PASSION

PASSION
30. Tak Ada Yang Peduli



Malik mendapati Sara tengah asyik mendengarkan musik dengan memakai earphone, sambil menari mengikuti irama yang hanya dia saja mengerti.


Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Sara.


"Pantas dia tidak mendengarkanku, Dia asyik dengan dunianya sendiri." gumamnya.


Sara asyik menikmati irama musik yang hanya bisa terdengar olehnya, tanpa menyadari kalau ia sedang diamati. Malik yang berdiri bersandar di pinggir pintu kamar mandi sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Sandaran Malik tiba-tiba goyah dan pria itu hampir tersungkur saat Sara melakukan gerakan yang sensual bak sang penari perut pada tariannya. Jiwa lelakinya seketika terusik karena gerakan erotis itu, mungkin juga karena efek alkohol yang belum hilang sepenuhnya.


Merasakan bahaya yang merayapi gelora lelakinya, Malik mengambil handuknya dan menutupi kepala Sara dengan itu.


"Hey!!!" Sara berteriak kesal karena kesenangannya terganggu. Dia menghentikan tariannya dan melepas earphone-nya.


"Hentikan itu!" Malik memperingatkannya seraya mengacungkan jari telunjuknya ke wajah Sara.


"Apa?!!" Sara menyibakkan handuk Malik yang menutupi wajahnya.


"Tarianmu itu!!! Gerakanmu tadi bisa merusak pagar pertahanan seorang pria dewasa.!"


"Apa maksudnya?" Sara seolah tidak mengerti maksud ucapan Malik.


Malik geram. Ia mengangkat kedua tangannya dan seolah-olah ingin mencekik Sara. Tapi ia urungkan niatnya, karena ia tidak sanggup melakukan itu. Malik berbalik dan menjauhinya.


"Tunggu!!" Sara menarik tangan Malik.


"Apa maksudmu...kau...merasa ...kalau aku... menggairahkan?" tanya Sara dengan suara mendesah dan dibuat-buat manja seakan berniat menggoda, seraya mendekat ke tubuh Malik.


Malik tidak bergeming. Ia menatap tajam ke wajah gadis bermata bulat itu.


"Apa kau sedang menginginkan 'itu'? Aku bisa menendangnmu dari teras balkon menuju kamar Adhitia. Kau goda saja dia." Malik berkata tanpa berkedip menatap Sara.


Sara terdiam. Mata Malik kembali menguncinya. Dilepaskan tangannya dari tangan Malik.


"Pikiranmu mesum! Aku hanya bercanda!" mengalihkan pandangannya dari wajah Malik.


"Jangan pernah bercanda seperti tadi! Atau aku tidak akan menahan diri seperti malam itu!!" ancam Malik.


Sara menelan air liurnya yang mengganjal di kerongkongan. Ia teringat malam saat ia mabuk dan Malik berani mencumbunya. Jika ia tidak mengingatkannya akan janji pria itu, tentu ia benar-benar akan merasakan malam pertama sesungguhnya dengan Malik.


'Sorry.." ucapnya menyesal.


Malik berbalik dan menuju lemari pakaiannya.


"Malik.." panggil Sara.


"Apa kau menyukaiku?". Pertanyaan Sara yang tiba-tiba itu menghentikan langkah Malik.


"Aku tidak menyukai sesuatu yang bukan milikku. Dan aku bukan orang yang suka mengambil milik orang lain." jawab Malik tanpa melihat ke arah Sara.


Sara mengangguk tanda ia mengerti ucapan Malik.


"Berhentilah bersikap konyol!" Malik tau apa yang dilakukan Sara tanpa harus melihatnya.


"Bersiaplah!!! Kita akan makan siang di rumah orang tuamu." lanjut Malik


Sara tersenyum sumringah. Dia menahan kegembiraannya yang luar biasa.


"Malik, kau benar-benar amazing!!" seru Sara kegirangan.


"Kau sangat tahu kalau aku sedang merindukan keluargaku." tiba-tiba Sara memeluknya dari arah belakang.


Wajah Malik menjadi merah.


"Kera bodoh!!!! Sudah kukatakan, 'Jaga Sikapmu!!' Lepaskan tanganmu!!!" Malik berteriak kesal.


Sara melepaskan pelukannya sambil menyengir


" Maaf!! Maaf, tuan!!!" ucapnya setengah bercanda, berlari meninggalkan Malik.


Mendapati organ tubuh bagian bawahnya menegang akibat pelukan Sara, Malik mendengus kesal lalu berjalan kembali ke kamar mandi.


*****


Rena menyambut kedatangan Sara dengan sangat bahagia bukan kepalang. Kedua kakak beradik itu berteriak histeris sambil berpelukan dan berlompatan.


"Sis...I Miss U!!!!"


"Miss u too!!!"


Ibu mereka memisahkan keduanya karena sangat malu dengan sifat kekanak-kanakan kedua putrinya.


"Berhentilah berbuat konyol!! Kakakmu ini sekarang nyonya muda keluarga terpandang. Jaga image lah!!!" ucap Ibunya.


Malik tersenyum. Dia membenarkan ucapan ibu mertuanya, tapi ia sangat senang melihat kedua gadis itu berbahagia karena usulannya.


"Iya, sis! Ibu memasak sambal udang kesukaanmu!" Rena menimpali.


"Asyik!!! Aku ingin makan 3 porsi siang ini." seru Sara sambil berlalu terlebih dulu ke meja makan.


Rena menoleh ke arah pintu. Dia melihat seseorang di dalam mobil putih yang membawa Sara dan Malik. Gadis itu menghampirinya.


"Bro Adhitia?" sapanya.


"Halo, Rena!"


"Kami akan segera makan siang, ayo masuk dan bergabung." ajak Rena.


Adhitia tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya mengantarkan tuan dan nyonyanya. Apa pantas harus ikut makan bersama mereka dalam satu meja? pikirnya.


Adhitia menggeleng sambil tersenyum, memamerkan lesung pipinya.


"Aku di sini saja." jawabnya singkat.


Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Malik yang menelepon.


"Ya Tuan?" jawabnya.


"Masuk dan bergabunglah di sini!" suara datar khas Malik terdengar setengah memerintah daripada meminta.


"Baik, Tuan Malik. Aku segera masuk." Adhitia segera menutup ponselnya dan keluar dari mobil.


Rena menarik tangan Adhitia dengan tersenyum lebar. Membawa pemuda tampan itu masuk ke rumahnya.


***


"Sis, kau melupakan sesuatu!" teriak Rena begitu mereka tiba di meja makan.


"Apa?" Sara keluar dari pintu dapur dengan memakai celemek.


"Sis, kau meninggalkan pemuda tampan ini sendirian di mobil sementara kita makan di sini. Itu tidak adil." oceh Rena seraya mendudukkan Adhitia di kursi makan yang terdekat dengan ayah Imran.


Malik memperhatikan Sara, Rena, dan Adhitia bergantian. Wajah canggung Sara, Adhitia yang tersenyum malu-malu sampai tertunduk, juga keleluasaan Rena berbicara dan menyentuh Adhitia secara bebas tanpa segan.


Dari situ Malik menyadari kalau ketiganya sudah saling mengenal sejak lama.


"Maaf. Tapi ada yang harus kulakukan di dalam sini. Aku melihat ada yang kurang di meja makan." kata Sara kemudian.


"Aih, nyonya muda masih memasak sendiri di dapur?" Rena menggodanya dan berlari mendekati kakak perempuannya.


"Jangan banyak bicara, sini bantu aku." Sara menarik tangan Rena menuju dapur.


"Jadi ini pemuda tampan kedua yang disebutkan tuan Sultan hari itu." Imran membuka obrolan alih-alih menyapa Adhitia.


"Namaku Adhitia, pak." jawab Adhitia sambil tersenyum sopan dan ramah.


"Wah, memang benar-benar tampan. Dia seperti aku waktu muda dulu kan, Bu?" Ayah Imran berkelakar sambil memegang pipinya seolah-olah ia juga pernah memiliki lesung pipi.


"Terserah ayahlah. Ibu sudah tak ingat lagi." sahut ibu yang sedang mengatur sajian di meja makan.


Mereka tertawa.


"Darimana asalmu, nak?" tanya ibu kemudian.


"Saya lahir di kota A. Pindah ke kota ini sejak 6 tahun lalu." jawab Adhitia.


"Oh ya? Ibu juga berasal dari kota A. Siapa orang tuamu, mungkin Ibu mengenalnya."


Pertanyaan ayah Imran membuat Adhitia salah tingkah.


Pemuda itu memberi senyum getir dengan tatapan mata yang tidak fokus.


Malik yang sedari tadi diam dan mengamati mereka, dibuat tertarik dengan gelagat Adhitia saat ditanya tentang asal usul dan orang tuanya. Ia menegakkan bahunya dan mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melihat Adhitia lebih jelas lagi.


"Ayahku..... hanya seorang supir ....taksi. Dan ibuku.... meninggalkanku ....saat aku berusia 8 tahun." jawab Adhitia pelan dan terbata-bata.


Imran seketika diam, menyesal menanyakan hal itu.


*****


****


***


**


*