PASSION

PASSION
38. Cemburu



Malik memijit-mijit dahinya yang tidak sakit. Ia pasrah saat rahasia pribadinya menyimpan alat kontrasepsi di buka secara gamblang oleh tuan Sultan di depan Sara.


Sara terbelalak, mulutnya menganga lebar karena mendengar obrolan ayah-anak yang tanpa batas itu.


"Aku ingin kalian sudah menimang bayi di perayaan ulang tahun pernikahan kalian yang pertama nanti." perintah tuan Sultan.


Malik menghitung sesuatu dengan jari tangannya.


"Kami baru 2 bulan menikah. Tidak mungkin pagi ini berbuat langsung terlihat hasilnya." alasan Malik.


"Jadi jangan menundanya lagi. Berusahalah lebih keras di Maldives nanti." Tuan Sultan sudah letih beradu argumen dengan Malik. Ia meninggalkan pasangan itu di taman berduaan saja.


"Kau lihat itu, kera! Aku dimarahi oleh Dad lagi gara-gara kau!" Malik menggeram.


"Berhenti menyalahi Sara. Kau yang kurang berusaha!!!" teriak tuan Sultan yang ternyata belum jauh dari mereka.


Malik menarik tangan Sara hingga Sara terduduk di pangkuannya. Lengannya melingkar di pinggang Sara dengan kuat hingga gadis itu sulit meronta dan bergerak.


"Kau dengar perintah Dad, kan? Aku harus berusaha lebih keras lagi!" katanya setengah kesal.


"Malik, kita sedang di taman. Bagaimana kalau Adhitia melihatku duduk di pangkuanmu?" bisik Sara panik.


"Biar saja! Kau peduli dengan Adhitia, aku peduli dengan Dad. Selesaikan saja tugas mencukurmu dengan cepat sebelum Adhitia melihat kita" perintah Malik tegas dengan berbisik pula.


Sara lalu menurutinya. Ia memegang wajah Malik dengan perlahan dan mulai menggosokkan pisau cukur di rahang Malik dengan hati-hati.


Malik merasakan desiran ombak bergemuruh di dadanya saat jemari Sara menyentuh wajahnya untuk pertama kali. Pandangannya tidak berhenti mengagumi mata bulat Sara dengan bulu mata yang lentik, yang berkedip-kedip saat fokus dengan tugasnya.


Wajah mereka begitu dekat. Pikiran nakal Malik mengatakan kalau ia bisa saja mencium gadis itu dan mencumbunya sekarang. Sama seperti yang dia lakukan bila bersama Luna.


Khayalan erotisnya seketika buyar saat Sara membuka suara,


"Kau selalu membawa kond*m kemanapun kau pergi di sakumu?"


Malik tersinggung dengan pertanyaan Sara. Ia terdengar seperti maniak di kalimat itu.


"Kenapa? Apa kau mau membawakannya untukku?" Malik tidak mau menjawabnya. Ia malah balik bertanya.


"Hah-hah!" gadis itu meledek Malik.


Malik tersenyum saat ia melihat Adhitia berdiri memperhatikan mereka di samping pohon yang jauh dengan menahan amarahnya.


"Well, Romeo! Kau ada di waktu yang tepat! Kali ini aku akan memberikan sedikit balasan atas kenakalanmu di kampus." batin Malik


Tangan Malik melingkar di pinggang Sara semakin kuat. Wajahnya sengaja digerak-gerakkan agar Sara kesulitan memegangnya.


"Bisa kau diam sebentar!" Sara kesal.


Malik kembali tersenyum, ia berhasil membuat Sara menyentuh wajahnya dengan kedua tangannya. Itu akan membuat kesalahpahaman dari sudut penglihatan Adhitia.


"Kau yang terlalu lamban! Sudah, cepat selesaikan ini." Malik berpura-pura kesal.


Sara tidak menyahutinya. Ia melanjutkan pekerjaannya.


Malik mulai menguatkan kembali lingkaran tangannya di pinggang Sara, sehingga gadis itu terlihat seperti jatuh dalam pelukan Malik.


Melihat itu Adhitia benar-benar marah dan cemburu. Pemuda itu lalu berbalik dan pergi.


"Kau ini kenapa? Bisa kau lepaskan tanganmu dariku?!" Sara terlihat sangat tidak nyaman. Ia terus berontak dan beringsut dari pangkuan Malik.


"Ooh..Tidak, Sara! Jangan bergerak lagi! Kau bisa membangunkan 'junior'-ku. Saat ini aku lupa mengantongi kond*m ." . Malik bertambah nakal dan makin menjahili Sara.


Sara memekik kesal.


"MALIK!!!!!". Ia memukul lengan pria itu dengan sangat keras hingga pria itu mengaduh.


"Aduh!!! Aku cuma bercanda!! Sejak kapan kau bisa memukul pria?"


Malik tidak menyangka pukulan Sara bisa sekeras itu dan rasa sakitnya tidak main-main


Sara bangkit dari pangkuan Malik dan berkata dengan bangga.


"Aku mengikuti latihan tinju dari Adhitia. Dia yang mengajariku cara memukul pria cabul sepertimu!!"


Setelah mengatakan hal itu, Sara lalu pergi meninggalkan Malik sendirian di taman, masih dengan krim cukur di sebagian wajahnya.


"Hey, ratu kera!! Selesaikan dulu kerjamu!!!" panggil Malik kesal.


Sara terus saja menjauh, tidak mempedulikannya. Malik berdesis kesal. Ia tidak menemukan handuk di dekatnya, jadi membuka kaosnya dan mengelapkanya di wajah untuk membersihkan sisa krim cukur.


"Adhitia!! Adhitia!! Adhitia!! Pemuda itu benar-benar seperti hantu!! Dia membuat seorang istri memukuli suaminya!!" gerutu Malik.


*****


Sara tampak risau dengan ponsel di tangannya. Ia berkali-kali mencoba menghubungi Rena tapi tidak tersambung.


"Ada apa?" tanya Malik yang dari tadi memperhatikannya sambil menyiapkan pakaian dan kopernya.


"Aku dan Rena sudah berjanji akan menghabiskan hari Minggu berdua. Rencana kami akan jalan-jalan di mall dan nonton di bioskop sebelum kita berangkat ke Maldives. Tapi kenapa dia tidak bisa dihubungi?" keluh Sara.


"Kenapa tidak menghubungi telepon rumahmu? Mungkin Ibu tahu kenapa Rena tidak mengangkat ponselnya."


"Ya ampun!!! Kenapa aku tidak berpikir begitu!!" seru Sara.


Malik menggeleng-gelengkan kepalanya karena sikap ceroboh Sara.


Gadis ini kalau panik, syaraf di otaknya langsung tersumbat dan tidak bisa berpikir jauh.


Malik mengatai Sara di dalam hatinya.


"Halo ibu. Tolong panggilkan Rena. Kenapa dia tidak mengangkat ponselnya." Sara langsung mengomel saat sambungan telepon di angkat oleh ibunya.


"Sara, apa Rena tidak memberitahumu? Saat ini dia tidak di rumah. Dia sedang menginap di rumah temannya, Puja." sahut ibunya.


"Puja? Aku tak ingat Rena punya teman bernama Puja. Apa ibu yakin?" Sara bingung.


"Iya. Puja sendiri datang ke rumah untuk menjemputnya. Mungkin ia kembali Minggu depan."


"Kenapa Rena tidak memberitahuku kalau dia membatalkan rencana kami." Sara terdengar sangat kecewa.


"Eh, iya. Ibu baru ingat. Rena menitipkan surat untukmu sebelum ia pergi."


"Surat?".


Sara makin bingung dan heran.


"Iya. Katanya itu list oleh-oleh yang harus kau belikan di Maldives untuknya."


Sara berpikir keras. Kenapa Rena tidak menuliskan di pesan singkat ponselnya atau bicara langsung. Rena tidak pernah begini sebelumnya. Apa sebenarnya isi surat itu?


"Baiklah, Bu. Aku akan mampir ke rumah untuk mengambilnya." Sara mengakhiri panggilan teleponnya.


"Bagaimana?" tanya Malik.


"Rena menginap di rumah temannya. Tapi ia menitip surat yg katanya itu list oleh-oleh yang harus kuberikan untuknya." jawab Sara sambil menekan tombol ponselnya kembali.


"Dimana tasmu? Apa kau sudah menyiapkan semuanya?" tanya Malik.


"Di sana. Semua sudah disiapkan" jawab Sara sambil sibuk dengan ponselnya.


"Besok kita berangkat jam 10 pagi. Kau sudah mengurus izin untuk di kampus?" tanya Malik lagi.


"Ah iya. sudah!" jawab Sara singkat.


Malik menoleh ke arahnya. Gadis itu kembali disibukkan dengan panggilan teleponnya yang tidak tersambung.


"Sekarang apa lagi?" tanyanya.


"Aku tidak bisa menghubungi Adhitia." jawab Sara sedih.


"Kenapa tidak kau cari ke kamarnya?" Malik mulai kesal.


"Kau benar! Terima kasih!" Sara langsung berlarian menuju kamar Adhitia yang jauh jaraknya dari kamarnya.


Gadis itu harus menuruni tangga, melewati ruangan yang cukup luas, lalu melintasi taman membentang di antara rumah besar itu dan pintu kamar Adhitia.


Malik menuju teras balkon untuk mengintainya. Ia melihat Sara mengetuk pintu kamar Adhitia beberapa kali, namun pintu itu tidak terbuka. Sara juga mencoba mengintip lewat jendela.


Melihat kegelisahan Sara, Malik lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Adhitia. Tapi nomor telepon pemuda itu tidak aktif.


Malik lalu menelepon seseorang.


"Cari tahu keberadaan Adhitia!" perintahnya tegas, lalu meletakkan kembali ponselnya di saku.


*****


****


***


**


*


Adhitia, - tahun