
Sudah lebih dari satu Minggu setelah Sara tersadar dari tidur panjangnya. Selama belum pulih sepenuhnya, ia tetap berada di dalam pondok. Tidak pernah keluar, seperti sifat biasanya, ia tidak bisa langsung akrab dengan orang-orang asing seperti Amar, Azis, atau Salim. Ia hanya berbicara kepada Salma, itu pun bila Salma yang duluan memulai pertanyaan atau pembicaraan.
Sara hanya memperhatikan kegiatan keluarga kecil Amar sepanjang hari melalui jendela pondok. Mengawasi Malik yang belajar memperbaiki jala untuk menangkap ikan bersama Azis, memperhatikan Amar menambal perahu Dhoni (perahu khas penduduk Maldives yang terbuat dari pohon kelapa), atau menyaksikan kegembiraan mereka saat Salim dan Amar kembali dari laut dengan membawa tangkapan ikan yang besar.
Untuk mengisi kebosanan selama di pulau itu, Sara belajar merenda dengan Salma. Awalnya gadis itu terasa putus asa karena jemarinya kaku memegang hakpen yang ukurannya lebih tipis dari sebuah pena. Belum lagi cara memegang benang yang membuatnya pusing, melilit di sela jemarinya hingga berbelit dan sukar dilepaskan. Malik menertawakannya. Awalnya ia merasa berkecil hati, namun ia seperti ditantang oleh pemuda itu. Ia mempunyai ide yang ingin direalisasikan untuk dipamerkan pada Malik, hingga ia ingin terus belajar. Beruntungnya, Salma dengan sabar mau membimbing dan memberi tips dan trik agar nyaman merenda.
Sesekali Malik ikut Amar dan Salim ke laut untuk menangkap ikan, Sara tidak bisa tenang karena ia masih trauma dengan lautan pasca ledakan di kapal Mayantha Luxury Cruise beberapa waktu silam. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada Malik. Sepanjang malam menunggu Malik di depan pintu pondok, berselimut kain tebal, hingga pemuda itu kembali saat matahari berada di ufuk timur.
Melihat kecemasan pada Sara, Amar dan Salma melarang Malik untuk ikut menangkap ikan di laut. Mereka mengkhawatirkan kesehatan Sara yang makin hari makin terlihat kurus, apalagi harus duduk sepanjang malam di depan pondok. Malik menuruti ucapan mereka.
***
Tidak terasa sudah lebih satu bulan Malik dan Sara tinggal bersama keluarga Amar di pesisir pantai pulau kecil itu.
Lambat laun Sara mulai membuka diri. Memulai percakapan terlebih dahulu pada Salma, dan mulai duduk bersama saat keluarga itu berkumpul di luar sambil membakar ikan atau udang hasil tangkapan hari itu.
Rumah keluarga Amar paling dekat dengan pesisir pantai. Jarak rumah mereka dengan rumah penduduk lain agak jauh. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk berkunjung ke tetangga mereka. Salma dan Azis berkunjung ke tetangga mereka hanya bila ingin menitip barang belanjaan atau mengambil uang hasil penjualan ikan.
Selama itu Sara merasa kenyamanan dan ketenangan tinggal di sana. Walau tanpa ponsel, novel dan drama, hari-harinya terasa menyenangkan. Terlebih lagi saat ia mulai menguasai teknik-teknik sederhana merenda. Sepertinya merenda adalah passion barunya sekarang. Ia merasa sangat senang saat bisa menyelesaikan sebuah syal panjang. Salma memberinya penghargaan atas keberhasilannya dengan memasak makanan lezat. Hal yang sederhana, tapi sangat berkesan bagi Sara dan Malik yang hanya orang asing bagi mereka.
Sara sangat menyukai Salma. Mungkin karena usia Salma yang hampir sama dengan usia ibunya di kota B, atau karena pembawaan Salma yang tenang dan selalu tersenyum walau ia membuat kesalahan.
Sara juga sangat menyukai masakan Salma. Menu keseharian mereka tidak lepas dari nasi dan ikan. Tapi Salma selalu punya cara dan resep bervariasi setiap harinya dalam mengolah masakan ikan-ikan tersebut. Dan itu membuat tubuh mungil Sara yang awalnya terlihat kurus dan lemah, kini menjadi berisi dan bersemangat.
Hari itu Sara baru saja menyelesaikan rajutan sebuah topi kupluk dari hasil merendanya. Ia tak sabar untuk memberikannya pada Malik.
Mata Malik berbinar seperti mata seorang anak kecil polos yang mendapat hadiah ulang tahun yang diidam-idamkan saat menerima topi kupluk buatan tangan Sara.
"Benar untukku?" Malik masih tak mempercayai matanya.
Sara mengangguk cepat sambil tersenyum malu-malu. Malik tertawa kecil, bahagia. Ia langsung memakai topi itu di kepalanya.
"Nyaman. Aku sangat menyukainya. Terima kasih." ucap Malik bersungguh-sungguh dengan gayanya yang datar dan sok kalem.
"Jangan bersikap seperti CEO sombong dan dingin. Saat ini wajahmu sama sekali tidak cocok dengan gaya lamamu." ledek Sara, menahan geli.
Wajah Malik berubah masam. Ia memegangi wajahnya.
"Memangnya ada apa dengan wajahku yang sekarang?"
Sara mengambilkan sebuah cermin bulat berukuran sedang yang ada di dalam pondok lalu memberikannya pada Malik. Malik menerimanya dan memperhatikan perubahan penampilannya yang sekarang.
Penampilan maskulin dan rapi Malik putra kesayangan tuan Sultan kini berubah. Rambut pendek yang dulu selalu tertata rapi dengan baluran Pomade atau minyak rambut, kini gondrong dan tak tertata dengan warna kecoklatan karena sinar matahari. Wajah tampannya yang selalu mulus dan licin, kini ditumbuhi kumis dan cambang di sekeliling rahang. Kulit wajah kecoklatannya makin gelap, menambah nilai eksotis di dirinya.
"Astaga!! Kenapa aku bisa seperti bapak-bapak begini?" gumamnya pelan, terkejut melihat perubahan dirinya.
Sara menertawakannya. Belum puas meledek Malik, tiba-tiba ia merasakan sesuatu mengganjal di lambungnya. Ia menahan mulutnya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain memegangi perutnya.
"Huekk!" Sara bersuara, dan segera berlari ke kamar mandi.
Malik melemparkan cermin yang ia pegang ke arah ranjang, lalu menyusul Sara.
"Sara?! Kau kenapa?!" tanyanya panik.
Sara tidak menjawab. Gadis itu sibuk memuntahkan isi perutnya yang membuatnya tidak nyaman. Setelah beberapa saat kemudian, ia keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat dan lemas.
"Ada apa? Apa kau sakit?" Malik meraba kening Sara. Suhu tubuhnya normal, menandakan gadis itu tidak sedang demam.
Malik memapah Sara untuk duduk di kursi dan memberinya segelas air putih hangat.
"Minum ini." ujarnya dan memastikan Sara meneguk air hangat itu perlahan.
Sara menghela nafas lega. Wajah pucatnya kini kembali bersemu kemerahan.
"Ada apa?" tanya Malik lagi.
"Entahlah. Akhir-akhir ini merasa sering mual dan sedikit pusing." jawab Sara lemah.
"Mungkin karena pola makanmu yang luar biasa rakusnya hingga lambungmu terkejut dan kewalahan." pikir Malik.
Sara tertawa mendengar itu.
"Aku rakus? Halo?? Apa kabar perut buncitmu, tuan muda Malik?" tak suka dikatain rakus, Sara malah menunjuk perut Malik yang memang terlihat gundukan kecil di sana.
Wajah Malik memerah.
Sialan! Gadis ini ternyata memperhatikan perut six pack-ku! Matanya jeli juga! Jangan-jangan dia juga memperhatikan....
Malik menghentikan batinnya memikirkan apa yang dipikirkan Sara.
"Jangan mengalihkan pembicaraan! Kita harus memeriksakanmu ke dokter." Malik mengalihkan pikirannya kembali ke kesehatan Sara.
"Aku tidak mau menemui dokter bersamamu!" Sara mencibirkan bibirnya.
"Kenapa? Apa kau mau pergi bersama Azis atau Salma?"
"Tidak!!!" dengan tegas Sara menolak.
"Maka kau harus pergi bersamaku!" paksa Malik.
"No way! Aku tak suka cambang liarmu!" alasan Sara membuat Malik terkekeh.
"Hoooh...kau tak suka cambang ini?" lirihnya nakal.
Malik menggosokkan cambangnya ke wajah Sara dengan jahil. Sara berteriak karena geli dan mendorong pria itu hingga terjerembab.
"Baik! Kau tak suka cambangku, aku tak akan memakai topi buatannya lagi." Malik merajuk, melepaskan kupluk buatan Sara dari kepalanya dan menghempaskannya ke lantai lalu keluar dari pondok.
"Hey!! Hasil kerja kerasku tidak dihargainya sama sekali!!!" Sara menghentakkan kakinya berulang-ulang di lantai karena kesal. Ia mengikuti Malik keluar pondok dan mengejarnya.
"Jangan seperti anak kecil!" Sara berjalan mengimbangi langkah lebar Malik yang cepat.
"Siapa yang seperti anak kecil! Sebaiknya kau bercermin." sahut Malik tetap meneruskan langkahnya.
Malik menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Sara.
"Bagus. Memang seharusnya begitu!" ujar Malik dengan kepala terangkat.
"Tapi dengan satu syarat!" Sara mengajukan permintaan.
"Apa itu?"
"Kau cukur dulu cambangmu. Aku benar-benar tidak menyukainya." pinta Sara dengan suara pelan.
"Kau yang harus mencukurnya!"
"Deal!" seru Sara senang.
Gadis itu segera berlari ke rumah keluarga Amar untuk meminjam pisau cukur manual dan krim pencukur. Salma mengikuti Sara yang membawa alat-alat cukur sambil berlari kembali ke pondok.
Malik sudah menunggunya di sebuah bangku kayu di depan pondok. Tanpa menunggu perintah, Sara segera mulai mengoleskan rahang dan dagu Malik dengan krim cukur lalu mencukur habis cambang yang mengganggu ketampanan wajah Malik.
Dari kejauhan Salma tertawa kecil, menahan geli melihat tingkah pasangan itu. Tak dapat menahan rasa penasaran, Salma mendekati mereka.
"Ternyata istrimu ini memiliki banyak bakat yang luar biasa. Ia bahkan bisa mencukur cambang dan janggutnya." puji Salma pada Malik dan Sara.
"Ini hal biasa, sudah menjadi kebiasaanku. Di rumah aku selalu yang mencukur cambang dan janggut ayah."sahut Sara tanpa menoleh ke Salma karena fokus melihat wajah Malik.
"Sayangnya aku tak bisa memotong rambut. Jika bisa, akan kupotong sekalian rambut tuan muda ini." lanjut Sara yang tiba-tiba tidak menyukai ketidakteraturan.
Belum lima belas menit kemudian Sara sudah menyelesaikan pekerjaannya. Salma mengangguk-angguk sambil tersenyum kagum dengan pekerjaan Sara.
"MaasyaAllah! Kini aku tahu siapa yang menjadikanmu terlihat begitu tampan dan gagah. Ternyata tangan dan perhatian istrimu, nak." ucap Salma, membuat Malik tersenyum malu.
"Karena itu aku mencintai istriku." sahut Malik menggoda Sara.
Sara terkejut. Pisau cukur yang sedang ia bersihkan melukai jari tangannya dan terjatuh.
"Aduh!" desisnya.
Malik segera bangkit dari duduknya dan meraih tangan Sara yang terluka.
"Apa yang kau lakukan?" Tanpa berpikir lanjut, Malik mengecup jari Sara yang terluka untuk menghentikan darah yang mengalir.
Desiran angin pantai menyibak anak rambut Sara yang tidak terikat. Kesejukannya menembus relung hatinya. Sara menatap lekat wajah Malik.
Harusnya aku yang bertanya seperti itu! Di sini tidak ada tuan Sultan. Kenapa kau harus bersikap seolah kau benar-benar mencintaiku?
Sara membatin.
"Aku akan mengambil obat luka dan pembalut luka." Salma segera masuk ke dalam pondok mereka untuk mengambil obat luka.
Setelah Salma pergi, Sara segera menarik jarinya dari mulut Malik.
"Yang tadi tidak lucu! Tolong jangan bercanda seperti itu." Sara memalingkan tatapannya ke arah lain, menggenggam jarinya yang terluka.
"Seperti apa?" Malik berpura-pura tidak mengerti.
"Seperti tadi kau bilang bahwa kau..." Sara tidak meneruskan ucapannya. Ia sadar, ia seharusnya tidak terpancing emosi dengan permainan kata Malik.
"Mencintaimu?" Bisik pelan Malik menggelitik perasaan Sara.
"Apa kau tidak suka dengan kalimat itu?" tanya kemudian, mendekati Sara.
"Apa kau mengatakan itu hanya untuk menghibur dirimu yang kesepian karena lama tidak bertemu Luna?" Sara kembali menatapnya, kali ini dengan tatapan menyindir tajam.
Malik terhenyak. Sudah lama ia melupakan nama dan gadis itu. Terus terang ia tidak lagi menyimpan nama gadis itu di hatinya sejak ia tahu kalau Sam telah menidurinya.
"Aku telah melupakannya. Dia selingkuh dengan Sam!" jawab Malik sambil tersenyum pahit.
Kening Sara mengkerut dan mulutnya menganga lebar.
"Tidak mungkin!" serunya tertahan.
"Kau puas sekarang?!" Malik merasa risih dengan tatapan dan ekspresi wajah Sara yang seakan meledeknya.
"Maaf! Aku tidak tahu kalau kau dicampakkan."
"Hey! Bukan aku yang dicampakkan!" sahut Malik sengit, harga dirinya dilecehkan.
Kedatangan Salma menghentikan pembicaraan mereka. Salma segera mengobati luka di jari Sara dan membalutnya dengan plaster kecil.
"Kenapa kau memarahinya, nak. Kau mungkin jarang mengungkapkan rasa cintamu pada istrimu hingga ia sangat terkejut saat kau mengatakan bahwa kau mencintainya dihadapanku." Salma mengomentari raut wajah kesal yang tampak di wajah Malik.
Sara tersenyum geli karena kesalahpahaman itu.
"Maafkan aku, suamiku." ujar Sara pelan sambil menarik kedua daun telinganya sendiri.
"Istrimu sudah meminta maaf, cepat maafkan dia." bujuk Salma pada Malik.
Malik mendeham kasar sambil melotot ke arah Sara, lalu pergi menjauh dari kedua wanita itu.
*****
****
***
BERSAMBUNG
Malik dengan rambut panjang