PASSION

PASSION
Sara



DUARRR!!!!


Ledakan besar sebuah kapal mewah di perairan yang tenang memekakkan telinga dan membuat gelombang yang cukup besar.


Seorang pemuda jatuh terhuyung dengan kepala dialiri darah segar berwarna merah pekat. Sebuah kacamata yang sedikit retak dan terpercik tetes darah tergeletak di sampingnya.


Warna jingga bara api mulai menerangi sisa ruang kabin kapal tersebut.


"Adhitia..." Sayup terdengar suara teriakan wanita bergaun ungu muda yang berlari sempoyongan mendekatinya dengan wajah cemas.


Dalam pandangan kaburnya, wanita itu hampir tertimpa reruntuhan fiber langit-langit atap kabin kapal yang terselimuti api yang menyala-nyala, namun sepasang tangan kekar menarik pinggang rampingnya dan membopongnya di pundak dengan gagah.


"Adhi....." kembali wanita itu meneriakkan sebuah nama seraya menjulurkan tangan seakan hendak menggapai tubuh pemuda yang bersimbah darah dengan mata setengah tertutup.


Meski nyala api makin membesar dan asap dari fiber membuat perih mata, pemuda itu masih bisa melihat mata bulat wanita itu meneteskan air mata sebelum menghilang dalam jingga yang berhawa panas.


Bibir pucatnya bergetar berusaha bergerak seakan ingin membalas panggilan wanita tadi, namun hanya suara bisu yang terdengar dari bibir yang membentuk vokal huruf 'a' tanpa makna sebelum akhirnya mata benar-benar tertutup rapat.


*


"Bawa segera ke ruang gawat darurat!!" perintah seorang dokter pria berusia sekitar 45 tahunan pada perawat dan petugas kesehatan lain.


Pagi itu adalah pagi yang paling sibuk sepanjang tahun ini. Rumah sakit sederhana di sebuah pulau kecil tiba-tiba mendapat lonjakan pasien korban ledakan sebuah kapal besar yang tengah berpesta di tengah tenangnya air laut.


Suara sirene ambulan terus menjerit-jerit menambah kepanikan dan kecemasan di wajah para dokter dan petugas administrasi rumah sakit. Para perawat lain dibantu petugas keamanan dan personil kepolisian berusaha memberi pertolongan pertama sebisa mereka pada korban ledakan yang terluka ringan.


Dokter pria yang berusia 45 tahunan itu mendekati ranjang pasien yang telah tergeletak seorang pemuda yang tengah dibersihkan luka-luka di sekitar kepalanya.


"Dokter Agastya, pemuda ini mengalami luka parah di kepala dan punggungnya." kata perawat yang membersihkan luka pemuda itu.


Dokter yang dipanggil dengan nama Agastya itu membuka kelopak mata pemuda itu dan mengarahkan senter kecil ke arah bola matanya.


"Siapkan ruang operasi! Aku kenal baik pemuda ini. Aku yang akan bertanggungjawab atas keselamatannya." kata dokter Agastya dengan yakin.


Belum jauh perawat itu melangkah, terdengar erangan kecil dari atas ranjang dan igauan samar dari bibir yang bergetar.


"Sa..h..ra...h.."


Dokter Agastya tertegun. Ia menyadari sesuatu lalu memanggil perawat tadi,


"Tolong carikan korban wanita yang bernama Sara diluar! Temukan secepatnya!!" perintahnya.


Tanpa bertanya apa dan mengapa, perawat itu langsung saja menyanggupi perintah itu.


"Hhhh...sa..h..ra..." pemuda itu terus mengigaukan nama itu dalam ketidak sadarnya.


"Please, kau pria yang tangguh! Kuatkan dirimu!!" bisik dokter Agastya dengan penuh kecemasan.


Baru saja ia berkata demikian, tubuh itu langsung diam tanpa gerak dan suara lagi.


Dokter Agastya mendekatkan jarinya ke lubang hidung mancung pemuda itu, lalu memeriksa denyut nadi di pergelangan tangannya. Tak terasa hembusan udara, juga tak teraba denyutan nadi, dokter itu mencengkeram rambutnya sendiri dan mencoba menahan air tumpah dari matanya yang memerah.


"ADHITIAAAA!!!!" Jeritnya frustasi.


*****


****


***


**


*


Siang itu di tengah kota besar B, di pinggiran taman. Seorang gadis muda berjalan dengan gontai membawa map bersampul tebal bertulis Lamaran Kerja ditangan kanan, sementara tangan kirinya menggenggam tas kecil berwarna hitam. Wajahnya sangat lusuh dan rambutnya tidak terikat rapi.


Gadis muda berusia 20 tahun itu bernama Sara. Duduki kursi yg ada di pinggiran taman sembari menghela nafas, ia memijat kecil betisnya yg kelelahan sehabis antri untuk wawancara kerja di sebuah toserba.


Hari itu untuk kesekian kalinya ia gagal mendapatkan kerja. Sejak ia tamat dari sekolah menengah atas 2 tahun lalu, ia memutuskan untuk bekerja dan mengumpulkan uang agar bisa berkuliah lagi, karena keluarganya dari golongan bawah. Bisa makan sehari-hari dan membayar cicilan hutang saja mereka sudah sangat bersyukur.


Saat ia ingin mendaftar kerja ke luar negeri, ibunya melarang karena banyak berita negatif yang didengarnya tentang para TKI dan TKW.


Lalu saat salah satu teman Sara mengajak untuk kerja di Pub, ibunya dengan tegas melarang. Bukan apa-apa, Sara memiliki paras yg cantik, tubuh yang menarik, dan ramah. Ibunya takut Sara akan terjebak rayuan pria hidung belang dan menyesatkanya. Belum lagi gunjingan para tetangga, pasti mereka kan bercerita dan bergosip yang tidak-tidak.


Terakhir, seorang ibu paruh baya menawarkan pekerjaan untuk menjadi pengurusnya sekaligus menjadi ART di rumah mewahnya, kali ini ayahnya yang melarang tanpa alasan yang tidak jelas.


Kesal. Kecewa. Itu pasti. Tapi Sara tak pernah menunjukan wajah masam pada ayah dan ibunya. Ia berusaha selalu riang dan tidak mengeluh sama sekali.


Sara bukanlah gadis yang mudah berputus asa. Segala berita dan info tentang kerja dan sesuatu yg menghasilkan uang ia pelajari dan praktekkan. Seperti saat ini, saat sedang beristirahat di pinggir taman kota, tangannya dengan lincah membalas setiap pertanyaan dari sebuah iklan yang ia pasang marketplace. Benar! Saat ini Sara berdagang secara online dengan sistem dropship. Itulah kesempatan bagus dalam memanfaatkan handphone untuk menghasilkan uang.


TRIIINGG


Sebuah pesan masuk ke email-nya.


"Anda mendapatkan pesanan untuk produk kosmetik merk XX sebanyak 2 paket. Silahkan klik tanda di bawah untuk proses selanjutnya"


"Yesss!!!" serunya seraya mengepalkan tinju kemenangan.


Lalu ia menelepon seseorang, "Sis, tolong 2 paket kosmetik XX. Nama dan alamat akan ku kirim segera...Terima kasih."


Setelah percakapan telepon berakhir, ia dengan lincah menulis nama dan alamat tujuan.


Rasa lelah dan payah yang tadi ia rasakan seketika menghilang berganti senyum kegembiraan dan mata berbinar.


"Kurasa cukup untuk hari ini. Waktunya pulang ke rumah". Sara menyimpan ponselnya di dalam tas, lalu beranjak meninggalkan kursi taman dengan langkah ceria.


**


Sara memasuki rumah yang sangat sederhana dengan beberapa pot bunga di teras kecil di pemukiman padat.


"Aku pulang..", serunya sembari memberi salam kepada ibu dan adik perempuannya yang berada di rumah.


"Sis sudah pulang. Apa sis sudah makan?" sambut Rena, adik semata wayang yang duduk di bangku sekolah menengah atas.


"Belum.. Tapi sis tidak sedang lapar".


Sara menyahut sambil meletakkan tas dan berkas lamaran kerja di meja, lalu duduk di samping Rena yg sedang asyik menonton film kartun.


"Bagaimana sekolahmu?" tanyanya sembari mengusap puncak kepala Rena dengan gemas.


"Baik saja.", Rena menghindari usapan Sara yang membuat rambut panjangnya kusut.


"Senin nanti kami libur karena senior kelas 3 akan ujian nasional." lanjutnya seraya merapihkan kembali rambutnya.


"Kelas 3...akan ujian...", lirih Sara, tatapan matanya menerawang. Tiba-tiba ia bersemangat kembali dan mendekatkan diri ke Rena,


"Rena, katakan padaku, apakah kau sudah menemukan seniormu yang bernama Adhitia?"


*****