PASSION

PASSION
26. Long Lasting Lipstick



Rasanya Malik tak sanggup lagi berlama-lama menunggui Sara yang merawat luka kecil Adhitia dengan perhatian yang luar biasa. Terlebih saat menyaksikan Sara menyandarkan kepalanya di dada bidang Adhitia. Dia tidak rela jika gadis polos yang berbakat dan berhati selembut permen kapas itu jatuh dalam pelukan pemuda yang belum matang dan belum mandiri dari segi finansial dan tanggung jawab.


"Senior, ada yang bilang jika luka akan segera sembuh jika dicium oleh orang yang disayangi." dari dalam kamar, terdengar Adhitia mulai menggoda Sara lagi.


Mata Malik melotot seakan akan meloncat dari kelopak matanya.


Bisa-bisanya pemuda ingusan ini merayu Sara! . Batin Malik.


Malik berpikir jika Sara benar-benar akan mencium luka di bibir Adhitia. Dengan rasa penuh penasaran Malik tidak melepaskan pandangannya dari pasangan itu.


"Jangan mencari alasan!! Kau tadi bilang kalau lukamu tidak sakit!!" Sara menolaknya.


Adhitia tertawa.


"Bagaimana bahumu? Apa masih sakit? Aku bisa memberi ciuman di sana." Adhitia tidak menyerah untuk menggodanya.


"Hentikan, Adhitia! Sudah kukatakan bukan sekarang saatnya!" Sara pun terus menolaknya.


"Baiklah! Apapun keinginanmu akan aku turuti." Adhitia berkata sangat manis sambil memeluk Sara.


Malik pun melangkahkan kakinya meninggalkan mereka berdua. Telinganya terasa panas dan terbakar mendengar obrolan mereka dan matanya serasa terpercik air raksa menyaksikan kemesraan di sana. Ia meninggalkan Sara dengan keyakinan bahwa Sara bisa menjaga dirinya sendiri tanpa jatuh dalam rayuan Adhitia.


****


Sara sedang mengoleskan krim pada memar di punggung dan bahunya di kamar saat bibi Mei datang.


"Nyonya, ...jadi nyonya benar-benar terluka." bibi segera menghampiri Sara. Sara terkejut mendengar suara bibi Mei yang sudah berada di kamarnya.


"Ini..ini hanya terbentur di dinding. Bukan apa-apa." Sara bersikap seolah ia kuat.


"Tapi, ini memar yang sangat parah. Seharusnya nyonya menolak memasak untuk makan malam tadi." Bibi Mei melihat memar Sara berwarna merah.


"Biar bibi yang mengobati luka nyonya." Bibi Mei meraih krim dari tangan Sara dengan lembut


"Terima kasih, bibi Mei."


Bibi Mei mengoleskan krim pada punggung dan bahu Sara dengan perlahan dan hati-hati.


"Bibi Mei, aku tidak melihat Malik. Dimana dia?" Sara menanyakan keberadaan Malik yang tidak terlihat sejak ia meninggalkannya di kamar setelah memukuli Adhitia.


"Tuan muda pergi bersama teman-temannya. Mungkin mereka di club." jawab Bibi Mei.


"Apa Malik sering minum-minuman keras?" Sara bertanya karena sepengetahuannya jika para pria nongkrong di club/Pub, pasti tak lepas dari minuman keras dan wanita.


"Tidak, nyonya. Tuan muda Malik tidak minum alkohol. Dia orang yang sangat menjaga kesehatan tubuhnya." jawab Bibi Mei lagi.


"Tapi, pernah saat ia merasa tertekan ketika menerima kabar kematian nyonya besar Seila, ia menghabiskan sebotol minuman keras, lalu ia dirawat di RS selama 3 minggu. Kejadian itu saat ia baru masuk universitas di luar negeri ." cerita bibi Mei kemudian.


Sara terdiam. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Malik merasa kehilangan sampai nekat berbuat kebodohan. Malik yang di pandangannya selalu berbicara dengan wibawa dan nasehat bijak. Pemuda itudan tuan Sultan pasti sangat terpukul dengan kematian nyonya Seila.


"Bibi Mei, tolong jangan ceritakan tentang luka ini pada tuan Sultan. Beliau pasti akan memarahi Malik, dan Malik bisa merasa kesal dan tertekan kembali, kan?" pinta Sara.


Bibi Mei tersenyum.


"Baiklah, nyonya Sara. Anda sangat perhatian pada tuan Malik. Tuan Sultan tidak salah memilih anda menjadi nyonya muda kami." puji bibi Mei.


Sara membalas senyuman dengan rasa ambigu.


****


Sudah hampir satu Minggu sejak insiden pencegatan Sara oleh preman-preman. Sejak saat itu Malik menghindari Sara. Ia bahkan pindah tidur di ruang baca/perpustakaan. Ia tidak lagi bicara dan mengobrol dengan Sara seperti yang biasa ia lakukan setiap malam, sebelum tidur.


Sara bingung dengan sikap dingin dan acuh Malik. Sesekali ia mencoba membuka obrolan dengan Malik, tapi pria itu mengacuhkannya dan selalu ada saja alasan untuk menghindarinya. Ia tidak tahu apa kesalahannya dan kenapa Malik mengubah sikapnya.


Saat Sara menerima formulir pendaftaran kampus AA, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Malik yang berjanji mengurusi hal itu, tapi melihat perubahan sikap Malik, ia jadi ragu untuk meneruskan pendidikannya.


Ternyata Malik memang sudah mengatur segala kebutuhan dan urusan administrasi Sara di kampus itu.


Malik memang menghindari Sara, tetapi ia tidak mengacuhkan Sara sepenuhnya. Ia menepati janjinya untuk membiayai kuliah gadis itu. Memberi pesan singkat pada rektor dan dewan sekolah agar Sara ditempatkan di kelas pilihan dengan dosen dan pembimbing terbaik.


Jauh di dalam hatinya, Malik merasa iri dengan kedekatan Sara dan Adhitia. Malik sedang mencoba menghilangkan perasaan itu dengan menghindarinya. Membunuh rasa suka yang mulai berkecambah di hatinya. Dan Malik tidak mau terjebak dalam bayangan dua wanita sekaligus. Bayangan Sara dan bayangan kekasihnya, Luna.


Seperti saat ini, Luna menemaninya di dalam ruang kantor perusahaan. Seperti biasa saat hendak menginginkan sesuatu, gadis itu akan mendatangi Malik di kantor, memberi kepuasan batin pada pria itu, dan setelah itu Malik akan memberikan apapun yang diinginkannya.


TOK! TOK! TOK!


Pintu ruangan berbunyi saat Malik dan Luna beradu bibir dengan penuh gairah.


"Siapa?" tanya Malik setengah berteriak.


"Nyonya muda Sara datang membawakan makan siang, tuan." terdengar suara asisten Romi dari balik pintu.


Malik segera membereskan pakaiannya yang berantakan.


"Kenapa gadis itu selalu datang di saat-saat seperti ini." gerutu Luna, sambil membetulkan rambutnya yang kacau.


"Ayolah, dia sudah lama tidak kemari dan mengganggu kita, kan.?" Malik membela Sara.


"Sepertinya kau senang sekali diganggunya, ya?" Luna cemberut.


Malik tersenyum melihat tingkah Luna yang kekanak-kanakan.


"Kau sangat menggemaskan jika cemberut seperti ini. Aku tak sabar ingin melanjutkan ini nanti." Malik menggoda sambil mencubit pipi mulus Luna.


"Masuk!!" Malik memerintahkan Asisten Romi untuk membiarkan Sara masuk ruangan kerjanya.


Sara melangkah masuk sambil mengucapkan terima kasih pada asisten Romi.


"Halo!!", Sapa Sara bersemangat saat melihat Malik.


Mata Sara membulat, terbelalak saat melihat Luna di ruangan itu dan bekas noda lipstik yang menempel di bibir Malik.


.


"Apa...aku mengacaukan kesenangan kalian lagi?" Sara bertanya dengan hati-hati.


"Apa maksudmu?" Malik balik bertanya.


Sara memoncongkan bibirnya dan menggerak-gerakkan alisnya ke arah Malik.


Malik segera menyeka bibirnya. Warna merah gincu Luna yang menempel di bibirnya kini berpindah di tangannya.


"Luna!! Kenapa kau tidak memakai long lasting lipstick?!!!" Karena malu, Malik berteriak pada Luna.


Sara tertawa melihat kekonyolan di wajah Malik.


Luna merasa sedih dan tidak suka pada sikap Malik yang meneriakinya di hadapan Sara.


****


***


**


*



Malik dan Luna