
Di rumah kediaman keluarga Imran,
Sara dan Rena mencium pipi Ibu mereka bersamaan, lalu berebut memotong kue tart yang bentuknya agak kacau karena terjatuh.
"We love you, Mom!", keduanya pun berebut ingin menyuapi kue ke ibu mereka.
Sang ibu tertawa kecil, berbahagia melihat dan merasakan tingkah laku kedua putrinya.
Lalu Rena memotong kue dengan semangat.
"Aku mau bagian yang besar!" ucapnya.
"Jangan serakah, kau bisa gendut nanti!", ibu berkomentar.
Sara tertawa membayangkan tubuh langsing semampai Rena menjadi bulat gendut.
Imran pun datang dengan wajah sumringah.
"Ayah pulang.."
"Selamat ulang tahun, cintaku", ucap Imran lalu memeluk dan menciumi bibir istrinya.
Rena dan Sara membuang muka bersamaan.
"Bisakah kalian menunggu sampai kami tidur nanti."
"Itu... seharusnya adegan 17++". Protes mereka dengan kelakuan ayahnya yang mengumbar kemesraan di depan anak-anak gadisnya yang masih polos.
"Ayolah, kalian pikir ayah tidak tahu film yang sering kalian tonton juga banyak adegan begini! " Imran membela diri.
Istrinya memukul bahu Imran.
"Maaf, Ayah cuma merasa sangat senang hari ini." ucap Imran lembut pada istrinya, tangannya mengambang ke udara, memamerkan kantong-kantong belanjaan yg dibawanya.
Ketiga wanita di depannya melongok.
"Ayah, itu semua hadiah untuk ibu?", tanya Rena.
"Ini pemberian dari tuan Sultan. Kalian semua mendapat hadiah."
Ketiga wanita yang bengong tadi menghambur mendekati Imran dengan kegembiraan.
"Ini untuk Istriku." Imran memberikan satu kantong pada istrinya.
"Ini untuk Rena..", satu kantong lagi diberikan pada Rena.
"Dan ini...semua untuk Sara." Imran memberikan 3 kantong besar pada Sara lalu merangkul anak perempuan tertuanya itu.
"Kenapa banyak sekali hadiah untuk Sara?", Ibu dan Rena bertanya karena bingung.
"Sebab... Tuan Sultan menginginkan Sara kita." jawab Imran.
"Apa??". Sara terkejut dan ikut bingung.
"... untuk menikahi putranya." Imran melanjutkan kalimatnya.
"Putra tuan Sultan semata wayang?? Yang tinggal di LN (Luar Negeri) itu?", Ibu memastikan
Imran mengangguk bersemangat.
"Kok aku tidak tahu, ya. Aku belum pernah melihatnya." Rena berpikir keras.
"Aku juga.." lirih Sara dengan tatapan lurus nan kosong.
"Sayang, apa kau bercanda? Tuan Sultan masih waras kan?" Ibu masih tidak percaya.
Imran menggeleng sambil tersenyum.
"Ayah menyetujuinya?", Rena ikut penasaran.
Kali ini Imran mengangguk kembali.
Ibu dan Rena menoleh ke arah Sara yang terdiam mematung.
"Ayah langsung menyetujuinya karena Tuan Sultan tidak bercanda, dan dia juga melunasi seluruh hutang kita pada rentenir itu. Kita tidak akan didatangi preman-preman itu lagi.". Imran memberi alasan.
"Tapi, sayang...Tuan Sultan itu orang besar. Orang kaya! Orang kelas atas! Kenapa dia memilih anak kita sebagai menantu keluarganya? Kita cuma orang miskin." Ibu berpikir pesimis.
"Ayah juga tidak tahu. Mungkin ini nasib baik Sara."
"Tunggu, Ayah. Apakah putra tuan Sultan pernah menikah? Maksudku, mungkinkah Tuan Malik menginginkan seorang cucu yang tidak bisa diberikan oleh menantunya yg dahulu?" Rena mencoba menebak berdasarkan cerita-cerita novel yang banyak ia baca.
"Tidak. Putra tuan Sultan belum pernah menikah. Dia berani bersumpah!", jawab Imran.
"Aku tidak percaya..' Sara akhirnya bersuara.
"Aku juga." sahut Rena.
"Aku tidak percaya Ayah tega memutuskan hal sepenting ini tanpa meminta pendapatku. Apa aku sudah melakukan perbuatan yang membuat Ayah malu?" Sara marah.
"Sara, tenanglah.." Imran mencoba menenangkannya.
"Apa kalian akan membenciku kalau aku menolak pernikahan ini?", tanya Sara dengan mata berkaca-kaca.
"Pernikahan ini tidak mungkin dibatalkan. Tuan Sultan sudah mengatur segalanya, dan undangan pun sudah tersebar." Imran berkata lirih.
Semua semakin terkejut. Laksana mendengar gelegar petir di cerahnya hari.
"Bahkan...undangannya pun sudah disebarkan??" Air mata Sara tumpah. Ia tidak bisa bertahan lagi.
"Wow, tuan Sultan benar-benar orang yang cepat tanggap " desis Rena mengagumi kecerdasan tuan Sultan.
Sara berbalik dan berlari ke kamarnya,
"Aku ingin Bunuh diri saja!!!", teriaknya kesal dan membanting pintu kamarnya.
"Sara!", panggil Imran, seraya hendak mengejar sang buah hati.
"Ayah, biar aku bicara dengan Sis. Aku yakin Sis hanya belum mengerti situasi ini.". Rena mencoba menenangkan ayah dan ibunya.
"Apa kau yakin?" Imran merasa ragu.
"Aku memutuskan ini karena aku pikir Sara akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan ia bisa mendapatkan apa yang selama ini diinginkannya, yang tak bisa aku berikan padanya." lanjutnya memberi penjelasan pada Rena dan istrinya.
"Aku menerima lamaran ini karena aku sangat mengenal tuan Sultan. Dan aku tidak mau anak-anakku menjadi tumbal pelunas hutang pada rentenir itu." Imran terduduk di kursi terdekat.
"Aku tak tahu kalau reaksi Sara akan seperti ini.". Sang istri mendekati dan mengusap pundak Imran perlahan
***
Sara duduk bersandar membelakangi pintu kamarnya yg tertutup rapat. Ia meratap, menangis sejadi-jadinya.
"Apa kalian pernah bertanya padaku apa yang aku inginkan? Bagaimana perasaanku?" keluhnya.
"Sepanjang hidupku aku terus mengikuti keinginan kalian. Mulai dari cara berpakaian, memilih teman, pendidikan, pekerjaan,... dan kini...pernikahan!!!" keluhnya kesal.
TOK TOK TOK!!!
Rena mengetuk pintu.
"Sis...", panggilnya.
"Pergilah. Aku sudah tidur!!" usir Sara.
"Aku bawakan potongan kue yang besar untuk Sis.". Rena membujuk Sara.
Sara terdiam. Bagaimana bisa ia menikmati kue tart yang lezat dengan perasaan kesal. Ia tahu, adiknya hanya mencari alasan untuk menemaninya.
"Sis, boleh aku masuk.." Rena memohon.
"Baiklah, aku akan bicara pada Ayah dan ibu kalau Sis sudah punya pilihan pemudamu sendiri."
Sara membuka pintu kamar sedikit.
"Apa kau bisa?" tanyanya pada adiknya.
Rena masuk ke dalam kamar, benar-benar membawa piring berisi potongan kue yang besar.
"Entahlah. Kalau memang tidak bisa, mungkin aku bisa menggantikanmu menikah dengan putra tuan Sultan." Rena sendiri tidak yakin.
Keduanya duduk berdampingan.
"Kau gila! Kau masih sekolah! " seru Sara.
"Mau bagaimana lagi. Aku tak bisa melihatmu mati konyol, bunuh diri atau patah hati. Aku juga tak mau melihat Ayah dan Ibu malu." alasan Rena.
Keduanya berpelukan. Memahami kegalauan masing-masing
"Dasar Bo**h!". Sara memukul kepala Rena lalu mengusap air matanya sendiri.
"Putra tuan Sultan itu adalah orang asing. Kita belum pernah melihat wajahnya, tidak tahu bagaimana sifat dan kelakuannya. Tidak tahu apa saja yg dilakukannya di LN." lanjut Sara
"Tapi setidaknya dia sangat kaya." sahut Rena.
"Kekayaan bukan jaminan kebahagian!" sanggah Sara.
"Apalagi kemiskinan!' balas Rena.
"Kau ini!!!" Sara kesal karena Rena selalu membantah omongannya.
"Baiklah, sis. Maafkan aku.".. Rena memeluk Sara.
"Aku tahu kau sudah banyak berkorban dan mengalah untuk keluarga ini. Sekarang giliran ku. Jika Sis tidak mau pernikahan ini terjadi, biar aku yang menggantikanmu. Aku doakan sis dan kakak ipar Adhitia berbahagia."
"Mengapa kau menyebut Adhitia?", Wajah Sara berubah merona.
"Karena aku tahu, bro Adhitia adalah cinta pertamamu, kan" goda Rena.
"Sok tahu!!!"
Tiba-tiba ponsel Sara berbunyi. Panggilan masuk tertuliskan nama Adhitia.
"Panjang umur bro ini!" ucap Rena.
*****