PASSION

PASSION
16. (Anggap Saja) Kencan lagi



Adhitia menghentikan mobil yang ia supiri di depan sebuah salon perawatan ternama. Ia segera keluar untuk membukakan pintu.


"Adhitia, kau akan menemaniku selama di sini, kan? Aku gugup, aku belum pernah ke salon yang begini. Di sini pasti banyak orang yang datang. Aku tidak nyaman berada di antara orang-orang asing." pinta Sara.


"Tentu, senior" jawab Adhitia seraya tersenyum.


"Selamat datang, nyonya muda Sara. ". Mereka disambut ramah oleh petugas salon di depan pintu.


"Tuan Malik sudah mem-booking salon kami hari ini khusus untuk melayani nyonya, silahkan."


Mata Sara terbelalak.


"Pangeran itu sangat berlebihan." batinnya.


Adhitia mengamati seluruh ruangan salon itu dari setiap sisi. Layaknya pengawal terlatih dan bersertifikat.


Sara lalu duduk di kursi nyaman yang telah disiapkan manajer salon tepat di depan sebuah cermin besar. Adhitia pun duduk di kursi yang biasa digunakan untuk customer menunggu tak jauh darinya.


Baru juga mereka duduk, dan petugas salon pun belum memulai pekerjaannya, telepon Adhitia berbunyi, Malik meneleponnya.


"Ya, tuan Malik? Nyonya baru saja tiba...Pegawai salon langsung menyambut dan melayani dengan sangat ramah... Saat ini mereka akan.. ", Adhitia bingung, tak tahu apa namanya yang sedang dikerjakan petugas salon itu pada Sara.


"'Permisi, nona. Apa yang sedang kalian kerjakan?" tanyanya pada petugas itu.


"Kami akan memulai facial." jawab petugas itu dengan ramah.


"Ya, tuan. Mereka akan facial", lapornya. "Oke, tuan." Adhitia memutuskan panggilan diponselnya. Kemudian ia kembali berkeliling dengan perlahan, mengamati setiap benda di ruangan itu.


"Nyonya, apa itu asistenmu?", petugas itu bertanya pada Sara.


"Hm-mm." Sara mengangguk.


"Apa dia masih single?" tanya petugas itu lagi, sambil tersenyum genit.


"Entah. Kenapa?"


"Asistenmu 'good-looking', lebih cocok jadi model atau bintang film. Tidak mungkin kalau dia masih single, ya", ujar petugas salon itu sambil melirik Adhitia.


Adhitia berhenti di depan sebuah cermin besar. Perhatiannya tertuju pada sebuah kincir angin kertas berwana pelangi yang terselip di antara cermin dan bingkainya. Ia menyentuh dan membelai kincir kertas itu. Matanya terpejam, lalu seperti terdengar suara-suara dari ingatan masa lalunya, ingatan akan suara anak laki-laki kecil yang riang dengan tawanya berlari mendahului seorang wanita dewasa yang anggun bergaun putih berlapis brukat halus.


"Mom, ayo cepat. Dad akan tiba sebentar lagi.""


Sara tertawa gelak. Tawanya memenuhi ruangan, Adhitia sampai kaget dan lamunannya buyar seketika. Ia menoleh ke arah Sara.


"Adhitia, apa kau tertarik menjalin hubungan dengan seorang gadis? Jika ada gadis yang kau suka, atau mengajakmu keluar, aku bisa memberimu hari libur." Sara bertanya pada Adhitia.


Pemuda itu berpikir sejenak.


"Apa yang ada di pikiran wanita ini? Apa dia tidak menerima atau mengerti sinyal-sinyal yang kuberikan?! Seenaknya saja bertanya seperti ini."


"Aku rasa tidak untuk sekarang, nyonya. Saat ini aku masih merasakan patah hati, karena wanita yang kukejar selama 3 tahun ini menikah dengan pemuda lain. Pemuda yang lebih tampan dan lebih kaya dariku." Adhitia memberi alasan seraya melempar senyum kecutnya pada Sara.


"Hoooh...sayang sekali." petugas salon itu memberikan simpati. Sara terdiam. Seolah dia sadar kalau dia baru disindir.


"Maaf." ucapnya dengan sangat pelan, namun Adhitia bisa mendengarnya.


"Tak masalah. Meski aku tak bisa memilikinya, tapi aku bisa mendoakan dan menjaganya dari jauh. Itu sudah cukup bagiku." sahut Adhitia.


"Ya Tuhan, nyonya. Dia benar-benar pemuda impian banyak gadis. So sweet!!! Tolong kabari aku jika dia sudah move-on dari wanita bodoh yang menyia-nyiakannya itu." Petugas salon itu terus mengoceh dan membuat panas telinga Sara.


"Wanita bodoh yang kau sebut itu ada di depanmu." ucap batin Sara.


*****


Sementara itu di Mall besar XXX , Malik menemani Luna berbelanja di sebuah butik ternama milik seorang selebritis di negeri itu.


"Sayang, aku melihat beberapa koleksi gaun yang bagus disini. Kau mau melihatnya?", tanya Luna memberikan isyarat kalau ia ingin dibelikan beberapa gaun di butik itu, tangannya menggelayut di lengan Malik dengan manja.


"Sure!!" jawab Malik enteng.


"Aku akan mencobanya dulu. Please, jangan mengintip, ok?" Luna berkedip menggodanya.


Malik tertawa kecil.


Saat Luna ke ruang ganti, Malik melihat ke arah jam yang terpajang di dinding butik. Jarum menunjukkan kalau keduanya akan bertemu di angka 12 dalam beberapa menit lagi. Ia mengeluarkan ponselnya dan segera menelepon,


"Adhi, bagaimana kalian?" katanya kemudian saat hubungan telepon tersambung. Ternyata hanya memantau kegiatan Sara dan Adhitia.


"Nyonya baru selesai perawatan kuku. Selanjutnya akan message." lapor Adhitia.


"Bawa istriku makan siang sekarang. Kalian bisa melanjutkan lagi setelahnya.", perintah Malik.


"Baik, tuan." jawab Adhitia. Malik menutup dan menyimpan ponselnya kembali.


Luna keluar dari kamar ganti dengan memakai pakaian yang dipilihnya tadi.


"Sayang, bagaimana? Kau suka?" Luna melenggak-lenggok dengan pakaian itu


.


Malik mengusap wajahnya sendiri dengan kasar, menutupi ekspresi wajahnya yang kacau melihat pakaian yang dikenakan Luna.


"Ng... sayang, sepertinya gaun ini terlalu terbuka. Coba pilih yang lain. Yang itu lebih elegan.". Malik menyarankan gaun yang terletak jauh dari koleksi terbaru di butik itu. Luna melihatnya, dan menggeleng.


"Nooo! Itu sudah kuno. Itu koleksi awal tahun. Inilah model yg terbaru, aku suka warna ini." Luna merajuk.


"Mengapa harus mengikuti trend? Apa kau nyaman memakainya? Kenapa bukan kau saja yang membuat trend sendiri?", saran Malik.


"Honey, don't be too harsh!!!", Luna makin cemberut.


"Whatever!! Cepat selesaikan berbelanja di sini, kita akan makan siang." Malik mengakhiri perdebatan itu.


"YESS!! Thank you, honey! You're the best", Luna berseru girang dan memberi kecupan kilat di wajah Malik.


****


Kembali ke Sara dan Adhitia, Sara duduk di sebuah meja di restoran yang terdekat dari salon tadi, sementara Adhitia berdiri tak jauh darinya.


"Adhitia, ayo duduk di sini. Kita makan bersama." Sara mempersilakan Adhitia duduk di depannya.


"Tapi, senior..", Adhitia mencoba menolak.


"Ayolah, please..", ia memohon. Adhitia pun menurutinya.


"Ayo, makanlah. Jangan sungkan. Kita bukan orang asing yang baru berkenalan. Aku capek kalau harus mengingatkanmu terus." oceh Sara sambil mengambilkan sejumlah makanan untuk Adhitia.


Adhitia menahan nafasnya melihat tumpukan makanan yang diambilkan Sara.


"Hmmm, sup ini segar sekali!!" serunya, "Cobalah.." ia menyodorkan sendok bekasnya ke arah Adhitia. Adhitia menatapnya sendu, lalu perlahan ia pun memasukkan sendok itu ke mulutnya.


"Enak?" tanya Sara bersemangat.


Adhitia mengangguk dan tersenyum.


"Cepat habiskan, setelah ini kau masih harus menemaniku treatment dan spa. Pasti membosankan, kan", Sara terus bicara sambil menikmati makanannya.


"Senior...", Adhitia menatapnya wajahnya


"Ya..?"


******


LUNA