
Malik mengerutkan kelopak matanya yang masih tertutup rapat saat mendengar suara kicauan burung-burung beo milik Amar yang terikat di depan jendela ruangan. Tubuhnya masih lemas dan tenggorokannya terasa kering. Perlahan ia buka kedua kelopak matanya untuk beradaptasi dengan sinar matahari yang silau namun menghangatkan wajahnya.
Malik bergegas bangun dari tidurnya saat menyadari ia tidak mengenal ruangan tempat ia berada.Namun karena kurang tenaga, ia terjatuh di sisi ranjangnya.
Mendengar suara sesuatu terjatuh, Azis, anak tertua Amar yang sedang membetulkan jaring ikan di depan rumah, segera berlari ke arah suara.
"Sir, anda sudah siuman?!" serunya heran bercampur senang.
Malik menoleh ke arahnya, pandangannya masih samar untuk mengenali wajah Azis.
"Siapa kau? Dimana ini?" tanya Malik masih dengan mata terpicing.
Azis segera menghampirinya dan membantunya untuk duduk dengan benar di ranjang yang terbuat dari kayu bakau tersebut.
"Aku Azis, penduduk pulau ini. Ayahku yang menyelamatkanmu dan istrimu dari kecelakaan kapal malam itu." Azis menjawab pertanyaan Malik seraya memberikan segelas air putih.
Malik menerimanya dan mengucapkan terima kasih.
"Anda demam tinggi, mungkin karena cuaca angin laut yang dingin dan trauma malam itu. Dua hari Anda tak sadarkan diri." cerita Azis.
Perlahan Malik mulai meminum air yang diberikan Azis, rasa segar langsung menyelimuti tenggorokannya yang kering.
"Alhamdulillah, Anda sudah siuman pagi ini. Sayangnya, istri Anda belum sadarkan diri sejak malam itu." Azis lanjut bercerita.
"Sara?!" Malik menghentikan minumnya. Ia melihat sekeliling ruangan yang hanya ada Azis dan dirinya di situ.
"Dimana istriku?" tanya Malik cemas.
"Istri Sir ada bersama ibuku. Ibuku yang merawatnya."
Azis berjalan bersama Malik perlahan menuju sebuah bangunan berupa kamar yang terpisah dari rumah utama. Ibu Azis, Salma, wanita bertubuh gempal yang berkerudung menyambut mereka dengan senyum kebahagiaan.
"Alhamdulillah, Anda sudah sadar, Sir!" serunya tulus, tak henti-henti bibirnya mengucapkan puji dan syukur pada Tuhannya.
Malik mengucapkan terima kasih dengan senyum membalas ketulusan ucapan ibu itu.
"Ini ibuku, Sir." Azis mengenalkan ibunya pada Malik.
Malik menangkupkan kedua belah telapak tangannya di depan dada dengan sedikit menunduk karena Salma menolak menerima jabat tangannya.
"Maaf sudah merepotkan Anda." ucap Malik ramah.
"Bicara apa Anda ini. Bagi kami dan penduduk di sini, teman Sir Sam adalah seperti Sir Sam sendiri. Merawat anda adalah anugerah bagi kami." sahut Salma, tanpa berkedip menatap wajah Malik.
"Ibu, Sir ini ingin menjenguk istrinya." bisik Azis yang merasa risih melihat pandangan kagum ibunya melekat ke wajah Malik.
"Ah, iya!" Salma tersadar dari sikap memalukannya dan berusaha terlihat normal kembali.
Salma, Azis dan Malik memasuki ruangan yang ukurannya lebih kecil dari ruangan tempat Malik sebelumnya dengan pintu yang juga rendah, hingga Malik terpaksa menunduk untuk bisa masuk.
Mereka menghampiri sebuah ranjang yang di atasnya Sara dengan selimut menutupi tubuhnya hingga ke atas dada dan basuhan kain lembab menutupi keningnya.
Malik bergegas duduk di hadapan Sara dan menyentuh pipi gadis itu.
"Sudah berapa lama ia seperti ini?" tanya Malik khawatir.
"Sejak dibawa suamiku dari kapal terkutuk itu. Dia demam selama 2 hari ini." jawab Salma.
"Apa kata dokter?" tanya Malik lagi.
"Dokter memberikan obat penurun demam. Namun ia belum sadar juga. Jika hanya demam, seharusnya ia sudah sadar." Salma menerangkan.
Malik mencoba mengingat kembali malam dimana Sam menyelamatkan Sara, membawanya keluar dari kamar yang berasap. Saat itu Sara dalam keadaan setengah sadar dan lunglai, tanpa tenaga.
"Assalamu'alaikum, ternyata kalian berkumpul di sini."
Semua menoleh ke arah suara yang berasal dari arah pintu. Ternyata Amar dan anak termuda mereka, Salim, berdiri di sana.
"Wa'alaikumussalam." Salma dan Azis menjawab salam Amar.
"Bagaimana kondisimu, Sir?" tanya Amar pada Malik yang masih terlihat pucat.
"Berkat bantuan Anda dan keluarga, aku selamat dan sehat, pak." jawab Malik, tersenyum.
"Alhamdulillah." sahut Amar.
"Bagaimana kabar Sam? Apa dia selamat?" Malik menanyakan keadaan Sam yang ia tinggalkan di kapal meledak bersama Adhitia malam itu.
Amar tertawa pelan.
"Selamat? Siapa yang berani macam-macam dengan Sir kami. Tentu saja beliau selamat." Azis menyahuti pertanyaan Malik dengan bangganya pada sosok Sam.
Malik tersenyum menanggapinya.
"Sir Sam terluka parah, tapi masih selamat.Tadi malam ia meneleponku, memintaku untuk mengabarkan padamu bahwa ia baik-baik saja. Saat ini ia sedang dirawat di resort pribadinya di pulau selatan sambil menghindari kepolisian."
Malik mengangguk, ia paham maksud Sam. Sam telah banyak membantunya kali ini. Bahkan pria berwajah oriental itu mengerahkan sebagian pasukan kepolisian untuk melindungi dan menyelamatkannya, padahal ia bukan lagi anggota di sana. Namun berkat reputasi dan jasanya pada Nanda, beberapa anggota polisi secara sukarela bergabung di operasi malam itu. Jadi wajar saja jika ia menghindari kepolisian dan membiarkan Nanda berpikir untuk menyelesaikan sisa-sisa kekacauan sendirian.
"Sir Sam juga berpesan, Anda dan istri tidak mengaktifkan ponsel selama beberapa hari. Dan sebaiknya menetap di sini hingga Sir Sam mengatakan keadaan sudah aman." lanjut Amar, menatap lurus ke wajah Malik yang terdiam.
"Baik. Terima kasih, pak." ucap Malik.
Salma datang membawa nampan berisi beberapa gelas minuman hangat.
"Jadi, pemuda tampan ini akan tinggal bersama kita. Bagus sekali." Salma mengutarakan kegembiraannya.
"Apa maksudmu? Menurutmu aku tidak tampan lagi?" celetuk Amar, berpura-pura cemburu dengan ucapan Salma.
Malik tertawa kecil, memamerkan gigi putih dan lesung pipinya yang tersamar di raut wajah kusutnya.
"Tentu saja kau masih yang paling tampan! Kau, Azis, dan Salim adalah pria yang paling tampan di pulau ini." Salma duduk di sebelah Amar sembari mencubit lengan suaminya dengan manja.
Kedua anak mereka tertawa terpingkal-pingkal.
"Ada apa? Kenapa mereka menganggap ini sangat lucu?" Malik heran.
Amar ikut tertawa.
"Nanti, saat Anda sudah sehat, Anda akan kuajak berkeliling pulau ini. Baru Anda akan mengerti maksud ucapan istri cantikku ini." katanya sambil meraih gelas berisi minuman hangat buatan istri tercinta dan meneguknya perlahan.
Malik mengikutinya.
"Sir, namaku Azis. Aku anak tertua di rumah ini. Usiaku 25 tahun. Salam kenal." Azis, putra tertua Amar maju dan memperkenalkan diri.
Malik mengangguk, tersenyum ramah sambil menikmati kehangatan minuman yang dipegangnya.
"Ini Salim, adikku satu-satunya. Usianya 18 tahun. Dia akan mengikuti sekolah kepolisian tahun ini, tempat Sir Sam dulu belajar." lanjut Azis seraya memeluk Salim yang tampak lebih pendiam dan malu-malu dibanding dirinya yang riang dan bersemangat.
"Kau pasti ingin menjadi polisi yang hebat seperti Sam, kan?" tebak Malik.
"Benar, Sir. Kami selalu ingin menjadi seperti Sir Sam. Kami mengidolakan beliau!" lagi-lagi Azis yang bersuara.
"Lalu, kenapa kau tidak menjadi polisi juga?" tanya Malik pada Azis.
Azis tersenyum masam.
"Aku punya penyakit di paru-paruku, karena itu tubuhku rapuh dan tidak kuat." jawab Azis dengan penuh senyum di wajahnya. Tersirat kekecewaan mendalam di matanya, namun ia iklas. Ia tidak menyalahkan keadaannya. Malah ia tetap tersenyum riang dan memberi dukungan pada adiknya.
Malik memperhatikan keluarga yang telah menyelamatkannya dan Sara. Keluarga kecil sederhana yang tampak aneh. Karena kedua putra keluarga ini sama sekali tidak ada kemiripan, bahkan dengan Amar dan Salma pun keduanya tidak mirip. Namun mereka seolah tidak mempermasalahkannya. Mereka hidup dengan damai dan bahagia.
*****
****
***
BERSAMBUNG