
Pria setengah baya berkulit gelap menepikan perahu karetnya ke bibir pantai dengan dayung karena mesin kapalnya mati tiba-tiba. Dalam perahu ia membawa Malik yang tergolek dengan tangan memeluk kedua lututnya karena angin laut malam yang sangat dingin, sementara jasnya yang ia pakai semalam di selimutkan pada Sara.
Di bibir pantai telah berdiri dua orang pria dan seorang wanita berkerudung berbadan gempal menanti mereka. Seketika mereka berlari mendekati perahu saat telah mencapai tepian.
"Apa yang terjadi?"
"Ada apa hingga Sir Sam meneleponmu?"
"Siapa mereka?". Tanya mereka bersamaan dengan tak sabar.
"Bantu aku mengangkat mereka!" pria setengah baya itu tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Ia sibuk menarik perahu karetnya ke daratan dan mengikatkan pada pasak besar.
"Amar, siapa mereka?" wanita bertubuh gempal dan berkerudung itu kembali mengulang pertanyaannya dengan halus kepada pria itu.
"Mereka tamu Sir Sam. Kapal mereka meledak, jadi Sir Sam memintaku menyelamatkan mereka." jawabnya seraya mengatur nafas.
"Ayah, tubuh pria ini menggigil!"
"Wanita ini demam tinggi!" seru dua pemuda yang disuruh mengangkat Malik dan Sara.
"Cepat bawa mereka ke rumah! Kita harus merawat mereka dengan baik." perintah pria itu.
Kedua pemuda itu segera menggendong Sara dan Malik menuju rumah mereka yang tak jauh dari sana.
Pria setengah baya yang dipanggil dengan nama Amar tadi menatap titik ujung laut yang berwarna kemerahan dengan gusar.
"Apa yang terjadi?" tanya wanita tadi yang berdiri di sebelahnya, ikut merasakan kegusarannya.
"Sir Sam masih di sana. Apakah Inspektur Nanda akan menyelamatkannya?" jawab Amar lirih dengan penuh keraguan.
"Astaghfirullah! Apa yang membuat Sir Sam kembali berhubungan dengan polisi? Apa ada kaitannya dengan kedua orang tadi?"
"Entahlah, istriku. Usiaku sudah terlalu tua untuk mengerti jalan pikiran mereka." sekali lagi Amar menampakan wajah cemasnya.
"Ibu! Ayah! Kenapa masih di sana? Apa yang harus kami lakukan pada wanita itu?" salah satu anak mereka memanggil.
Sang ibu, wanita bertubuh gempal tadi, terkejut.
"Apa yang sudah kalian lakukan?!" tanyanya dengan nada tinggi.
"Aku tak tahu, ibu. Karena itu aku memanggil ibu untuk mengurusnya." jawab anak laki-laki berusia remaja itu.
Ibu berbalik dan mendekatinya, lalu berjalan bersama menuju rumah mereka.
*****
Di rumah sakit kecil pada salah satu pulau terdekat dengan meledaknya kapal Mayantha Luxury Cruise, tampak Nanda berjalan bergegas diikuti beberapa bawahannya sambil melihat sekeliling yang ramai dengan korban ledakan sedang diberikan pertolongan pertama oleh para perawat dan petugas kepolisian lain.
"Dimana Sir Sam dirawat?" tanya Nanda pada petugas administrasi yang sibuk menjawab telepon yang masuk bergantian.
"Maaf, Sir. Saya tidak tahu dimana Sir Sam." jawab petugas itu sambil menutup gagang telepon dengan sebelah tangannya.
"****!!" umpat kekesalan Nanda, memukul meja administrasi.
Si petugas kembali menjawab telepon yang sempat ia abaikan sebentar, lalu menutupkannya kembali.
"Sir, seorang pria yang dikabarkan datang bersama Sir Sam sedang menjalani operasi di ruang lantai dua." seorang petugas kepolisian menghampiri Nanda dan memberi laporan.
Tanpa berpikir lagi, Nanda segera berjalan menuju lift dan membawanya bersama petugas yang melapor tadi ke lantai dua.
Nanda berjalan mendekati ruang operasi yang bertanda lampu merah pada pintu atasnya, ketika seorang perawat dengan pakaian operasi dan masker keluar dari ruangan itu.
"suster, siapa yang sedang dioperasi?" Nanda mencegat perawat itu.
"Pasien korban ledakan kapal tadi subuh." jawabnya tanpa melepas masker.
"Pernisi, Sir. Saya harus menelepon meminta bantuan darah untuk pasien." perawat itu segera menuju telepon rumah sakit yang berada di sudut koridor.
Nanda melanjutkan langkahnya menuju pintu ruang operasi yang tertutup rapat. Ia mencoba mendorong pintu tersebut, namun tak bisa. Pintu itu terkunci dari dalam.
"Siapa pria itu?" tanya Nanda pada bawahannya yang memberi laporan.
"Sir, dia pria yang ada dalam video semalam." jawab bawahannya sambil berbisik.
Wajah Nanda tidak tampak terkejut. Ia mengangguk perlahan sambil mengurut rahangnya.
"Siapa dokter yang mengoperasinya?" tanyanya lagi.
"Dokter Agastya, Sir!" jawab sang bawahan dengan tegas.
*****
Setelah operasi selesai, sesaat ketika dokter Agastya kembali ke ruangannya dan duduk di kursi prakteknya dengan wajah lelah dan mata merah, Nanda mengetuk pintu ruangan itu.
"Ya?" Dokter Agastya berdiri, terkejut melihat petugas kepolisian berdiri di depan ruangannya.
"Dokter Agastya?" tanya Nanda.
"Ya, Sir? Ada yang bisa kubantu?"
Nanda melangkah masuk tanpa menunggu dipersilahkan.
"Saya inspektur Nanda dari kepolisian pusat, ingin mengajukan beberapa pertanyaan tentang para korban ledakan kapal Mayantha Luxury Cruise." Nanda memperkenalkan diri dengan gaya tegasnya.
"Apapun yang saya ketahui, akan saya beritahu, Sir." dokter Agastya bersikap kooperatif.
"Iya, Sir." jawab Agastya tenang.
"Mulai jam berapa para korban mendatangi rumah sakit ini?" Nanda bertanya lagi.
"Saya tidak tahu persis, tapi saat itu saya baru selesai membantu dokter Jain operasi Cesar pasiennya. Mungkin jam 4 subuh." jawab Nanda kembali.
"Anda tahu siapa pemilik Mayantha Luxury Cruise?"
"Maaf, Sir. Saya tidak tahu. Saya sibuk dengan rumah sakit kecil ini hingga tidak punya waktu untuk bersenang-senang di sana." Agastya tersenyum masam.
Nanda menanggapinya dengan senyuman pula.
"Pasien yang baru anda operasi tadi, apa anda mengenalnya?" tanya Nanda berhati-hati.
"Sir, sebenarnya memberikan informasi personal pasien adalah dilarang, tapi untuk kepentingan investigasi Anda, akan kukatakan..."
"Tidak usah diberitahu jika anda terpaksa, dokter!" Nanda memotong.
"Kami akan datang lagi saat pria itu sudah tidak lagi menjadi pasien di sini." Nanda beranjak bangkit dari duduknya seraya tersenyum dingin.
"Terima kasih atas kerja samanya." Nanda memberi salam perpisahan sementara pada Agastya.
"Senang bisa membantu anda, Sir." sahut Agastya.
"Ah, iya. Saat pers dan orang lain menanyakan hal yang sama, kuharap kau juga memberikan jawaban seperti ini." pesan Nanda sebelum keluar dari ruangan. Agastya mengangguk pelan.
Di luar ruangan Agastya, Nanda berjalan tegak diikuti oleh bawahannya.
"Awasi dokter Agastya ini! Cari tahu hubungannya dengan pria yang ada di video semalam!" perintah Nanda.
"Baik, Sir!" sahut sang bawahan.
"Segera deportasi pria itu begitu ia siuman! Aku tidak mau resiko tersebarnya aksi kriminal yang terjadi di Mayantha Luxury Cruise, redam semua beritanya!" lanjutnya memberi perintah.
"Siap, Sir!"
"Ada berita tentang Sir Sam?" kali ini Nanda bertanya.
"Tidak ada, Sir! Sepertinya ia kembali menghilang." jawab bawahannya.
"Pria itu!! Dia takkan bisa menghilang begitu mudah setelah membuat ulah. Dia juga sedang terluka parah!" gumamnya geram.
Seorang opsir berpangkat lebih rendah dari Nanda berjalan menghampirinya lalu memberi hormat.
"Ada berita apa?" tanya Nanda padanya.
"Sir Sam datang ke kapal dari pulau Hulhule malam itu, sementara ketiga temannya datang dari hotel Kaani di pulau Maafushi." lapornya.
"Siapa saja mereka?"
"Tuan Malik dan istrinya, Sara dari kota B. Dan pengawal istrinya, bernama Adhitia." jawabnya seraya menunjukkan ketiga foto di ponselnya yang ia dapat dari hotel Kaani.
Nanda meraih ponsel itu untuk melihat lebih jelas.
"Bukankah kedua orang ini yang ada di video?" Nanda menunjukkan foto Sara dan Adhitia pada bawahannya.
"Benar, Sir!" jawab bawahannya.
"Video apa, Sir?" tanya opsir yang baru datang tadi ingin tahu.
"Kau di ruangan mana semalam?" tanya Nanda.
"Sir Sam memintaku mengawas tuan Malik di bar." jawab opsir itu sambil menunjuk ke foto Malik.
Mata Nanda membulat terbelalak saat melihat foto Malik.
"Ini Malik? Maliknya tuan Sultan? Maliknya nyonya Seila?!" serunya tertahan.
"Iya, Sir! Aku sempat mendengar tuan Malik menelepon ayahnya yang disebut dengan nama Sultan oleh Sir Sam." cerita opsir muda itu.
"Astaga!!! Pantas saja drama ini menjadi tragedi!!!" Nanda mengusap kasar wajahnya yang makin kusut setelah mengetahui identitas teman-teman Sam.
"Kau tidak akan bisa beristirahat dengan tenang, Sam!! Kau benar-benar menyulitkan posisiku saat ini, sia**n!!!" karena kesal, Nanda mengangkat tangannya hendak membanting ponsel yang ia pegang, namun opsir pemilik ponsel buru-buru berseru,
"Sir, ponselku!!"
Nanda mengurungkan niatnya saat tangannya dipegangi opsir muda yang berdiri di depannya.
"Bantu aku membereskan masalah ini dan buat laporan untuk komisaris sebelum siang nanti!" perintah Nanda seraya memberikan ponsel opsir itu.
"Baik, Sir Nanda!" sahut opsir itu dengan semangat, lalu menghela napas lega sambil memeluk ponsel kesayangannya di depan dadanya setelah Nanda berlalu.
*****
****
***
Dokter Agastya