
*****
Sara mengetuk pintu kamar Adhitia dengan kuat berulang kali, namun tidak ada jawaban. Tak lama kemudian ia melihat Bibi Mei berjalan di dekat sana sambil membawa sapu dan pengki berisi pecahan kaca.
"Bibi Mei..." panggil Sara.
Bibi Mei menghentikan langkahnya. Melihat Sara mendekatinya, bibi Mei langsung menyembunyikan pengki di belakang tubuhnya.
"Bibi, apa bibi melihat Adhitia?" tanya Sara cemas.
"Tidak, nyonya. Ada apa?"
"Ponselnya tidak aktif. Aku ingin diantar ke rumah ibuku saat ini." jawab Sara kecewa.
"Maaf, nyonya Sara. Bibi tidak tahu dimana dia." jawab Bibi Mei datar.
"Ya ampun. Bagaimana ini? Bagaimana aku ke sana tanpa Adhitia. Besok kami berangkat ke Maldives dan kini dia menghilang.!" Seru Sara panik.
"Aku yang akan mengantarmu ke sana!". Tiba-tiba Malik telah berdiri di belakang Sara.
Sara menoleh ke arahnya.
"Mungkin Adhitia pergi berbelanja untuk keperluannya selama di Maldives nanti." tebak Malik, mencoba menenangkan Sara. Padahal ia sendiri pun belum tahu dimana keberadaan Adhitia.
"Benar juga!" sahut Sara mengiyakan.
Malik melihat pengki yang ada di belakang tubuh bibi Mei.
"Bibi Mei, bibi membersihkan sesuatu?" tanya Malik.
"Ini...maaf, tuan muda. Seekor kucing memecahkan cermin di kamar Adhitia. Bibi hanya membereskannya sebelum dia pulang." jawab Bibi Mei agak gugup.
Malik mencurigai jawabannya.
"Bibi baru keluar dari kamar ini?"
"Sebenarnya, tadi bibi lewat dan mendengar suara benda jatuh dan pecah. Awalnya bibi kira Adhitia terjatuh, ternyata tidak ada siapapun di sana, hanya ada kucing." cerita Bibi Mei.
"Jadi, pintu kamar ini tidak di kunci? Ceroboh sekali anak itu!" gerutu Malik, lalu mencoba membuka pintu kamar Adhitia. Tapi tidak bisa. Malik heran.
"Tuan muda, Bibi punya kunci cadangannya." Bibi Mei menunjukan beberapa kunci ruangan cadangan, karena posisi Bibi Mei di rumah itu menyamai kepala pelayan, jadi wajar kalau ia memiliki kunci cadangan beberapa ruangan.
"Tolong, nanti saja, Malik. Aku ingin segera ke rumah Ibu sekarang." Sara membujuk Malik agar mengantarnya ke rumah orang tuanya.
"Okay!", lalu Malik dan Sara bergegas menuju garasi mobil.
*****
Ibu memberikan sepucuk surat tipis bersampul ungu gelap kepada Sara setelah Sara tiba di sana.
"Sebelum pergi, Rena menitipkan surat ini. Katanya ia ingin kau bawakan semua yang dituliskan di dalamnya dari Maldives."
"Ibu, siapa Puja?" tanya Sara.
"Rena bilang kalau Puja teman sekolahnya. Dia dan Puja sama-sama satu klub drama. Mereka sedang mempersiapkan pentas drama untuk akhir tahun nanti, jadi mereka sedang fokus untuk mendalami peran masing-masing." Ibu menerangkan.
Sara termenung. Rena dan Sara memang sama-sama berbakat dalam seni. Jika ia tertarik di tata busana dan tari, maka Rena lebih memilih akting dan modeling. Dan keduanya juga memiliki paras yang cukup cantik.
"Lalu, apa yang ibu pinta untuk oleh-oleh nanti?" tanya Malik sambil tersenyum ramah dan hangat.
Sara terkejut melihat kepedulian Malik pada ibunya, bahkan dengan sikap yang sopan dan ramah.
Ibu tertawa.
"Ya ampun...ibu mau apa ya? Memang di sana ada apa ya?" Ibu malah berbalik bertanya.
"Maldives itu negara kepulauan. Daerahnya kecil, tapi pantainya indah sekali. Airnya jernih, dan udaranya sejuk." cerita Malik.
"Sama seperti di Hawai?" tanya Ibu penasaran.
Malik menggeleng.
"Resort di Maldives lebih banyak dan lebih bervariatif. Di sana adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim, jadi kita tidak bisa seenaknya berpakaian minim di tempat terbuka seperti di Hawai." terang Malik.
"Benarkah?" Ibu terlihat sangat tertarik.
"Kalau begitu Ibu mau kalian membawakan satu oleh-oleh saja." jawab Ibu sambil tersenyum-senyum.
"Katakan, ibu. Kami pasti akan membawakannya." kata Malik yakin.
"Ibu mau...kalian...membawa dua garis biru di test pack ini.". Ibu menyerahkan bungkusan kecil alat tes kehamilan pada Malik.
Malik menerimanya dan membolak-balik benda itu . Lalu ia melirik ke arah Sara. Wajah Sara berubah merah karena malu.
Malik tertawa kecil.
"Lihatlah istrimu! Aku meminta dibawakan bayi kalian, dia malah akan memberiku bayi ikan hiu. Mau kuletakkan dimana ikan hiu itu? Di bak kamar mandi?!" keluh ibu seraya tersenyum nakal pada Malik.
Sara melotot kepada Malik karena tawa pria itu kini bertambah keras.
"Bagaimana...Bagaimana kalau dia membawakan bayi kera saja, Bu?" Malik menambahi kekesalan Sara.
Ibu kini ikut tertawa keras.
"Boleh juga." sahut Ibu.
Sara mendengus kesal. Sekarang ibu kandungnya telah akrab dan bekerjasama dengan Malik untuk mengolok-olok dirinya.
Sepanjang perjalanan pulang dari rumahnya Sara tidak bicara dan tidak mau melihat wajah Malik karena pemuda itu tak berhenti tersenyum dan tertawa kecil sendirian. Ia merasa Malik terus menertawakannya.
"Sepertinya kau tidak bisa mengelak lagi. Dad dan ibu meminta hal yang sama pada kita." goda Malik sambil menyetir mobil.
"Hah-hah! Kau sendiri yang bilang 'Jangan bermimpi dengan mata terbuka'!" ketus Sara.
"Aku tidak bermimpi. Hanya ingin mewujudkan keinginan dari orang tua kita." kilah Malik dengan senyumannya.
Sara malas menyahutinya. Ia cuma diam dengan perasaan kesal sambil menatap jalanan menuju rumah tuan Sultan.
"Coba kita tanya pada satu orang lagi oleh-oleh apa yang ingin dibawakan untuknya." kata Malik sambil membelokkan setir mobil menuju arah yang berbeda dengan jalanan yang biasa ia lalui untuk kembali ke rumah.
Sara heran dan bingung saat Malik memarkirkan mobilnya di parkiran khusus pemakaman elite di pinggir kota.
Malik membukakan pintu dan mempersilakan Sara keluar dari dalam mobil untuk mengikutinya.
Mereka berdua menemui seorang penjaga makam untuk meminta izin. Lalu penjaga itu mengantarkan mereka ke salah satu kuburan yang terawat dengan baik dipenuhi taburan bunga segar di atasnya. Setelah sampai di sana, sang penjaga makam itu meninggalkan mereka berdua di sana.
Malik duduk berjongkok di dekat batu nisan kuburan tersebut. Tertulis di situ sebuah nama "Seila".
"Ini Mom-ku." kata Malik sambil mengusap batu nisan indah tersebut.
Sara mendekat ke kuburan itu.
"Sudah lama sekali aku tidak menemuinya. Mungkin hampir 15 tahun. Aku tak tahu apa Mom marah padaku karena aku tidak pernah ke sini." kata Malik dengan wajah tertunduk.
"Kalau kau tidak pernah kesini lalu siapa yang menaburkan bunga-bunga segar ini?" tanya Sara heran.
"Mungkin Dad. Atau mungkin Dad menyuruh penjaga tadi untuk menaburkan bunga di sini." tebak Malik.
"Aku tidak terlalu ingat seperti apa Mom. Saat aku berusia 10 tahun ia pergi meninggalkanku dan Dad." Malik mulai bercerita.
" 8 tahun lamanya ia menghilang. Dad bilang kalau Mom sedang sibuk merintis kerajaan bisnis baru, yaitu perusahaan S yang sekarang kami kelola. Tapi aku tidak percaya cerita itu. Saat itu aku sudah cukup mengerti kalau Mom meninggalkan kami karena pria idaman lainnya."
Sara terkejut. Malik menceritakan keburukan ibunya sendiri di atas kuburan wanita itu.
"Malik..." panggil Sara.
Malik tidak menyahutinya. Wajahnya tertunduk dalam dan tangannya menekan batu nisan itu dengan kuat. Rahangnya bergetar hebat, tanda ia menahan emosi dan kesedihan teramat sangat yang tidak ingin ia tunjukkan pada orang lain.
Sara merasa iba melihatnya.
"Mom..." suara Malik tercekat.
"Besok aku akan ke Maldives, negara asal kelahiranmu. Mom mau dibawakan apa dari sana?" tanya Malik pada batu nisan itu. Membuat hati Sara makin terenyuh melihatnya.
"Please, jangan meminta hal yang sama seperti permintaan Dad dan ibu Sara." lanjut Malik sambil tertawa kecil, menutupi kepedihannya menahan rindu.
"Dia bukan menantumu yang sebenarnya. Kami hanya terikat kesepakatan."
Malik menatap Sara dengan memaksakan senyumnya saat melihat mata Sara berbayang dan tergenang air mata.
"Malik..." panggil Sara dengan suara serak dan manja.
*****
****
***
**
*