
Sara tercengang. Matanya menatap Adhitia dengan tatapan takjub dan penuh ketidakpercayaan. Bagaimana tidak, saat dalam keadaan genting dan bahaya tiba-tiba dia diselamatkan oleh pemuda itu.
Pemuda yang dulunya ia kenal lemah dan selalu ditindas preman, kini ia balik melawan bagai harimau yang mengamuk dengan garangnya.
Angin bertiup kencang, menerbangkan dedaunan kering dan membelai rambut Sara. Nafasnya berhembus tak menentu karena menahan gejolak di jantungnya saat melihat ekspresi wajah Adhitia sangar yang tanpa ampun memberi pelajaran pada ketiga preman tadi. Sepertinya ia kembali jatuh hati pada pemuda itu.
Ketiga preman tadi kewalahan menghadapi Adhitia yang seorang diri. Pukulan demi pukulan mereka terima, tendangan demi tendangan menghantam mereka tanpa jeda. Adhitia benar-benar terlihat seperti Hero yang ada di film-film laga bioskop.
Saat Adhitia sibuk merontokkan gigi satu preman dan menghantam wajah preman satunya lagi, preman yang lain mengendap-endap mendekati Sara yang masih terpana dengan adegan perkelahian Adhitia.
"Hentikan!!! Atau nona ini celaka!!!" preman ketiga telah berhasil menempelkan pisau lipat di leher Sara. Sara terkejut. Kali ini Preman itu tidak main-main. Leher Sara tertekan ujung pisau dan menggores kulit putihnya.
Preman pertama dan kedua jatuh lunglai mencium tanah saat Adhitia melepaskan tangannya dari mereka. Mata Adhitia kini menatap geram ke arah preman ketiga yang berdiri di belakang Sara, menyandera gadis malang itu. Alisnya menukik tajam dan tangannya mengepal kencang hingga berbunyi gemerutuk. Dengan gagah ia melangkah mendekati mereka.
"Jangan mendekat!!! Kumohon!!!" Preman ketiga itu berteriak, karena panik ia pun memohon. Tapi Adhitia tetap mendekat.
Akhirnya preman itu menghempaskan tubuh Sara dengan sangat kuat ke arah samping. Sara terjerembab dan terpental mundur ke belakang, membentur dinding batu dengan keras.
"AAAAKKKHH!!" pekik Sara kesakitan.
Saat Sara terlepas dari sanderaan, Adhitia dengan leluasa menendang perut preman itu hingga terdorong jauh ke belakang.
Tak puas sampai disitu, Adhitia mendekati preman yang terkulai lemas itu, lalu mencengkeram lehernya dengan kuat tanpa ada perlawanan. Matanya merah menatap bengis preman yang sudah tak berdaya itu.
Seperti jagoan, ia memenangkan pertarungan itu dengan telak.
BRUKKK!!!
Preman ketiga jatuh terkulai saat Adhitia puas dan melepaskan cengkeramannya.
Adhitia menghampiri Sara yang terduduk lemas, memegangi bahu kanannya. Tubuhnya bergetar hebat seakan mengalami trauma yang amat sangat.
Dengan perlahan dan hati-hati pemuda tampan yang bermandikan keringat itu mengangkat tubuh Sara yang terlihat mungil di lengannya. Adhitia pun melangkah meninggalkan korban-korban pelampiasan kekesalannya yg meringis menahan rasa sakit
****
Seorang dokter wanita memasang perban di bahu kanan Sara dengan sangat hati-hati. Sesekali Sara meringis menahan rasa perih saat kain kasa steril itu menyentuh kulitnya yg terkelupas.
Adhitia berdiri di dekatnya, menatapnya dengan iba, seakan ikut merasakan rasa sakitnya
Dokter itu juga mengoles semacam krim transparan pada luka di leher Sara.
"There you go!! Pertolongan pertama sudah dilakukan. Oleskan krim untuk memar di luka leher dan bahunya. Untuk sementara Jangan gerakkan bahumu berlebihan." Dokter itu memberi nasehat.
"Baiklah, Bu dokter." jawab Sara seraya tersenyum.
Ibu dokter itu berjalan menuju meja dan meletakkan kembali peralatan kesehatannya. Adhitia pun memberanikan diri mendekati Sara.
"Senior, tolong maafkan aku! Aku datang terlambat." ucap Adhitia dengan nada menyesal setulus hati.
Sara menggeleng.
"Aku yang salah. Jika saja aku tidak menghindarimu, atau aku mau mendengarkan omongan Malik, aku pasti takkan bertemu dengan preman-preman tadi." katanya pelan.
"Kalau aku boleh memberi saran, sebaiknya kalian melapor pada polisi." Bu dokter tadi mendekat dan ikut mengobrol.
"Kurasa tidak usah. Mereka tidak berhasil mendapatkan apapun dari tasku.", jawab Sara cepat.
Dia tahu berurusan dengan polisi bukan hal yang mudah. Ini menyangkut nama keluarga tuan Sultan, dan juga yang sebenarnya yang menjadi korban dalam insiden tadi jika dilihat dari luka adalah ketiga preman tadi, bukan dia. Bisa-bisa malah Adhitia yang dilaporkan balik oleh mereka.
'Aku hanya berharap kejadian ini tidak menimbulkan trauma baginya di masa depan." ibu dokter mengatakan itu pada Adhitia.
"Aku yang bertanggung jawab atas kehidupannya, dokter." Adhitia menjawab dengan mantab.
Dokter itu tersenyum mendengar jawaban Adhitia.
"Sudah lama aku tidak melihat sweet couple seperti kalian. Kurasa aku akan mengingat kalian." katanya.
Sara dan Adhitia menundukkan kepala. Wajah keduanya bersemu karena mereka dikira sepasang kekasih, padahal memang begitulah yang diinginkan dan memang begitu pulalah kenyataan yang terlihat. Adhitia memberanikan diri menatap mata Sara yang diam-diam mencuri pandang ke arahnya.
******
Saat perjalanan pulang ke rumah di mobil, Sara berkata sesuatu pada Adhitia.
"Adhitia, tolong jangan ceritakan kejadian ini pada Malik dan tuan Sultan "
"Tapi, senior...", Malik mencoba membantahnya.
"Ini semua salahku. Aku memang keras kepala." Sara terlihat sangat menyesal.
"Tidak! Ini bukan salah senior. Akulah penyebab semua ini." Adhitia tidak ingin melihat wajah Sara murung.
"Jika saja semalam aku tidak memaksa dan kasar pada senior, tentu senior tidak menghindar dariku." Adhitia mengakui kesalahannya.
Sara tertegun. Kejadian semalam sempat membuatnya shock. Sara amat menyukai pemuda yang duduk di depannya yang sedang mengendarai mobil itu, tapi ia sangat bingung saat mengetahui rasa yang dipendam Adhitia sangatlah luar biasa. Rasa yang kuat untuk memiliki dan menguasai dirinya.
"Adhitia, terima kasih." ucapnya seraya mencondongkan tubuhnya kedepan agar tangannya bisa meraih bahu Adhitia yang tampak terlihat besar dan kekar itu.
Adhitia tersenyum. Ia pun membalas sentuhan Sara dengan mengusap punggung jemari gadis itu dengan satu tangan, karena tangan yang lain sibuk memegang setir.
****
Sesampainya di rumah kediaman tuan Sultan, Sara langsung bergegas menuju kamar Malik dan dirinya yang berada di lantai atas.
'Syukurlah tak ada tuan Sultan di bawah tadi." ia bernafas dengan lega.
"Ouch!! Kenapa bahuku tiba-tiba terasa sakit?!" Sara meringis kesakitan pada bahunya.
"Padahal tadi aku tidak merasakan sesakit ini. Mungkinkah karena..." Sara tidak melanjutkan ucapannya. Ia hanya berpikir mungkin karena ia merasa takjub dan bahagia dengan kedatangan Adhitia dan perhatian yang diberikan pemuda itu
Bibi Mei mendatangi kamarnya karena pintu kamar itu tidak tertutup rapat.
"Nyonya muda, apa anda baik-baik saja?" Bibi Mei bertanya karena melihat Sara duduk termenung dengan pandangan jauh sambil memegangi bahunya.
Sara terkejut dan menoleh ke arahnya.
"Bibi Mei? Ada apa?" Sara malah balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan wanita paruh baya tersebut.
"Maafkan saya, nyonya. Tapi tuan Malik dan tuan Sultan bersikeras ingin makan malam buatan nyonya seperti tadi siang."
Sara tersenyum lebar.
"Benarkah? Mereka menyukainya?" matanya bersinar, semangat kembali terlihat dari sana.
******
Adhitia