PASSION

PASSION
10. Malam Pertama Unduhan



Malik menutup matanya dari sosok Sara yang berjalan menghampirinya sambil tersenyum. Dalam benaknya Sara berjalan melenggak-lenggok dan tersenyum genit padanya, lalu jari-jemari lentik nan ramping menyentuh dada bidangnya dan membuka kancing kemejanya satu persatu.


Dilenyapkan pikiran-pikiran nakalnya karena itu hanya imajinasi.


"Enyahlah!!! Akal sehat, kembalilah!!". Dengan sekali perintah, seketika otaknya pun menurutinya.


"Kamar mandimu besar sekali. Lebih besar dari kamar tidurku di rumah." ujar Sara yang kagum dengan kamar mandinya.


Malik tersenyum melihat kepolosan Sara.


"Aku harus memanggilmu siapa?" tanya Malik.


"Sara. Boleh aku memanggilmu Malik saja?"


"Tentu.". sahut Malik.


"Aku akan ke kamar mandi. Kau bisa istirahat duluan." sambungnya.


'Tunggu..aku tidur dimana?" Sara bertanya lagi.


"Tentu di ranjang! Apa kamu mau bertukar tempat, aku yang di ranjang dan kau tidur di sofa?"Malik mulai kesal dengan banyaknya pertanyaan Sara.


Sara menyengir,


"Hehe...tidak! Terima kasih, kau benar-benar gentleman sejati."


Malik terkejut dengan ucapan Sara. Ia sadar kalau ia tidak se-gentle itu.


"Jangan mudah memberi pujian pada seorang pria yang baru kau kenal sesaat. Atau kau akan dalam masalah serius." Malik berpesan tanpa menatap Sara dan membalikkan badannya.


"Tunggu!!" Sara mencegahnya.


"Apalagi???!!", Malik berbalik lagi, menahan emosinya karena ia mulai merasa kalau gadis ini ternyata sangat bawel.


"Apa kau...akan minum susu itu di kamar mandi?" Sara menunjuk gelas yang dibawa Malik seraya bergidik. Seseorang minum di dalam kamar mandi...iiihhh, jorok!!, pikir Sara.


"Kau ini!!! Ini bukan susu! Ini racun yang diberikan Dad. Aku akan membuangnya di toilet.!" Malik benar-benar kesal.


"Racun? Aku tidak percaya tuan Sultan memberi racun untukmu" debat Sara.


"Menurut kesepakatan, ini termasuk urusan pribadiku.". Malik menyahut dengan sedikit kasar karena sudah lelah menanggapi celotehan Sara.


"Benarkah?"


Malik menatap Sara dengan sorotan mata tajam dan mengeram geram, seperti seekor harimau yang kesal karena diusik seorang bocah Tarzan nakal.


"Baiklah, tuan muda. Aku akan istirahat saja." Sara begitu lemah dan langsung menuruti Malik setiap kali Malik menatapnya seperti itu.


***


Beberapa jam kemudian, sesaat sebelum tengah malam, saat Sara tengah larut dalam buaian mimpi indahnya di atas ranjang super empuk, terdengar suara-suara aneh yang mengusik telinganya.


"Suara ini.." Sara membuka matanya. Ia ingat pernah mendengar suara aneh itu, mirip suara desahan saat ia tidak sengaja melihat ayahnya menggauli ibunya. Wajah Sara langsung berubah menjadi merah padam. Suara itu dekat sekali dengannya. Sontak ia bangun dan berteriak,


"Malik!! Apa yang kau...!!" belum selesai Sara marah, Malik dengan cepat membekap mulutnya


"Sssttt", Malik meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.


"Lihat itu." Malik menunjuk ke arah suara aneh itu. Suara panas itu berasal dari laptop yang menyala di dekat ranjang.


"Dad sedang mengawasi kita. Kita harus berpura-pura kalau malam ini adalah malam pertama kita. Paham?" Malik berbisik, menjelaskan maksudnya membuka video adegan panas itu


Sara mengangguk pelan.


Malik melepaskan tangannya dari mulut Sara.


"Kau ingat minuman yang kubilang racun tadi, Dad sudah mencampurnya dengan aprodisiac. Jika tidak kubuang, maka malam ini benar-benar akan menjadi malam pengantin kita." Malik melanjutkan penjelasannya.


Lama mereka menahan nafas akibat suara-suara aneh yang membuat panas telinga dan darah mereka. Keduanya malu untuk saling melihat, apalagi melihat ke arah laptop.


"Take it, baby!!! Aarghhh..."


"Aaaahhh...."


Sara tak tahan lagi mendengarnya. Ditutupnya kepala dan telinganya dengan bantal. Malik pun menutupi mukanya yang merahnya sudah sama dengan kepiting rebus dengan sebelah tangan.


Lalu suasana berubah hening. Video di laptop tidak berjalan lagi. Malik segera mematikan laptopnya itu.


"Cabul!! Lain kali sebelum download, pilih wanita yang tidak banyak suara!!"


"Apa masalahmu?' Malik tidak terima dilempar dengan bantal dengan begitu keras hingga laptop yang ia pegang hampir terjatuh.


"Tentu saja jadi masalahku. Tadi aku terdengar sangat memalukan." protes Sara.


"Baiklah, lain kali kau yang memilih videonya sendiri." ucap Malik.


"No way!! Aku bisa rusak jika menonton video seperti tadi lagi."


Malik terdiam.


"Jangan bilang kau belum pernah melakukan itu." pancing Malik.


"Tentu saja belum! Aku adalah gadis yang menjaga kehormatan keluargaku. Aku hanya akan melakukannya bersama Mr. Right ku.. Suami sah ku " Sara mengoceh panjang lebar.


Sara kembali berbaring di kasurnya.


"Mungkin terdengar kolot, tapi aku tidak seperti kalian yang tinggal di LN, berganti pasangan sesuka hati dan melakukannya hanya karena rasa suka sesaat." lanjut Sara.


Malik mendekat dan duduk di lantai, di sebelah ranjang tempat Sara berbaring.


" Aku hanya melakukannya dengan satu wanita. Dia Luna, pacarku." Malik mengakui separuh kebenaran dari ucapan Sara.


Sara menoleh dan menatapnya tajam.


"Itu terjadi 3 bulan lalu, saat aku mabuk berat, aku lepas kendali. Dan itu adalah first time baginya.". Malik bercerita dengan nada penyesalan.


"Astaga! Maka kau harus bertanggungjawab padanya.," tanggap Sara pada cerita Malik.


"Aku memang ingin menikahinya. Tapi saat aku bicara pada Dad, aku malah dinikahkan denganmu."


"Apa dia patah hati?" Sara bersimpati pada kisah Cinta Malik.


Malik meliriknya, "Menurutmu??", ia balik bertanya.


"Kau pacarnya! Kau yang tahu sifatnya. Kalaupun dia patah hati kau harus berusaha mendapatkan hatinya kembali. Dia sangat berharga bagimu, kan?". Sara meyakinkan Malik.


Malik tidak menjawab.


"Kau ceritakan semuanya. Yang sebenarnya, kalau tidak terjadi apa-apa antara kita. Tidak ada perasaan suka satu sama lain." lanjut Sara. Malik tersenyum simpul.


"Benarkah? Kau tidak menyukaiku?" tanya Malik.


"Tidak!" , jawab Sara tegas.


Malik mendekatkan wajahnya ke arah Saran


"Kau yakin?Lalu kenapa kau begitu terpesona melihatku kali pertama siang tadi?" Malik menggodanya.


Sara gugup karena perasaannya terbaca oleh Malik.


"Baiklah, kau memang keren! Tapi aku sudah menyimpan nama pemuda lain di hatiku." , Sara mengakui perasaannya.


"Pacarmu?"Malik penasaran.


"Sudah larut malam. Aku ingin kembali tidur. Kalau kau masih ingin ngobrol, telepon saja Lunamu." Sara berbalik dari Malik dan menutupi kepalanya dengan bantal besar.


"Ck....Kera cerewet ini sudah berani memerintahku.". Malik mendengus.


Malik mengambil ponselnya dan pindah ke sofanya. Ia mencoba menghubungi Luna tapi panggilannya selalu ditolak. Akhirnya ia mengirim pesan teks pada Luna.


Sara membatin dalam hatinya,


"Dia punya Luna yang sangat ia sayangi. Dan aku punya Adhitia yang selalu ada di pikiranku. Ya Tuhan, kenapa Kau menyatukan kami? Ada banyak hati yang terluka karena pernikahan ini".


Sara memejamkan matanya perlahan.


"Dan,Tuhan...jangan hukum kami berdua karena menjadikan pernikahan ini sebagai kesepakatan. Kami hanya... tidak saling mencintai."


*****