
"Senior.." Adhitia memandang Sara dengan lembut
"Ya?"
Sara terkejut ketika tangan kekar Adhitia menyentuh pipinya. Jemarinya terasa hangat memercikan tegangan listrik.
"Ada sisa makanan di sini." ucap Adhitia.
"Terima kasih." Sara tersadar ketika Adhitia menarik kembali tangannya.
Keduanya tampak tidak canggung lagi seperti awal pertemuan mereka. Mereka pun menghabiskan makan siang dengan suasana yang hangat dan bahagia.
Setelah menyelesaikan makan siang mereka, kembali ke salon ternama tadi, Adhitia duduk di sofa tunggu sambil memainkan ponsel. Saat ini Sara sedang di ruang spa yang ada di depannya. Tak lama kemudian seorang pegawai salon khusus treatment spa dan message keluar dari ruang itu.
"Anda asisten nyonya Sara?", tanyanya.
"Iya.", Adhitia segera berdiri.
"Kami sudah menyelesaikan pijat dan spa. Saat ini nyonya Sara tertidur. Saat nyonya bangun nanti, tolong beritahu kami agar bisa melanjutkan perawatan berikutnya." ujar pegawai itu.
"Ada pegawai lain yang bersama dengan nyonya?" tanya Adhitia.
"Tidak ada. Nyonya sendirian."
"Baiklah. Terimakasih." ucap Adhitia. Pegawai spa itu meninggalkan Adhitia di depan pintu.
Setelah pegawai spa itu berlalu, perlahan Adhitia mendekati ruangan dan membuka pintu perlahan. Dilihatnya Sara terbaring tertelungkup di atas ranjang spa dengan mata terpejam. Pemuda itu melihat sekelilingnya sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam.
"Tidurmu sangat damai dan tenang. Seandainya aku tahu apa yang kau impikan, senior." lirih Adhitia seraya mengusap lembut rambut Sara. Lalu ia memberanikan diri untuk mencium pipi Sara.
"Entah apa aku bisa bersabar menunggumu hingga tahun depan." nafasnya terhembuskan dengan kuat, seperti ada yang membuat sesak di paru-parunya.
****
Di kantor Malik, Asisten Romi berdiri di samping Malik yang sedang menandatangani sejumlah berkas yang menumpuk. Pekerjaan yang seharusnya sudah selesai beberapa jam lalu akhirnya harus dia selesaikan dalam satu waktu tanpa sempat ditelitinya karena harus menemani Luna berbelanja dari tadi.
"Romi, bagaimana persiapan untuk nanti malam?" tanyanya disela-sela kesibukannya itu.
" Para pengisi acara sudah mengkonfirmasi kesiapan mereka, tuan. Tamu undangan akan tiba sekitar jam 7. Sisanya sudah ditangani." jawab Romi singkat.
"Bagus. Terima kasih." Malik menyimpan penanya, lalu memberikan beberapa berkas pada Romi.
"Aku akan antarkan ini ke divisi marketing'." kata Romi setelah membaca berkas itu. Malik mengangguk.
Setelah Asisten Romi pergi, Malik mengambil ponselnya dan menelepon Adhitia kembali.
"Adhi, bagaimana istriku?" tanyanya.
"Tuan, kami hampir menyelesaikan perawatan terakhir." jawab Adhitia.
"Lalu, apa selanjutnya?"tanya Malik lagi.
Adhitia mendekati Sara dan bertanya,
"Nyonya, tuan Malik bertanya apa kegiatan selanjutnya?"
"Kita akan ke penjahit Yumna, aku sudah memberikan rancangan untuk gaun nanti malam di sana. Kita tinggal mengambilnya saja nanti." jawab Sara.
Adhitia menyampaikan apa yang Sara katakan.
"Baik, kalian harus tiba di rumah sebelum jam 7, dan pastikan istriku beristirahat secukupnya sebelum acara dimulai." pesan Malik.
"Baik, tuan." Jawab Adhitia.
Belum sampai 2 menit ia menyimpan ponselnya, tiba-tiba ponsel itu berbunyi lagi.
"Ya, tuan?" Adhitia menjawab dengan ekspresi kesal.
Melihat itu Sara tertawa cekikikan. Tawanya seketika terhenti ketika Adhitia memberikan ponsel padanya.
"Nyonya, tuan ingin bicara." katanya.
"Ya, ini aku."
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau repot-repot menjahit baju di sana? Bukankah ada banyak butik di kota ini dengan koleksi terbaru mereka. Siapa penjahit Yumna itu? Bagaimana kerjanya? Apa sertifikatnya?" seketika Sara diberondong pertanyaan oleh Malik.
Sara menyerngitkan dahinya.
"Suamiku,..tolong tenanglah. Kau percaya pada pilihanku, kan?" Sara bertanya dengan halus.
"Jadi, berhenti bertanya atau menelepon kami terus-menerus!!!" tegas Sara lalu memutuskan panggilan itu.
Adhitia berusaha keras menahan ekspresi untuk tertawa karena tingkah Sara yang juga kesal dengan sikap protektif Malik.
"Sia**n!! Kera itu membentakku!! Berani betul dia!!!!" Malik kesal dengan sikap Sara barusan. Belum habis kesalnya, tiba-tiba ia mendapat pesan dari Luna di ponsel yang masih di genggamannya.
"Sayang, aku rasa aku tak bisa hadir di acara nanti malam. Kau benar, gaun itu tidak cocok untukku. Aku baru tahu kalau gaun model itu pernah dipakai artis grade B di sebuah acara talk show TV. Aku tak mau memakainya." isi pesan itu.
"Oh, my God!!! Kenapa repot sekali menjadi wanita. Itu kan cuma masalah pakaian!.", keluhnya yang merasa stress menghadapi pilihan pacar dan istrinya.
***
Tepat jam 7 malam di kediaman tuan Sultan yang luas dan megah, acara bonquet malam itu dipenuhi para tamu undangan. Tuan Sultan tampak berbincang-bincang santai dengan beberapa koleganya.
Di kamar atas, Malik membetulkan posisi dasi kupu-kupunya yang serasi dengan tuxedo hitam yang ia kenakan
"Sara, apa kau sudah siap?" panggilnya pada Sara, karena sejak sepulang dari kantor tadi ia belum melihat istrinya itu.
"Sebentar, Malik!! Ya ampun, aku gugup sekali! Aku belum pernah hadir di acara seperti ini." sahut Sara dari dalam kamar mandi.
"Jangan khawatir. Ini adalah acara kita. Tidak ada yang akan berani membicarakan keburukan kita. Jika pun ada, dipastikan kehidupan mereka tidak akan setenang sebelumnya." Malik balik menyahut.
"Sebesar itukah keajaiban uang dan kuasamu?", Sara keluar dari kamar mandi seketika sambil bertolak pinggang, merasa tidak suka dengan perkataan Malik.
Penampilan Sara membuat Malik terkesima. Lagi-lagi pemuda ini mengagumi kecantikan dan kesederhanaan gadis itu. Warna putih memang benar-benar membuat pria itu melemah. Dan pula warna itu sangat anggun dipakai Sara. Mengingatkannya pada sosok ibunya yang meninggal beberapa tahun silam.
"Sara.. Katakan, seharian ini Adhitia membawamu kemana saja?" tanya Malik tanpa mengalihkan pandangannya dari Sara.
Sara makin menaikkan tangan dari pinggangnya. Alisnya berkerut,
"Apa maksudmu? Tak cukup kau menelepon setiap jam dan menanyakan apa yang kami lakukan tadi siang? Sekarang kau masih bertanya?"
"Kau yakin Adhitia tidak membawamu ke tempat pesulap atau penyihir?"
"Apa maksudmu?" Sara kesal dengan nada tidak percaya Malik.
"Lupakan." Malik menutup mulutnya yang hampir mengeluarkan pujian kalau ia seperti tersihir melihat Sara malam ini.
"Ayo kita turun, para tamu sudah menunggu." Malik melingkarkan lengannya ke lengan Sara yang masih bertolak-pinggang. Sara pun mengikuti langkahnya.
"Apa Luna akan datang malam ini?" tanya Sara pelan.
"Kurasa tidak." jawab Malik
"Kenapa?"
"Mungkin dia sadar, cahayanya tidak akan mampu menandingi cahaya rembulan yang sesungguhnya." tiba-tiba Malik berbicara dengan kiasan.
"Apa artinya itu?"
Malik tersenyum melihat Sara yang kebingungan dengan kalimatnya. Sebenarnya ia juga secara tidak sadar mengucapkan itu, karena ia bukan tipe pria yang pandai merangkai kata-kat manis kiasan.
Kepalanya tegak terangkat, wajahnya sumringah, ia gandeng istrinya dengan kuat, dan siap memamerkannya ke seluruh dunia.
*****
Sara