PASSION

PASSION
54. Mayantha Luxury Cruise



*****


Malik, Sara dan Adhitia meninggalkan kapal cepat yang mengantar mereka ke kapal pesiar yang berukuran sedang berbintang 5, Mayantha Luxury Cruise.


"Kami memenuhi undangan peetunangan Mike dan Daniella." ucap Malik pada seorang pelayan kapal yang menjaga tangga pintu masuk kapal mewah itu.


"Atas nama siapa, tuan?" tanya pelayan tersebut.


"Tuan Malik, nyonya Sara, dan tuan Adhitia dari kota B." jawab Malik sambil mengamati keadaan sekitar.


Dalam bahasa Divehi, pelayan itu menghubungi seseorang melalui walkie-talkie seraya menyebut nama mereka satu persatu.


"Baiklah, selamat datang di Mayantha Luxury Cruise. Acara tuan Mike dan Nona Daniella sedang berlangsung di public area. Silahkan lewat sini dan selamat bersenang-senang." ucap pelayan itu sambil tersenyum ramah, menunjuk arah jalan yang menuju sebuah pintu besar.


Malik mengangguk mengerti.


"Thank you!" Adhitia, memberikan senyum dengan lesung pipi khasnya, meraih lengan Sara dan mengaitkan di otot bisepnya.


"My pleasure, Sir."


***


Di bandara internasional Velana, sudah lebih 3 jam sejak keberangkatan Luna menuju kota B, Sam duduk menyendiri di Coffee Shop sembari memainkan ponselnya. Ia mengenang ucapan Luna sesaat sebelum gadis itu meninggalkannya.


"Jika kau merindukan tempat ini, segera hubungi aku." ucap Sam kala itu.


Tersenyum pahit, Luna berkata,


"Aku tidak mungkin merindukan tempat ini. Tapi bisa jadi aku akan merindukanmu. Saat hari itu tiba, aku akan segera menghubungimu, Sam."


Mereka berpelukan. Sangat berat untuk Sam untuk melepas kepergian wanita cantik yang baru dikenalnya kurang dari seminggu itu.


"Tolong, pertimbangkanlah kehadiranku!" bisik Sam dengan pasti.


Luna menatap ke atas, mencegah agar bulir hangat yang mengaburkan pandangannya tidak jatuh membasahi pipi.


"Tentu! Aku percaya padamu!" suara Luna tercekat.


"Aku harus pergi." Gadis berambut kecoklatan nan panjang itu melepas pelukan saat terdengar pengumuman penerbangannya 15 menit lagi.


Gadis itu berbalik dan membelakangi Sam tanpa menoleh. Kepalanya tertunduk sementara tangannya sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.


Sesekali bibir Sam terbuka seakan ingin memanggil dan mencegahnya pergi, namun hatinya mencegah. Sampai bayang tubuh molek itu menghilang di kerumunan dalam antrian, Sam tetap berdiri tak bergeming.


Ponsel Sam berbunyi, sebuah pesan WhatsApp masuk. Pria itu mengambil ponsel dari saku celananya.


Terima kasih atas semuanya. Terima kasih telah menjadikanku yang istimewa, tuan Ketus. isi pesan yang diterimanya dari nomor Luna.


Sam tersenyum, sembari berjalan ke Coffee Shop ia membalas pesan itu.


"Kenapa tidak kau katakan langsung tadi? Aku akan menunggumu di Coffee Shop bandara jika kau berubah pikiran."


"Mau pesan apa, Sir?" tanya seorang pelayan.


"Kopi hitam, gula 1 sendok." jawab Sam dengan mata terus tertuju pada layar ponsel.


"Mohon tunggu sebentar." setelah berucap demikian pelayan itu meninggalkan Sam menuju barista.


Tidak perlu berlebihan. Ada urusan keluarga yang harus aku selesaikan. Jangan menungguku!, balas Luna.


"Seharusnya aku ikut denganmu agar bisa langsung berkenalan dengan keluargamu", tulis Sam.


Luna mengirim tanda emoticon tertawa.


Jangan memberi harapan palsu


"Aku tidak memberimu kepalsuan!


Aku memang tidak sekaya Malik, tapi jika kau tinggal bersamaku aku jamin kau akan hidup terhormat." bujuk Sam.


Tidak ada yang pantas untuk dihormati dalam diriku. Aku hanya penipu, wanita murahan yang menggadaikan kenikmatan satu malam untuk mendapatkan tujuanku.


Sam membaca pesan itu saat pelayan kembali ke mejanya membawakan kopi pesanan.


"Ada pesanan lain, Sir?" tanya pelayan itu ramah.


Sam menggeleng. Ia menatap layar ponselnya tanpa menghiraukan sekelilingnya. Tak lama kemudian, masuk lagi pesan dari Luna.


Kau mungkin pernah mendengar dari Malik kalau dia adalah first time-ku. Itu semua sandiwara yang dibuat saudara sepupuku bersamaku. Malik adalah pria yang terlalu naif, walau terlihat cerdas.


Sam tertawa membaca pesan itu, membenarkan pendapat Luna tentang sahabatnya.


Ingatkah kau saat aku katakan aku lebih baik tidak mengenal Adhitia. Ya, Adhitia adalah sepupuku. Dan ku sudah terlalu jauh terseret dalam sandiwara balas dendamnya pada keluarga Malik.


Aku tahu kau mendekatiku hanya untuk mencari tahu kebenaran ini.


Kau sudah mendapatkan yang kau inginkan.


Kau sahabat yang baik, meski sering ucapanmu menyakiti orang, tapi seperti itulah rasa sayangmu. Seperti itulah rasa pedulimu.


Jaga Malik dan Sara dari dendam Adhitia yang mengerikan.


Sam tersentak.Berulang kali pesan terakhir itu ia baca seakan tidak percaya. Ia coba hubungi ponsel Luna, namun gadis itu menolaknya.


"Kembalilah!! Aku masih menunggumu di Coffee Shop bandara. Apapun yang kau pikirkan, aku benar-benar menyukaimu!" akhirnya Sam mengirimkan pesan suara.


Dan di sinilah Sam. Menunggu lebih dari 3 jam, di Coffee shop bandara, berharap Luna datang dan meminta perlindungan padanya..


Sudah habis 2 cangkir kopi hitam di meja Sam saat ponselnya berdering.


"Ya?!" sahutnya.


Wajah Sam seketika pucat, matanya bergerak-gerak liar, bibirnya mengerucut dengan satu tangan yang lain mengepal hebat.


Tanpa berkata apapun pada si penelepon, Sam memutuskan panggilan lalu meninggalkan Coffee shop begitu saja, tidak perlu membayar tagihan kopinya.


*****


Mike dan Daniella adalah pasangan yang berbahagia di malam itu. Malam penyatuan cinta dan ikrar mereka dalam ikatan pertunangan. Pasangan yang baru bertemu dengan Malik dan Adhitia beberapa hari lalu di depan outdoor cafe.


Seorang pelayan menawarkan minuman sampanye. Malik dan Adhitia menerimanya, sementara Sara menolak dengan sopan. Ia tahu kalau itu minuman beralkohol dan ia tidak ingin merusak acara bahagia orang asing hanya karena dia mabuk nantinya.


Pemandu acara mulai meminta partisipasi dari para tamu undangan untuk membuat satu pertunjukan yang dipersembahkan bagi pasangan yang berbahagia.


"Ada yang bersedia?" tanya pemandu acara tersebut.


Tiba-tiba tangan Malik meraih tangan Adhitia ke atas dan melepaskannya seketika. Saat si pemandu acara melihat tangan Adhitia berada di atas, spontan lampu sorot mengarah ke arah pemuda itu


"Bagus sekali, tuan Tampan! Terima kasih atas partisipasinya!" seru sang pemandu diiringi riuh tepuk tangan tamu yang lain.


"Yeah!! Dia seorang rockstar!!! Adhi! Adhi!" Malik berteriak memberi semangat pada Adhitia. Kenyataannya dia risih dengan kehadiran pemuda itu yang menengahi kebersamaannya dengan Sara.


"Tuan, kau..!" Adhitia melirik Malik dengan tatapan kesal.


Seorang wanita menghampiri Adhitia dan memberikan mikrofon. Adhitia memberikan gelas sampanye miliknya pada Sara. Lalu mengikuti wanita yang memberikannya mikrofon menuju titik tengah public space.


"Licik!" umpat Sara pada Malik.


Malik tersenyum, mendekat dan berkata,


"Cerdas! Memang beda tipis maknanya, tapi aku lebih suka ungkapan itu."


"Lagipula siapa suruh dia pamer kebolehannya." lanjut Malik.


"Adhitia tidak pernah pamer, kau saja yang iri padanya!" Sara ketus.


"Aku? Iri? Ya ampun, Sara. Tega sekali kau mengataiku." dengan ekspresi datar dan senyum sinis Malik menyahut.


I've seen mint leaves in a betel leaf


I've seen a gem in a nose stud


I've seen a fair beautiful girl


I've seen a fair handsome rascal


The moon cheated like a cheater


Then all the stars said:


Gili Gili Akkha


Lantunan syair lagu bernada cepat yang dilontarkan Adhitia di tengah acara itu disambut dengan riuh pekikan dan antusias tamu yang menyukainya. Termasuk Sara, gadis itu ikut mengangguk dan menggoyangkan pundaknya.


"Astaga! Apa aku harus merambah bisnis hiburan juga?" desis Malik sambil mengurut keningnya yang berkeringat.


All those talks of ours


Too much talking is bad


Take and bowl in plate


With potato rice and bread rice


If anyone repeat after me then


I'll punch that rascal in the face.


Malik mengangkat wajahnya saat seseorang menepuk pundaknya.


"Sinarmu tertimpa bayangan hitamnya lagi?" senyum Sam membangkitkan kembali rasa percaya dirinya, entah kenapa ia lalu memeluk Sam dengan erat.


"Pemuda itu multi talenta. kurasa seumur hidupmu berusaha seperti dia tak akan bisa menyamainya." setelah melepaskan pelukan Malik, Sam kembali mencemooh sahabatnya.


"Terima kasih, bro!" ucap Malik seraya tersenyum.


*****


****


***


**


*


Credit lyric/song: Badtameez dil by Benny Dayal