setujui." lanjut Malik.


"Apapun itu, aku setuju!!" seru Sara kegirangan.


"Bisakah kau berpikir dulu sebelum berbicara?? Kebiasaan burukmu ini yang bisa menyusahkanmu di masa depan." Malik memberinya kritik.


Sara terdiam.


"Syarat pertama, Design gaunmu malam ini akan kuambil untuk perusahaan, dan dengan siapa aku akan memberikannya, kau tidak boleh menolaknya. Saat gaun itu muncul di publik nanti, namamu tidak akan disebut sebagai perancang asli." Malik menyebutkan satu syarat.


"Syarat kedua, setelah satu tahun pembelajaran di kampus, yaitu saat masuk tahun kedua, kau harus bekerja magang di perusahaan S selama 3 tahun lamanya atau sampai gelar sarjanamu diterima dengan upah hanya setengah dari gajj karyawan. Tanpa bonus." Malik menyebutkan syarat berikutnya. Dan Sara kembali menyetujuinya.


Malik menghela nafas dengan berat.


"Kera bodoh! Coba kau pahami lagi syarat-syarat tadi." bentak Malik.


"Jangan mudah menerima syarat atau janji dari seorang pria manapun, atau kau akan kehilangan hal yang sangat berharga bagimu.


Jika kau terlambat menyadarinya, kau akan menangisinya sepanjang hidupmu. Pria tidak akan mudah menyatakan perasaannya atau mengatakan akan menikahi wanita, jika tidak memiliki maksud atau tujuan tertentu. Sejatinya, kami akan meminta balasan dari semua yang pernah kami berikan." Malik menceramahi Sara panjang lebar.


Sara seperti mengerti sesuatu. Ia lalu menutup wajahnya yang memerah dengan kedua telapak tangannya, lalu berteriak histeris,


"Kau mengintip kami!!"


"Maaf saja ya!!! Kalian yang bermesraan di tempat terbuka. Untung saja bukan Dad atau bibi Mei yang melihatnya. Statusmu sebagai nyonya muda keluarga ini baru diumumkan. Seharusnya kau bisa menjaganya " oceh Malik sengit.


"I hate you!!!" teriak Sara kemudian membungkus tubuhnya dengan selimut kembali.


"Thank you!!!", sahut Malik, juga dengan berteriak. Lalu pemuda itu tersenyum, menertawakan tingkah mereka yang jika ia pikirkan lagi lebih mirip kelakuan anak kecil.


Malik beranjak, bangkit dari duduknya menuju sofa tempat ia biasa tidur. Sudah lama ia tidak merasa seperti ini. Bertingkah dan bicara seperti anak-anak. Ia tersenyum sendiri. Dulu ia pernah merasa sangat puas beradu argumen dengan sahabatnya, tapi itu sudah sangat lama. Dan sekarang, bersama Sara ia bisa bertingkah seperti itu lagi.


"Malik...apa kau sudah tidur?" panggil Sara setelah beberapa waktu Malik mencoba memejamkan matanya.


"Ng..." ia menyahut dengan berat.


"Kurasa aku mendengar suara ponselmu." Sara memberitahukan kalau ponselnya berbunyi.


Malik berdiri dari sofa dan meraih ponsel yang ada di meja rias, yang terletak tak jauh darinya. Tertulis Adhitia menghubunginya. Malik membiarkan ponsel yang digenggamnya itu terus berbunyi sementara ia kembali ke sofa dan berbaring kembali.


Sara begitu terganggu dengan bunyi ponsel Malik.


"Kalau kau tak mau menjawab, setidaknya kecilkan suara ponselmu itu!" bentak Sara kesal.


Malik akhirnya menjawab panggilan ponsel Adhitia.


"Hmm?" suara Malik terdengar pelan. Ia merasa sangat ngantuk.


"Tuan, maafkan aku. Aku tidak menemukan nyonya dimana pun. Apakah nyonya sudah kembali ke kamar?" tanya Adhitia dengan cemas.


Malik tersenyum licik sambil melihat ke gundukan selimut yang menutupi tubuh Sara. Adhitia masih mencari gadis itu.


"Belum! Jangan berani kembali ke kamarmu sebelum dia kau temukan!!" perintah Malik, lalu memutuskan panggilan itu.


Malik berniat membuat Adhitia repot. Dia bersiap untuk tidur sambil tersenyum puas karena telah membalaskan kekesalannya pada Adhitia yang saat ini masih mondar-mandir mencari Sara di setiap sudut taman rumah yang sangat luas itu.


Jauh lewat tengah malam, saat jam menunjukkan pukul 2.30. Ponsel Malik berbunyi lagi. Dengan mata berat Malik meraih dan menekan tombol jawab


"Tuan, apa nyonya sudah kembali.?" ternyata Adhitia masih mencari-cari Sara.


Malik merasa sudah cukup mengerjai pemuda itu.


"Ya." jawabnya singkat.


"Oh, syukurlah..." Adhitia terdengar sangat lega.


"Kembalilah ke kamarmu dan istirahatlah!!!" perintah Malik kemudian.


"Apa nyonya baik-baik saja?" Adhitia bertanya.


Malik tidak menjawab pertanyaan itu, ia kembali tertidur dengan ponsel masih menyala di samping telinganya.


*******