One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 20. Javier kecewa



...πŸ€πŸ€πŸ€...


Bukan hanya Savana saja yang menampakkan rasa kecewanya pada Xander, tapi Javier juga. Marah, kecewa, sakit hati karena putri mereka mendapatkan perlakuan tidak baik dari suaminya. Kini nyawanya dan juga nyawa bayinya terancam. Javier tidak menyangka bahwa Xander akan tega mengkhianati kepercayaannya sebagai seorang kakak dan juga ayah mertua yang menitipkan putrinya pada Xander, untuk ia jaga. Tapi malah seperti ini akhirnya, semua janji pernikahan Xander hanyalah kepalsuan.


Pukulan dari Javier yang hampir membuatnya mati, tidak ada apa-apanya dibandingkan semua kesalahannya pada Zeevana selama ini. Xander menerimanya bahkan kini di wajahnya sudah banyak luka lebam, darah, memar. Ada beberapa suster menawarkan bantuan untuk mengobati luka-lukanya, namun Xander menolak dan tidak peduli apapun kecuali pada Zeevana. Setelah mendengar Zeevana koma, hari Xander tidak karuan serasa mati rasa. Tubuhnya seolah tak bertulang, lemas saat itu juga.


Saat Xander akan masuk ke dalam ruang rawat Zeevana, untuk melihat istrinya itu. Javier langsung menghalanginya, ia jadi orang terdepan yang tidak mengizinkan Xander bertemu dengan Zeevana. Ada rasa sesal mendalam di hati Javier karena sempat tak mempercayai ucapan istrinya, bahwa Xander tidak akan bisa membuat Zeevana bahagia.


Pria yang dihatinya masih ada masa lalunya, masih ada wanita lain. Tidak akan bisa menjalin rumah tangga dengan siapapun juga, apalagi menuju bahagia. Itu mustahil! Savana selalu mengatakan itu dan sekarang apa yang ia takutkan benar-benar terjadi.


"Kau mau kemana?" tanya Javier dingin.


"Kak--hem...pa, aku ingin bertemu dengan istriku. Aku ingin melihat keadaannya."


"Tidak! Kau tidak boleh bertemu dengan putriku, tidak akan ku izinkan orang brengsek yang sudah melukai putriku masuk menemuinya! Pergi!" Savana mendorong Xander, hingga pria itu terhuyung jatuh terduduk di lantai.


BRUK!


"Ma...aku mohon izinkan aku bertemu dengan istriku, aku ingin melihat keadaannya." Xander berlutut di depan ibu mertuanya. Dia tidak peduli menjadi tontonan banyak orang disana, meski ia kepala rumah sakit sekalipun. Asalkan ia bisa melihat Zeevana, bahkan ia sampai menangis nangis disana.


"Hubby, kalau kau masih ingin rumah tangga kita bertahan. Jangan biarkan bajingan yang sudah menyakiti putri kita, masuk ke dalam ruangan ini!" tegas Savana pada suaminya, ia tidak main-main. "Kalau kau mengizinkannya masuk, itu artinya kau menyakiti hatiku juga." ancamnya lagi pada Javier, lalu ia masuk ke dalam ruangan Zeevana.


Javier bungkam, dia tidak bisa membiarkan Xander masuk ke dalam sana. Bukan karena dia takut dengan istrinya, tapi karena ia memang tidak mau membiarkan Xander bertemu dengan Zeevana saat ini. Javier masih marah, sangat. Kecewa lebih besar lagi pada pria yang sudah seperti adiknya sendiri.


"Pergilah! Bersihkan lukamu," ujar Javier dingin.


"Kak...aku mohon... izinkan aku bertemu dengan istri dan anakku. Kumohon kak...kumohon..." Xander memohon seraya memegang tangan Javier, namun pria yang menolak tua itu menepis tangannya.


"Pergilah Xander! Sebelum aku membunuhmu." ucap Javier lalu masuk ke dalam ruangan itu. Xander terdiam mematung, air matanya terus luruh. Ia menyesal sungguh.


Alice dan Axel yang kebetulan ada disana, juga melihat semua itu. Di satu disisi mereka iba pada Xander karena wajahnya yang babak belur. Namun disisi lain mereka kecewa dan sangat menyayangkan sikap Xander yang menyia-nyiakan istri sebaik Zeevana. Sesabar dan selembut gadis itu.


...****...


Makasih komennya kakak kakak, siapa yang tadi mau kasih kopi sama gift? Segera ya 🀣🀣