
Sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap dengan plat unik khusus dipesan dengan nomor yang memiliki arti khusus bagi pemiliknya, melaju dengan kecepatan rata-rata di jalan utama kota B yang tidak terlalu ramai kala sore itu. Dan di dalam mobil itu ada ayahnya Sara.
Seorang pria dewasa paruh baya dengan pakaian formal dan tatanan rambut klimis. Walaupun di dagunya ditumbuhi rambut tipis berwarna putih, tapi tidak mengurangi ketampanan dan wibawanya. Dialah Sultan, pengusaha kaya raya pemilik mobil hitam tadi...bukan ayah Sara!
Ayah Sara duduk di depan tuan Sultan, memegang setir dan menemani kemanapun tuan Sultan pergi. Benar, ayah Sara hanyalah seorang supir pribadi tuan Sultan. Seorang pria berusia 50 tahunan dengan perawakan tinggi sedang, dengan wajah bersih dan sedikit kerutan halus di kening.
"Ada apa, Imran? Apa kau sakit?", suara berat nan berwibawa memanggil nama ayahnya Sara.
"Oh, saya sehat, Tuan. Apa aku berbuat kesalahan?", Imran segera menyadari kesalahannya karena tidak fokus membawa kendaraan dan tuannya.
"Tidak ada. Cuma seingatku aku tidak meminta buru-buru pulang sehingga kau harus menyalip 4 mobil di belakang.", tuan Malik memberi kritik dengan cara yang halus bahkan sambil tersenyum.
"Saya...saya minta maaf, tuan." ucap Imran dengan cepat karena gugup.
"Baiklah. Kita menepi di coffee shop yang ada di depan ya." Sultan menyadari adanya masalah dengan pekerjanya, dan dia ingin mengetahui hal itu.
"Aku ingin minum kopi di situ. Temani aku, ya" perintahnya.
"Baiklah, tuan"
**
Di Coffee Shop,
Sultan duduk berhadapan dengan Imran. Tampak jelas di mata Sultan kalau Imran sedang mengalami masalah serius. Pekerja yang biasanya berwajah ceria, suka bercanda, dan ramah itu saat ini duduk meringkuk seperti orang gugup yang pasrah akan menerima hukuman, banyak menunduk seperti menyembunyikan wajah. Bahkan kopi yg sudah tersuguh dari tadi tidak disentuhnya.
"Bagaimana kabar keluargamu?" Sultan membuka obrolan sembari mengangkat gelas kopinya dan menyeruput pelan.
"Mereka baik dan sehat, tuan", Imran menjawab namun tak berani menghadapi wajah tuannya itu.
"Rena sekarang duduk di tingkat 2 sekolah menengah atas, dan Sara telah lulus sekolah 2 tahun lalu." lanjut Imran.
"Wah, mereka sudah besar ya." tanggap Sultan
"Bukankah Sara yang dulu selalu membantuku mencukur janggut dan kumisku?". Tuan Sultan mencoba mengingat sambil memegangi janggut tipis yang memutih.
Imran tertawa, rasa gugupnya perlahan berkurang
"Hahaha, Tuan Sultan, Anda masih ingat itu. Benar, Sara yg biasa merapikan dan mencukur janggutku, sampai saat ini pun masih begitu."
Tuan Sultan mengangkat kedua alisnya, menunjukkan kekaguman
"Benarkah? Dia gadis yang sangat perhatian ya."
"Terima kasih pujiannya,Tuan". Imran tersipu
"Lalu, dia kuliah dimana?", tanya Sultan.
"Ng...itu...", Imran kembali menunduk
"Kami tidak punya uang untuk menguliahkannya. Saat ini Sara berusaha mencari kerja untuk bisa menabung dan berkuliah. Tapi...sampai sekarang dia belum mendapat kerja yang mapan", cerita Imran.
"Untuk mendaftarkan Rena sekolah tahun lalu kami menggadaikan rumah pada rentenir. Namun sudah 3 bulan ini kami menunggak tagihannya. Kami hanya mampu membayar bunga karena keperluan sekolah Rena kian bertambah." Imran lanjut bercerita.
Sultan mengubah posisi duduknya karena terkejut!
"Jika akhir bulan ini kami tidak membayar tunggakan, rentenir itu akan mengambil rumah kami atau dia akan menikahi salah satu putriku."
"Jadi itu masalahmu..", Sultan mengangguk-angguk pelan, berhasil menangkap permasalahan pekerja polosnya itu.
Giliran Imran yang terkejut. Dia termakan pancingan Sultan untuk mencurahkan isi hatinya.
"Tuan..Tuan itu masalah rumah tanggaku. Maaf, bukan aku ingin menambah masalah tuan....Anggap saja aku tidak bicara apapun..aku.."
"Imran, hubungan kita bukan sekedar Tuan dan pekerja. Kau sudah seperti sahabatku.". Sultan memotong racauan Imran.
"Kau sudah lama bekerja bersamaku. Kau juga yg banyak membantuku saat aku terpuruk dan hancur di awal-awal kematian istriku."
"Seharusnya kau bilang padaku saat Sara butuh pekerjaan, dia bisa bekerja di perusahaan." Ada nada kecewa di suara Sultan.
"Kau juga seharusnya bilang padaku saat butuh uang lebih untuk sekolah Rena. Kenapa kau malah meminjam pada rentenir dan tidak memperhitungkan ku? Apakah uangku tidak lebih banyak dari rentenir itu?"
"Tuan, itu...", Imran tak sanggup meneruskan kalimatnya karena sangat malu.
"Berapa total hutangmu dan tunggakannya pada rentenir itu?"
"Tuan, itu...sekitar 20 juta lagi" jawab Imran pelan.
Sultan mengeluarkan pena dan buku cek dari saku jasnya. Ia menulis sejumlah angka berbaris rapi di kertas cek itu.
"Ini kau cairkan besok pagi. Bayarkan pada rentenir itu semua sisa hutangmu. Dan jangan sampai ada sisa." Sultan menyerahkan kertas bernilai itu pada Imran.
"Tuan, ini......terima kasih banyak.." Imran menerima cek itu dengan mata berkaca-kaca.
Sultan tertawa renyah melihat kelakuan pria di depannya itu.
"Berhentilah memanggilku dengan 'Tuan ini-Tuan itu'. Seperti orang bodoh saja."
"Baik, Tuan!" Imran menjawab dengan bersemangat sambil mengusap genangan air yg hampir tumpah dari matanya.
"Lagipula aku takkan rela jika calon menantuku harus menikahi rentenir karena terlilit hutang." Sultan bergumam dengan sangat pelan, nyaris tak terdengar hingga membuat Imran penasaran dan penuh tanda tanya
"Tuan, itu..."
*****
Sara