PASSION

PASSION
47. Batu Sapphire



Malik dan Sam menikmati hangatnya kopi hitam beraroma harum di sebuah resto outdoor.


"Bagaimana night fishing kalian semalam?" tanya Sam sambil menyeruput kopi miliknya.


"Buruk." jawab Malik singkat dengan nada lemah.


Sam tertawa tergelak.


"Night fishing ditemani istri dan kekasih sambil memandang matahari terbenam, kau bilang buruk? Hey, bro!! Banyak lelaki yang iri denganmu!"


Malik tersenyum kecut.


"Sepanjang malam itu wajah Sara muram karena Adhitia tidak bersamanya. Aku tak bisa berbuat apapun untuk menghiburnya karena Luna selalu menempel di lenganku." Cerita Malik.


"Adhitia tidak bersamanya? Aneh. Saat aku kembali ke kamar dia tidak ada, dan dia baru kembali setelah lewat tengah malam. Kupikir dia bersama kalian." Sam berpikir.


"Itu masalahnya. Pemuda itu seperti hantu. Datang dan menghilang sesuka hatinya.". Malik menyesap kopinya yang tinggal separuh cangkir.


Sam mendekatkan kepalanya ke arah Malik dan berbisik,


"Kau rekrut pemuda itu darimana? Aku selalu merasa ada yang janggal dengannya."


"Dia kekasih Sara sebelum kami menikah. Saat aku membutuhkan pengawal dan supir untuk Sara, tiba-tiba ia muncul."


Sam mengerutkan kedua alis matanya hingga bersatu.


"mata-matamu?" Sam menanyakan informasi yang dikumpulkan mata-mata Malik yang bertugas mengawasi dan mencari tahu latar belakang Adhitia.


"Bersih! Dia hanya pemuda polos yang putus sekolah dan hidup serabutan." Malik menjawab sambil menggaruk telinganya yang tak gatal.


"Lalu?" Sam sangat tertarik dengan cerita Malik selanjutnya.


"Sampai dia bilang kalau ayahnya berasal dari kota A dan ia enggan menyebutkan nama. Mata-mataku tidak mendapatkan informasi ini."


Sam menarik tubuh ke belakang dan bersandar di kursinya.


"Apakah paman Sultan mengetahuinya?" Tanyanya lagi.


"Entahlah... Tapi yang pasti Dad mencium hubungan asmara antara Sara dan dia." jawab Malik.


Sam terkekeh.


"Orang buta pun bisa mengetahui hal itu. Pemuda itu terang-terangan menatap istrimu dengan hasrat untuk memiliki, dan istrimu juga sepertinya tidak bisa jauh darinya." Sam mengutarakan analisanya.


Malik terdiam. Ia larut dalam pikirannya sendiri. Sam menatap tajam ke mata Malik yang kosong dalam pandangan jauh. Lalu,


"Astaga, mau kemana Sara dengan rok mini seperti itu??!!" teriak Sam, mengangkat satu tangannya ke arah jalanan.


Malik terkesiap dan segera menoleh ke arah tangan Sam menunjuk. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok Sara yang baru saja disebutkan Sam.


Sadar kalau telah dipermainkan sahabatnya, Malik mengeluarkan tatapan kesal yang menakutkan.


"Itu tidak lucu!" desisnya geram.


"Ya ampun, kau benar-benar menyukainya.". Sam menghela nafas panjang.


Malik membetulkan posisi duduknya dan menjaga wibawanya kembali.


Sam tersenyum mengejek.


"Siapa sangka pria berkharisma, berpendidikan dan berkuasa akan menjadi saingan pemuda putus sekolah, yang polos dan serabutan, dalam hal percintaan.". Kata-kata Sam terdengar pedas di telinga Malik.


"Aku tidak perlu bersaing. Sara telah menjadi istriku." Malik menyanggah.


"Istri palsu. Kau belum menyentuhnya." gumam Sam.


"Aku tidak akan menyentuhnya karena dia bukan level-ku." Malik membela diri.


"Arogan!" Sam mengatainya.


"Masalah Adhitia? Aku bisa saja menjauhkannya dari Sara kalau aku mau."


"Pembohong!!" Sam menekan ucapannya.


Malik tidak bisa lagi mengelak dari cercaan Sam. Sam adalah orang yang pandai membaca bahasa tubuh orang lain karena ia pernah bersekolah di sekolah militer dan beberapa tahun menjadi opsir polisi bagian kriminal di Maldives. Pria itu mengundurkan diri dari kepolisian karena masalah pribadi.


Malik menundukkan pandangannya. Dihadapan Sam, ia tak segan mengakui semuanya. Dan sikap diamnya adalah bentuk pengakuan yang tulus dari dalam hati.


"Mengapa tidak kau pecat saja dia? Dia akan menghilang dari kehidupan kalian." usul Sam.


"Tidak bisa. Aku terlanjur berjanji pada Sara untuk mendukung cinta mereka." Sam menjawab lirih.


"Itu isi kontrak pernikahan kalian?" tebak Sam.


"Begitulah..." .


"Dan aku juga tidak bisa melepaskan Luna karena rasa tanggung jawabku." lanjut Malik.


Sam tergelak keras.


"Bodoh! Gila! Egois! Serakah! Sejak kapan kau berubah menjadi seperti ini?!" Sam menyindirnya habis-habisan.


"Tanggung jawab apa yang kau bicarakan? Luna tidak sedang mengandung anakmu, kan?" Sam bertanya.


Malik menggeleng perlahan.


"Tapi aku adalah first time-nya. Siapa yang akan menerimanya sebagai istri jika lelaki lain tahu dia bukan gadis suci lagi." jawab Malik.


Sebuah senyuman sinis tersungging di satu sudut bibir Sam.


Malik merapatkan bibirnya erat sementara jemarinya memainkan sendok pengaduk kopi.


Jengah menatap sahabatnya yang galau dalam urusan asmara, Sam melempar pandangannya ke arah tepian jalan.


Dari tempatnya duduk, Sam melihat sosok Adhitia keluar dari toko benda antik di seberang jalan.


"Kekasih istrimu di seberang jalan! " Sam menepuk tangan Malik.


"Sudahlah. Aku takkan terkecoh lagi." Malik malas menanggapi Sam.


"Tsk!" Sam berdecak kesal.


"Bro Adhitia!!!! Hey!!!" teriak Sam memanggil pemuda berjaket kulit berwarna hitam itu.


Merasa dipanggil, Adhitia menoleh ke arah suara.


"Kemari!!!" Sam melambaikan tangannya.


Malik menoleh ke arah jalanan, benar saja Adhitia sedang berjalan menyeberang menuju arah mereka.


"Apa kau tidak waras? Kita sedang membahas tentangnya dan kau panggil dia kemari?" Malik menatap Sam tajam namun dengan posisi tubuh tenang dan santai.


"Duduklah bersama kami sebentar di sini." Sam menyiapkan satu kursi tambahan untuk Adhitia bergabung di meja kecil mereka.


Adhitia tersenyum dan berterimakasih, lalu menduduki kursi itu.


"Kau minum kopi apa? Black Coffee? Capucinno? Mochacinno?" Sam dengan sikap ramahnya menawarkan minum untuk Adhitia.


"Aku..." , belum selesai Adhitia bicara, Malik memotongnya,


"Jangan memesan Absinthe, itu tidak disajikan di sini.". Malik berucap seraya menyilangkan satu kaki di atas kakinya yang lain.


Adhitia tersenyum tipis dan terasa sedikit getir karena disindir Malik.


"Aku tidak minum kopi sekarang. Aku dan senior sudah berencana akan minum es kelapa muda di pasar oleh-oleh satu jam lagi." Jawab Adhitia menatap Sam, namun sesekali ia melirik Malik untuk membuatnya iri dengan jawabannya.


Malik tak bergeming.


"O ya? Kau sudah hapal jalan-jalan di sini?" tanya Sam heran.


"Aku punya brosur perjalanan."


"Ah, benar juga. Pemuda yang cerdas. Sepertinya aku tidak dibutuhkan kalian lagi." Sam tertawa renyah.


"Bukan begitu. Aku hanya ingin menebus kesalahanku semalam karena tidak menemaninya makan malam." jawab Adhitia.


"Kemana saja kau semalam?" tanya Malik tanpa mengubah posisi duduknya.


"Aku memesan sesuatu dari toko barang antik yang di seberang." Adhitia merogoh kantong jaketnya dan mengeluarkan kantong kecil.


"Senior melihatnya di internet, dan dia sangat menyukai cincin ini." Adhitia memamerkan cincin perak antik berukir tulisan Sansekerta bertahtakan batu sapphire biru berurat emas.


Sam memasang wajah takjub dengan mata berbinar seraya ingin menyentuh cincin itu, namun belum sempat jarinya mendekati cincin itu, reflek Adhitia menepis tangannya dengan kuat.


"Apa batu itu asli?" Malik meragukannya.


"Pemilik toko bilang kalau ini batu asli. Tapi bukan itu yang membuat Senior menyukai ini. Tulisan yang terukir di sini memiliki arti yang sangat berharga untuknya.". Adhitia sengaja mengangkat cincin itu setinggi wajahnya dan memutar-mutar hingga pantulan cahaya kemilaunya membuat iri Malik.


"Kau percaya kalau ini asli? Di sini banyak turis yang ditipu oleh para penjual barang antik." celetuk Sam.


"Aku percaya, karena cincin ini hanya diproduksi di Srilangka 30 tahun lalu oleh perancang aksesoris muda asal Maldives, Seila Adam." Adhitia dengan mantap menjelaskan.


Sam melirik ke arah Malik yang masih tidak bergeming dari posisinya, namun bola mata coklatnya berlari liar saat nama perancang cincin itu disebutkan.


"Lihat, di sini ada ukiran inisialnya SA. Kebetulan sekali namaku dan senior jika digabungkan juga akan terukir dengan inisial SA juga."


Adhitia sengaja mendekatkan cincin itu ke arah wajah Adhitia.


"Kenapa aku merasa kalau kau ingin mengajak perang tuanmu sendiri. Lancang kau!!". Sam memukul kepala Adhitia hingga berbunyi keras.


Sontak Adhitia marah dan berdiri menghadap Sam sambil mengepalkan tinju.


Jika tidak karena sepasang muda-mudi mendekati mereka, tentu mereka akan benar-benar saling baku hantam.


"Tunggu, bro!! Tolong jangan berkelahi." cegah sepasang muda-mudi itu.


"Aku dan kekasihku akan menyelenggarakan pesta pertunangan di kapal pesiar mewah besok malam. Datang bersama pasangan kalian ke dermaga sebelum jam 8 malam." Pasangan itu memberikan selembar kartu pada Sam, Malik, dan Adhitia.


Adhitia menerima lembaran itu dan pergi setelah menghujani Sam dengan tatapan marah dan kesal.


"Okay, bro? Jangan lupa ya. Di sana ada musik dan minuman." pesan pasangan itu sebelum pergi dan melanjutkan menyebarkan undangan pesta mereka.


Sam membaca kertas tadi lalu menatap Malik.


"Mayantha Luxury Cruise." ucap Sam.


Malik masih duduk dalam diamnya, tanpa mempedulikan kertas undangan di atas meja ataupun ucapan Sam.


*****


****


***


**


*