PASSION

PASSION
56. Injeksi



Dalam sebuah kabin Suite di Mayantha Luxury Cruise, Sara terbaring tak sadarkan diri di atas sebuah ranjang empuk dengan suasana kamar yang sedikit gelap.


Sepasang langkah kaki mendekat, lalu terdengar helaan nafas yang berat milik seorang lelaki.


"Kita akhiri sampai di sini, sayang. Aku ikuti permainannya hingga mengejarmu sampai ke sini. Dan sekarang aku jengah!" ucapnya seraya membelai helaian rambut Sara yang terurai indah.


Sara tersadar dari pingsannya. Matanya membulat menatap langit-langit kabin yang terlihat asing baginya. Ia mencoba bangkit dari berbaring, namun pengaruh kloroform yang terhisap olehnya masih membuat lemah.


"Halo!! Ada orang?!" teriaknya dengan sisa tenaga.


Hening. Tidak ada jawaban yang menyahutinya.


Berusaha bangkit sekuat tenaga, gadis itu berjalan terhuyung mendekati sebuah pintu. Pintu itu terkunci dari luar.


"Halooo!! Ada orang di luar?! Tolong aku!" teriaknya sambil memukul-mukul pintu tersebut dengan kedua telapak tangannya.


Bersandar membelakangi pintu, Sara mengatur nafasnya yang sesak. Kepala terasa berat dan pandangannya berkunang-kunang.


Dimana ini? Apa yang terjadi? Dimana Malik? Adhitia?!


Pikirnya mencari keberadaan kedua pria yang berhubungan dekat dengannya.


Sara menjauh dari pintu ketika terdengar suara kunci pintu yang sedang dibuka seseorang. Dua orang berpakaian hitam dan bermasker warna senada masuk, salah satunya menodongkan pistol ke arah Sara diikuti dua pria lainnya yang masuk sambil menyeret seseorang yang kepalanya ditutupi kain hitam.


Baru kali ini melihat pistol begitu dekat, Sara berdiri kaku dengan mata terus melirik ke larasnya. Berdoa agar jari pria bermasker itu tidak menarik pelatuknya.


"Buka tutup kepala!" perintah pria itu pada dua orang yg memegangi pemuda bertutur kain hitam tadi.


Sara terkejut bukan kepalang, saat tutup kain terbuka, ternyata Adhitia.


"Adhitia.." desisnya.


Pandangan Adhitia yang terlalu lama tertutup kain hitam menjadi kabur dan tidak fokus. Namun ia mengenali suara Sara.


"Sara? Benarkah itu kau?" Adhitia mencoba mencari bayangan Sara dengan mata mengerjap, sementara tangannya masih diikat dan dipegangi pria misterius.


"Bagus! Ternyata kita tepat sasaran!" seru pria bermasker lainnya.


Pria dengan pistol di tangan memerintah temannya untuk menghubungi seseorang.


"Panggil dia segera! Waktu kita tidak banyak."


Temannya menuruti, langsung mengeluarkan ponsel dan meminta seseorang datang ke sana.


Tak lama kemudian seorang pria bermasker putih datang membawa tas kecil, meletakkannya di meja, memakai sarung tangan karet putih, lalu mengeluarkan injeksi yang telah berisi cairan putih benjng dengan jarum masih tersegel.


"Pegang dia!" pria bermasker putih itu meminta pria berjas untuk memegangi Sara sementara ia membuka segel injeksi yang ada ditangannya.


Sara berusaha meronta dan menolak saat pria itu mendekatinya.


"Apa yang akan kalian lakukan?! Lepaskan senior!!!" pekik Adhitia marah saat pria itu menyuntikkan cairan yang ada di injeksi ke tangan Sara.


"Jangan!!" Sara meringis kesakitan, seketika tubuhnya lunglai, namun matanya masih terbuka.


"Senior?!" Adhitia memanggilnya, cemas.


Pria dengan masker putih tadi mengeluarkan injeksi lain dengan isi yang sama dari dalam tasnya lagi dan mendekati Adhitia.


"Lepaskan aku! Lepaskan aku, bodoh!!" umpatnya marah, berusaha melepaskan diri dari para pria misterius itu.


***


Di kabin terpisah, Sam puas menanyai Malik dengan detail. Bagaimana ia bisa menikah dengan Sara, apa hubungannya dengan Adhitia, bagaimana dia masuk ke jebakan Luna, dan lainnya.


"Apa? Luna bukan perawan saat itu?!" Malik mendelik, histeris.


Sam tertawa dengan maksud mengejek.


"Astaga, bro!! Selama ini kau tidak sadar? Untung ayahmu lebih cerdas darimu!"


"Apa maksudmu?" Malik tak mengerti maksud Sam.


"Luna benar. Kau terlihat cerdas tapi sebenarnya kau sangat naif! Bahkan Luna pun bisa menilai orang."


"Kau terus memuji wanita penipu itu! Dimana dia sekarang?"


"Dia bukan penipu! Dia berpikir dengan logika! Saat melihatmu tidak memiliki perasaan lagi terhadapnya, dia memilih untuk pergi. Bahkan kau tidak menyadari kapan dia pergi kan?"


Malik tertegun. Ia membenarkan dalam hati apa yang baru saja dikatakan Sam.


"Satu hal lagi, Luna bilang kalau Adhitia adalah sepupunya."


Malik makin terdiam. Dalam benaknya seperti tertancap anak panah berapi yang melesat dengan cepat dan membakar kepalanya.


"Ada masalah keluarga apa antara kau dan Adhitia?" tanya Sam serius.


"Sumpah, aku tidak tahu!" lirih Malik dengan bola mata nanar.


"Jadi ini perang antara Adhitia dan ayahmu?" tebak Sam.


"Dad? Ada urusan apa Dad dan Adhitia?" Malik bingung.


Sam menghela napas berat.


"Cinta mengikis habis otakmu. Duniamu sekarang dipenuhi oleh Sara. Impiannya menjadi impianmu, tawanya menjadi tawamu, bahkan bahagianya menjadi bahagiamu hingga kau biarkan dia jatuh di pelukan Adhitia."


Malik berdiri dari duduknya tiba-tiba.


"Kita harus menemukan Sara segera!"


"Tidak! Kau tidak mengerti!" Malik menolak berdiam diri.


"Kau yang tidak mengerti! Ayahmu sudah mengirim orang-orangnya sampai ke sini. Pria bermasker yang bersenjata tadi mungkin orang suruhan ayahmu, karena mereka berani memukul Adhitia, tapi tidak menyakiti kita." pendapat Sam.


Malik berpikir lama.


"Kau yakin?" ragunya.


Sam mengangguk.


"Kau duduk manis saja di sini, agar jika terjadi sesuatu namamu tetap bersih." sarannya.


"Gila!! Aku tak bisa duduk di sini sepanjang malam!" teriak Malik.


"Jika tidak bisa duduk sepanjang malam, maka tidurlah!!" bentak Sam kesal.


Malik mengusap wajahnya dengan satu tangan dengan kasar, lalu tiba-tiba


BUGH!


"Aakh!!" Sam berteriak kesakitan sambil memegangi selangkangannya yang ditendang Malik.


"Itu karena kau meniduri wanitaku!" ucap Malik dingin.


BUGH!


Kali ini giliran kepala Sam yang terkena pukulan tinju dari Malik.


"Dan itu karena kau berani memberiku saran yang buruk!!" Setelah berkata demikian Malik melangkah keluar kabin dengan tergesa-gesa.


"S**t!! Kau berani memukulku!!" teriak Sam, menahan sakit yang tak tertahankan di bagian tubuh yang diserang Malik.


****


Adhitia bangkit dari duduknya sambil memegangi sebelah tangannya, sesaat setelah para pria itu pergi dari kamar kabin. Meninggalkannya bersama Sara yang terduduk lemas di lantai dengan kondisi yang sama sepertinya.


"Senior..?" panggilnya pelan, mendekati Sara dengan hati-hati.


"Adhitia?" Sara mengangkat kepalanya lalu tersenyum.


Adhitia berjongkok di hadapan lalu menghapus titik air yang menyembul di sudut matanya.


"Maaf...maafkan aku, senior!" pandangan Adhitia meneduh, dengan mata berkaca-kaca dan wajah memelas, menyesali kebodohan yang membuatnya terpisah sesaat dari Sara.


Serta merta Sara memeluk Adhitia erat dan mengeluarkan tangis yang ia tahan sejak tadi.


"Aku ingin pulang! Bawa aku pulang! Aku tidak suka di sini!" rengek Sara manja seperti anak kecil.


"Baik, baiklah. Kita akan pergi dari sini." mengusap punggung Sara dengan pelan, menenangkan emosi gadis itu.


Perlahan Adhitia menuntun Sara menuju pintu untuk keluar dari kabin itu, niat mereka termentahkan saat Adhitia mencoba membuka pintu, ternyata dikunci.


"Si***n!!!" umpatnya.


Adhitia melepaskan tangannya dari pundak Sara, mencoba mendorong dan merusak pegangan pintu.


"Hey!! Buka pintunya!! Pengecut!!" teriak Adhitia sambil menendang pintu itu.


Emosi Adhitia terhenti saat jemari Sara menyentuh pundaknya dari belakang.


"Adhi.." lirih Sara pelan.


Pemuda itu menoleh. Wajahnya berubah pucat dan matanya terbelalak melihat Sara telah menanggalkan gaunnya, menyisakan pakaian dalam membalut tubuh putih nan seksinya.


"Aku...merasa gerah...hh" desah Sara, menempelkan tubuhnya pada Adhitia.


"Astaga!! Suntikan tadi obat perangsang?" terlambat menyadarinya, Adhitia pun merasakan hal yang sama seperti Sara. Wajahnya merah dan berkeringat, kacamatanya sampai berembun. Dilepaskan dua kancing atas kemeja, dibuka jasnya, namun ia masih merasa gerah.


Perlahan tangan Sara meraba dada bidangnya dengan tatapan lapar, dan mulai melepaskan sisa kancing kemeja Adhitia.


"S-senior?" Adhitia menahan tangannya untuk tidak menyentuh gadis itu.


"Sssttt.." Sara meletakkan jari di depan bibirnya yang membulat maju, lalu memindahkan jari itu ke bibir Adhitia seraya tersenyum menggoda.


"Aku ingin bibir merah ini..." desahnya.


Adhitia membuka kacamatanya yang kembali berembun karena nafas Sara yang begitu dekat.


"Kau yakin, senior?"


Sara mengangguk manja.


Tanpa menunggu lebih lama, Adhitia langsung mendekatkan kepalanya dan menempelkan bibirnya pada bibir Sara.


Keduanya begitu menikmati sensasi panas yang menjalar di seluruh pembuluh nadi. Lenguhan demi lenguhan terdengar saat lidah Adhitia menyusup di rongga mulut Sara dengan liar. Adhitia kewalahan menghadapi keagresifan wanitanya.


"Wow..senior! Kau sangat menggemaskan!" bisik Adhitia dengan senyum puas.


"Lagi..." Sara balik berbisik.


"Kau mau lagi?"


"Tutup mulutmu dan cium aku lagi!" erang Sara, menarik kepala Adhitia dan mulai mencumbu bibir merah yang terasa manis itu lagi.


"Tentu! Kau akan mendapatkan lebih dari ini." bisik Adhitia dengan mesra, menggendong tubuh Sara tanpa melepas tautan bibir mereka. Membawa Sara dan meletakkannya dengan perlahan di atas ranjang.


*****