PASSION

PASSION
23. Tolong Aku



"Kau mau makan siang bersamaku?" Malik menawari Luna untuk makan bersamanya.


"Apa yang kau punya untuk makan siang hari ini?" Luna mendekat.


Malik meraih kotak makan siang yang diletakkan Sara di atas meja kerjanya. Saat kotak tersebut di buka, aroma harum khas masakan rumahan menyeruak di indera penciumannya.


"Great!! Ada nasi, ikan goreng, sayur bayam dengan kacang kedelai! Ada buah juga!" Malik berseru girang.


Luna merasa heran dengan selera makan Malik. Seorang pria mapan berjabatan tinggi, lulusan kampus luar negeri, seharusnya punya selera makan tinggi ala kebarat-baratan, tapi Malik malah kegirangan dengan menu sederhana ikan goreng dan sayur bening bayam.


"Sayang, aku makan di luar saja. Aku tak biasa dengan itu." Luna memandang menu yang dibawa Sara dengan tidak berselera.


"Silahkan! Aku duluan ya. Setelah ini aku masih akan melanjutkan meeting sampai sore nanti." Malik bersiap melahap bekal makan siangnya tanpa mempedulikan Luna.


Luna mengambil tas kecilnya yang ada di meja tamu di ruangan itu. Belum sampai pintu keluar, langkahnya terhenti.


"Hmmm, sayang.." panggilnya pelan dengan manja.


"Ya?" Malik menahan sendok berisi nasi dan sayur di tangannya.


"Soal pameran di hotel XX tadi..." Luna tidak melanjutkan ucapannya. Berharap Malik mengerti maksudnya.


"Tentu!! Kau pilihlah perhiasan yang kau suka di sana!" Malik memahami maksud Luna. Sebagai kekasih, ia sangat royal memanjakan pasangannya dengan uang dan hartanya, namun tidak dengan waktunya.


Luna tersenyum senang. Ia memberikan kecupan sayangnya dari jauh, lalu kembali melangkah keluar dari ruangan itu.


Malik melanjutkan acara makan siangnya sendirian. Ia menuangkan kuah sayur bening ke atas nasi dan melahapnya bersama dengan ikan goreng yang beraroma rempah yang kuat. Ia juga mengunyah kacang-kacang kedelai yang ada di kuah sayur tanpa sisa.


Hatinya merasa hangat dan jiwanya perlahan tenang karena ia memang menginginkan makanan sehat yang seperti itu sudah sejak lama.


Ia pun menelepon ke rumahnya untuk mengucapkan terima kasih pada Bibi Mei atas kiriman bekal makan siangnya.


"Bibi Mei?"


"Ya, tuan muda?" Bibi Mei merasa kaget karena Malik menelepon untuk kedua kalinya siang itu.


"Terima kasih untuk masakanmu siang ini. Aku menyukai ikan goreng dan sayurnya. Bisa kau buatkan lagi yang seperti ini untuk malam nanti? Aku pikir rasanya akan lebih sempurna jika dimakan selagi hangat " Ia mengucapkan terima kasih dan meminta dimasakkan lagi.


"Maaf, tuan muda. Yang memasak dan menyiapkan makan siang hari ini adalah nyonya muda Sara. Di sini, tuan besar Sultan juga menghabiskan makan siangnya tanpa sisa." jawab Bibi Mei sambil tersenyum melihat kelakuan ayah dan anak yang memiliki selera makan yang sama.


Malik terdiam.


Ia meletakkan ponselnya kembali di meja. Ia menatap kotak makan siangnya yang kini kosong, hanya bersisa tetesan kuah sayur bayam di sana. Ia lalu bersandar di kursi empuknya sambil tersenyum-senyum sendiri. Membayangkan kembalinya selera makan ayahnya yang lama hilang, dan kehangatan di rumahnya, saat ia kembali setelah pulang kerja sore nanti. Rasanya ia ingin cepat-cepat pulang ke rumah.


*****


Setelah keluar dari ruangan Malik, Sara langsung keluar dari kantor, tanpa menuruti perintah Malik yang menyuruhnya untuk menunggu asisten Romi mengantarkannya pulang ke rumah.


Sara lebih suka berjalan menyusuri jalanan kota, menuju halte bis, seperti yang biasa ia lakukan sebelum menjadi nyonya muda.


Sepanjang perjalanan ia terus terbayang-bayang akan perbuatan Malik dan Luna di ruangan Malik tadi. Wajahnya terasa panas dan merah jika mengingat bagaimana Malik memperlakukan Luna dengan hangat dan lembut.


"Wah, mereka benar-benar pro! Aku sampai merinding jika mengingatnya!" gumamnya pelan sambil tersenyum-senyum sendiri seperti orang tidak waras yang hidup dalam dunianya sendiri.


Karena larut dalam khayalan percintaan antara Malik dan Luna, Sara tidak menyadari kalau ternyata ia diikuti oleh 3 pria sejak ia keluar dari gedung kantor perusahaan S tadi.


Sara melirik ke belakang karena merasakan hal yang membuatnya tidak nyaman. Instingnya menguat. Dengan berani ia menoleh ke balik punggungnya. Dilihatnya hanya ada 2 orang pria yang sedang ngobrol satu sama lain, dan seorang lagi yang wajahnya tertutup koran yang sedang dibaca.


"Orang aneh! Kenapa ia membaca koran dengan terbalik?" batin Sara karena melihat koran yang dibaca orang itu dalam posisi terbalik. Gadis itu melanjutkan langkah kakinya kembali.


Saat sebuah minibus berjalan di dekatnya, ia sempat melirik ke kaca jendela dan melihat ketiga pria tadi berjalan di belakang, membuntutinya. Jika ia memperlambat langkahnya, mereka juga melambat. Dan jika ia mempercepat langkahnya, ketiga pria itu pun bergegas mempercepat langkah mereka. Sara merasakan bahaya. Ia segera berlari menjauh dari ketiga pria itu.


"Dia sudah tahu!! Kejar dia!!!" teriak salah satu dari ketiga pria itu memberi perintah kepada kedua temannya.


"Oh, tidak!!!! Mereka benar-benar mengincarku!!!!!" Sara berlari lebih cepat.


Karena panik dan belum mengenal daerah itu, Sara berbelok ke lorong kecil yang buntu.


"Ya Tuhan! Kenapa aku malah ke sini!!!!" gerutunya sendiri karena ia terlambat menyadari kesalahannya.


"Bagus!! Kau memilih tempat sepi dan tertutup!!!" Suara berat pria yang mengikutinya mengagetkan Sara.


"Sudah cukup bermain kucing dan tikusnya, nona!" teriak teman pria itu.


"Mau apa kalian?!!" Sara membentak mereka dengan penuh keberanian.


Tiba-tiba salah satu dari mereka merampas tas tangan Sara dengan kasar.


"Heiii!!! Kembalikan itu!!" Sara mempertahankan tasnya.


"Nona, lebih baik simpan suaramu." pria yang bersuara berat tadi menempelkan sebuah pisau lipat di tenggorokan Sara. Sara tercekat.


Pria yang merampas tas membuka isi tas Sara dan mengeluarkan semua benda berharga dari sana.


"Aku punya ide. Bagaimana kalau dia kita culik dan minta tebusan dari keluarganya." seru pria yang lain.


Sara tiba-tiba merasa lemah dan takut. Mata bulatnya tak berhenti berkedip karena gusar dan merasa terancam.


"Sial!!! Ternyata dia menarik juga!" celetuk pria yang memegang pisau karena terlalu dekat menempel pada Sara. Ketiganya tertawa terkekeh-kekeh.


"Ya Tuhan, ampuni aku!! Dimana Malik? Adhitia, tolong aku!!" teriak hati Sara dengan mata terpejam erat. Tubuhnya bergetar karena rasa takut yang berlebih.


Pria dengan pisau itu mencengkeram dagu Sara dan berkata,


"Nona, wajah polos dan ekspresimu saat ini sangat membahayakan. Turutilah keinginan kami."


Wajah pria itu mendekat ke wajah Sara.


Sara menjerit histeris,


"TIDAAAKKKK!!!"


BUGH!! BUGH!!


Terdengar suara pukulan berkali-kali.


Sara membuka matanya karena ia tidak merasakan cengkeraman di dagunya lagi.


Sekarang ia berdiri sendiri, terlepas dari pria yang mengancamnya dengan pisau lipat tadi.


"Ha?!!" Ia berseru tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tuhan telah memberinya ampunan dengan sangat cepat


Ketiga pria yang mencegatnya tadi, kini sedang dipukuli habis-habisan oleh pengawalnya, Adhitia.


"Adhitia?!"


*****


****


***


**


*