
Mayantha Luxury Cruise, di kabin asmara membara tempat Adhitia dan Sara bersatu malam itu. Keduanya melepaskan hasrat dan gejolak nafsu akibat suntikan yang mengandung aprodisiac. Wajah Sara memerah karena malu, matanya terpejam karena kenikmatan saat bibir Adhitia menjelajah dengan liar bagian sepasang buah ranumnya yang halus, kenyal dan kencang. Desahan tertahan gadis itu makin membuat akal Adhitia pecah dan dengan gilanya ia membuat tanda cinta di sana.
"Adhi..!!" Sara menjerit tertahan, menahan sakit.
Selanjutnya dapat dipastikan jika keduanya tak dapat lagi menahan diri. Malam itu adalah malam terlarang mereka. Tubuh polosnya terus saja menempel dan tidak mau berhenti seperti kesetanan.
Setelah 40 menit berlalu, saat Adhitia meregang hebat dan mengerang merasakan kenikmatan pelepasan hasratnya, Sara lalu jatuh tertelungkup dengan nafas terengah-engah. Adhitia memeluknya dari belakang dan menciumi bahu mulus Sara yang mengkilap karena keringat.
"Kau milikku! Hanya milikku, Sara!" bisiknya berulang-ulang.
Tampak sebuah kamera pengintai terselip di sebuah vas bunga yang dipajang di meja. Dan pemilik kamera tersebut sedang memperhatikan semua gerakan yang terjadi sambil tersenyum sinis.
"Berita besar! Menantu keluarga besar dari kota B merayakan bulan madu di kapal pesiar dengan pria lain! Hehehe..." tawanya sinis.
***
Waktu sudah merayap ke pertengahan malam. Malik duduk di sebuah meja bar, menggenggam ponsel sambil menghadap gelas berisi minuman keras, dikelilingi oleh beberapa petugas kepolisian negara Maldives. Matanya menatap kosong. bibirnya tertutup rapat.
Sam datang menghampirinya dengan tergesa-gesa.
"Bro, mereka bukan orang suruhan ayahmu!" bisik Sam panik.
"Aku sudah tahu! Aku baru saja menghubungi Dad. Aku tidak bisa katakan pada Dad kalau Sara menghilang." Malik menekuk wajahnya dalam.
"Jika aku tahu siapa mereka, akan kubunuh semuanya!" geramnya.
Sam tertegun. Malik yang dulu ia kenal sebagai pria dingin, cuek dengan gadis, berpikiran selangkah lebih maju darinya, malam ini terlihat depresi dan kasar karena kehilangan seorang wanita. Dan yang lebih menakutkan, pria ini tidak pernah tidak menepati ucapannya.
Ponsel Sam berbunyi.
"Ya? Bagaimana?" Sam langsung menyahuti panggilan ponsel itu.
"Baik! Aku kesana!" setelah mendengar kabar dari si penelepon, Sam segera menyimpan kembali ponselnya.
"Tetaplah di sini, temanku menemukan petunjuk baru." ujarnya.
"Tidak bisa! Aku harus ikut!!" Malik beranjak dari duduknya.
"Tolonglah, bro! Aku tidak ingin kau terkena masalah kriminal di sini." Sam melarang.
"Tapi bukan aku yang berbuat kriminal!" sanggah Malik.
"Tapi istrimu yang hilang! Tahukah kau jika kau bisa menjadi tersangka utama atau dalang penculikan ini?" balas Sam.
Malik diam.
"Bodoh!! Gila!!!" teriak Malik kesal seraya membanting gelas berisi minuman yang ada di atas meja bar hingga pecah berkeping-keping.
"Tenanglah, aku akan terus memberikanmu setiap kabar yang kuterima." Sam mencoba menenangkan Malik.
Malik menatapnya sinis.
"Kau tahu, Sam? Aku tidak suka jika kau tidak berbicara ketus! Saat kau bicara sok bijaksana seperti ini, itu artinya kau menyembunyikan sesuatu."
Tanpa berkata-kata lagi Sam berbalik dan meninggalkan sahabatnya di sana.
****
Sam berjalan bergegas memasuki sebuah kabin yang dipenuhi oleh perwira berpakaian kepolisian Maldives.
"Sir Sam!" Beberapa opsir memberi salam hormat padanya, namun tak satupun dis.ahuti. Wajah kaku, tegas dan bengis Sam terpasang saat berhadapan dengan mantan rekan kerjanya di masa lalu.
"Sam!" Seru seorang pria berkulit gelap yang juga mengenakan seragam kepolisian, semula ia duduk menghadap laptop dan langsung berdiri saat Sam mendekatinya.
"Apa ini, Nanda?" tanya Sam saat melihat layar laptop yang baru dilihat Nanda, pria berkulit gelap tadi.
"Video ini diunggah beberapa menit lalu. Baca judulnya!" Nanda menunjuk ke sebuah video yang ada di laptop, berjudul Skandal Se*s Penerus Perusahaan S Asal Kota B.
Sam menurunkan kepalanya untuk melihat lebih jelas lagi isi video itu. Adegan-adegan panas dan liar antara Sara dan Adhitia saat berhubungan intim tersebar di salah satu jejaring sosial internasional berdurasi 40 menit. Melihat waktu unggahan hanya 10 menit yang lalu, namun jumlah penonton video itu sudah ratusan.
"Razaq!" Sam meneriaki sebuah nama.
"Yes, Sir!!" sahut seorang perwira bertubuh tegap tinggi berkumis melintang berdiri dengan sikap sempurna di belakang Sam.
"Hapus video ini! Retas akunnya, aku mau orang yang mengunggah dan penyebar video ini ditangkap! Kacaukan seluruh akses yang mencoba masuk ke situs ini sebelum kau berhasil mendapatkan orang itu!!" perintah Sam tegas.
"Siap, Sir!" setelah menyanggupi perintah Sam, pemuda yang bernama Razaq lalu menuju sebuah meja yang telah tersedia laptop canggih dilengkapi pengawas satelit dan pemecah kode.
"Bagaimana dengan CCTV?" suara Sam kembali datar, bertanya kepada Nanda.
Sam mengamati dengan seksama kembali video tadi, bukan karena ia menyukai tontonan seperti itu, namun ia ingin tahu lokasi video tersebut.
"Ada berapa kabin dengan fasilitas ranjang mewah seperti itu?" tanya Sam lagi.
Nanda terdiam. Sam menoleh padanya dan memberi tatapan tajam mematikan.
"Panggil kapten kapal ini kemari!" perintah Nanda pada bawahannya. Serta merta beberapa opsir berpangkat lebih rendah dari Nanda berhambur keluar kabin, menyebar mencari keberadaan sang kapten kapal.
Beralih dari Nanda, Sam mendekati Razaq.
"Jika dalam 3 menit video ini masih bisa kutonton, maka aku yang akan menghapus namamu dari database kepolisian!" bisikan Sam seperti sayatan belati mengiris telinga Razaq, pemuda itu menelan sesuatu di kerongkongannya yang kering.
Sam memang bukan atasannya lagi atau anggota kepolisian dengan pangkat tinggi, namun rekan-rekan lamanya dan para opsir junior mematuhinya tanpa syarat karena kepribadian dan kecakapan Sam dalam bertindak.
"Sam...mengenai gadis yang bernama Luna.." Nanda mengatur kalimat saat ingin berbicara pada Sam tentang Luna.
Sam menoleh padanya, menunggu kelanjutan kalimat dengan tidak sabar.
"Gadis itu bukan berasal dari Florida. Ia mempunyai seorang ibu yang masih hidup tinggal di kota B dan ayahnya... ayahnya tewas dibunuh oleh seorang petarung 4 tahun lalu di kota A."
Sam mengerutkan keningnya hingga berlipat.
"Nama ayahnya? Nama pembunuh itu?" rasa penasarannya membuat ia makin tertarik dengan Luna.
"Nama Ayahnya adalah Tyson, dan pembunuh itu dikenal dengan sebutan Rocky." jawab Nanda tegas.
"Bagus! Terus lanjutkan investigasi tentang Luna. Sekarang fokus ke masalah di sini atau komisaris kalian akan mendapat malu bila kasus ini sampai tersebar di media." Ucap Sam dengan nada hangat seraya menepuk pundak Nanda.
"Okay, bro!" sahut Nanda, bernapas dengan lega. Namun sesaat kemudian ia dikejutkan kembali dengan teriakan Sam,
" Dimana kapten kapal ini?! Jika dia tidak ditemukan dalam 2 menit, dobrak setiap pintu yang ada di kapal ini atau kalian akan kucincang untuk makanan hiu!!!"
Bunyi derap sepatu dengan laras keras terdengar membahana bersamaan dengan bubarnya para opsir kepolisian yang dari tadi hanya berdiri dan mengamati obrolan di dalam kabin.
****
Malik tergopoh-gopoh keluar dari bar, diikuti dua orang opsir kepolisian saat Sam mendatanginya dengan kening yang masih berkerut.
"Ada apa?" tanya Sam padanya.
"Dad menyuruh kita untuk meninggalkan kapal ini segera! Mata-matanya mengatakan kalau kapal ini akan meledak dalam setengah jam."
"Kau gila!! Bagaimana dengan para tamu dan penumpang lain?!" histeris Sam.
"Apa kau mempercayai semua orang di sini? Dad mengatakan jumlah musuhnya di kapal ini lebih banyak dibanding jumlah penumpang yang sebenarnya." jelas Malik.
"****!!!" umpat Sam kesal. Ia lalu menghubungi Nanda melalui ponselnya
"Cepat tarik mundur seluruh anggotamu!
Kapal ini akan meledak dalam setengah jam!" perintahnya.
"Apa?!"
"Kau tuli?!! Katakan pada Razaq untuk segera menyelesaikan tugasnya atau dia akan ikut meledak."
Nanda mengulangi kalimat Sam untuk Razaq. Pemuda berkumis melintang itu mengumpat dan bersumpah serapah setelah mendengarnya.
"Sir, beberapa anggota kita tidak diperbolehkan masuk ke lantai 3. Kemungkinan para kriminal itu bersembunyi di sana!!!" lapor seorang opsir kepada Nanda, dan laporan itu didengar oleh Sam yang masih siaga dengan ponselnya.
"Paksa masuk kesana!!" perintah Nanda pada opsir yang melapor.
"Kau gila, Nanda!! Aku bilang tarik kembali anggotamu!! Siapkan saja beberapa perahu dan kapal cepat di bibir pantai untuk berjaga-jaga. Aku tidak mau ada korban dari kepolisian!"
"Tapi, Sam.. istri sahabatmu pasti ada di lantai 3!"
"Sisanya serahkan pada kami. Apa kau meragukanku?!"
"Tidak pernah, Sir!!" sahut Nanda dengan bersemangat, membayangkan mantan rekan kerjanya kembali beraksi heroik untuk penyelamatan. Sayang ia harus menuruti perintah Sam yang lebih mengutamakan keselamatan para anggota kepolisian yang ia bawa, kalau tidak ia pasti akan ikut dalam aksi yang ia rindukan itu.
*****
SAM