PASSION

PASSION
22. Malik dan Luna



Malik merasa shock sekaligus geram kepada Sara karena gadis itu sudah melakukan drama yang konyol di awal hari .


"Oh My God, Sara!!!!" Malik menahan emosinya.


"Kenapa?" tanpa merasa bersalah gadis itu bertanya dengan wajah bersimbah air mata dan hidung memerah.


"Ini masih pagi!! Jangan sia-siakan awal pagimu dengan bersantai dan menangisi novel cengeng seperti itu. Kerjakan sesuatu yang bermanfaat, seperti olah raga, berkebun atau apalah!" Malik mengomelinya.


"aku tak suka berkebun. Aku benci cacing!" sahut Sara, menyeka cairan dari hidungnya dengan jari telunjuk.


"Kau bisa ikut kelas fitness, aerobik, atau belajar memasak!" saran Malik.


"Kenapa kau mengaturku? Kau seperti ibuku!". Sara cemberut, ia tak suka diceramahi oleh Malik.


Malik menghela nafasnya.


"Sorry, ratu kera. Tapi kegiatan yang kusebutkan tadi bisa menjauhkanmu dari kebosanan dan stress. Kau tau, tidak? Penyakit stress itu menular. Dan aku tak mau ketularan olehmu." ketus Malik, berbalik meninggalkan Sara lalu menuju lemari pakaiannya.


"Siang ini aku tak sempat makan diluar. Bisa kau sampaikan pada Bibi Mei untuk mengantarkan makan siang untukku?" tanya Malik pada Sara sambil memilih pakaian kerjanya.


"Kau mau makan apa untuk siang nanti?" Sara balik bertanya.


"Apapun. Aku tidak memilih makanan. Tapi aku paling suka sesuatu yang berasal dari kedelai dan lauk dari laut. Bibi Mei tau itu." jawab Malik.


"Baru saja bilang tidak memilih makanan, masakan apapun! Tapi pada akhirnya malah meminta makanan kesukaannya." Sara menggerutu dalam hati, lalu mengangguk, seakan-akan mengerti keinginan Malik.


*****


Siangnya di perusahaan S, Malik memimpin rapat pertamanya sebagai presiden mendengar dengan seksama setiap laporan dan disampaikan setiap kepala divisi.


Saat bayangan matahari naik tepat diatas gedung berlantai 20 itu, Malik pun mengakhiri rapat tersebut.


"Ok, meeting kita lanjutkan setelah makan siang." putusnya. Seluruh anggota meeting membereskan berkas laporan mereka dan pamit meninggalkan ruangan.


"Asisten Romi." Malik memanggil asistennya.


"Ya Tuan?" Asisten Romi menghampirinya.


"Atur jadwal untuk perjalanan ke Maldives 2 bulan kedepan." perintah Malik sambil berjalan meninggalkan ruangan rapat menuju ruang kerjanya.


"Baik, Tuan."


Sambil berjalan, Malik menelepon ke rumah untuk menanyakan apakah makan siangnya sudah diantarkan atau belum. Dia terkejut saat Bibi Mei mengangkat teleponnya.


"Bibi Mei? Kau masih di rumah? Dimana makan siangku?" tanyanya


"Eee..tuan muda, nyonya muda Sara yang pergi mengantar makan siang tuan. Nyonya sudah berangkat sejak sejam lalu." jawab Bibi perlahan, Wanita paruh baya ini segan terhadap Malik, melebihi rasa segannya pada tuan Sultan. Karena Malik tidak pernah bicara panjang atau bercanda dengannya.


Malik segera memutuskan panggilan itu. Ia lanjut menelepon ke ponsel Adhitia.


"Dimana kalian? Mana makan siangku?!" Malik langsung menyerbu Adhitia dengan pertanyaan saat Adhitia menjawab panggilan ponselnya.


"Tuan...Nyonya Sara ...tidak bersamaku." jawab Adhitia kebingungan.


"Apa saja kerjamu?!! Kau kehilangan dia lagi??!!!" Bentak Malik, terkejut mendengar jawaban Ashitia.


"Go find her!!!" teriak Malik dengan sangat kuat, sehingga mengagetkan asisten Romi yang berjalan tak jauh darinya.


"O-ok, tuan!" .


Malik memasuki ruang kerjanya dengan wajah kesal dan kusut. Ia tidak menyukai cara kerja Adhitia. Dia menganggap Adhitia tidak bisa profesional dalam bekerja.


Wajah tegangnya berubah sumringah saat melihat Luna telah menunggu di ruangannya.


"Luna? Kau menungguku?" tanyanya, lalu ia memeluk gadis itu.


"Mau bagaimana lagi. Aku merindukanmu!" Luna bergelayut manja padanya.


Malik duduk di kursi kuasanya. Luna mengikutinya. Gadis itu langsung duduk di pangkuan Malik tanpa diberi perintah.


"Sebenarnya, aku sedang kesal hari ini. Aku melihat fotomu dan istrimu di koran pagi ini. Media online ekonomi juga menjadikan kalian topik utama hari ini. Aku cemburu." Luna mengadu dan mengiba dengan nada manja dan nyata dibuat-buat.


"Iya, benar. Aku belum siap bertemu ayahmu. Aku tidak tau kenapa Ayahmu tidak menyukaiku. Saat dia tau kau ingin menikah denganku, dia malah cepat-cepat menikahkanmu dengan wanita itu. Aku benar-benar tidak beruntung." Luna merebahkan kepalanya di dada Malik.


"Sudahlah, jangan bersedih. Aku yakin 1 tahun kedepan akan berlalu dengan cepat . Bersabarlah." Malik membelai rambut indah milik Luna.


"Benar ya?" Luna menatap mata Malik dalam-dalam.


Malik mengangguk dan tersenyum. Mereka lalu menyatukan bibir mereka dengan penuh hasrat.


Pintu ruangan terbuka, Sara memasuki ruangan dan mendapati dua sejoli itu sedang bercumbu.


"Haisss!!!!!" seru Sara terkejut. Ia menutup kedua matanya dengan satu tangan karena tangan yang lain membawa kotak makan siang milik Malik.


Malik dan Luna terkejut karena kehadiran Sara yang tak diduga. Malik segera mendorong Luna agar segera beranjak dari pangkuannya.


Sara pun membalikkan badannya. Ia merasa sangat malu melihat adegan tadi. Mulutnya menganga, seperti baru pertama kali melihat orang berciuman.


"S-Sara, kenapa kau tidak mengetuk pintu?!" Malik gelagapan, seperti orang yang kepergok melakukan perselingkuhan, sambil merapikan pakaian dan dasinya.


" Maaf! Maaf! Aku tak sengaja." kata Sara yang masih menutupi kedua matanya.


"Sayang, kau minta aku bersabar? Bagaimana bisa bersabar jika moment seperti ini pun diganggunya." gerutu Luna pelan pada Malik.


"Aku benar-benar minta maaf! Anggap saja aku tak ada. Aku hanya mengantarkan ini lalu segera pulang." Sara membuka matanya dan bergegas meletakkan kotak makan siang Malik di meja.


Luna menghela napasnya dengan berat.


"Aku pergi!" ia merajuk.


Malik menahan tangannya, mengisyaratkan untuk tetap di ruangan.


"Lupakan. Mood-ku bertambah buruk." Luna berusaha melepaskan tangan Malik darinya.


"Kenapa kau marah? Aku tahu, bagaimana kalau kau jalan-jalan dan melihat pameran perhiasan di hotel XX. Brand AISH sedang launching koleksi terbaru di sana." Malik berusaha menyenangkan hati Luna.


"See!!! Kau mengusirku agar bisa berduaan dengannya, kan?!" Luna makin merajuk.


Sara terkejut.


"Tunggu!!! Aku saja yang pergi! Tolong jangan berkelahi, ok?" putusnya.


"Tunggu, Sara!" Malik mencegahnya.


"Bagaimana kau bisa kesini? Kenapa bukan Bibi Mei yang mengantar makan siangku?"


Sara tersenyum.


"Itu...aku...bosan di rumah. Jadi aku naik bus ke sini." jawab Sara.


"Kau tunggu di lobby, Aku akan menyuruh Adhitia mengantarmu pulang" Malik mengambil ponselnya.


"Tidak mau!!!" Sara menolak dengan tegas. Ia terang-terangan menghindar dari Adhitia.


"Kalau begitu kau bisa meminta asisten Romi mengantarmu." saran Malik.


Sara tidak menjawab. Ia cuma tersenyum dan meninggalkan sepasang kekasih itu berduaan kembali di ruangan.


"Itu tadi..Sara." sikap Malik jadi canggung kepada Luna.


"Aku tau. Aku sudah lihat fotonya di koran tadi pagi." sahut Luna.


"Baru kali ini aku lihat ada istri yang membiarkan suaminya berduaan dengan wanita lain. Kukira wanita seperti itu cuma ada di sinetron TV." lanjutnya.


"Sudah kukatakan kalau kami tidak tertarik satu sama lain. Hubungan kami cuma sebatas kesepakatan. Tidak lebih" . Malik menegaskan.


"Apa kau mau makan siang bersamaku?" Malik mengajak Luna makan siang bersama.


******