
***
Malik segera mem-booking private boat segera setelah urusan bisnisnya di Guraidhoo selesai. Ia segera menuju ke bikini beach begitu ia tahu dari pelayan hotel kalau teman-temannya ada di sana.
Pria itu berjalan santai mendekati keempat wisatawan yang baru selesai ber-kano namun masih berdiri di tepian pantai.
Dilihatnya Sam sibuk bicara dengan serius pada Sara, sementara tangan Sara tidak lepas dari genggaman Adhitia.
"Kenapa kau begitu keras kepala?!" keluh Sam.
"Aku? Keras kepala?" Sara melotot.
"Aku yang mengatur jadwal perjalanan wisata kalian, jadi ikuti jadwal yg sudah aku buat dari jauh hari, ok?!" ucap Sam.
"Dari jauh hari??!" Adhitia menyeletuk lalu tertawa kecil, karena ia tahu Sam sama sekali tidak melakukan itu. Bahkan semalam Sam baru meminta usul padanya tentang permainan untuk mereka.
"Kenapa kau tertawa!" Sam menyikut lengan Adhitia.
"See??!! Kau tidak mengatur apapun, beach boy!" teriak Sara pada Sam karena ia paham dari tawa kecil Adhitia.
"Kalian selesai ber-kano?" tanya Malik yang baru ikut bergabung dalam kerumunan mereka.
"Maliiiikk!!!" teriak Sara histeris.
Gadis itu langsung melepas genggaman tangannya dari tangan Adhitia dan berlari menghampiri Malik lalu memeluknya. Malik terperanjat. Ia tidak menyangka akan disambut begitu hangat oleh Sara.
Luna yang melihat itu langsung mengangkat kedua tangannya ke atas dan membuang muka.
"Pasti dia mengadu ke sugar daddy-nya." cemooh Sam.
"Hey, kera. Apa kau begitu merindukanku?" bisik Malik pada Sara karena ia merasa risih dengan tatapan tajam Adhitia dan Luna padanya.
Sara segera melepas pelukannya begitu tersadar akan perbuatannya yang memalukan.
"Maaf." lirihnya.
"Kalian lebih cocok menjadi ayah dan anak." celetuk Sam pada Sara dan Malik.
"Bicaramu masih ketus seperti ini. Pantas saja kau masih sendiri sampai sekarang!" Malik menyindir Sam.
Adhitia segera memeluk pinggang Sara dengan posesif dan membawanya menjauh dari Malik.
Malik hanya tersenyum melihat itu.
"Bagaimana urusan bisnismu?" tanya Luna saat Malik mendekatinya dan mencium pipinya.
"Bagus. Semuanya berjalan lancar." jawab Malik.
"Bagaimana acara kalian?" Malik balik bertanya.
"Acara? Kau tanya pada nyonya muda ini?" Sam terlihat sangat jengkel dengan Sara.
"Baiklah. Aku lapar, boleh kita makan sekarang?" usul Sara.
Mata sipit Sam terbelalak.
"Hey, nyonya! Kenapa kau lagi yang membuat rencana??"
"Ha? Kau memintanya kan?" Sara menyahut tanpa rasa bersalah.
Malik tersenyum geli melihat 'keakraban' mereka.
"Seharian ini aku pusing mendengarkan suara mereka. Dan istrimu, kami hanya mengikuti keinginan dia saja." Luna mengadu pada Malik dengan manja.
"Begitu? Kalian sudah sangat akrab ya.." Malik menepuk bahu Sam.
"Akrab katamu? Dengan gadis ini? Cuihh..." Sam membuang mukanya dari Sara.
"Hey!!" Adhitia berteriak ke Sam. Ia tak suka cara bicaranya pada Sara.
Sara terdiam. Wajahnya ditekuk. Napasnya pelan dan tertahan. Sebintik titik air menyembul di sudut matanya.
"Senior.." panggil Adhitia pelan.
Sara tak menyahutinya.
"Sara?" kali ini Malik yang memanggilnya.
Adhitia segera merangkul Sara dan berbalik untuk menjauhi semuanya saat air mata Sara jatuh menetesi tangannya.
"Mau kemana mereka? Apa aku menyakitinya?" tanya Sam yang tiba-tiba merasa bersalah.
"Mungkin. Seumur hidupnya dia tidak pernah bergaul dengan orang yang bicaranya kasar dan blak-blakan sepertimu. Dia pasti sangat terkejut!" sahut Malik dengan sengaja sedikit menyulut rasa bersalah Sam.
Sam kembali terbelalak.
"Memangnya dia dari negeri apa? negeri dongeng atau negeri khayangan?" mulut Sam kembali ketus.
Malik tidak mau berpanjang-panjang meladeninya. Ia segera meraih lengan Luna dan mengajaknya berjalan menjauhi Sam.
Sam mendengus kesal.
"Okay!!! Aku yang salah!!! Aku minta maaf!!" teriak Sam pada Sara dan Adhitia yang sudah terlanjur jauh darinya.
Malik hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya saat mendengar suara Sam.
"Temanmu sangat menarik." ucap Luna.
"Oh ya?"
Luna mengangguk.
"Tapi banyak wanita yang tidak menyukai cara bicaranya yang kasar dan terlalu terbuka." ucap Malik.
Luna berhenti melangkah.
"Maksudmu...dia tidak suka berkata lembut dan manis?"
Malik ikut berhenti melangkah.
"Seingatku...tidak pernah!" jawab Malik yakin.
Luna tertegun. Jika Sam tidak pernah berkata manis seperti yang dikatakan Malik, lalu apa yang ia dengar tadi pagi adalah mimpi? Mimpi kalau Sam berusaha merayunya dengan rayuan gombal yang semanis sukrosa?
****
Di lift hotel,
"Berapa lama lagi kita di sini?".
"Entah. Mungkin seminggu." jawab Sara tak pasti.
Adhitia terdiam dan mengamati keadaan sekitar.
"Ada apa?" tanya Sara yang melihat kegelisahan Adhitia.
"Di sini tak ada CCTV tuan Sultan kan?" bisik Adhitia.
"Sepertinya tidak ada.", jawab Sara setelah memastikan.
"Ok, kalau begitu!". Adhitia langsung menarik lengan Sara dan memeluk pinggang Sara.
"Ada apa?" Sara heran melihat tatapan Adhitia kepadanya yang berbeda dari biasanya.
Adhitia sama sekali tidak tersenyum atau menjawab manis seperti biasanya. Bibirnya terkunci rapat dan alisnya mengkerut.
"Adhi? Kau kenapa?" Sara membelai pipi Adhitia dengan lembut namun tangannya bergetar karena cemas melihat ekspresi Adhitia.
Saat jemari halus Sara menyentuh wajahnya, seketika Adhitia memejamkan matanya yang berbayang. Pemuda itu lalu menumpukan kepalanya di kening Sara dengan napas terengah-engah.
"Kenapa aku tidak bisa marah padamu...kenapa aku selalu lemah saat melihat jauh ke dalam matamu.." lirihnya dengan suara berat dan parau.
Sara memeluk Adhitia lembut.
"Aku marah.. Aku cemburu saat senior berlari dan memeluk Malik. Aku pikir senior merindukannya...aku pikir..." Adhitia sesenggukan menahan rasa kecewanya.
"Maaf..Maafkan aku, Adhitia.." Sara merasa bersalah, ia segera menciumi wajah Adhitia bertubi-tubi sebagai bentuk rasa sayangnya yang telah dikasihi oleh pemuda berhati lembut seperti Adhitia.
TIINNGGG!!!
Lift berhenti bergerak. Pintu pun terbuka perlahan.
Sara melepaskan pelukan dan ciumannya dari Adhitia.
"Kenapa berhenti?" bisik Adhitia.
Sara hanya menjawab dengan lirikan matanya mengarah ke seorang pelayan hotel yang berjalan menuju lift.
Adhitia tersenyum nakal. Pria itu lalu mengangkat tubuh mungil Sara di pelukan dengan kedua tangannya, lalu berjalan ke arah kamar Sara.
"Apa yang kau lakukan?" Sara terkejut.
Adhitia hanya tersenyum tanpa menjawab.
"Permisi, nyonya Sara?" panggil pelayan hotel tadi.
"Iya?"
"Tuan Malik tadi...memintaku menaruh barangnya di kamar Anda. Maaf kalau aku salah ..." pelayan tadi melirik ke arah Adhitia.
"Oh!...tak masalah." sahut Sara.
"Kau boleh pergi!!" hardik Adhitia pada pelayan itu.
"Ng...tuan yang satu kamar Sir Sam, kan?" pelayan tadi belum mau beranjak.
Adhitia mengerti gelagatnya. Ia lalu memutar badannya dan menunjukkan saku celananya.
"Kau ambillah beberapa dari dalam saku..lalu pergilah yang jauh!!" geram Adhitia.
Tanpa ragu dan malu pelayan tadi segera merogoh dan mengambil beberapa lembar uang dolar dari saku Adhitia, lalu segera menghilang di dalam lift.
"Ingatannya bagus juga." puji Sara sambil tertawa kecil.
"Bagaimana dengan ingatanmu, senior? Apa kau masih ingat kalau kau telah membuatku sedih?" Raut wajah Adhitia seketika berubah menjadi lebih serius.
Pria itu membawa Sara ke kamarnya dalam pelukannya. Sara terdiam.
"Turunkan aku." pinta Sara pelan.
"Sorry ,senior!! Kali ini aku harus menghukummu!!"
Adhitia membawa Sara masuk dan segera mengunci kamar hotel.
Adhitia mendorong tubuh Sara perlahan ke dinding.
"Adhitia..." panggil Sara dengan lemah.
"Sssttt..." Adhitia menempelkan jari telunjuknya di bibir merah muda Sara.
Mata mereka beradu. Dan saling mengunci dalam pandangan. Perlahan ibu jari Adhitia menekan lembut bibir bagian bawah Sara. Sara membalasnya dengan gigitan kecil di jemari Adhitia.
Mendapat balasan baik dari Sara, Adhitia tersenyum dan memejamkan matanya. Meresapi sebuah rasa yang bergetar dari ujung jemari yang digigit Sara hingga menjalar cepat ke jantung dan seperti sebuah setrum yang mengguncang otaknya, sehingga akal pikirannya ikut terguncang.
Dengan penuh hasrat Adhitia memeluk erat Sara dan menciumi setiap inci lekukan tubuh gadis itu.
Sara terasa sesak dan sulit bernafas akibat menahan rasa yang membuat bulu kuduknya merinding.
"Adhi..tia.." suaranya tercekat.
"Belum...ini belum seberapa..." sahut Adhitia pelan tanpa menjauhkan bibirnya dari kulit mulus Sara.
"Jangan...aku belum siap!" Sara menepis lengan kekar Adhitia yang mulai menggerayangi bagian dadanya.
"Siap atau tidak, terimalah hukuman ini..."
Adhitia menciumi bibir Sara dengan penuh gairah, tanpa memberi jeda sampai-sampai Sara sulit mengambil nafas.
"Hh.mmmhh..mmhh.." . Sara mencoba menolaknya, namun tubuhnya meminta lebih.
"Senior, jadilah milikku.." bisikan Adhitia makin mengacaukan akal sehat Sara.
Tiba-tiba pintu kamarnya berbunyi.
TOK! TOK! TOK!
*****
****
***
**
*