One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 15. Aku mau berpisah



...πŸ€πŸ€πŸ€...


Zeevana memandang suaminya dengan berurai air mata, tadinya ia ingin menahan semua ini dengan bermain cantik. Menunggu sampai Xander mengaku dengan sendirinya, tapi kepura-puraan pria itu dengan wajah tanpa dosanya, membuat Zeevana tak sabar untuk bertanya.


"Uncle--kenapa diam? Kenapa ada benda seperti itu di kemeja uncle?" tanya Zeevana sekali lagi.


"Itu bukan punyaku, aku tidak pernah memakai barang-barang seperti itu. Seumur hidupku tidak pernah! Sumpah demi Tuhan!" kata Xander berani bersumpah, ia tidak pernah memakai barang seperti itu. Dia bukanlah pria yang melakukan seeks bebas.


"Oke, aku percaya--tapi anting ini bagaimana? Kenapa bisa ada disini?" tanya Zeevana seraya berusaha menenangkan diri dari emosi. Sekarang saja kepalanya sudah berdenyut nyeri.


"Aku tidak tahu itu punya siapa." jawab Xander jujur.


"Tidak tahu? Jangan bohong uncle, kau janji padaku akan selalu menjaga kepercayaan, kejujuran dan kesetiaan! Kalau kau tidak menjaga semua itu, bagaimana dengan hubungan kita akan berkembang. Sekarang aku paham, kenapa kau tidak mau membuka hatimu untukku...ah salah! Bukannya kau tidak mau membuka hatimu, tapi lebih tepatnya...di hatimu masih ada orang lain."


"Zee, tidak ada orang lain di dalam hatiku! Tidak ada wanita lain!" seru Xander seraya memegang tangan Zeevana dengan erat. Gadis itu menangis, menatap suaminya penuh rasa sakit.


"Pembohong!" tukas Zeevana.


"Aku tidak bohong." sanggah Xander. Sungguh ia tak tega melihat istrinya menangis.


"Lalu darimana kau tadi siang dan sore?" tanya Zeevana lagi mengintrogasi.


"Aku dari rumah sakit, bukankah aku sudah bilang kalau aku ada ope--"


"Pfuttt... hahaha..." Zeevana menepis tangan suaminya, lalu ia melangkah mundur. Tawa wanita itu begitu miris. Sesak dadanya saat ini, begitu mudahnya Xander berbohong, lancar sekali pria itu mengelabuinya. Apa selama ini Xander selalu berbohong saat izin pulang terlambat?


"Mudah sekali uncle berbohong padaku, padahal uncle baru bertemu dengan seseorang yang mungkin parfumnya sama dengan yang ada di kemeja uncle." gumam Zeevana.


Xander bergetar hebat, manakala ia mendengar semua ucapan Zeevana yang seolah sudah tau semuanya. Sejauh mana wanita itu tau? Apa jangan-jangan Tessa sudah mengirimkan video itu? Oh tidak!


"Kenapa diam uncle? Tak punya alasan lagi untuk menjawab? Aku sudah melihat semuanya, kalau uncle bertemu dengannya dan berbohong padaku."


Deg!


"Kau bilang kau di rumah sakit, tapi ternyata kau bertemu dengannya. Apa selama ini kau pulang terlambat karena bertemu dengannya? Apa selama ini kau menikahiku hanya karena anak ini saja? Sepertinya begitu, bukan? Kalau anak ini tidak ada, kau bisa bebas berhubungan dengannya bukan?" seloroh Zeevana sakit hati.


"Zee, kenapa kau bicara begitu? Itu tidak benar--kita menikah bukan karena anak ini saja." tegas Xander.


"Lalu karena apa lagi? Apa uncle mencintaiku sebagai seorang wanita? Tidak kan?"


"Aku mencintaimu, sungguh..." jawab Xander dengan bibir bergetar.


"Pembohong!" sanggah Zeevana emosi. "Kau sama sekali tidak mencintaiku, kau tidak akan pernah mencintaiku! Kau hanya mencintai kak Tessa!" teriak Zeevana emosi, histeris dan air matanya tumpah.


Xander mendekati Zeevana untuk menenangkannya. Apakah ia jujur saja tentang semuanya? Namun bukankah jujur hanya akan membuat Zeevana yang sedang hamil ini akan semakin terluka. Belum tau apa-apa saja, Zeevana sudah seperti ini. Satu hal yang Xander belum pernah lihat dari Zeevana selama ia mengenalnya. Yaitu kemarahan dan tangisannya yang pecah seperti ini. Rasanya seperti ditusuk-tusuk sesuatu yang tajam.


"Zee..."


"Kau tega, uncle...kau tega...hiks...jangan sentuh aku uncle...aku mau pisah...aku mau kita berpisah saja!" teriak Zeevana sambil mendorong dorong tubuh Xander agar tidak mendekat padanya. Kecewa, sakit, Zeevana sudah terlanjur merasakan semuanya.


"No! Kita tidak akan berpisah, tidak!" Xander ketakutan, ia mendadak pias mendengar ucapan Zeevana.


"Kalau uncle tetap diam dan tidak mau menjelaskan, kita pisah saja!" sebuah permintaan yang simpel sebenarnya, namun bagi Xander ini berat. Masa iya dia harus mengatakan bahwa ia pernah tidur dengan mantan kekasihnya dan diancam olehnya? Big no! Xander tidak akan mengatakan itu.


Tiba-tiba saja wanita itu memegang perutnya dan merintih kesakitan. "Aarghh...ukh..."


"Zee, kau kenapa?" tanya Xander cemas seraya menghampiri istrinya.


"Lepas...akhh..." rintih Zeevana kesakitan.


Tubuh Zeevana tiba-tiba melayang, ya Xander sudah mengangkatnya. Dengan panik ia membawa sang istri keluar dari apartemen menuju ke rumah sakit untuk menemui dokter kandungan, walaupun Xander sendiri seorang dokter. Tapi dia tidak bisa memeriksa kandungan lebih jelas, sebab dia adalah dokter bedah dan syaraf. Xander takut istri dan calon bayinya kenapa-napa dan disinilah ia mulai menyadari, bahwa dirinya telah salah. Tanpa sadar ia sudah mengabaikan Zeevana dan calon anak mereka, ia tak bisa tegas karena satu khilafnya.


...****...


Siapa yang setuju Xander dan Zeevana cerai 🀧 dia benaran udah tidur sama Tessa, apakah dia bisa di maafkan? 🀧