PASSION

PASSION
59. Ledakan Besar



Malik mengetuk sebuah pintu kabin, tak lama kemudian keluarlah seorang pria berkulit gelap, berwajah sangar dan berbadan gempal.


"Ada apa?" tanyanya tak ramah.


Malik tidak menjawab, ia menatap pria itu dengan tatapan membunuh.


"Halo, bro! Maaf kami salah alamat!" Sam tiba-tiba menengahi mereka dengan wajah ceria dan lugunya.


"Siapa di sana Indeer?" terdengar suara tanya pria lain dari dalam kabin.


"Namamu Indeer? Namaku Sam. Senang berkenalan denganmu!" Sam menjabat tangan dan menggoyangkannya ke atas dan ke bawah dengan cepat lalu dengan sekali hentakan ia memelintir tangan pria yang badannya lebih besar dua kali darinya dan membantingnya hingga menimbulkan suara keras. Belum sempat pria itu bangun, Malik sudah memberi tendangan di tepat di wajah dengan kaki jenjangnya. Pria bertubuh gempal itu knock out.


Mendengar suara keras dari arah pintu, beberapa teman pria itu keluar dengan pistol siap di tangan. Melihat ramai pria yang keluar, membuat Malik mengangkat pistolnya pula dan mulai menembaki satu demi satu musuhnya tanpa ampun tepat di jantung dan kepala mereka. Seketika koridor di kapal itu dipenuhi gelimpangan mayat yang bersimbah darah.


Sam menepis tangan Malik yang hendak menembak sisa seorang lagi musuhnya hingga tembakannya meleset.


DORR!


Tembakan itu mengenai kaki pria tersisa tadi hingga berteriak kesakitan.


"Pilihanmu hanya 2, hidup atau mati. Kau mengerti?" Sam mendekati pria yang meringis memegangi luka tembak di kakinya. Pria itu mengangguk.


"Katakan dimana kalian menyekap nyonya Sara dari kota B?" tanya Sam.


"Maaf, aku tidak bisa mengatakannya." jawab pria itu pelan.


"Berarti kau memilih mati!" Emosi, Malik mengarahkan pistol ke arah kepala pria itu dan menarik pelatuk.


"Jangan!!!" pekik pria itu ketakutan, beringsut menjauh dari Malik.


Beruntung dia, peluru dalam pistol Malik habis, hingga ia tidak mati secepat itu.


"Sia**n!!" umpat Malik, membanting pistolnya lalu mendekati mayat yang tergeletak dan mengambil pistol-pistol mereka.


"Waktu kita kurang dari 10 menit lagi. Jika kau katakan, kau akan selamat dari kepolisian. Tapi jika tidak, kau akan mati meledak bersama kapal ini sebentar lagi!!" bisik Sam dengan nada mengerikan.


"Cepat katakan atau kepalamu meledak!!" bentak Malik, kembali mengarahkan pistol ke kepala pria tadi.


"Baiklah! Baiklah!" pekiknya ketakutan.


"Wanita itu ada di kabin ujung sana!" jari telunjuk pria itu bergetar menunjuk ke arah ujung koridor yang berjarak sekitar 20 meter dari tempat mereka berada.


Tanpa menunggu lagi, Malik segera berlari ke arah yang ditunjuk.


"Larilah selagi kau sempat! Jika aku masih melihatmu di sini, kau tidak akan selamat dari orang gila itu." ucap Sam pada pria yang masih terduduk dengan luka tembak menganga mengucurkan darah segar di kaki.


"Terima kasih, sir!" setelah mengucapkan terima kasih pria tadi berjalan dengan terpincang-pincang menjauh dari mereka untuk keluar dari kapal itu.


Sam berdiri dengan wajah cemas. Kecemasan bukan tanpa alasan. Melihat Malik berlari bagai kesetanan, mendobrak seluruh pintu kabin yang ada di sepanjang koridor dan menembaki siapa saja yang mencoba menghentikannya, itu bukanlah sifat Malik. Ia menghitung seluruh jumlah korban dari kegilaan sahabatnya, dan ia memutar otaknya untuk mengurus seluruhnya demi menutupi perbuatan kalap Malik yang berlindung atas dasar cinta. Bagaimanapun juga membunuh tetaplah suatu tindakan kriminal. Dan di Maldives terkenal dengan kedamaian, tanpa ada catatan tindak kriminalitas. Jika dunia mengetahui kejadian ini, nama kepolisian Maldives akan tercoreng dan menjadi bahan olokan dunia.


Sam mengejar Malik, sebelum korbannya bertambah banyak.


"Malik!! Hentikan!!" Sam menahan tangan Malik yang mengarahkan senjata ke kepala salah seorang pria yang menghalanginya mendobrak pintu kabin terdekat.


"Dimana wanita itu?!" tanya Sam pada pria yang berdiri gemetaran menghadapi pistol Malik yang mengarah tepat di dahinya. Terlalu takut, bahkan pria itu tidak bisa berkata-kata dengan jelas.


"Ggg-gg-- g..." ucapnya gagu.


"Tidak cukup waktu kita untuk bermain-main! Kapal ini bisa meledak kapan saja!!" teriak Malik kesal pada Sam.


Setelah mulutnya tertutup, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras dari arah galangan kapal hingga hingga menimbulkan guncangan hebat.


Sam dan Malik saling pandang dengan gelisah.


"Jika aku mati di sini, aku akan menjadi arwah jahat untuk menghantuimu dan ayahmu!!!" gerutu Sam kesal seraya melanjutkan aksi mendobrak setiap pintu kabin yang masih tertutup.


"Jika kau mati duluan, aku yang akan mengurus resortmu di sini!" sahut Malik, dalam keadaan genting masih sempat melontarkan candaan, melakukan aksi yang sama seperti Sam.


"Kalau begitu, aku tak akan mati sekarang!! Sia**n!!!" umpat Sam dengan senyum menyeringai.


Sam berdiri di depan pintu kabin paling ujung sementara Malik masih sibuk mendobrak pintu-pintu lain sebelumnya. Tangannya memegang gagang pintu dan mendorongnya. Pintu itu sama sekali tidak terkunci.


Wajah Sam seketika pucat pasi melihat isi kabin itu. Kabin itu adalah kamar yang sama seperti dalam video yang baru tersebar di situs jejaring sosial internasional. Ia juga melihat Sara terbaring di atas ranjang bersama Adhitia nyaris tanpa busana.


Sam mendatangi mereka dan menarik Adhitia hingga terjatuh dari ranjang.


"Kami sibuk mencari kalian, tapi kalian malah berbulan madu di sini!!" ucapnya kesal.


Adhitia membetulkan letak kacamatanya.


"Apa yang terjadi?!" tanya Adhitia, masih dalam keadaan lelah dan mengantuk.


"Cepat pakai bajumu! Kapal ini meledak!!" Sam melempar pakaian Adhitia ke arah pemuda itu sembarangan sambil mencari pakaian Sara.


"Apa?!!" Adhitia terkejut bukan kepalang.


Sesaat kemudian terdengar lagi ledakan yang lebih besar hingga guncangannya membuat Sam terhuyung.


"Kami disuntik obat perangsang!" ucap Adhitia seraya menunduk.


"Astaga!! Cepat pakai bajumu dan kita keluar dari sini segera!!"


"Aku pakaikan baju senior dulu." Adhitia bergegas memakai celananya lalu memakaikan gaun Sara ke tubuh Sara yang berbalut selimut.


Sam berlari ke luar pintu untuk melihat keberadaan Malik, ia berjaga di pintu agar Malik tidak melihat kebersamaan Adhitia dan Sara yang telah bersatu malam itu.


Dilihatnya Malik masih sibuk membuka pintu-pintu kabin lain, tak peduli asap mulai melayang di sekitar koridor.


Sam berbalik dan menoleh ke arah Adhitia yang telah selesai memakaikan gaun ke Sara.


"Jangan lupa pakai pakaianmu juga!" perintah Sam pada Adhitia. Pemuda itu menurutinya.


Sam mendekati Sara, berniat membawa gadis itu keluar kabin terlebih dahulu. Namun ia ragu setelah melihat tanda kiss mark bertebaran di leher, pundak, dan dada gadis yang tak sadarkan diri itu.


"Astaga! Berapa dosis yang mereka berikan padamu?!" desisnya iba.


Menyingkirkan pikiran kotor dari benaknya, Sam segera mengangkat tubuh Sara dan membawanya keluar sebelum Adhitia selesai memakai pakaiannya.


"Malik!! Sara di sini!!" panggil Sam kepada Malik.


Serta merta Malik menoleh dan tersenyum tertahan saat melihat Sara dalam gendongan Sam. Pria itu mendekat dan meraih tubuh Sara, berpindah ke pelukannya.


"Sara! Sara, bangun!! Hey, ratu kera gila!! Apa yang terjadi padamu?!" panggil Malik sambil menepuk pipi Sara.


Perlahan Sara membuka matanya yang berat.


"M-Malik?!" desisnya.


Lagi, terdengar dentuman keras. Kali ini suaranya memekakkan telinga Sam dan Malik. Asap hitam tebal keluar dari arah kabin tempat Adhitia berada.


"Adhitia!!" seru Sam, berbalik dan berlari menuju kabin itu kembali.


"Adhitia?!" Sara dan Malik bergumam bersamaan.


"Adhi!! Adhi dimana?!" dalam keadaan lemah dan setengah sadar, Sara mencoba berdiri dan melangkah kembali ke kabin.


Melihat Sara yang begitu peduli pada Adhitia, tidak menghiraukan asap tebal dan suara gemeretak percikan api yang mulai membakar bagian-bagian kapal, hati Malik bagai dijatuhi jangkar kapal pesiar, menyesakkan!


Saat Sara sampai di depan pintu kabin, ia berteriak histeris meneriakkan nama pemuda itu. Adhitia tergeletak dengan kepala berdarah karena tertimpa bagian langit-langit kabin dan kacamatanya refak terjatuh tak jauh dari tubuhnya yang tertelungkup tak sadarkan diri.


"ADHITIA!!!" Sara berlari mendekatinya walau terhuyung-huyung.


Sebuah plafon kabin yang telah terbakar hampir saja menimpanya jika Malik tidak meraih pinggang dan memeluknya hingga mundur.


"Adhi...!!!" jerit pilu gadis itu, mencoba menggapai bayang kekasihnya yang terbaring sekarat.


"Sam!! Sam, dimana kau!!" teriak Malik memanggil sahabatnya.


"Aku di sini!!" sahut Sam dengan terbatuk-batuk dalam keadaan terduduk. Rupanya ia terkena reruntuhan plafon kabin. Namun ia masih bisa berdiri.


"Kau bawa Sara keluar dari sini! Biar aku yang membawa Adhitia nanti!!!" putus Sam.


Malik menurutinya. Ia membawa Sara yang kembali tak sadarkan diri di pundaknya sambil berlari keluar dari kapal, melewati pekatnya asap yang berbau cat dan plastik terbakar dan api yang menjalar di sana-sini.


Di geladak kapal, ramai orang-orang panik berlarian mencoba menyelamatkan diri, bahkan ada yang nekat menceburkan diri ke lautan karena tidak kebagian sekoci penyelamat.


"Tuan Malik?!"


Mendengar namanya disebut, Malik segera menoleh.


"Sir Sam menyuruhku membawa Anda pergi dari sini." ucap seorang pria agak tua, bertubuh kecil dan berkulit hitam.


Tanpa bertanya lagi, Malik mengikuti langkah cepat pria itu menuju perahu penyelamat mereka. Dengan hati-hati Malik meletakkan tubuh Sara di atas perahu karet itu dan duduk di sebelahnya.


"Kita tidak menunggu Sam?" tanya Malik bingung karena pria setengah tua itu melepaskan pemberat kapal dan mulai memasang mesin untuk mempercepat jalannya perahu yang mereka tumpangi


"Jangan khawatir! Inspektur Nanda sudah mengirim bantuan untuk Sir Sam, walaupun sebenarnya itu tidak perlu!" jawab pria itu dengan entengnya, namun wajahnya tidak menunjukkan ketenangan sama sekali.


Malik terdiam. Ia berat harus meninggalkan Sam dan Adhitia di sana. Namun ia juga tidak bisa tenang jika ia membiarkan Sara dalam keadaan tak terlindungi.


Mata tajamnya kini redup dan sayu menatap kapal besar yang setengahnya habis dilalap api. Ia duduk dengan kedua kaki tertekuk di depan dada dan kepala menunduk. Ia tidak berani berpikir apalagi membayangkan apa yang akan terjadi jika Sam dan Adhitia terlambat keluar dari sana.


*****


****


***


BERSAMBUNG...



...ADHITIA...