PASSION

PASSION
52. Candle Light Dinner



Bibir Sam dan Luna saling bertautan. Awal yang lembut kemudian menjadi panas dan menggila saat lidah Sam bermain dan menjelajah rongga mulut Luna. Keduanya menikmati sensasi terbakar hingga ke ubun-ubun.


Luna menarik kepalanya mundur karena kehabisan nafas. Terengah-engah, perlahan ia membuka piyama Sam. Tersenyum menyeringai, Sam membiarkan jemari lentik Luna bermain di otot dadanya.


Tak mampu menahan gejolak aneh yang menghempas akal sehatnya, Sam menarik leher Luna dan menenggelamkan kepalanya di sana sementara tangan yang lain dengan leluasa menggerayangi bagian tubuh yang lain.


Para awak kapal yang sedang bersantai di geladak spontan saling berpandangan dengan wajah tegang dan merona merah saat terdengar lenguhan, rintihan, dan erangan bersahut-sahutan dari dalam kabin kapal yang tertutup rapat. Senja itu terasa panas dan gerah bagi mereka. Rasanya ingin terjun bebas ke dalam air, menyelam ke dasar laut dan menunggu di sana sampai dua sejoli itu menyelesaikan perbuatan mesumnya.


***


Malik mengetuk pintu kamar Sara tak lama setelah pelayan hotel mengantar makan malam di kamar itu.


"Kau sibuk?" tanyanya.


Menatap Malik yang telah siap dengan piyama tidur sambil membawa bantal di lengannya, Sara melongo.


"Aku baru akan makan malam." jawab Sara seraya mempersilahkan masuk lalu menunjukkan seorang pelayan hotel wanita yang sedang menyiapkan hidangan makan malamnya.


"Aku juga belum makan malam." Malik mengintip hidangan yang disajikan.


"Bisa bawakan aku menu seperti ini?" tanyanya pada pelayan hotel.


"Tentu, tuan. Mau diantar kemari atau ke kamar yang satunya?" pelayan itu tersenyum ramah.


"Di sini saja." jawab Malik.


"Baiklah. Saya permisi dulu, Tuan dan nyonya." pelayan tersebut meninggalkan kamar.


"Ada apa? Biasanya kau makan malam dalam keremangan bersama Luna dengan cahaya lilin." Sara bertanya.


"Keremangan apa! Itu yang disebut candle light dinner!" malas menjawab, Malik malah mengoreksi ucapan Sara.


Duduk menghadap hidangan miliknya, Sara tertawa kecil.


"Apa enaknya makan dalam keremangan begitu." cela Sara.


"Apa Adhitia tidak pernah mengajakmu untuk candle light dinner? Kau tak pernah makan malam begitu?" Malik penasaran.


"Dulu pernah. Saat makan malam bersama di rumah, tiba-tiba listrik padam! Ibu menyalakan lilin di atas meja. Rena dan aku salah mengira mangkuk sambal sebagai mangkuk kuah kari." tersenyum, Sara bercerita tentang masa kecilnya.


Mendengar itu Malik tertawa lepas.


"Pantas saja!" tak dapat menahan geli, menertawakan kenangan konyol kakak-beradik itu.


"Biar kutunjukkan apa yang dinamakan candle light dinner." setelah berucap demikian, Malik mengambil tongkat lilin bercabang tiga yang ada di dekat pintu dan meletakkannya di meja hidangan, kemudian mengambil batu es dan sampanye dari dalam lemari es dari dalam kulkas.


"Eh, kenapa ada botol minuman keras di lemari es?" Sara terkejut.


"Ini kamar Presidential Suite. Semua tersedia. " dengan enteng Malik menjawab lalu meletakkan botol sampanye di meja yang sama.


Suasana kamar tiba-tiba menjadi gelap gulita saat Malik mematikan lampu di sekitar meja hidangan.


"Malik, ini tidak lucu. Aku memesan ikan kerapu. Bagaimana jika aku ketulangan?!" Kepanikan Sara hanya dibalas tawa kecil Malik.


Saat cahaya lilin satu persatu menyala, wajah Malik terlihat sangat dekat dengan wajah Sara. Mata bertemu mata, mengagumi wajah polos satu sama lain.


Ya Tuhan! Ada apa dengan perasaanku? Kenapa jantungku berdetak tak menentu saat matanya memberiku tatapan ini?, Sara membatin.


Matanya beralih untuk tidak melihat langsung indera penglihatan pria itu.


Bayang pupil mata bulat Sara yang bergerak-gerak terpantul dengan cahaya lilin, membuat Malik semakin penasaran dengan apa yang dipikirkan gadis di hadapannya.


Ada apa dengan tatapannya? Ya Tuhan, aku akan sangat merindukan gadis ini jika kami pulang ke kota B nanti. Seandainya waktu berhenti di sinii, sama seperti Adhitia, aku akan menjadi pelindungnya dan mengikuti kemanapun ia melangkah.


Berpikir seperti itu, secara tak langsung Malik mengakui penyesalan dan kegilaannya.


"Seperti inilah suasana makan malam romantis." Malik tertunduk karena takut tak bisa menahan perasaan lalu memalingkan wajahnya.


Saat pintu kamar diketuk seseorang, Sara beranjak dari duduknya seraya berkata,


"Aku akan membuka pintu dulu."


Malik menarik kursi dan duduk di depan meja hidangan dengan santai, saat mendengar Sara berseru dan semangat.


"Adhitia! Kebetulan sekali kau di sini!"


Adhitia tersenyum memamerkan lesung pipi yang menjadi daya tariknya pada Sara.


"Lampu kamarmu bermasalah?" Adhitia langsung masuk saat melihat suasana gelap di dalam


Langkahnya terhenti saat melihat Malik duduk di hadapan meja hidangan dengan bercahaya lilin, menatapnya tanpa ekspresi.


"Apa aku merusak makan malam romantis kalian?" tanya Adhitia, merasa berada di kamar yang salah, melihat Malik piyama biru dongker.


Sara tertawa.


"Makan malam romantis apa? Justru aku belum mulai makan karena kalian." katanya sambil menghidupkan kembali lampu di kamar itu.


"Ah, itu makananmu, Malik." kembali Sara membuka pintu kamarnya dan membiarkan pelayan hotel masuk membawa hidangan makan malam untuk Malik.


"Adhitia, kemarilah. Kita makan bersama." dengan perlahan Sara menuntun tangan Adhitia untuk duduk di meja bersama Malik dan dirinya setelah pelayan hotel tadi meninggalkan kamar.


"Maaf, mengganggu acara Tuan." ucap Adhitia santun.


"Tidak usah sungkan, Romeo. Aku yang harus meminta izin padamu untuk meminjam Sara malam ini."


"Apa?"


"Maksudmu?"


Sara dan Adhitia bertanya bersamaan, merasa ucapan Malik tidak pantas.


"Jangan salah sangka. Dad mengirim orang suruhannya kemari dan memastikan kita benar-benar sedang berbulan madu. Jadi, malam ini aku akan tidur di sini." Malik menjelaskan. Tentu saja itu hanya alasannya saja karena sebenarnya ia sudah lama tidak berbincang-bincang dengan Sara sebelum tidur.


Berusaha menahan emosi, Adhitia mengepalkan satu tangannya di bawah meja.


"Kalau begitu kau tidur di sofa seperti biasa." sahut Sara cuek, sambil memulai santap malamnya.


"Kau yang tidur di sofa! Aku di kasur." balas Malik yang ikut menyiapkan piring untuknya sendiri.


"Hmh??!" Sara terbelalak. Itu terdengar seperti bukan Malik yang biasanya bersikap gentleman.


"Baiklah." Sara berdiri, mengangkat piring makanannya dan mengajak Adhitia mengikutinya.


"Ayo Adhi, kita tempati sofa sambil makan dan nonton tv sebelum pria ini berubah pikiran."


Adhitia segera mengikuti Sara sebelumnya mengambil piring berisi udang saos merah kesukaan Sara seraya tersenyum mengejek pada Malik.


"Kau ingin menonton apa, senior?" Adhitia meletakkan piring lauk dan air putih di meja antara TV dan sofa tempat Sara duduk.


"Apa kita bisa nonton film Bollywood?" tanya Sara dengan mulut mengunyah makanan.


"Tentu. Film apa yang ingin senior tonton?" mengambil remote, Adhitia pun duduk di sebelah Sara.


"Entahlah. Tapi aku suka dengan Salman Khan."


"Ohoo... Okay, Fans Salman." Sambil tersenyum, Adhitia memilih sebuah chanel yang berisi film-film Bollywood dan kebetulan saat itu sedang ditayangkan film Salman Khan yang berjudul Bajrangi Bhaijaan.


"Senior pernah menonton ini?" Tanya Adhitia.


Sara menggeleng pelan, matanya fokus menatap layar kaca sementara mulutnya masih mengunyah makanan dengan perlahan.


"Di film ini Salman Khan berperan sebagai seorang pemuda naif yang menemukan gadis cilik.." belum selesai Adhitia bercerita, Sara tiba-tiba memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Sssttt!!...Kita menonton, kan? Bukan mendengar sinopsis?" gumam Sara yang mulai asyik terbawa pemandangan pegunungan yang sangat cantik di film tersebut.


"Baiklah, senior."


Adhitia tanpa melepas kacamata, memperhatikan wajah Sara yang begitu fokus ke gambar TV. Sesekali tangannya menyuapi gadis itu dengan makanan karena makan malam gadis itu mulai terabaikan karena asyik dengan tontonannya.


"Hey! Apa kalian pikir ini bioskop?" seru Malik yang merasa diabaikan.


Kedua sejoli itu benar-benar tidak mempedulikannya.


Mata Sara merah penuh air mata saat menonton adegan Shahida, gadis yang tidak bisa bicara, tertinggal kereta sementara ibunya berteriak-teriak pilu mencarinya di sepanjang gerbong kereta.


Tangisnya pecah ketika Adhitia menyodorkannya tisu. Adhitia merebahkan kepalanya dan merangkul Sara untuk mengurangi rasa sedihnya, tapi malah dorongan kuat dari gadis itu yang didapatnya.


Malik menahan geli melihat mereka berdua.


Adhitia merampas dan menjauhkan piring dari hadapan Sara lalu mengelitiki pinggangnya hingga Sara berhenti menangis dan tertawa terguling-guling. Tanpa disadari Adhitia dalam posisi menindih Sara


"Aku benci melihatmu menangis, senior" lirih Adhitia, menghentikan gelitiknya.


"Baiklah. Aku juga benci digelitiki seperti tadi." sahut Sara pelan dengan nafas tersengal.


Melihat kedua pasangan itu saling tindih, Malik segera berdiri dan mendekati mereka.


"Sepertinya ini sudah malam. Bukankah kau harus istirahat untuk kontrol ke rumah sakit besok pagi, Adhi?" Malik menatap mereka sadis dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


"Maaf, tuan." ucap Adhitia seraya bangkit dari atas tubuh Sara.


Sara membenarkan posisi duduknya.


Sungguh istri dan pengawalnya yang tak punya moral!!!!


****



credit film: Bajrangi Bhaijaan