One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 8. Pesta resepsi



...πŸ€πŸ€πŸ€...


Entah apa yang dipikirkan oleh Xander, ia memagut bibir Zeevana dengan pelan didepan semua orang disana. Memang sah-sah saja, sebab kini ia telah menjadi suami dari keponakannya itu.


'Kenapa aku tidak merasakan apapun? Tenanglah Xander, kau baru saja menikah...tentu belum ada rasa seperti itu' batin Xander setelah mencium bibir Zeevana. Ia tidak merasakan apapun saat mencium gadis itu, masih datar. Berbeda saat ia mencium Tessa, terasa menggebu dan tidak datar begini.


Lain halnya dengan Xander yang tidak merasakan apa-apa, tampaknya Zeevana merasakan hal yang berbeda barusan. Pagutan lembut dari suaminya, membuat jantung Zeevana seperti tersengat listrik dengan daya ribuan volt.


Setelah upacara pernikahan itu selesai, semua orang bertepuk tangan dan mengucapkan selamat pada Xander dan juga Zeevana. Namun tidak ada raut wajah bahagia pada diri Savana, ia masih tidak terima putrinya menikah muda sama seperti dirinya dulu.


Putri kesayangannya menikah muda dengan Xander, pria yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri. Rasanya tidak masuk akal. Savana juga masih menyimpan rasa marah pada Xander yang sudah memperkosa Zeevana.


Malamnya di acara resepsi pernikahan Xander dan Zeevana. Banyak dari para tamu yang membicarakan hubungan Xander dan Zeevana. Namun saat Javier mengatakan status Xander yang sebenarnya, mereka tidak bicara banyak tentang Zeevana dan Xander lagi.


"Baby girl, kenapa dari tadi wajahmu begitu?" Javier mengambil tempat duduk tepat disamping istrinya yang sedari hanya diam saja tak menikmati pesta.


"Kau sudah tau, kenapa kau bertanya? Ah... apapun yang aku katakan sepertinya tidak penting untukmu." ketus Savana seraya memutar bola matanya dengan malas. Secara masih merajuk karena suaminya kekeh menikahkan Zeevana dengan Xander. Sedangkan Savana merasa tak yakin dengan Xander, bahwa pria itu akan membahagiakan anak mereka yang polos dan lugu.


Anak seperti Zeevana memang jarak di Chicago, dia polos dan tidak seperti teman-temannya yang terbuka tentang pergaulan bebas.


"Aku paham apa maksudmu sayang, aku mengerti kenapa kau marah. Tapi apakah kau akan membicarakan cucu kita menjadi anak haram? Tidak kan? Sedangkan ayahnya adalah Xander, tentu saja kita harus menikahkan mereka. Apa kau tidak ingat? Kita juga menikah karena my baby accident."


"Okay, memang kita menikah karena MBA. Tapi konteksnya berbeda, kita saling mencintai sedangkan mereka tidak, hubby! Itulah yang aku takutkan, aku takut kalau Xander akan melukai hati putri kita dan membuatnya tak bahagia!" seloroh Savana yang tidak bisa menahan rasa gelisahnya.


"Hush! Baby, jangan bicara begitu...nanti ucapanmu jadi doa. Sudahlah, lebih baik kita doakan saja semoga pernikahan mereka baik-baik saja. Semoga mereka bisa saling jatuh cinta." sergah Javier seraya memegang tangan istrinya itu.


"Entah ini firasat seorang ibu atau bagaimana...yang jelas aku sangat tidak tenang Hubby." rasa gelisah Savana masih ada walau suaminya sudah bicara.


"Aku percaya Xander bisa menjaga putri kita, walaupun mengubah rasa menjadi cinta...itu perlu waktu.Kita lihat saja sayang." Javier berusaha menenangkan istrinya.


"Semoga saja itu benar, karena jika dia membuat Zeevana terluka....aku tidak akan tinggal diam." cetus Savana tajam.


Xander dan Zeevana juga sibuk menyambut tamu disana. Hingga tak terasa tubuh Zeevana mulai letih karena kebanyakan berdiri, ia juga merasakan mual lagi.


"Ugh..."


"Zee, kau kenapa hm?" tanya Xander seraya memegangi tangan istrinya. Ia melihat gadis bergaun merah itu terlalu leleh dan pucat.


"Aku...pegal uncle, aku mual dan pusing." keluh Zeevana dengan satu tangan yang menggenggam erat Xander.


"Kalau begitu, mati kita ke kamar kita!" ajak Xander cemas pada istrinya itu. Mungkin perhatian itu masih belum bisa dikatakan sebagai perhatian seorang suami, tapi masih perhatian paman.


"Aku akan kembali sendiri uncle...masih banyak tamu disini--dan---" ucap Zeevana terbata. Ia tidak bisa menahan rasa lelahnya.


"Aku tak mungkin membiarkanmu sendirian. Aku akan bicara pada kakak, untuk mengurus semua tamunya." seloroh Xander pada istrinya. Ia meminta Zeevana duduk sebentar di kursi yang ada di luar ruang resepsi yang pengap bagi ibu hamil itu. Sementara ia akan mencari Javier untuk meminta izin pergi lebih dulu dari sana.


Selagi Xander pergi, seorang wanita datang menemui Zeevana dan membuat gadis itu terkejut bukan main. Zeevana beranjak dari tempat duduknya.


"Ka-kak Tess--"


PLAKKK!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Zeevana, hingga wajah wanita itu terdorong ke samping dan menyisakan warna merah disana.


"Dasar wanita JALANGG! SOK LUGU!" hardik wanita itu penuh kemarahan.


...****...


Maaf kemalaman, review lama dari sananya readers , πŸ˜ͺπŸ˜ͺ