
Hotel Kaani, sekitar pukul 1 malam.
Sara terbangun dari tidurnya karena deringan suara ponselnya yang tidak berhenti. Meski ponsel itu tidak bersuara nyaring karena tersimpan di balik bantal kepalanya, namun Sara tetap terganggu.
"Ya...halo!" Sara menjawab panggilan di ponselnya tanpa melihat nama penelepon.
"Aku ingin mengajukan komplain pada Anda." terdengar suara lelaki dari si penelepon.
"Maaf, siapa ini?" Mata Sara yang tadinya berat, kini berubah terang dan segar kembali.
"Aku salah satu kostumer toko kosmetik online Anda." jawab si penelepon.
"Maaf, Anda dapat mengajukan komplain pada jam kerja, dari hari Senin sampai Jumat. Selain jam tersebut, komplain tidak saya tanggapi. Terima kasih!" Sara langsung memutuskan panggilan telepon di ponselnya.
Sara tertegun. Ia seperti mengingat sesuatu.
"Yang tadi...seperti suara Malik. Tapi...."
Ia ragu dengan ingatannya.
"Sedang apa Malik di sana jam segini."
Tiba-tiba ia terpikirkan tentang Malik.
Belum selesai ia memikirkan Malik, tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Sara melihat layar ponselnya. Malik meminta panggilan video.
"Kau belum tidur, Ratu Kera?!". Pertanyaan itu yang pertama muncul dari Malik saat Sara menerima panggilan video darinya.
"Aku...kau yang meneleponku. Ada apa?" Sara balik bertanya.
"Bagaimana di Maafushi? Apa kalian bersenang-senang?" tanya Malik.
"Kami hanya berkeliling sekitar hotel sore ini. Tidak banyak yang bisa dilihat. Tapi aku menikmati pemandangan saat di kapal tadi." jawab Sara sambil memainkan ujung rambutnya.
"Bagus! Kau pasti akan suka ber-snorkeling. Pemandangan bawah lautnya lebih indah dari itu." kata Malik bersemangat
"Maksudmu....menyelam?" tanya Sara pelan.
"Iya!"
"Malik.!..aku.... tidak bisa berenang ." ucap Sara sambil menyengir.
"Apa?" Malik terkejut.
Sara mengangguk.
Malik terdiam kaku. Wajahnya terlihat seperti orang idiot di layar ponsel. Sara tertawa cekikikan melihatnya.
Malik mengusap wajahnya sendiri.
"Kita tanya saja pada Sam besok." ucap Malik.
"Tanya apa?" Sara tidak mengerti.
"Kegiatan untuk besok!" jawab Malik kesal.
"Entahlah... Aku lebih suka di kamar ini" Sara menggigit bibir bawahnya.
Melihat gelagat Sara yang biasa bersikap seperti itu jika menyembunyikan sesuatu, Malik pun bertanya,
"Ada apa?"
"Tidak." Sara cepat-cepat menjawab.
"Apa Luna berkata sesuatu padamu?" Malik menyelidiki.
"Tidak. Dia sama sekali tidak berkata apa pun padaku." jawab Sara sambil tertawa kecil.
Malik ikut tertawa. Karena dia tahu Luna tidak akan bicara pada Sara karena ulah Sara yang beberapa kali mengganggu momen romantis mereka.
"Lalu...apa Adhitia bersikap kasar padamu?" tanya Malik lagi.
"Tidak!" seru Sara dengan mata melotot.
"Adhitia sangat melindungiku. Dia bahkan membelaku saat Sam berteriak memarahiku." jawab Sara.
"Sam?!! Jadi Sam meneriakimu?!!" .
Malik menemukan permasalahannya.
"Malik..." panggil Sara manja.
"Akan kuberi pelajaran anak itu besok!!!" Malik bersungut-sungut.
"Malik!!" panggil Sara.
"Apa?!!" Malik tak suka dipotong saat sedang mengomel.
"Apa menurutmu aku menyebalkan? Apa aku tidak asyik diajak berteman?" tanya Sara sambil. tertunduk.
Malik mencoba menatapnya dalam melalui layar ponselnya.
"Hey, kera! Apa kau bahagia menjadi dirimu sendiri?" tanyanya kemudian.
Sara mengangguk pelan tanpa melihat Malik.
"Lalu, kenapa repot memikirkan pendapat orang lain? Jadilah dirimu sendiri yang berbahagia. Jadilah karaktermu sendiri."
Malik mencoba memberi masukan pada Sara.
"Tapi,...Sam tadi bilang kalau aku sama sekali tidak asyik untuk diajak berteman." adu Sara.
Malik tersenyum simpul.
"Itu masalah dia. Tidak ada yang salah denganmu. Hanya saja...memang kau lebih banyak sibuk dengan duniamu sendiri.... Tapi aku menyukaimu."
Sara menyerngitkan keningnya dan menatap Malik tajam saat mendengar kalimat terakhir Malik.
"Maksudku...semua orang yang dekat denganmu menyukaimu. Dad, Bibi Mei, Mereka tidak komplain dengan sikapmu" Malik segera memperbaiki ucapannya
Kening Sara masih berkerut.
"Apa kau tadi yang meneleponku?" tanya Sara tiba-tiba.
"Sebelum video call ini? Aku yakin itu suaramu."
Malik tertawa kecil.
"Ya ampun. Kau sangat mengenal suaraku sampai begitunya." desisnya.
"Orang yang selalu mengacau tidur malamku memang cuma kau, Malik!" tegas Sara dengan wajah cemberut.
Malik diam dan tersenyum. Sejak menikah dengan Sara, Malik jadi terbiasa mengobrol sebelum ia tidur. Bahkan jika Sara telah tertidur pulas terlebih dahulu saat ia pulang kerja, pria itu tidak segan untuk membangunkan Sara dengan alasan apapun agar dia bisa berbincang-bincang dengan gadis itu.
"Jam berapa kau ke sini besok?" tanya Sara dengan nada berat karena ia kembali merasa mengantuk.
"Entahlah. Pagi ini ada meeting pengambilan keputusan. Semoga semuanya lancar, jadi aku bisa segera bergabung dengan kalian di Maafushi." jawab Malik.
"Okay. Good luck for you!" Sara memejamkan matanya.
"Hey!! Hey!! Sara, aku belum selesai bicara!" teriak Malik dari layar ponsel.
Sara tidak menanggapinya karena sudah terlanjur tertidur dengan ponsel menyala di tangannya.
"Dasar Kera!!" umpat Malik kesal lalu memutuskan panggilan videonya.
*****
Di bar hotel Kaani,
Adhitia dan Sam terlampau menikmati malam dan minum banyak minuman keras di sana. Tampak Sam sudah tak bisa mengangkat kepalanya lagi dan bicaranya telah tidak karuan.
"Foreigner...foreigner...don't go and leave me..." racauan Sam yang lebih mirip sebuah syair lagu di film salah satu negara tetangga Maldives.
Adhitia tertawa kecil sambil masih memegang cangkir kecil berisi minuman.
"I won't tell you to love some foreigner....but don't trust one...." Adhitia menyanyikan syair pembuka lagu itu dengan sempurna.
Sam menatapnya dengan mata merah dan tertawa.
"D*mn it! You know well that old song!!!!" teriaknya.
Adhitia mengangkat kedua bahunya.
"Tak mungkin itu kebetulan..itu lagu tahun 1996,...pemuda zaman sekarang sepertimu mana mungkin tahu lagu itu.." Sam menggelengkan kepalanya yang mulai oleng.
"Ibuku dulu sering menyanyikannya." jawab Adhitia mantap.
"Nah, kan!! Kau mendengarnya dari ibumu!" Sam mencibirkan bibirnya sendiri.
Tak berapa lama kemudian terdengar suara ponsel milik Sam. Sam mengeluarkan ponselnya dari kantong jaketnya.
"Lihat!!! Ba**ngan ini mulai mengacaukan kita!!" gerutu Sam sambil menunjukan nama Malik di ponsel yang ingin melakukan video call dengannya.
"What's up, broooo!!" sapa Sam pada Malik di panggilan videonya.
"Astaga, SAM!!!!" teriak Malik terkejut.
Sam tertawa.
"See?!! Sebentar lagi dia pasti akan memulai ceramahnya." bisik Sam sambil menyikut Adhitia.
"Apa yang kau lakukan, bodoh!!! Kenapa kau tinggalkan mereka sendirian di hotel!! Bukankah aku memintamu menjaga mereka. Kenapa kebiasaanmu masih seperti anak-anak!!" terdengar Malik mulai mengoceh di telepon.
"Aku akan mengecek kamar mereka!" Adhitia berdiri tegak dan meninggalkan Sam di bar.
"Okay...thanks brooo!!!" teriak Sam pada Adhitia.
"Siapa tadi?" tanya Malik yang tidak bisa melihat Adhitia dari layar ponselnya.
"The bodyguard!! " jawab Sam.
"Apa yang kalian lakukan di sana?!" tanya Malik.
"Ayolah, bro!! Dia asyik!! Dia jago dalam minum-minum. Dia juga pandai bernyanyi..."
"Sam!!! Sadarlah!!!!! Apa yang pernah aku ceritakan padamu? Kenapa aku ingin menemuimu?"
"Foreigner, my friend...keep your promise!!! Na-na-na-na..." Sam malah melanjutkan syair lagunya tadi terbata-bata.
"Sam!!....Kau dibodohi pemuda itu!!! Kau dibiarkan sendirian di bar, saat kau mabuk begini, dia pergi!!! Siapa yang akan mengantarmu kembali ke kamar??!! Siapa yang bersama Sara saat ini?! Apa yang bisa terjadi padanya jika tidak ada kau atau aku??!!! Sadarlah!!!!" Malik menggeram.
Sam terdiam.
"Sam!! Sam!!!" teriak Malik berkali-kali.
Sam lalu bangkit dan meninggalkan bar dengan langkah terhuyung-huyung untuk menyusul Adhitia. Namun tampaknya dia terpisah terlalu jauh dari pemuda itu.Tidak terlihat Adhitia di sepanjang koridor hotel.
Sam berdiri di depan pintu kamar hotel Sara. Ia ingin mengetuknya, tapi keraguan menyudutkannya. Saat ia hendak berbalik dan meninggalkannya, terdengar sayup-sayup dari dalam kamar suara rintihan tertahan dan desahan-desahan menggelitik telinganya.
Sam menempelkan telinganya di daun pintu untuk memastikan suara memang berasal dari dalam. Dan ternyata memang benar!
Sam menahan nafas panjang dan menghembuskanya perlahan.
"JANGAN GANGGU DIA!!!!!" pekik Sam begitu dahsyat seraya menerjang pintu kamar hotel hingga rusak dan terbuka lebar.
Sepasang muda-mudi yang saling menempel satu sama lain terbalut sprei tersentak kaget dan menoleh ke arah pintu.
Sam tak kalah terkejutnya. Orang yang ada di dalam kamar ternyata bukanlah orang yang ia kira.
"Siapa kau!!!" bentak pria pemilik kamar sambil menutup tubuh bagian bawahnya dengan kain sprei.
"Oh-oh!!!" desis Sam
*****
****
***
**
*