PASSION

PASSION
14. Bulan Purnama



Bandara internasional di kota B.


Seorang gadis cantik bertubuh tinggi proporsional dengan rambut ikal panjang terurai, memakai kacamata hitam modis, berjalan dengan penuh percaya diri, anggun dan mempesona.


Ia menghentikan langkahnya, membuka kacamatanya untuk melihat pria yang menghadangnya dengan karangan bunga mawar asli yang besar.


"Malik?", tanyanya pelan.


Malik menghambur ke arahnya, memberikan karangan bunga mawar pada gadis modis itu.


"Luna, I Miss you!", ucap Malik seraya ingin mencium gadis yang dipanggilnya dengan nama Luna.


"Don't kiss me!!!;Aku tak tahu apa saja kerjaan bibirmu tadi malam!!" ketus Luna.


"Ayolah, sayang..Kita akan bahas ini sambil makan siang. Kau lapar, kan?" bujuk Malik.


Luna tidak menjawab iya, tapi juga tidak menolaknya.


Malik tersenyum, segera merangkul Luna dan berjalan bersama.


Mereka berhenti di sebuah restoran mewah, lalu memesan makanan kesukaan mereka. Malik menceritakan dengan detail bagaimana ayahnya mengatur pernikahannya dengan Sara, pertemuan pertama mereka yang 'berkesan', dan juga perjanjian mereka selama pernikahan. Hingga pesanan mereka datang dan mereka melahapnya dengan santai. Dan Luna mendengarkan semua itu dengan setengah tidak percaya.


"Jadi, pernikahan ini hanya untuk setahun, lalu kau akan bercerai dan pisah dengannya, kan?" tanya Luna memastikan inti cerita Malik.


"Aku bicara jujur." jawab Malik seraya mendekatkan piring hidangan pesanannya.


Luna tersenyum sinis,


"Bagaimana aku bisa percaya, pria dan wanita tidur dalam satu kamar selama itu dan kalian tidak akan melakukan apa pun? Skenario yang tidak mungkin!" ragunya.


"Kalau kau tidak percaya, aku akan mengenalkanmu pada Sara di acara bonquet di rumah besok malam", saran Malik.


"Oke, aku akan datang besok. Kita lihat apakah gadis itu benar-benar tidak memiliki perasaan padamu. Jika aku lihat dia cemburu atau tidak nyaman dengan kehadiranku, berarti kau bohong! Aku akan kembali ke LN dan pergi darimu selamanya." Luna tegas mengancam.


"Kau tahu, kau tampak lebih cantik jika sedang cemberut seperti ini. Aku suka", gombal Malik sambil memberikan senyuman manis pada kekasihnya itu.


"Jangan merayu! Aku belum sepenuhnya memaafkanmu!" Luna menangkis gombalan Malik.


"Bagaimana jika..setelah ini kita belanja sesuatu yang bisa memenuhi maafmu untukku." Malik mengeluarkan jurus ketiga dari trik memikat wanita, yaitu jurus golden card!!!!


"Hanya sesuatu?", Luna meliriknya.


"Baiklah, semua yang kau inginkan. Ini tanpa limit." Malik sangat memanjakan Luna.


Luna segera mengambil golden card dari tangan Malik.


"Aku juga akan membeli sebuah apartemen untukmu, dekat dengan kantorku. Jadi, jika aku merindukanmu, aku akan segera datang menemuimu." Malik mengelus punggung jemari Luna sambil tersenyum nakal dan Luna tidak menolaknya. Gadis itu membalas senyuman Malik.


"Lupakan kera yang telah menolakku. Saat ini aku punya rembulan yang berkilau. Jika ia tidak cemburu maka aku yang akan mengejar cintanya." batin Malik. Rupanya ia masih menyimpan kesal karena penolakan Sara.


***


Malamnya, Malik pulang saat hampir tengah malam. Ia membuka pintu kamar dengan perlahan, takut kalau Sara akan bangun. Tapi saat ia memasuki kamar, Sara tidak ada di ranjang. Belum tertidur, gadis


itu menunggu di teras balkon kamarnya. Malik menghampirinya.


"Sara, kau belum tidur? Kau meneleponku beberapa kali, tapi aku sangat sibuk. Ada apa?" tanyanya dengan percaya diri mengira kalau Sara akan meminta maaf dan menyesali perbuatannya karena telah menolak dirinya.


"Aku...ingin berterima kasih padamu." Sara mencoba memberanikan diri menatap Malik.


"Kenapa?", Malik menyerngitkan dahinya.


"Karena kau sudah mempertemukanku dengan Adhitia.", Sara tersenyum malu-malu.


"O ya? Kapan?" Malik menahan rasa terkejutnya dengan bertanya sesantainya.


Kali ini Malik tidak dapat menahan rasa terkejutnya. Raut mukanya langsung berubah tegang.


"Itu...", ia tak dapat menjawab. Lalu ia ingat saat tuan Sultan meneleponnya dan menanyakan tentang supir baru yang dikirim asisten Romi pagi tadi.


"...itu cuma kebetulan. Mungkin takdir menginginkan kalian bersama lagi." jawab Malik berusaha terdengar bijak, padahal sesungguhnya jauh di dalam hati ia ingin berteriak histeris dan meluapkan kekecewaan


"Aku juga ingin berterimakasih atas saranmu untuk merebut hati Luna kembali. Kami bersama lagi dan ia ada di kota ini." lanjutnya.


Ia ingin sekali melihat reaksi Sara yang sedih, kecewa dan kesal mendengar itu. Tapi, Sara malah terlihat bahagia dan berseru riang dengan mata bersinar bulat,


"Benarkah? Wah, kenapa kisah cinta kita bisa sama ya!"


Malik tersenyum masam. Rupanya ia terlalu berharap.


"Malam sudah larut. Beristirahatlah, besok akan ada banyak kegiatan dari pagi hingga malam." Malik berbalik dan hendak masuk ke dalam kamar.


"Besok pagi aku akan menemui pangeran manismu. Bersiaplah!" ucapnya lalu masuk kembali ke kamar dan membersihkan diri untuk bersiap tidur.


Selama mereka ngobrol di balkon atas, Adhitia mengamati mereka dari kamarnya yang ada di bawah, berseberangan dengan kamar mereka. Karena Adhitia supir di rumah tuan Sultan, ia difasilitasi kamar sendiri di rumah itu.


Beep! Beep!


Ponsel Adhitia berbunyi, sebuah pesan masuk.


"Kau sudah tidur? Besok Malik ingin bicara padamu.", isi pesan yang ternyata di kirim oleh Sara.


Adhitia memperhatikan Sara yang masih berdiri di balkon sendirian, menunggu balasan pesannya sambil menatap langit malam. Lalu ia segera meneleponnya.


"Aku belum tidur, senior. Aku sedang memandangi bulan purnama." ujar Adhitia saat gadis yang berada di seberang menjawab panggilan teleponnya


Sara menoleh ke atas. Langit malam itu memang cerah, bulan pernuma pun bersinar sempurna terang benderang. Sara tertawa kecil.


"Senior, saat kau tertawa seperti itu, cahaya wajahmu lebih terang dari cahaya bulan. purnama" Adhitia menggombal.


Sara tersenyum tersipu.


"Hentikan! Aku akan masuk untuk beristirahat. Kalau tuan Sultan tahu aku masih diluar selarut ini, dia akan menceramahiku. Dan, Adhi..."


"Ya, senior?"


"Besok pagi Malik ingin berbicara denganmu."


"Malik?" Adhitia baru kali ini mendengar nama pria lain yang tidak ia kenal dari bibir Sara.


"Iya. Dia putra tuan Sultan, pria yang dijodohkan denganku." jelas Sara.


"Oh, baiklah! Selamat beristirahat. Have a sweet dream! Kuharap malam akan cepat berlalu agar besok kita dapat bertemu dan bicara lagi." Adhitia mengakhiri obrolan teleponnya. Sara mengangguk pelan lalu menutup kembali ponselnya.


Malik yang sudah berbaring berbalut selimut di sofa, diam-diam masih mengawasi Sara selama gadis itu menelepon. Dan ia merasa seperti ada yang menekan dadanya saat melihat rona wajah Sara tersipu bukan karenanya.


"Kuharap kita bisa selalu merasa bahagia dalam keputusan yang telah kita ambil.", batinnya.


Segera ia menutup wajahnya hingga ke atas, berpura-pura mendengkur saat Sara kembali ke dalam dan menutup pintu tembusan teras balkon.


***


***


MALIK