PASSION

PASSION
28. Investigasi



Tuan Sultan berjalan dengan gagah menuju ruang baca (ruang perpustakaan) yang terletak di lantai utama rumahnya, diikuti oleh langkah Malik.


Sesampainya di ruang tersebut, Malik menutup pintu dan menguncinya rapat. Karena pembicaraan yang akan berlangsung bersifat sangat pribadi.


"Dad yakin tidak memasang CCTV di sini?" tanya Malik untuk memastikan jika pembicaraan mereka tidak akan terekam.


"Berhentilah bermain-main!". Kali ini tuan Sultan sangat serius.


"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya.


"Sara sudah ceritakan semuanya ke Dad, kan?" Malik berlagak polos.


"Jadi kau pikir aku akan percaya kalau kau kesal padanya hanya karena dia lebih mementingkan toko online-nya?" tuan Sultan memancingnya, sambil mengamati ruangan itu yang sudah beberapa hari dijadikan kamar tidur oleh Malik. Ruangan itu kini nampak seperti gudang yang berantakan karena Malik tidak pernah merapikan dan para pembantu tidak diperbolehkan masuk selagi Malik memakainya.


"Dad benar. Aku tidak akan kesal dengan toko online-nya yang konyol itu! Aku sedang sibuk mengurus sesuatu." ucap Malik.


"Lalu?" . Tuan Sultan terus mencari kebenaran dari ucapan putranya itu. Matanya menabrak susunan botol minuman keras yang ada di rak yang terselip di rak-rak buku.


"Ayolah, Dad. Aku tahu kalau Dad sudah mengetahui segalanya. Terlebih lagi Bibi Mei adalah mata-mata kepercayaan Dad di rumah ini. Dia pasti menceritakan tentang luka Sara dan yang terjadi pada Adhitia setelah itu." Malik merasa lelah.


Tuan Malik mengambil sebotol minuman keras itu dan membukanya. Ia membaui isinya yang tersisa setengah botol, lalu menutupnya kembali.


"Lalu apa hasil investigasimu?" tanya tuan Sultan.


"GOD!!! Benar, kan?!!" teriak Malik


"Bahkan Dad tau kalau aku menyewa detektif untuk menyelidiki insiden itu!!" lanjut Malik histeris.


Tuan Malik masih bersikap santai, berjalan mengelilingi ruangan itu.


"Sara dihadang oleh 3 preman dan berusaha merampas tasnya saat pulang dari kantor setelah membawa makan siangku. Adhitia menolongnya, tapi Sara tetap terluka. Aku kesal karena mereka kembali ke rumah seolah tidak terjadi apa-apa, dan mereka berdua menyembunyikan hal itu padaku." cerita Malik.


"Kabar terakhir yang kuterima kalau salah seorang dari preman itu ditemukan tewas di sebuah sungai dengan leher yang hampir putus." Malik melanjutkan ceritanya. Ia mengusap dagunya, menyembunyikan rasa ngeri membayangkan apa yang telah ia ceritakan.


Tuan Sultan berhenti berjalan dan menatapnya. Ia berjalan menghampiri Malik.


"Kau takut?!" tanyanya pada Malik dengan nada mengejek.


Malik tidak menjawab.


"Well, Malik! Istrimu bukan wanita sembarangan. Berhati-hatilah." ucapan tuan Sultan penuh makna.


"Tentu saja sekarang dia bukan wanita sembarangan. Dia istri pemilik perusahaan S yang terbesar nomor 2 di negeri ini." sahut Malik.


"Dia istimewa jauh sebelum menjadi istrimu. Karena itu aku memilihnya untukmu!! " suara tuan Sultan meninggi.


Malik kembali terdiam.


Dia belum mengerti maksud ayahnya.


"Dad, aku salah karena menjadikan Adhitia sebagai sopir dan pengawal Sara. Aku tidak mempercayai pemuda itu." kata Malik kemudian.


"Tidak mempercayainya...atau tidak menyukainya?" tuan Sultan makin menyudutkannya.


"Aku tidak menyukai cara bekerjanya. Tapi aku tidak bisa memecatnya karena Sara. Sara sudah terbiasa dengan Adhitia. Gadis itu selalu tidak nyaman dan suka bertingkah diluar nalar jika berada di dekat orang asing."


jawab Malik.


"Lalu apa rencanamu?" tuan Sultan mulai tertarik dengan ucapan Malik.


"Dua bulan lagu aku akan ke Maldives. Kunjungan klien pertamaku setelah bergabung di perusahaan ini. Juga menemui Sam."


"Sam?" tuan Sultan berpikir dan mengingat-ingat nama itu.


"Aku hampir melupakan anak itu!" lirihnya.


"Wow, Malik!! Pilihan tempat berbulan madu kalian sangat sempurna. Maldives dan Mauritian adalah tempat populer untuk pasangan pengantin baru." tuan Sultan kembali ke sifatnya yang suka bercanda dan jahil pada anaknya.


"Dad!!! Aku ke sana untuk bekerja!!!!"


" Ajaklah Sara sekalian, tambah beberapa hari lagi untuk kalian berbulan madu. Ayolah..." tuan Sultan tersenyum nakal.


*****


Malam harinya, Saat itu belum begitu larut. Malik mendekati kamar Adhitia karena tertarik dengan bunyi-bunyian dari dalam sana. Pria itu membuka pintu perlahan karena pintu memang tidak terkunci.


Tampak di dalam, Adhitia berlatih tinjuannya dengan sangat serius. Bunyi-bunyian yang didengar Malik dari luar adalah bunyi samsak yang ditinju tanpa ampun oleh Adhitia. Malik memperhatikan Adhitia. Wajah Adhitia yang terlihat serius berlatih terlihat mengerikan, berbeda dengan wajah manis yang selalu menebar senyum saat pertama ia mengenalnya.


"Heiii!! Kau terlalu serius hingga tak sadar kalau aku di sini!" panggil Malik.


Adhitia terkejut. Ia menahan samsak agar tidak bergerak dan menabrak dirinya.


"Maaf, tuan! Aku sedang latihan rutin. Maklumlah, aku hanya pemula." jawab Adhitia sambil mengatur napasnya.


"Pemula ya? Tapi alat-alat latihan ini biasa dipakai oleh pro! " Malik mengatakan apa yang ia lihat sebenarnya.


"Aku ingin lebih pro, agar bisa menjaga dan melindungi nyonya Sara." sahut Adhitia sambil melepaskan sarung tinjunya.


.


"Aku sudah berjanji, tidak akan mengulangi keteledoranku lagi." ucapnya lagi.


"Sudahlah, lupakan itu!" Malik mendekatinya.


"Hari ini aku ingin berbicara denganmu." Malik menunjukkan botol minuman keras yang masih tersegel sambil tersenyum.


Adhitia menyiapkan dua buah gelas berukuran kecil, lalu Malik mengisi gelas-gelas itu hingga penuh.


"Aku minta maaf karena memukulmu hari itu." ujar Malik sambil meneguk minumannya dengan sekali tegukan.


"Maaf, tuan. aku mohon jangan lagi memukul di bagian wajah. Aku tersiksa, tidak bisa mengunyah makanan." jawab Adhitia.


Malik tertawa.


"Untunglah nyonya Sara selalu membuatkanku bubur. Jadi aku tidak kelaparan." lanjut Adhitia.


Tawa Malik berubah jadi senyuman kecut. Ia tahu bagaimana Sara mengurus Adhitia setelah kejadian itu. Gadis itu memasak dan mengantarkan bubur ke kamar Adhitia setiap harinya, setiap jam makan.


"Dia sendiri terluka, tapi dia masih sempat mengurusi dirimu. Benar-benar naif!!!" ucap Malik pelan.


"Dia memang manis." Adhitia menambahinya.


Malik menuangkan lagi isi botol minuman keras ke gelasnya dan menghabiskan dalam satu tegukan.


"Aku.. memberimu penawaran! Gajimu sebagai sopir dan pengawal akan kulipat- gandakan." Malik membuka bahasan serius.


"Aku bilang, aku tak butuh uangmu, Tuan. Aku hanya ingin berada di dekatnya dan melindunginya." Adhitia cepat menyahut.


Malik kembali tersenyum.


"Kau dan dia sama naif-nya. kalian akan membutuhkan uang untuk biaya pernikahan kalian tahun depan, kan? Juga kebutuhan hidup kalian nanti. Pria butuh uang untuk membahagiakan wanitanya." katanya menggurui.


"Terima kasih, tuan." ucap Adhitia sambil tersenyum. Pemuda itu lalu meneguk minumannya.


"Maafkan aku tuan, tapi ada hal yang sangat mengusik pikiranku selama ini."


*****


****


***


**


*


Adhitia berlatih tinju