PASSION

PASSION
36. Lamaran



Sara tidak menyukai senyuman Malik yang terlihat seperti serigala yang menyeringai.


Bibirnya mengerucut, tanda ia tidak senang dengan ucapan Malik.


"Aku benar, kan? Kau tidak membacanya sama sekali!!" seru Malik mengejek Sara.


"Memangnya apa isi kontrak itu selain hak atas design gaunku dan magang kerja selama 3 tahun di perusahaanmu?" Sara berbalik bertanya.


Malik berdiri, lalu menuju lemari berisi dokumen rahasianya bersama Sara. Ia mengambil map berwarna merah dan melihat isinya. Tertulis disitu "Kontrak Belajar". Lalu pemuda itu menghampiri Sara dan memberikan map itu kepadanya.


"Baca halaman 4, baris ke-5 dari bawah." perintahnya pada Sara.


Sara membuka map itu dan membuka halaman yang dimaksud Malik. Mulutnya komat Kamit membaca isi kontrak itu dengan perlahan.


"Apa ini?!" tanya Sara berang.


"Pihak pertama berhak mengawasi dan mengontrol kegiatan belajar pihak kedua selama di dalam ataupun di luar kampus." jawab Malik yang ingat isi kalimat yang tertulis seraya duduk kembali ke depan laptopnya.


"Entah sejak kapan Dad menjadi bagian dari Dewan Direksi Kampus A. Jadi, kampus A di bawah kuasa Dad. Tujuanmu di sana hanya satu: BELAJAR!!! Dan bukan BERGAUL!! Apalagi PACARAN!!!"


Malik menjelaskan dengan memberi penekanan pada tiga kata tersebut.


"Ini tidak adil!! Ini perbudakan! Aku tidak mendapatkan hak asasiku!" oceh Sara sengit.


"Tapi kau sudah menandatangani kontrak ini, Ratu kera!" sahut Malik enteng sambil mengambil kembali map yang dipegang Sara.


"Aku sudah pernah mengingatkanmu: baca dan pikirkanlah lagi! Tapi kau terlalu ceroboh." ejek Malik.


Wajah Sara berubah mengkerut.


"Apa konsekuensinya bila aku melanggar kontrak itu?" tanyanya.


"Sederhana saja. Kau jadi istriku sepenuhnya." Malik menjawab sambil tersenyum genit dan mata nakalnya menatap ke arah buah dada Sara.


Melihat tatapan nakal Malik, Sara segera menutup dadanya dengan kedua tangannya dan berbalik badan. Wajahnya memerah dan bibirnya makin mengerucut.


"Cabul!" Sara mengatai Malik.


"Jangan cemberut seperti itu! Aku sangat tidak tahan melihat wanita seperti itu, membuat nafsu birahiku makin memuncak." Malik malah menjahili Sara. Pemuda itu berdiri dan mendekati Sara, lalu membuat suara seperti erangan harimau di telinga gadis itu.


"Errrrrr.....!!!!"


"Hentikan!!" Sara bergidik lalu berteriak panik. Gadis itu menjauhi Malik


"Ada apa, sayang? Kau merasakan getaran hebat di dalam tubuhmu?" Malik makin menjahili gadis itu.


"Tutup mulut cabulmu! Tak cukupkah kau bercumbuan dengan Luna? Atau perlu aku telepon Luna sekarang?" kali ini Sara benar-benar marah.


Malik terkejut. Ia baru menyadari rupanya Sara benar-benar tipe wanita introvert yang sensitif. Malik pun menghentikan kejahilannya.


"Okay, aku hanya bercanda!!".


"Ini lewat tengah malam dan kau masih bercanda?!" Sara tidak mengerti jalan pikiran Malik.


Malik tidak menyahutinya. Ia mencabut kabel data dari laptop dan ponsel Sara. Lalu memberikan ponsel itu pada Sara dengan malas.


"Ambil ponselmu! Aku telah memasang GPS dan peta 3D kampus Mart dan kampus Loop di situ. Tidak ada alasan lagi untuk tersesat bagimu." ucap Malik.


Pemuda itu lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya karena memang sejak pulang dari kantor ia belum mandi.


Sara menatap ponselnya dengan bengong. Ponsel berkapasitas mediumnya kini telah di pasang GPS dan peta 3D. Pikirannya mengatakan kalau kedua aplikasi tersebut pasti sangat berat dan memakan banyak memori di ponselnya. Akhirnya ia menunggu Malik keluar dari kamar mandi untuk menanyakan hal tersebut.


Tak lama kemudian Malik keluar dari kamar mandi dan telah mengenakan piyama.


"Apa? Kenapa kau belum tidur?" tanya Malik ketus


"Apakah aplikasi yang kau pasang itu aman dan tidak mempengaruhi kinerja ponselku?" tanya Sara langsung.


"Apa kau meremehkan hasil karyaku? Seharian aku mengerjakannya karena aku tahu kapasitas ponselmu tidak banyak." jawab Malik.


Sara tersenyum lega.


"Tidurlah! Besok kau ada kuliah pagi, kan." perintah Malik. Pemuda itu juga bersiap tidur di sofanya.


Sara menatap Malik dengan lembut. Tiba-tiba rasa bersalah merayapi relung hatinya. Pemuda itu telah bersusah payah seharian mengerjakan software untuk kepentingan dirinya, tapi ia malah marah-marah dan berteriak padanya. Pemuda itu juga sangat memperhatikan kebutuhan dan memahami dirinya dengan sangat dalam.


"Malik.." panggilnya pelan.


"Hemmm.." sahut Malik malas. Pemuda itu telah menutup kedua kelopak matanya.


"Terima kasih." ucap Sara.


Malik membuka matanya kembali.


"No problem." sahut Malik seraya melirik ke arah Sara


Sara memberinya senyuman manis yang tulus, lalu gadis itu kembali ke tempat tidurnya yang empuk dan melanjutkan kembali tidur malamnya.


"Sara.." kali ini gantian Malik yang memanggilnya.


"Jika tidak ada Adhitia, apakah kau mau menikah denganku?"


Sara balik membalas tatapan Malik. Pertanyaan Malik membuat Sara bingung. Ia hanya diam karena ia juga tidak tahu nama perasaan yang ada di hatinya kepada Malik.


"Apa kau sedang melamarku?!" Sara malah balik bertanya.


Malik tertawa kecil.


"Jangan bermimpi saat matamu terbuka!" katanya.


"Jadi apa maksudmu bertanya seperti tadi?!" Sara jadi sewot.


"Aku cuma bercanda! Aku senang menjahilimu." jawab Malik enteng.


"Tidak lucu bercanda dengan perasaan seseorang." sahut Sara kesal.


Malik makin tertawa.


Seketika penatnya seharian ini hilang setelah ia berbincang-bincang dengan Sara sebelum tidur.


Kedua muda-mudi itu saling tatap satu sama lain tanpa ada dialog. Keduanya diam dalam lamunan dan tenggelam di lautan kekaguman yang mereka rasakan pada sosok yang berada di tempatnya masing-masing.


Cukup lama mereka beradu pandang, hingga salah satu dari mereka merasakan berat yang teramat sangat di kelopak mata dan perlahan menutup matanya lalu tertidur .


*****


Pagi itu seperti biasanya, Malik memulai hari dengan aktifitas lari pagi di seputaran rumah megah milik tuan Sultan. Taman di rumah itu sangat luas, dihiasi dengan pepohonan rindang dan bunga-bunga cantik berwarna-warni nan harum semerbak.


Karena begitu fokus pada lari paginya ia tidak sadar kalau Adhitia telah ikut berlari di sebelahnya, mengimbangi langkah kakinya.


"Pagi, tuan Malik!" sapa Adhitia.


Malik menoleh tanpa menjawab dan terus berlari.


"Ada yang ingin kau laporkan?" Malik bertanya sambil terus berlari dengan pandangan lurus ke depan.


"Nyonya muda kesulitan dengan letak ruangan di kampusnya." jawab Adhitia.


"Sudah kuatasi." jawab Malik enteng.


Adhitia terkejut.


"Gerbang kampus dijaga ketat. Aku tidak bisa mengawasi nyonya jika tidak berada di dekatnya." lapor Adhitia selanjutnya.


"Jangan khawatir. Ada banyak kamera CCTV di kampus itu." sahut Malik.


Adhitia kagum dengan kesigapan Malik dalam mengurus segalanya.


"Aku butuh akses agar bisa masuk ke sana." pinta Adhitia.


Malik menghentikan lari kecilnya.


"Akses kemana?" Malik mencoba memastikan pendengarannya.


Adhitia pun mengikuti Malik menghentikan langkah larinya.


"Kartu identitas untuk masuk ke kampus A. ... Aku membutuhkan kartu itu." jawab Adhitia dengan nafas terengah-engah.


"Aku tidak bisa memberikannya. Dad akan curiga." Malik menolak permintaan Adhitia.


"Tuan Malik, tuan tidak mengerti..." Adhitia mencoba membujuk Malik.


"Sara bukan anak kecil lagi yang harus berjalan dengan cara dituntun. Ponselnya kini telah dipasang GPS dan peta 3D kampusnya. Kamera CCTV juga siap mengawasinya sepanjang hari. Berikan ia kesempatan untuk belajar menghadapi orang asing sendirian. Bangunlah kepercayaan dirinya." Malik memberinya nasehat.


Adhitia tidak mau mendengarkan.


"Jika anda tidak memberikan kartu akses itu, aku akan mendapatkannya sendiri bagaimanapun caranya." tegas Adhitia.


Malik malah tersenyum melihat tekad kuat di mata Adhitia.


"Aku akan senang jika kau berhasil mendapatkannya." Ucap Malik sambil menepuk pundak Adhitia.


Pria itu lalu melanjutkan lari paginya, meninggalkan Adhitia yang masih berdiri dengan perasaan gelisah.


*****


****


***


**


*


Malik, 33 tahun