
Malam acara yang diadakan tuan Sultan menjadi pusat perhatian bagi para rekan bisnis perusahaannya dan juga pesaingnya. Seluruh kolega dan mitra bisnis berdatangan membawa hadiah dan juga misi masing-masing.
Saat Malik dan Sara keluar dari kamar mereka, mata tiap tamu undangan menatap ke arah pasangan yang bergandengan mesra menuruni anak tangga. Mereka memberi komentar positif pada keduanya. Malik yang gagah dan tampan nampak lebih berkharisma setelah pernikahannya. Dan Sara yang mempesona tampak anggun dalam kesederhanaannya.
Turut hadir di sana keluarga Sara. Ayah dan ibu yang memandang dengan haru dan bangga melihat perubahan besar pada putri sulung mereka hanya dalam beberapa hari saja. Rena pun tersenyum lebar melihat rona bahagia yang terpancar di wajah kakaknya. Sementara tuan Sultan terus memasang senyuman bangga melihat keserasian keduanya. Di sana pun nampak Adhitia berdiri di sudut ruangan yang sepi, menatap sang pujaan hati tanpa berkedip seraya menyunggingkan senyuman.
"Lihat, pasangan ini akan membuat banyak orang patah hati." ucap tuan Sultan bercanda pada besannya.
"Tuan, seandainya Bro Malik punya adik laki-laki, tolong jodohkan aku dengannya, please!" Rena berkelakar.
Ibunya terkejut dengan ocehannya yang berani.
"Rena! Jaga bicaramu!" tegur ibu.
Tuan Sultan tertawa.
"Maaf, Rena. Putraku hanya 1, Malik! Jika kau tak keberatan, aku bisa mengenalkanmu pada putra dari rekan Bisnisku yang hadir di acara ini." usul tuan Sultan.
"Tolong jangan dengarkan dia, tuan. Dia memang suka bercanda!", ibu menarik Rena untuk menjauh dari tuan Sultan.
Rena menolaknya dan malah makin mendekat pada tuan rumah yang ramah itu.
"Tapi aku hanya tertarik dengan pemuda single dan tampan." Rena bersemangat.
"Sepanjang malam ini aku hanya melihat 2 pemuda tampan." tuan Sultan menanggapi Rena dengan serius.
Dahi Rena berkerut,
"Jangan bilang kalau pemuda itu adalah bro Malik dan tuan Sultan sendiri ya!" katanya.
Tuan Sultan tergelak.
"Kau ini benar-benar suka bercanda. Memang aku tampan tapi aku bukan pemuda lagi. Pemuda itu adalah Malik dan pengawal Sara." jawab tuan Sultan.
"Wah...sis punya pengawal!" Rena berdecak kagum.
"Iya." tuan Sultan menjawab, ia menoleh kanan-kiri mencari keberadaan Adhitia.
"Itu dia. Namanya Adhitia, dia supir dan pengawal kakakmu." Tuan Sultan menunjuk ke arah tempat Adhitia berdiri sendirian.
Rena terkejut, "Bro Adhitia?"
"Kau mengenalnya, nak?" tanya Sultan.
"Mana mungkin. Tuan baru saja menyebut namanya. Aku hanya...tak percaya ada makhluk seindah itu." Rena mengelak mengenal Adhitia.
"Ya Tuhan, anak ini! Bisakah kau jaga mulutmu!" keluh Ibunya.
Rena dan tuan Sultan tertawa bersamaan.
Malik dan Sara berjalan mendekati keluarga mereka. Sara langsung memeluk ibu dan ayahnya yang terpisah darinya beberapa hari ini.
"Aku rindu kalian." ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Bohong. Sis sibuk sekali sampai-sampai tidak menelepon kami. Siapa sebenarnya yang sis rindukan?" celetuk Rena. Mendengar keluhan dari adiknya, Sara langsung memeluknya dengan kuat.
"Kau ini!!!" geramnya.
"Sis, kemari sebentar. Ada yang ingin kubicarakan. Rena langsung menarik Sara menjauh dari lingkaran keluarganya, meninggalkan Malik di sana.
"Sis, apa ini? Kenapa bro Adhitia ada di sini? benarkah dia bekerja untukmu?" Rena sangat penasaran.
"Bukan untukku. Malik yang mempekerjakannya."
"Menjadi pengawalmu? Yang menyelamatkan dia dari 3 begundal tempo hari adalah dirimu, kan? Bagaimana bisa dia mengawalmu?!" Rena meragukan keputusan yang diambil Malik.
Sara tertawa.
"Mengawalku dari apa? Aku tidak punya musuh, tidak ada saingan. Ini hanya alasan Malik saja." ucapnya.
"Alasan bro Malik? Alasan untuk apa?" Rena kebingungan.
"Rena, jangan coba menculik istriku seperti ini lagi!" tiba-tiba Malik berdiri di belakang mereka. Sara dan Rena hampir meloncat bersamaan.
"Maaf!" Rena memelas.
"Shall we dance?" Malik mengulurkan tangannya ke arah Sara.
"Aku tak pernah berdansa seperti ini." Sara menolak.
Malik terlihat kesal. Lagi-lagi gadis itu mencoba menolaknya. Ia lalu mendekati Sara.
"Jangan membantahku atau kau tidak bisa menemukan ponselmu lagi!" ancamnya dengan nada dingin pada Sara, namun tetap menebar senyuman pada khalayak ramai.
Sara terperanjat
"Ponselku.." Sara baru ingat kalau ia belum melihat ponselnya sejak pulang tadi sore.
"Sekarang tegakkan kepalamu, tersenyumlah.!" Malik merangkul Sara.
"Maju dengan kaki kiri, mundur dengan kaki kanan!" Malik memberinya instruksi seraya menggandeng Sara menuju spot lantai dansa. Dengan terpaksa Sara menurutinya.
"Maju, ke samping, stop. mundur ke samping stop. Semua hanya dalam 3 hitungan." Sekarang Malik dan Sara berhadapan dalam sikap bersiap. Malik meraih satu tangan Sara dan tangan yang lain memeluk pinggang wanita itu dengan lembut.
"Jangan jauhkan jemarimu dari tanganku. Ikuti saja langkahku!" bisik Malik.
Semua orang kembali menatap ke arah pasangan serasi itu, menahan nafas menunggu apa yang akan selanjutnya terjadi. Tak terkecuali dengan Adhitia. Ia melangkah maju, keluar dari sudut yang gelap, untuk melihat lebih jelas.
"Mulai!" perintah Malik dengan suara datar namun bisa menggetarkan seluruh tubuh Sara. Malik memulai langkah duluan, menuntun Sara mengikuti langkahnya melakukan gerakan waltz-box dengan perlahan. Malik memberikan senyuman puas saat mereka berhasil melakukan waltz-box beberapa kali.
"Wajahmu sangat tegang. Tersenyumlah!" godanya.
"Aku sedang menghitung, jangan mengacau!!" gerutu Sara namun dengan memberikan senyuman terpaksa.
Rena berjalan mendekati Adhitia yang terus menatap ke arah spot lantai dansa tanpa berkedip.
"Halo, bro Adhitia!" sapanya.
Adhitia menoleh,
"Halo!" sahutnya ramah dengan senyum manisnya.
"Apa kabar?" Rena berbasa-basi.
"Lumayan gerah.." jawab Adhitia seadanya. Keduanya tersenyum receh.
"Aku tak mengira akan bertemu dengan bro Adhi di sini.".
"Inilah takdir. Tuhan telah mengatur segalanya, dan aku menikmati kisah ini." Adhitia menyahut dan kembali tersenyum.
"Rena, kemarilah! Jangan membuat malu. Ini acara sis-mu!!" tiba-tiba Ibu menarik Rena yang terlihat agresif menurut pandangannya untuk menjauh dari Adhitia.
Adhitia kembali mengarahkan pandangannya fokus ke spot lantai dansa.
Sara berputar menjauh dengan ujung jari masih menempel di jemari Malik yang mengambang ke udara lalu kembali lagi mendekati Malik. Malik tersenyum lebar melihatnya.
"Waltz-box with under arm turn." , bisik Malik.
"Apa itu?" Sara tak mengerti maksud Malik.
"Yang baru saja kau lakukan. Itu disebut box with under arm turn."
"Benarkah?!" Sara menyeringai lebar. Dia begitu bersemangat atas pembelajaran otodidaknya.
"Kau cepat belajar, ya. Kupikir kau gadis manja yang mengandalkan wajah saja ". Entah Malik memuji atau menyindirnya, kata-kata itu membuat Sara menjadi berubah mood.
"Kau menyebalkan!" umpat Sara.
Malik tersenyum geli.
"Thank you! Aku cuma ingin melihat reaksimu dalam menghadapi tekanan. Kali ini kau bersikap cerdas."
"Apa maksudmu?"
"Sesaat tadi aku berpikir kalau kau akan menghindar dari tantangan dansa ini dan berlari memanjat pohon lagi.".
Wajah Sara berubah merah.
Musik pun berhenti, diringi tepuk tangan para tamu.
*****