PASSION

PASSION
44. Berbikini



"Maaf!!! Maaf, Sir!" ucap Sam gelagapan dengan wajah dan mata yang merah efek dari minuman keras yang ia teguk dan keringat yang bercucuran karena ternyata pria yang menghampirinya dengan tatapan kesal itu bertubuh kekar dan tinggi besar.


"Siapa kau!!" tanya pria itu sangar.


"Aku salah kamar!! Sungguh!!" Sam mengatur langkah mundur hendak keluar dari kamar itu.


"Hugh..Dasar pemabuk!!" Pria bertubuh kekar itu mendengus keras saat mencium bau alkohol yang sangat kuat dari Sam


Keributan yang terjadi di tengah malam itu membuat beberapa penghuni kamar hotel lain membuka pintu dan melihat kejadian apa yang berlangsung, termasuk Luna.


Saat Sara membuka pintu kamarnya, Sam baru tersadar kalau dia telah melewatkan satu pintu. Sara lalu diam-diam mengarahkan kamera ponselnya ke arah Sam.


"Ada apa ini?" seorang pelayan hotel menghampiri mereka.


"Aku tidak mau tahu!! Aku ingin orang ini dijauhkan dari kamarku!!" tegas pria bertubuh kekar itu.


"Sir Sam?! Anda di sini?!" pelayan hotel itu mengenali Sam.


Sam tidak menjawab. Dia hanya tertunduk malu sambil menggaruk-garuk kepala bagian belakangnya sambil menunjuk ke arah pintu kamar hotel yang hancur karena tendangannya.


"Ya ampun! Pintunya...." desis pelayan itu.


"Itu perbuatan pemabuk ini! Dia yang akan menggantinya!" jelas pria kekar tadi.


"Maaf, Sir. Bagaimana kalau anda kami pindahkan ke kamar lain? Yang lebih tenang dan lebih indah pemandangan luarnya dari yang di sini?" pelayan tadi menawarkan kompensasi yang cukup menggiurkan.


"Terserah!!!! Yang pasti aku tak mau melihat wajah pemabuk ini lagi!" Pria kekar itu kembali menegaskan.


"Terima kasih, Sir! Saya akan bicarakan dengan manajer hotel segera." ucap pelayan itu.


Sara kembali menutup pintu kamarnya dan menatap layar ponselnya.


"Kenapa kau masuk? Aku ingin melihat wajah Sam saat ini!!" terdengar gelak tawa suara Malik dari layar ponselnya.


"Temanmu konyol!" gumam Sara.


"Dia tidak lebih konyol darimu!! Hahahaha..." tawa Malik makin menjadi.


"Puas?!" tanya Sara sinis.


"Aku puas karena kau sendirian di kamarmu malam ini." jawab Malik, mengatur kembali nafasnya.


"Maksudmu?" Sara tidak mengerti.


"Kupikir...kau dan...Adhitia...." Malik tidak meneruskan kalimatnya.


Sara mengerutkan bibir dan dan keningnya. Dengan segera ia mengakhiri panggilan video Malik.


"Cabul!!" umpat Sara kesal. Tidur malamnya kali ini benar-benar rusak. Malik dua kali menelepon dan mengganggunya.


***


Sam melangkah gontai memasuki kamarnya. Ia tidak melihat Adhitia di dalam.


"Dimana anak si***n itu.." ,desisnya.


Tak lama kemudian Adhitia keluar dari kamar.mandi. Ia terkejut melihat Sam yang sudah tiba di kamar.


"Kenapa wajahmu lusuh begitu?" tanya Adhitia.


"Kau dari kamar mandi?" Sam malah berbalik tanya.


"Yaaahh...aku tak mau tidur dengan pakaian bau alkohol!" Adhitia bersiap tidur di kasurnya yang empuk.


"Kau sudah mengecek nyonyamu? Apa kau dengar keributan di luar?" tanya Sam.


Adhitia kembali berdiri dengan sigap.


"Keributan apa? Sebelum masuk kamar aku sudah pastikan seniorku baik-baik saja" gumam Adhitia yang langsung berjalan menuju pintu.


Adhitia melihat penghuni kamar sebelah kamar Sara berpindah kamar ditemani seorang pelayan yang membawakan tas besar mereka.


"Awas kalau aku bertemu lagi dengan pria tadi!!" terdengar keras suara keluhan dari pria bertubuh kekar itu.


"Kenapa mereka pindah?" tanya Adhitia pada Sam sambil menutup pintu kamar mereka kembali.


"Entahlah!! Aku lelah!!".


Sam menolak menjawab. Ditutupinya wajahnya dengan selimut agar terhindar dari pertanyaan-pertanyaan tambahan yang mungkin bisa dilanjutkan oleh Adhitia.


*****


Sam, Adhitia, dan Luna sudah bersiap di tepian pantai dengan pakaian renang mereka. Sementara Sara mengenakan kemeja putih dan celana jeans di atas lutut.


"Bukannya kita dilarang berbikini dan berpakaian terbuka?" tanya Sara polos pada Adhitia.


"Siapa bilang?" Sam memotong sebelum Adhitia memberi jawaban. Pemuda itu terus memaksakan pendekatan kepada Sara.


"Malik! Malik bilang negara ini berkeyakinan muslim yang ketat." jawab Sara.


"Memang! Tapi saat ini kita di Bikini Beach. Kita boleh berpakaian bebas di sini. Cepat gantilah pakaianmu!" ucap Sam dengan nada setengah memerintah.


"Aku tidak membawanya." kata Sara pelan.


Sam melirik ke arah Luna.


"Apa? Kau tak lihat ukuran tubuh kami berbeda?!" hardik Luna yang mengerti maksud dari lirikan Sam yang mengisyaratkan untuk meminjamkan bikininya yang lain untuk Sara.


Luna berperawakan tinggi, berdada besar dan pinggang yang tinggi dan berkaki jenjang, bak postur tubuh model-model internasional. Berbeda dengan tubuh Sara yang tingginya tidak sampai 160cm, walau bentuk tubuhnya juga bisa dibilang proporsional.


"Kita beli di sana." ajak Adhitia sambil menunjuk ke arah sebuah toko perlengkapan berenang dan peralatan wisata air yang terletak berdekatan dengan hotel mereka.


Sara lalu menggandeng tangan Adhitia menuju toko tersebut.


"Kau terlihat sangat cuek dibanding cemburu." ucap Sam pada Luna.


"Maksudmu?"


"Jika aku jadi kau, akan kulakukan apapun untuk merebut Malik dari Sara sesegera mungkin. Seperti saat ini, Sara berjalan dengan Adhitia dengan menggenggam tangan mesra, kau bisa foto dan kirim ke Malik. Malik pasti akan menceraikan Sara. Simple, bukan?"


Luna tersenyum sinis.


"Dia bercerita semuanya padaku...tapi...apa benar menunggu setahun itu tidak lama? Mengapa tidak kita percepat saja prosesnya? Membayangkan pria yang kau cintai tidur satu kamar dengan wanita lain selama setahun...apa yang bisa terjadi " Sam memancing emosi Luna.


"That's not a big deal." jawab Luna setelah lama berpikir.


Sam mengangguk-angguk.


Luna menghela napasnya.


"Jangan bilang kalau kau juga suka pada gadis bersahaja itu. You have no chance!!" kata Luna pada Sam.


Sam mengerutkan keningnya.


"Kenapa? Aku punya kesempatan untuk tahun depan kan?" tanyanya.


"Kau tak lihat bodyguard-nya? Dari awal hingga akhir nanti, gadis itu miliknya." ucap Luna dengan nada menekankan.


"Cck...dia cuma pemuda biasa yang sedang kasmaran sesaat. Dia mendekati Sara cuma karena pekerjaannya, kan? Saat Sara tidak lagi menjadi nyonya mudanya, ia kan mengabdi ke nyonya baru." Sam meremehkan Adhitia.


Luna menatapnya tajam.


"Kau tidak tau siapa dia! Jadi jangan memandangnya sebelah mata. Turuti saja ucapan Malik!" ucap Luna pelan namun tegas


Sam semakin penasaran.


"Kau tau...siapa dia??" tanyanya.


Luna menolehkan pandangannya ke arah berlawanan.


"Jika boleh memilih, aku akan memilih untuk tidak mengenalnya." Lirih Luna pelan.


Sam terdiam sesaat, lalu tersenyum.


"Jika boleh memilih, aku akan memilih kau." Sam berkata lirih, serupa dengan kalimat Luna.


Luna segera menoleh ke arahnya.


"Kenapa?! Apa aku tak boleh memilih?!" Sam bertanya dan mendekati Luna.


"Jika bermimpi menatap rembulan, jangan di siang hari." ungkap Luna.


"Jika aku bermimpi menatap bulan di siang hari, akan kudatangi belahan dunia lain yang sedang diterangi cahaya rembulan itu." sahut Sam dengan suara pelan dan berat, karena wajah mereka sudah sangat dekat.


Luna terdiam. Wajahnya merah karena tersipu. Selama ini Malik tidak pernah berkata manis seperti yang ia dengar barusan. Jantungnya mulai berdetak tak karuan saat Sam makin mendekatkan wajahnya ke wajah dia.


"Jaga jarakmu!" Luna ingin berteriak seperti itu, tapi nada yang keluar dari bibir merah mudanya malah bisikan pelan dengan napas tersengal.


"Jarak yang mana?" Sam berbisik semakin perlahan. Membuat bulu kuduk Luna merinding.


"Woooaaahh...Romeo!!! Sedang apa kau?!!".


Tiba-tiba Adhitia datang dan menarik Sam agar menjauhi Luna.


Sara tertawa saat melihat wajah Sam berubah masam dan tertunduk lesu.


Luna menutup mulutnya dengan satu tangannya, dan membuang muka.


"Apa kau tak malu menggombali pacar sahabatmu?!" tanya Sara yang tampaknya mulai membukakan diri dengan Sam.


"Apa kau tak malu terus menempel dengan istri orang lain?!" Sam malah membalas pertanyaan Sara kepada Adhitia.


"Aku rasa dia masih terpengaruh sisa alkohol semalam." geram Adhitia mengepalkan tangannya yang gatal karena ingin membungkam mulut Sam.


"Ayolah, aku ingin memberi makan hiu sekarang!" teriak Sara girang tak tertahan.


"Hiu?" Sam dan Luna bertanya bersamaan.


"Bukannya kita akan ber-jet ski sekarang?" Sam bingung.


"Aku tak mau naik jet ski. Aku ingin melihat hiu dari dekat!" jawab Sara dengan mata berbinar bulat dan raut wajah bersemangat seperti wajah anak kecil yang ingin melihat hewan langka di kebun binatang.


"Tidak bisa!! Aku sudah menyewa jet ski untuk kita!" Sam tidak mau mengalah.


"Paman, tolonglah..." pinta Sara manja.


Luna tertawa kecil saat Sara memanggil Sam dengan sebutan Paman.


"Apa maksudmu dengan 'Paman'??" Sam tersinggung.


"Di sini adalah negaraku, jadi kalian harus menurutiku!! Jika kubilang kita jet ski, maka kita akan ber-jet ski. Jika kubilang kano, maka kita akan ber-kano." tegas Sam kemudian.


"Kano??!!" tanya Sara.


"Iya, kano!"


"Horee, kita akan ber-kano!!" teriak Sara senang lalu berlari ke arah penyewaan perahu kano.


"Apa?! Hey?!!" Sam tidak mengerti.


Adhitia mengikuti langkah Sara sambil berlari kecil.


"Mau kemana mereka?!" tanya Sam pada Luna yang juga hendak menuju tempat penyewaan kano.


"Kau yang bilang kita akan ber-kano." jawab Luna cuek.


"Kapan?! Astaga!!!" Sam berteriak kesal.


*****


****


***


**


*


SAM