
Sara dan Rena keluar dari sebuah toko kue di sore hari yang terasa hanga dan cerah. Keduanya masing-masing membawa bungkusan dengan raut wajah berseri-seri.
"Sis, kue tart yang kau pilih tadi benar2 cantik. Ibu pasti menyukainya." ujar Rena.
"Hari ini hari ulang tahun ibu, tentu kita harus memberikan yang terbaik untuk Ibu kita." sahut Sara.
"Kau sudah membelikan kado spesial untuk Ibu, kan?"
"Itu...aku cuma membelikan CD bajakan lagu-lagu lawas kesukaan Ibu." jawab Rena dengan pelan sambil menyengir kuda.
"CD bajakan? Bukankah aku sudah memberikan uang 2 hari lalu? Kemana uang yang kuberikan untuk membeli kado ibu?" tanya Sara dengan nada kecewa.
"Sis...aku memakainya untuk membeli kamus keluaran revisi terbaru untuk pelajaran bahasa Inggris. Aku sudah berbicara dengan ibu dan ibu bilang sekolahku lebih penting dari kado ulang tahunnya." . Rena menata intonasi kalimatnya dengan perlahan agar kakak tersayangnya tidak emosi dan melempar dia dengan kue tart yg baru dibeli itu.
"Kau ini, ada saja alasan!! Yah, sudah. kita harus cepat berjalan agar cepat sampai rumah."
Baru saja Sara dan Rena mengayun kaki beberapa langkah, terdengar suara kaki ramai berlarian diikuti dengan teriakan,
"HEY!! BERHENTI!!!!!"
Seorang pria berlari melintasi kedua gadis itu dengan kencangnya. Angin segar berhembus kencang, Sara merasa mendengar alunan musik yang mendayukan kisah seorang pemuda asing tatkala sekelebat melihat wajah pria itu. Lagu yang terngiang ketika ia mengingat wajah Adhitia.
Ooo...foreigner.....
"Yang tadi...", belum selesai Sara meyakinkan diri bahwa yang melintasinya adalah Adhitia, beberapa pria berlari di belakang pria tadi.
Pria pertama masuk ke sebuah gang kecil buntu yang berada tak jauh dari Sara dan Rena berdiri. Ketakutan, begitu melihat 3 pria yg mengejarnya mengepung ia lemparkan semua benda apa saja yang ada di dekatnya ke arah mereka.
"Mau lari kemana lagi kau, Sia**n!!!"
"Dasar bo**h, dia memilih jalan buntu!"
"Menyusahkan saja, Cih!"
Ketiga pria berwajah sangat itu menertawakannya.
"Pergilah!!! Aku tak punya apa-apa!!!", Ia beringsut semakin tersudut ke arah tembok.
"Sok jago ya!!" tiba-tiba mereka bertiga mengeroyok, memukuli dan menendang perutnya.
"Tiga pria dewasa melawan 1 pemuda lemah. Kalian benar-benar pengecut!! Kalau berani lawan kami!!!", Sara berteriak, berdiri di belakang mereka sambil berkacak pinggang.
Rena segera mendekati Sara dan berbisik,
"Sis, apa kau gila?! Lebih baik kita pergi!"
Rena menarik lengan Sara, tapi Sara yg tak mau bergeser.
"Benar, nona! Lebih baik kalian pergi saja. Ini bukan urusanmu!!" Sahut pria pengeroyok tadi.
"Pria itu temanku. Urusannya adalah urusanku juga!" Sara berkata lantang tanpa ada rasa takut. Rena melongok melihat aksi heroik kakak imutnya. Mulutnya menganga lebar dan matanya menatap Sara tak percaya.
"Sia**n! Kami tidak berkelahi dengan wanita!"
Satu pria jagoan tadi meninggalkan pemuda yg dipukulinya.
"Kau beruntung kali ini!" ujar pria lain sambil mendorong kepala pemuda yg tak berdaya itu. Sementara pria lain melemparinya dengan plastik minuman bekas.
Salah satu dari mereka menyenggol pundak Sara dengan sengaja, sehingga bungkusan yang dipegang Sara terjatuh
"Hei!!!!",
"Kue tart!!!", seru kedua kakak-adik itu
Setelah 3 pria jagoan itu jauh, Sara berlari mendekati pemuda yg meringkuk memegangi perutnya menahan sakit akibat pukulan tadi.
"Adhitia...bener ini kau, kan?". Sara duduk jongkok mengamati pemuda itu. Perlahan pemuda itu mengangkat wajahnya, terkejut melihat Sara.
"S-senior?"
"Dia...Adhitia?", Rena bergumam, mencoba memahami situasi yang terjadi.
"Tidak perlu! Ini hanya luka kecil. Sudah sering terjadi."
Tangan Adhitia yang menahan tangan Sara menggengam kuat. Keduanya saling pandang. Semilir angin menyibak rambut Sara yang diikat ekor kuda. Matanya yang bulat penuh iba menatap Adhitia, membuat pemuda itu melupakan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Ng...Sis, kue tart Ibu terjatuh." Rena memecahkan adegan drama pertemuan mereka yang (lagi-lagi) canggung.
"Oh, tidak!" seru Sara panik. Sara beranjak dari tempatnya duduk menuju bungkusan kue tart yang terjatuh dan membuka bungkusan dan memeriksa isi kotak kue itu.
"Senior, apa hari ini hari ulang tahunmu?", Adhitia bertanya karena merasa tak enak hati melihat raut wajah Sara yang menatap kue tart bertuliskan Happy Birthday dengan nanar.
"Sebenarnya ini.....hari ulang tahun ibu kami." Suara Sara tercekat.
"Bagaimana ini, sis?" Rena ikut sedih.
Adhitia menggenggam tangan Sara dengan kedua tangannya dan menariknya ke arah dadanya. Rena dan Sara shock melihat aksi Adhitia yang tiba-tiba dan tergolong berani itu.
"Maafkan aku, senior. Semua ini gara-gara aku. Biar aku belikan yang baru, ya.." ia bersimpati.
"Tidak! Tidak perlu!", Sara menarik tangannya perlahan. Wajahnya memerah karena malu.
"Aku yakin bentuknya masih bagus. Selagi masih bisa dimakan, untuk apa membeli lagi."
ucapnya seraya tersenyum.
"Baiklah, kami pulang dulu!" Rena memutuskan untuk pulang dan menuntun Sara.
"Semoga lekas pulih." Sara memberi semangat pada Adhitia. Rena dan Sara melangkah berbalkk akan meninggalkan Adhitia.
"Senior..." Adhitia memanggil dengan suara pelan lalu,
BRUKKK!!!
Sara dan Rena menoleh ke belakang, ke arah suara. Adhitia sudah jatuh tergeletak pingsan.
"Yaaahh...harus diapakan dia?", Sara histeris dan cemas
"Entahlah! Dia teman Sis, aku tak tahu apa-apa!" Rena ikut panik.
Sara berlari kecil mendekati tubuh Adhitia dan mengguncangkan bahu pemuda itu perlahan.
"Adhi?... Adhitia, kau kenapa?" panggilnya panik.
Tak ada respon dari Adhitia, tapi nafas masih berhembus di dadanya.
Sara segera meletakkan bungkusan kue tartnya dan berjongkok di dekat Adhitia.
"Ayo, bangunlah!" dengan sekuat tenaga Sara mencoba menegakkan kepala pemuda itu.
"Rena, carikan air untuknya!" teriaknya pada Rena yang hanya berdiri menonton sedari tadi.
"B-baik, sis!" Rena segera berlari menuju kios kecil yang menjual air minuman kemasan.
Kekuatan seorang Sara tidak bisa mengangkat tubuh tinggi dan kekar seorang Adhitia. Kepala Adhitia pun jatuh terkulai di dadanya.
Sara terkejut. Wajahnya perlahan merah padam menyadari wajah tampan itu terbenam di bagian tubuh atas sensitifnya. Ragu-ragu, ia mengarahkan jemarinya ke kepala Adhitia. Alih-alih ingin menjauhkan, tangan mungil nan lentik itu malah mengusap dan membelai lembut kepala Adhitia.
Ada rasa bahagia menjalari relung hatinya karena dapat bertemu kembali dengan pemuda yang pernah dekatnya. Namun tersirat pula rasa sedih tatkala melihat pemuda yang berhasil mencuri mimpi dan khayalnya terkulai lemas tak sadarkan diri.
Who knows what one has done
Everyone says that you've taken my heart away
Everyone says that I've given my heart to you
*****
Adhitia