PASSION

PASSION
33. Tuan Puteri



Hari ini adalah hari pertama Sara mulai kehidupan belajarnya di kampus elite A. Segala keperluan dan kebutuhan sudah ia siapkan jauh-jauh hari dan pagi ini dia siap ke kampus dan berpamitan dengan tuan Sultan terlebih dahulu.


"Dimana Malik? Apa dia tidak mengantarmu?" tanya tuan Sultan saat melihat Sara akan pergi sendirian.


"Malik sudah ke kantor pagi-pagi sekali. Ada keperluan penting di kantor " jawab Sara sambil tersenyum.


"Apa kau akan pergi bersama Adhitia?" Tuan Sultan bertanya kembali, alis matanya naik sebelah.


"Tentu, Dad." jawab Sara.


"Baiklah. Jangan lupa beri kabar ke Malik saat kau tiba di kampus." pesan tuan besar itu


"Okay! Terima kasih, Dad!" kata Sara bersemangat.


Setelah memastikan Sara masuk mobil dan berangkat, tuan Malik segera mengambil ponselnya dan berbicara dengan seseorang.


"Mereka sudah berangkat. Lakukan tugasmu." ucap tuan Sultan tegas dan singkat pada lawan bicaranya di ponsel.


*****


Kampus elite A berlokasi di dua fasilitas di kota B: Kampus Mart (kampus utama), dan kampus Loop, yang hanya delapan blok. Kampus Mart ini berlokasi di Pusat Mart Barat dari kompleks Merchandise Mart, memiliki perpustakaan, administrasi, serta program fashion dan desain interior. Sementara kampus Loop berlokasi di sudut tempat Wabash dan Lake, memiliki program media (pembuatan film digital, desain grafis, media interaktif, videogame) dan kuliner. Kampus Loop juga memiliki sebuah restoran yang dioperasikan oleh mahasiswa yang disebut "The Backstage Bistro". Mahasiswa dapat menikmati fasilitas-fasilitas terbaru yang disediakan di kampus, yang meliputi ruang seni, toko kampus, lab komputer, tempat kuliner, ruang sumber desain interior, perpustakaan, toko suplai dan sebagainya.


Saat mobil yang dikendarai Adhitia untuk mengantar Sara mendekati gerbang kampus, tiba-tiba dicegat oleh seorang satpam komplek kampus tersebut.


"Maaf, mahasiswa tidak diizinkan masuk dengan kendaraan." kata satpam yang mempunyai kartu identitas bernama John itu.


"Maaf, pak. Ini kartu mahasiswaku. Aku belum terbiasa dengan lingkungan komplek ini. Boleh aku membawa dia untuk menemaniku menuju kampus Mart?" Sara menunjukkan kartu identitas miliknya pada John dan menunjuk ke arah Adhitia agar diperbolehkan masuk.


John membaca nama di kartu Sara.


"Maaf, nyonya Sara. Hanya yang memiliki kartu ini yang bisa masuk ke dalam komplek."


"Tapi...beberapa hari lalu tidak ada peraturan ini." protes Sara.


"Tunggu sebentar, nyonya." John menjauh dan berbicara dengan seseorang dengan walkie talkie-nya.


Adhitia menggenggam tangan Sara yang terlihat cemas.


"Tenanglah, senior. Ini hari pertamamu. Jangan terlihat tegang." katanya mencoba menenangkan


"Bagaimana aku bisa tenang. Kau lihat keramaian di sana. Bagaimana aku bisa tenang dengan orang-orang baru sebanyak itu jika kau tidak bersamaku?!" Sara panik.


"Sssttt... aku ada di sini. Aku berjanji. Jika kau merasa tidak nyaman, telepon aku!" Adhitia meletakkan jari telunjuknya di bibir Sara agar Sara diam dan tenang.


Sara pun mengikuti perkataan Adhitia. Ia mencoba menahan rasa panik dan cemasnya.


John kembali mendekati mobil mereka.


"Nyonya Sara, Anda bisa keluar dari mobil sekarang. Sebentar lagi Sir Zafar akan kesini dan menemani Anda menuju kampus Mart." kata John.


Sara menoleh ke arah Adhitia, dan pemuda itu mengangguk dan memintanya menuruti peraturan itu.


Sara menuruti anjuran Adhitia. Ia turun dari mobil dan membanting pintu mobil dengan keras karena kesal.


"Anda bisa parkir di sana, pak." John menunjuk ke arah parkiran tertutup yang tak jauh dari gerbang kampus.


"Baik, terima kasih." ucap Adhitia ramah pada petugas keamanan itu.


Belum lagi Adhitia membelokkan mobilnya, ia melihat seseorang pria berusia sekitar 50 tahunan berjalan bergegas menghampiri Sara dan John.


"Halo, nyonya Sara, kita berjumpa lagi. Aku Zafar salah satu dosen di sini. Tuan Sultan memintaku menemani Anda selama belajar di sini." kata pria itu sambil mengulurkan tangannya


"Ah, iya. Aku beberapa kali melihat Sir Zafar. Aku baru tahu kalau Anda seorang dosen di sini." Sara membalas uluran tangan pria itu.


"Okay, mari kita segera ke kampus Mart." Sir Zafar menunjukan jalan ke kampus Mart, diikuti langkah Sara yang masih melirik ke arah mobil yang dikendarai Adhitia.


"Selamat pagi, Sir!" ucap mereka.


Zafar tidak menyahut. Pria itu hanya mengangguk dan mengangkat tangan kanannya sedikit ke atas, untuk memberi restu pada mereka.


"Sir satu ini cukup dihormati oleh mahasiswa lain. Kenapa dia harus repot menjemputku langsung. Bukankah seharusnya dia punya asisten? Kenapa dia tidak meminta asistennya saja daripada harus capek menemuiku di gerbang kampus tadi." pikir Sara sambil terus mengamati calon dosennya itu.


Zafar berhenti di depan sebuah pintu ruang kelas.


" Ini ruangan kelas anda. Saat ini masa pengenalan dipimpin oleh Sir Vicky." Zafar menunjukkan Sara pintu yang tertutup rapat.


"Anda tidak mengantarku masuk? Sepertinya aku terlambat?" Sara ragu-ragu untuk masuk karena melihat pintu kelas yang telah tertutup.


Zafar mendekati pintu dan membukakannya. Pria itu melangkah masuk diikuti oleh Sara di belakangnya.


"Permisi, Sir Vicky." Zafar menghentikan kegiatan pengenalan kampus yang dibawakan oleh Vicky pada beberapa mahasiswa baru.


Zafar kemudian membisikkan sesuatu di telinga Vicky.


Vicky mengamati Sara dengan tatapan tidak suka dari atas rambut hingga ujung kaki. Lalu ia mengangguk terpaksa.


"Baiklah, nyonya Sara. Anda bisa bergabung di kelas ini. Selanjutnya yg memimpin kelas adalah Sir Vicky." Sir Zafar mengakhiri ucapannya.


"Okay, terima kasih Sir." ucap Sara ramah.


Zafar pun melangkah meninggalkan ruangan kelas itu.


"Jadi,... silahkan anda memilih tempat duduk yang anda inginkan." Vicky berseru seakan dia memperagakan dialog seorang pelayan di sebuah rumah bangsawan.


Sara mengangguk dan tersenyum padanya. Sara berpikir mungkin cara bicara pria ini seperti itu.


Sara lalu memilih duduk di bangku belakang, bersebelahan dengan seorang gadis cantik bermata coklat yang duduk di sebelah jendela.


"Maaf, saya tidak sempat menyambut kedatangan Anda. Dan maafkan saya juga karena kami tidak menunggu anda sebelum memulai kegiatan pagi ini." perkataan Vicky kali ini mengusik Sara.


Sara hanya bisa tersenyum masam. Perasaannya menjadi tidak nyaman.


"Baiklah, semuanya. Perlu kalian ketahui, diantara 15 mahasiswa baru di kelas ini, satu diantara kita adalah berasal dari keluarga terpandang." lanjut Vicky.


Pria itu berjalan mendekati meja Sara.


"Inilah dia, tuan Puteri kita, Sara! Menantu dari tuan Sultan, pemilik perusahaan S, yang bergerak di bidang textile dan garmen." Vicky memperkenalkan Sara dengan berlebihan seperti sebuah objek pameran.


Mahasiswa yang lain pun berbisik-bisik. Membuat Sara makin merasa tidak nyaman dan panik. Kali ini dia tidak bisa tersenyum lagi.


"Perusahaan S telah mendonasikan sejumlah dana yang sangat besar untuk kampus kita tahun ini. Jadi, tolong perlakukan tuan Puteri ini dengan baik, jaga ucapan kalian, dan jangan mem-bully-nya." Ucapan Vicky makin lama makin terdengar sinis.


"Oh iya, tuan Puteri. Maaf, tapi anda tetap harus memakai kartu mahasiswa anda di leher." Vicky mengingatkan sambil tersenyum sinis.


Sara langsung mengalungkan kartu identitas mahasiswanya.


"Terima kasih, tuan Puteri." Vicky pun meninggalkan meja Sara dan kembali ke depan kelas.


Pria itu melanjutkan tugasnya untuk memberikan pengarahan dan pengenalan kampus dan sekitarnya yang sempat terhenti karena kedatangan Sara.


*****


****


***


**


*