PASSION

PASSION
65.



Malam harinya, baik Sara maupun Malik sama-sama tidak bisa tidur. Keduanya dalam lamunan dan pikiran masing-masing. Sara yang tidur berdua dengan Salma di pondok, sementara Malik bersama satu ranjang bersama Azis di rumah utama. Mereka belum merasa lepas dari rasa terkejut dengan hasil pemeriksaan dokter Maryam tadi siang.


Keesokkan pagi, saat Malik bersama Azis memeriksa jaring penangkap ikan di depan rumah utama, Salma datang membawa sarapan untuk mereka.


"Apa jaringnya rusak lagi, nak?" tanya Salma setelah meletakkan nampan berisi susu dan roti untuk Malik dan sepiring nasi berlauk ikan dan semangkuk sayur untuk Azis.


"Sepertinya begitu, Bu." jawab Azis singkat. Meletakkan jaring yang dibiarkan terbentang di tanah, lalu mencuci tangannya untuk memulai sarapan. Malik mengikutinya.


"Jam berapa ayah pergi bersama Salim ke laut?" tanya Salma kembali.


"Sekitar jam 3." jawab Azis sambil mengambil piring nasinya, berdoa dan mulai menyuap makanan ke mulutnya.


Salma memperhatikan perilaku Malik yang lebih banyak diam dan selalu mengikuti gerakan Azis, seperti sedang tidak fokus. Jika Azis menyuap nasi, maka ia pun menggigit rotinya. Jika Azis meminum air, maka ia juga akan meminum susunya. Salma juga melihat lingkar gelap di bawah mata Malik, yang menandakan jika pemuda kota itu tidak tidur semalaman.


"Bagaimana tidurmu, nak Malik?" Salma berbasa-basi.


"Lebih nyaman dari malam sebelumnya." jawab Malik berbohong.


Azis tertawa.


"Jika tidurmu nyaman, kau tak akan lesu seperti pagi ini, bro! Sudah jelas sekali kau tidak tidur semalaman." tukas Azis.


Malik terdiam, tak mau memberi alasan.


"Istrimu juga tidak tidur semalaman. Pagi tadi ia kembali mengalami mual dan muntah hingga wajahnya pucat. Aku terpaksa memberinya Paracetamol agar ia bisa beristirahat." cerita Salma.


Ia yakin, bahkan jika Malik tidak menanyakan, pemuda itu sangat ingin tahu kondisi istrinya yang sedang hamil muda.


" Kau harus mencari cara agar nyonya muda bisa tidur nyenyak secara alami. Terlalu banyak obat-obatan kimia akan mempengaruhi janinnya." saran Azis.


Malik masih diam, terus mengunyah rotinya.


Sepanjang hari itu Malik sama sekali tidak berbicara pada Sara. Ia kembali menghindari gadis itu. Saat Sara keluar dari pondok, Malik yang kebetulan berada di luar tiba-tiba segera masuk ke dalam rumah utama. Meski ada sedikit rasa prihatin melihat wajah Sara yang sedikit pucat, namun ia berusaha tidak peduli. Bila ia dan Sara berada dalam satu situasi, ia memilih untuk pergi dan menjauh. Sara pun memahami keadaan itu. Ia tidak bisa memaksa Malik untuk terus bersamanya. Ia tidak bisa meminta Malik untuk selalu memperhatikannya. Meski ia tidak mengerti mengapa Malik begitu membenci kehamilannya, namun ia tidak berani menanyakan hal itu.


Malam saat Sara duduk sendiri di dalam pondok, sambil mengusap perutnya yang masih rata dengan lembut dan perlahan, Salma menghampirinya sambil membawakan potongan buah mangga untuknya.


"Tidak lama lagi perut langsingmu akan membuncit, dan tubuhmu akan ikut membesar dan gendut. Apa kau tidak takut?" goda Salma.


Sara tersenyum dan menggeleng perlahan.


"Suamimu marah karena kehamilan ini. Apa kau akan mempertahankan bayi ini atau kau akan memilih suamimu?" tanya Salma yang masih mengira jika Malik merajuk dan tidak menginginkan kehamilan itu.


"Aku akan mempertahankan bayi ini. Seperti yang ibu Salma bilang, Tuhan sedang mempercayakan padaku seorang anak. Jika Tuhan memilihku untuk menjadi ibunya, maka aku akan menjaganya dan melahirkannya." ucap Sara yakin seraya tersenyum lebar.


"Aku bangga padamu." Salma mengusap punggung Sara perlahan.


"Ibu Salma, bisa ajarkan aku merajut topi dan selimut untuk bayiku nanti?" tanya Sara.


"Tentu. Tapi jika kau jaga kesehatanmu. Jangan tidur terlalu malam, perbanyak makan makanan yang bergizi dan selalu minum vitaminmu." pesan Salma.


"Siap, Bu Guru!" Sara memberikan hormat dengan bersemangat seraya tertawa kecil.


Melihat kelakuan kekanak-kanakan Sara, Salma ikut tertawa.


"Malam ini aku tidak bisa menemanimu tidur. Aku akan mengusir tuan muda itu dari rumah utama agar ia menemanimu di sini " ucap Salma kemudian.


"Jika ia merasa keberatan, jangan dipaksa. Aku bisa tidur sendirian, Bu." sahut Sara.


"Kau yakin?" Salma bertanya. Sara mengangguk cepat sambil tersenyum.


"Baiklah. Aku akan memastikan kau menghabiskan mangga ini, baru aku akan kembali ke rumah." putus Salma.


***


Malik terkejut melihat Salma memasuki rumah utama.


Jika Bu Salma di sini, siapa yang menemani Sara malam ini?


Pikir Malik.


"Malam ini aku akan menemanimu tidur, suamiku." ucap Salma pada Amar yang sedang mempersiapkan peralatan dan perlengkapan untuk melaut dini hari nanti.


Amar terkejut.


"Bagaimana dengan Sara?" tanyanya peduli.


"Dia bilang dia akan baik-baik saja. Sepertinya dia akan terbiasa sendirian." jawab Salma seraya mengerlingkan satu mata sebagai isyarat pada Amar. Amar mengerti maksud Salma yang sebenarnya ingin menyinggung Malik.


"Gadis yang malang. Apa dia sudah makan?" Amar sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Malik yang mendengarkan pembicaraan mereka dengan sikap seolah-olah tidak peduli.


"Dia hanya makan buah-buahan. Mau bagaimana lagi, saat ini perutnya menolak untuk makanan lain selain buah." jawab Salma.


Tiba-tiba terdengar dering nada ponsel monoponic milik Amar. Amar segera mengambil ponsel keluaran pabrik Nok*a yang terkenal dengan ketahanan dan tahan air itu, tersimpan di tas kecil yang tergantung di dinding.


"Assalamu'alaikum, Sir!" Amar segera memberi salam pada si penelepon.


"Tuan Malik? Tentu, ia ada di sini." Amar segera menghampiri Malik dan memberikan ponselnya


"Sir Sam ingin bicara padamu."


"Sam?!!" Malik melompat dari duduknya. Ia segera meraih ponsel dari tangan Amar dan segera berlari keluar dari dalam rumah menuju Undholi.


"Sam?!! Benarkah ini kau?!!" tanya Malik pada si penelepon.


"Apa? Kau pikir aku akan mati secepat itu?" terdengar suara Sam dari ponsel.


Mendengar jawaban ketus Sam, Malik merasa sangat lega.


"Astaga!!! Apa kau tidak merindukanku, bro! Secepat itu kau akan meninggalkan keluarga yang ramah dan sangat baik itu? Kau ingin keluar dari pulau itu atau ingin menghindari Sara? Untuk apa kau ingin cepat-cepat keluar dari sana? Untuk memukuli wajah Adhitia karena menghamili Sara?" Sam menyerang Malik dengan pertanyaan tanpa menjawab pertanyaan Malik sebelumnya.


Malik terdiam. Sepertinya Sam tahu tentang kehamilan Sara. Ia berpikir mungkin Amar yang memberitahukan pada Sam, tapi untuk apa. Itu bukan urusan mereka.


"Aku merindukan Dad." jawab Malik lemah.


Terdengar tawa terbahak-bahak milik Sam dari ponsel.


"Kau itu tidak berbakat untuk jadi pembohong, Malik! Sejak kapan kau merindukan Dad mu, sedang beberapa tahun lalu saat di Florida kau tidak pernah merindukannya." Sam menyudutkannya.


Malik kembali terdiam.


"Dengar, Malik. Saat ini aku masih dalam proses pemulihan. Luka bakar di punggung ini membuatku tidak percaya diri untuk berjalan-jalan di pantai dan menyapa gadis-gadis." Sam berkelakar


"Separah itu?"


"Kau pikir aku berpura-pura?!!" bentak Sam.


"Bagaimana dengan Adhi?"


"Rival cintamu, Adhitia? Aku tidak tahu bagaimana kabarnya." jawab Sam.


"Tapi, bukankah kau yang menyelamatkannya dari kapal?" tanya Malik serius.


"Memang! Tapi saat aku keluar bersamanya, anak buah Nanda menunggu kami. Aku terpaksa memberikan Adhitia pada mereka lalu aku masuk ke kapal lagi untuk menghindari mereka." cerita Sam.


"Kau gila, Sam!"


"Kau pikir Nanda akan melepaskanmu saat dia tahu kalau ledakan kapal itu karena ulah ayahmu? Aku juga akan kena masalah itu, bro!"


Malik terkejut.


"Dad?! Apa maksud Dad meledakkan. kapal itu? Aku dan Sara ada di sana, bagaimana dia bisa melakukan itu? Apa dia ingin membunuhku dan Sara?" lirih Malik bingung.


"Sabarlah beberapa waktu lagi. Jika keadaan sudah aman, aku yang akan menjemputmu." saran Sam.


Malik tidak menyahut lagi. Matanya menatap kosong ke arah tepian pantai yang berkerlap-kelip memantulkan cahaya bintang dari hitamnya langit malam.


"Sam..." panggil Malik pelan


"Ya? Ada apa? Kau melihat Monster laut?" Sam menggodanya.


"Ng...bagaimana kondisi Sara saat kau menemukannya malam itu?" tanya Malik serius.


Kali ini giliran Sam yang tidak bisa langsung menjawab.


"Bisa aku tanya sesuatu?" Sam balik bertanya.


"Tentu."


"Berapa lama waktu untuk Sara sadar setelah kejadian malam itu?"


Malik mengingat kembali.


"Satu minggu." jawabnya kemudian.


"Benar dugaanku!!" seru Sam.


"Saat aku menemukannya di kamar itu, Sara terbaring lemas. Dugaanku dia diberi obat penenang dan perangsang."


"Apa?!! Siapa yang melakukan itu?!!" tampak wajah Malik tegang dengan genggaman mengepal.


"Halo....siapa lagi kalau bukan Adhitia! Karena dia masih tersadar saat itu!!"


Rahang Malik mengeras, matanya merah menyala. Seketika telinganya panas dan hampir mengepulkan asap hitam berbau angit.


"Sopir yang kurang ajar, bukan? Dia berani menggunakan cara licik untuk merebut Sara darimu!" Sam tambah memanasi Malik.


"Sam.... Aku ingin pemuda itu tetap hidup!" ucap Malik dengan penekanan.


"Bukankah lebih baik kalau dia mati?" sahut Sam.


"Aku yang akan memberi pelajaran padanya!" Malik bersungguh-sungguh.


Sam tidak menyahutinya lagi.


"Jaga kesehatanmu jika kau ingin memberinya pelajaran. Jika benar Adhi masih hidup, maka dia bukan pemuda biasa." pesan Sam kemudian.


"Oh iya... Malik?"


"Ya?"


"Sampaikan salamku pada Sara. Selamat atas kehamilannya. Selamat, bro! Kau akan segera menjadi ayah!!" Sam tergelak terbahak-bahak setelah mengucapkan hal itu.


Wajah Malik makin memerah! Dia ingin mencekik Sam karena ucapannya, tapi Sam tak ada di hadapannya. Tanpa salam perpisahan, Malik mengakhiri pembicaraannya dengan Sam dengan memutuskan panggilan ponsel.



BERSAMBUNG


*****


****


***