
*****
TOK! TOK! TOK!
Suara pintu kamar hotel Sara diketuk seseorang.
Adhitia menghentikan kenakalannya pada Sara.
"Siapa itu?!!!!" teriak Adhitia kesal.
"Adhitia??! Apa yang kau lakukan di dalam??!!!", terdengar suara Malik dari balik pintu.
Adhitia menunduk lesu. Wajahnya sangat frustasi saat kesenangannya tiba-tiba dikacaukan oleh Malik.
"Adhitia!! Dimana Sara?!" teriak Malik sambil terus menggedor pintu kamar hotel.
Mendengar namanya disebut-sebut Malik, Sara tersadar. Gadis itu langsung berlari menjauh dari Adhitia, menuju kamar mandi.
"Adhitia!! Buka pintunya!!" perintah Malik dengan tidak sabar.
Dengan langkah malas dan kesal, Adhitia pun menghampiri pintu dan membuka kuncinya.
Begitu suara kunci terbuka, Malik langsung menerobos masuk dengan tergopoh-gopoh.
"Dimana Sara?" tanyanya saat ia tidak melihat Sara.
"Senior di kamar mandi." jawab Adhitia lesu.
"Kamar mandi? Sedang apa kalian tadi?!" Malik mulai menginterogasinya.
"Tidak ada...Senior hanya bersedih karena ulah Sam, lalu ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Aku hanya duduk-duduk di sini." jawab Adhitia sambil menggaruk-garuk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal.
Malik memicingkan matanya. Dilihatnya sprei di ranjang masih dalam keadaan rapi tanpa disentuh. Namun, matanya kembali terbuka lebar saat Sara keluar dari kamar mandi berkalung handuk putih kecil serta mengenakan kemeja putih dan jeans biru di atas lutut.
Kulit tubuh Sara begitu putih dan bening, sehingga warna kemerahan akan segera terlihat jika gadis itu sedang merasakan emosi.
"Ada apa?" tanya Sara pada Malik yang bengong.
"Ehem..." , Malik mengusap wajahnya karena takut ketahuan kalau baru saja mengagumi tubuh gadis itu.
"Tasku.." Malik mencari tasnya yang dibawakan pelayan hotel beberapa waktu lalu.
Sara mengambil tas koper milik Malik yang ada di dekat ranjang.
"Ini milikmu?" tanya Sara.
"Ah..iya! Kenapa pelayan itu meletakkannya di sini." ucap Malik.
Malik segera melihat ke arah Adhitia. Diliriknya tubuh bagian bawah Adhitia. Pakaian masih terlihat rapi, ikat pinggang yang masih terkunci, namun sesuatu menyembul di balik resleting celananya.
"Kau..." panggil Malik pada Adhitia.
"Sia**n!!!! Juniornya sudah ere**i secepat itu!!!" batin Malik.
"Tolong kau bawakan tas ini ke kamar Luna." Malik memberikan tasnya pada Adhitia dengan kepala terangkat.
Adhitia menerima tas itu.
"Dan tolong...jangan berani lagi masuk ke kamar ini!" tegas Malik.
Sara dan Adhitia terkejut bersamaan.
Sara ingin menyahuti ucapan Malik, tapi Adhitia memberi isyarat padanya untuk tenang.
"Baiklah, tuan!" jawab Adhitia, lalu pergi keluar dari kamar itu.
Setelah Adhitia menutup pintu kembali, Malik bergegas menghampiri Sara dan menarik handuk dari leher gadis itu. Ia mengangkat sisa rambut Sara yang terlepas dari ikatan gelungan yang menjuntai di leher dan membalik-balikkan tubuh gadis itu.
"Heiii!!! Apa yang kau lakukan?" Sara merasa jengkel dengan sikap Malik.
"Buka bajumu!!" perintah Malik.
"Apa?!!" . Mata Sara terbelalak lebar.
"Aku bilang, buka bajumu! Apa kau tuli?!"
Malik kehilangan kesabarannya.
"Apa kau gila?! Aku tak mau!!" Sara membekap dadanya dengan kedua tangannya.
"Ada yang kau sembunyikan di sana, kan?" tebak Malik.
"Tidak ada, Malik!" Sara meyakinkan.
"Lalu kenapa kau tidak mau membukanya?"
"Karena itu membuatku malu..." jawab Sara perlahan dengan nada manja.
"Sara, ...aku hanya ingin tahu, apa saja yang sudah ia lakukan padamu?"
Sara menjauhi Malik, lalu berbalik badan.
"Kenapa kau tidak percaya padaku..." suara Sara terdengar parau.
"Sara..." Malik terdiam. Ia tidak bermaksud membuat gadis itu bersedih kembali.
"Kami tidak melakukan apa-apa." jelas Sara.
"Aku percaya padamu. Tapi aku tidak bisa percaya pada Adhitia. Lelaki itu seperti serigala." Malik memberi alasan.
"Dia pemuda yang manis...seperti anak kucing." Sara membela Adhitia.
"Anak kucing? Kucing hutan?!" Malik tersenyum sinis.
"Malikkk!!!!" jerit Sara kesal.
"Baiklah!! Baiklah!!" Malik mengalah.
Pemuda itu lalu memberanikan diri untuk mendekati Sara.
"Sekarang ceritakan, apa saja yang dilakukan Adhitia di kamarmu.." Malik bertanya dengan nada lebih lembut.
"Dia hanya mengantarku ke sini.". Sara pun mau menjawab dengan pelan.
"Lalu?"
"Lalu ia menciumku." jawab Sara tanpa malu.
"Dimana?" Malik mengatur nada bicaranya agar terdengar pelan dan lembut, padahal sebenarnya dia menaruh rasa penasaran yang bercampur amarah.
"Di sini.." Sara menempelkan jarinya di bibir dengan perlahan sementara matanya menerawang jauh, mengingat kembali kehangatan bibir Adhitia beberapa menit yang lalu.
"Lalu...?" Malik terus memancingnya.
"Di sini.." .Jemari Sara menyentuh relung lehernya sendiri dengan perlahan sambil menutup matanya, membayangkan kembali kenikmatan yang baru ia rasakan.
"Lalu...!?"
"Di sini.." Sara mendesah seraya menyentuh perutnya sendiri.
"Cukup!!!" teriak Malik tidak tahan lagi.
Sara tersentak dan tersadar.
"Apa kau tidak malu bercerita seperti itu di depan suamimu!!!" bentak Malik.
"Tapi..." Sara mencoba menyela.
"Buka bajumu sekarang!!" perintah Malik lagi.
"Kenapa kau begitu menginginkan baju ini!!!" kesal Sara.
Gadis itu lalu membuka kancing bajunya dengan tergesa-gesa dan melepaskannya lalu melemparkannya ke wajah Malik.
"Ini!! Ambillah!!" teriak Sara kesal.
Sara lalu menuju tasnya dan mengambil pakaiannya yang lain dan memakainya tepat di hadapan Malik.
Malik terperanjat dengan sikap nekat Sara yang berani membuka tubuh bagian atasnya di depan matanya .
"Sara.." Malik mencoba berbicara.
Malik terdiam. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Apa kau lapar?" tanya Malik sambil mencoba membujuk Sara.
Sara membuang muka.
"Aku tidak lapar!" jawab Sara ketus.
"Mau night fishing,?" Malik bertanya lagi.
Mata Sara berkedip ragu.
"Apa itu night fishing?" tanyanya.
"Kita sewa kapal untuk memancing, dan pihak hotel akan memasakkan ikan hasil tangkapan kita." jawab Malik.
"Sam ikut juga?" tanya Sara hati-hati.
"Jika kau tidak mau mengajaknya, maka biarlah hanya kita berdua saja yang pergi." usul Malik.
Sara berpikir sejenak.
Ponsel Malik berbunyi.
"Ya Sam?" Malik menjawab panggilan ponselnya.
"Hey, bro!! Mau diapakan kedua anak tengil ini!" terdengar suara Sam dari ponsel.
"Bagaimana kondisinya?"tanya Malik.
"Tidak parah. Hanya luka lebam di wajah dan beberapa tulang rusuk yang retak."
"Apa mereka sudah menyadari kesalahannya?"
"*Sepertinya begitu..."
BUGH!!
Terdengar suara pukulan dari ponsel.
"Ampun, Sir!!! Kami menyesal!!! Kami tidak tahu kalau gadis itu teman Sir Sam. Kami tidak akan bicara seperti itu lagi..."
Terdengar suara isakan dan rengekan dua pria dari balik ponsel Malik.
"Lepaskan mereka!" perintah Malik.
"Kau yakin, bro? Mereka bicara buruk tentang istrimu.! Biar mereka menginap di sini semalam ya...." pinta Sam.
"Terserah padamu." Malik mengakhiri panggilan ponselnya, lalu mendekati Sara.
"Bagaimana?" tanya Malik pada Sara
"Kita ajak Luna?" saran Sara.
Malik tersenyum.
"Kalau begitu kau harus mengajak Adhitia." ucap Malik.
"Boleh???" mata Sara kembali berbinar dan bersinar.
Malik mengangguk sembari tersenyum.
"Yyeeaayyy!!! Terima kasih, Malik".
Sara hendak memeluk Malik, namun diurungkan niatnya sebelum tangannya mencapai bahu Malik.
"Sorry..."ucapnya pelan, lalu berbalik dan berjalan cepat ke arah pintu keluar untuk segera menemui Adhitia.
Malik menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus tersenyum melihat tingkah Sara.
*****
"No way!! Aku tak mau makan ikan lagi." Luna histeris saat Malik mengajaknya ikut night fishing.
"Ayolah, sayang. Kau tak perlu memancing dan memakan ikan. Kita hanya akan menikmati pemandangan sunset dari atas kapal." bujuk Malik.
"Bersama istrimu?? Dan bodyguard -nya??!"
Malik mengangguk.
"Apa Sam ikut kita?" tanya Luna.
"Kurasa dia sedang sibuk sekarang. Kau tak tahu betapa rumit kehidupannya." jawab Malik.
Luna memikirkan sesuatu.
Malik memeluk Luna dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak gadis itu.
"Kenapa wanitaku memikirkan lelaki lain? Apa ia tertarik pada lelaki itu?" Malik bergumam.
"Jangan berpikir konyol!!" elak Luna.
Malik cuma diam dan termangu.
Ia mengingat kejadian beberapa jam lalu, saat ia baru tiba dari Guraidhoo dan menemui teman-temannya di pantai, lalu kembali lagi ke hotel.
Saat itu ia mendengar celotehan 2 pria yang sedang berjemur di tepi pantai.
"Yang mungil lebih seksi...kau tak melihatnya memakai kemeja putih?"
"Ah iya...warna putih sangat mudah membuatku terangsang , saat angin bertiup di dekatnya, lekukan tubuhnya makin jelas terlihat."
"Ya ampun... kau tahu betapa susah payahnya aku menahan juniorku ini agar tidak ere**i? Itu sangat menyiksa!"
"Hahahaha..."
"Sayang, kita tidak punya kesempatan untuk mendekatinya."
"Yah, kau benar!! Pria yang selalu bersamanya itu terlihat posesif. Tangannya tak pernah lepas dari genggamannya."
"Aku pun akan seperti itu. Jika punya wanita seperti gadis bermata bulat itu, aku tak akan melepaskannya. Akan kuikat dia di atas ranjang dan tak akan kulepaskan sedetik pun."
Obrolan mereka semakin memanaskan telinga.
Sam yang mendengar kecabulan mereka, tiba-tiba mendekati dan bertanya.
"Hey, bro! Siapa yang kalian bicarakan?"
"Wanita seksi yang tadi lewat bersama pasangannya. She's so hot!!" jawab mereka.
"Yang memakai kemeja putih? celana jeans biru?" Sam memastikan.
"Iya!! Kau juga melihatnya kan?!"
"Apakah pasangannya bertubuh tegap dan berjenggot halus?" Sam kembali memastikan.
"Iya!! Benar!! See, pasangan tadi memang sangat menarik perhatian kita!"
Sam lalu merangkul kedua pria itu di lengan kanan dan kirinya, lalu menghadap ke arah Malik yang berdiri berdekatan dengan Luna dengan wajah merah dan tangan mengepal
"Hey, bro!! Mereka berpikir kotor tentang istrimu. Mau diapakan?!" teriak Sam.
"Hey!" teriak kedua pria itu tidak senang dan berusaha melepaskan tangan Sam dari pundak mereka.
"Mereka milikmu, Sir Sam!" ucap Malik datar dan dingin.
"Apa? Sir Sam?" kedua pria tadi terkejut dan menatap Sam dengan gemetaran.
*****
****
***
**
*