
Keesokan harinya, di hari Jumat yang diyakini penuh dengan rahmat, kesibukan dan kemeriahan di rumah keluarga Imran terlihat. Para tetangga dan rekan kerabat sibuk mengatur persiapan dan kelengkapan untuk acara sakral pernikahan Sara.
Hiasan-hiasan bunga menempel dan menggantung di setiap sisi dinding rumah, papan bunga berukuran raksasa baru datang dan berdiri di depan rumah membuat semua orang ingin melihat dan mengagumi.
Acara pernikahan antara Sara dan putra tuan Sultan sengaja diadakan di rumah keluarga Imran yang sederhana sesuai permintaan Imran dan istrinya, alasan mereka sangat sederhana, karena Sara adalah putri pertama mereka, jadi mereka ingin berbagi dengan tetangga sekitar yang sudah mereka anggap sebagai keluarga besar.d Dan tuan Sultan menyetujui hal itu.
Di kamar Sara yang sudah dihiasi dengan nuansa putih dan hiasan bunga-bunga asli dan menebar keharuman alami, seorang wanita perias pengantin dan asistennya tak berhenti mengagumi hasil kerja mereka yang diaplikasikan ke wajah Sara.
"Wah, pengantin wanita ini benar-benar mempesona.", pujinya.
"Tapi kenapa seperti terlihat kurang bahagia, ya. Terlihat tegang dan tak ada senyuman.", lanjut perias itu.
"Wajar, kan? Anak ini pasti kurang tidur karena semalaman memikirkan calon pangerannya." asistennya menyahut sambil tertawa kecil.
"Hihihi, benar juga. Aku dengar putra Tuan Sultan tinggal di LN sejak lulus sekolah menengah dan kuliah di sana. Dia pasti sangat tampan seperti ayahnya." Perias pengantin itu mengiyakan.
"Apa kau sudah melihatnya, Sara?" tanyanya kemudian.
Sara menggeleng pelan. Sebenarnya tidak ingin mendengar ocehan mereka, itu membuat sesak dadanya.
"Ya Tuhan, pantas saja kau tegang dan kaku seperti ini." seru perias itu.
"Siapa nama calon pangeran kita hari ini?", asistennya bertanya.
Sara terdiam. Ia juga tidak tahu namanya. Dan tidak mau tahu tentangnya. Bahkan surat undangan yang sudah tersebar pun belum ia baca sama sekali. Karena ia benar-benar berharap agar pernikahan ini batal dan tidak terjadi.
"Aneh sekali kau ini. Baru kali ini aku merias pengantin yang yg tidak tahu apa-apa tentang calon pasangan hidupnya."
"Yang misterius justru putra tuan Sultan. Lama tinggal di LN tiba-tiba melamar dan mengatur pernikahan dalam 2 hari. Jangan-jangan dia itu pangeran yang cacat, yang harus disembunyikan kekurangannya." asistennya menimpali.
DEG!!
Jantung Sara berdetak kencang.
Benar juga! Apa yg mereka katakan bisa jadi benar. Putra tuan Sultan pasti ada kekurangan, sehingga tuan Sultan mau menikahkan putra satu-satunya yang hidup seperti pangeran, berpendidikan tinggi, bergelimang harta, dengan Sara yang hanya gadis biasa, berpendidikan rendah dan dan dari keluarga miskin.
Melihat ekspresi Sara menjadi tambah tak karuan, Rena yang juga berdandan di kamar itu jadi geram dengan ocehan perias itu.
"Kalian dibayar untuk merias sis Sara. Bukan bergosip!! Kalau ingin tahu nama calon pengantin pria, baca ini!" ketus Rena dan melemparkan undangan ke arah meja rias mereka.
"Maaf, Rena. Tolong jangan marah." ucap mereka menyesal.
"Sekarang apa riasan sis ku sudah selesai?" tanya Rena dengan gaya otoriter.
"Kami rasa sudah selesai." kata mereka gugup.
"Sekarang lakukan tugas kalian selanjutnya!" perintah Rena yang mirip nyonya besar berkuasa.
"Ooh, kita belum menyiapkan bunga untuk penyambutan pihak besan!", seru asisten perias itu.
"Benar!! Kau benar!! Ayo kita segera siapkan itu di depan." Perias utama segera membereskan alat-alat make-up lalu bergegas keluar ruangan diikuti oleh langkah cepat asistennya dari belakang.
"Mulut mereka benar-benar keterlaluan!!" Rena bersungut-sungut kesal.
Dilihatnya Sara masih kelihatan tegang dan gelisah menghadap cermin di meja rias. Rena segera mendekatinya dan berusaha menenangkannya,
"Sis, kau sangat memukau. Benar-benar seperti seorang tuan Puteri. Pantas saja kalau tuan Sultan hanya menginginkanmu menjadi menantunya. Aku jadi iri." puji Rena.
Sara tersenyum getir mendengar ucapan Rena.
"Mulutmu sangat manis. Aku takut terkena diabetes karena ucapanmu.", akhirnya Sara bersuara
Rena tertawa cekikikan. Dalam suasana hati yang kalap dan resah, kakak perempuannya itu masih bisa melempar lelucon.
"Apa aku akan pergi jauh? Apa aku akan pergi berperang dan tewas di sana? Aku masih tinggal di kota ini, kan? Kau mengatakan hal ini sepertinya aku akan menjadi tumbal raksasa penjaga harta kekayaan tuan Sultan saja." Sara membalas pelukan adik kesayangannya. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Ah, sudahlah! Aku jadi haus, bisa kau ambilkan air hangat kukuh?", pinta Sara, sambil melepas pelukannya.
"Baiklah, tunggu di sini ya.". Rena segera meninggalkan Sara menuju dapur.
Setelah Rena pergi, Sara melirik ke surat undangan yang dilemparkan Rena tadi dengan tatapan nanar. Surat undangan terindah yang pernah ia lihat, tapi ia tak menginginkan namanya tertulis tersanding dengan nama pemuda lain selain nama Adhitia.
Sara melihat ke sekelilingnya. Sudah tidak ada siapapun di sana.
"ini kesempatan!" pikirnya.
Sara lalu bergegas mengangkat bawah gaun pengantinnya yang berat dan bertumpuk mengembung,, meninggalkan kamar pengantinnya.
"Mobil rombongan pengantin pria sudah tiba. Mereka sedang berjalan ke arah sini. Aku akan mengiringi pengantin wanita keluar kamar nanti." seru perias tadi seraya berjalan kembali ke arah kamar.
Tapi ia terkejut melihat Sara berjalan terburu-buru meninggalkan kamarnya.
"Hey...Sara, kau mau kemana??!" panggilnya.
"Ya Tuhan,..." seru Sara panik. Tanpa pikir panjang ia langsung berlari ke pintu belakang, menjauh dari perias itu, menabrak siapa pun dan apa pun yang ada di depannya.
"Tolong!!!! Pengantin wanitanya kabur!!!" teriak perias pengantin itu panik.
Imran dan istrinya yang sudah siap dengan senyum mengembang untuk menyambut besan, terkejut mendengar teriakan itu. Seketika Ibu Sara merasa lemas dan jatuh tak sadarkan diri. Imran segera menangkap tubuh istrinya dan memanggilnya,
"istriku..bangunlah."
Semua menjadi riuh dan gaduh.
Rena yang membawa gelas berisi air hangat dari arah dapur terkejut mendengar teriakan tadi.
"Aduh, apa yang kau lakukan, Sis!" desisnya.
Rombongan pengantin pria tiba di depan rumah dengan alunan musik pengiring pengantin. Tuan Sultan berjalan paling depan.
"Apa ini? Dimana panitia penyambutannya.", bisik-bisik mulai terdengar dari arah rombongan yang baru datang.
Tuan Sultan bergegas masuk ke dalam saat melihat Imran memeluk istrinya yang tak sadarkan diri.
"Istriku, bangunlah. Tuan Sultan tiba."
"Ada apa dengan istrimu?", tanya tuan Sultan penuh perhatian.
Ibunya Sara perlahan membuka matanya.
"Sara..Mana Sara?" tanyanya langsung.
"Imran!! Sara kabur, ia memanjat pohon dan tidak mau turun!!!" teriak seorang tetangga dari arah luar rumah.
Semua menoleh ke arah suara.
Ibu Sara yang baru tersadar, tiba-tiba jatuh pingsan kembali.
"Istriku!!", Imran panik.
******
Sara in wedding dress