
...πππ...
Wanita yang tengah berbadan dua itu ditinggalkan begitu saja oleh suaminya, sendirian di apartemen itu. Zeevana terlihat kecewa, ia sudah memasak makan malam untuk suaminya. Tanpa kecupan kening ataupun pamitan pada baby mereka yang biasanya dilakukan oleh Xander sebelum berangkat kemanapun. Namun pria itu melupakannya karena buru-buru, setelah menerima pesan yang entah dari siapa. Zeevana juga tidak tahu.
"Padahal ini pertama kalinya aku memasak makanan kesukaan uncle yang sulit untukku Tapi--aku tidak tahu ini berhasil atau tidak. Uncle malah pergi....sebenarnya mau kemana dia malam-malam begini?" gumam Zeevana
Detik demi detik berlalu, menit demi menit, hingga jam demi jam berlalu. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, hingga Zeevana yang belum makan malam pun ketiduran menunggu suaminya yang belum pulang.
Cekret!
Pintu apartemen itu terbuka dan terkunci dalam waktu bersamaan. Seorang pria langkah masuk ke dalam apartemen tersebut. Ia adalah Xander.
Xander berjalan menghampiri istrinya yang ternyata tertidur di atas meja ruang makan, bersama dengan makanan yang ada diatasnya. Makanan itu masih utuh dan membuat Xander berpikir, apakah wanita itu menunggunya pulang? Pelan-pelan Xander menyentuh kepala Zeevana, tatapannya begitu sendu dan matanya berkaca-kaca.
'Maafkan aku Zee, maafkan aku sayang' Xander membatin.
Wanita itu mulai terusik tidurnya, manakala ia merasakan sentuhan di wajahnya. Mata Zeevana terbuka, ia melihat sosok tampan suaminya yang tampak lelah. "Uncle sudah pulang?" tanya Zeevana seraya menyambut suaminya dengan mata sayu nan lelah.
Xander duduk tetap disamping Zeevana, di kursi kosong disana. Pria itu tersenyum tipis, kemudian ia memeluk istrinya. "Uncle...ada apa? Apa ada masalah di rumah sakit?" sontak Zeevana bertanya begitu sebab ia merasakan keresahan didalam pelukan suaminya, tampak berbeda.
"Uncle--"
"Maafkan aku sayang, maaf sudah membuat kamu menunggu." Bukannya menjawab pertanyaan dari istrinya, namun Xander malah meminta maaf. Setelah memeluk istrinya, ia kembali mengurai pelukan itu.
"Kau dan baby kita belum makan kan?"
"Hem..." sahut Zeevana dengan bingung, dia bingung melihat suaminya terlihat sedih.
"Kenapa kau belum makan, hem? Seharusnya kau makan duluan saja sayang. Aku suapi ya." tawar Xander perhatian.
"Tidak usah uncle, aku tidak lapar. Aku menunggu uncle untuk makan bersama, tapi sekarang aku tidak lapar--" Zeevana mendesah pelan, agak sedikit kecewa pada suaminya.
Rasa bersalah Xander semakin besar, apalagi ia sampai di rumah jam 12 malam. Ia sudah meninggalkan istrinya 2 jam di malam hari tanpa berpikir panjang. Apalagi istrinya belum makan dan menunggunya, bahkan ia tak meminta sang istri makan terlebih dahulu.
"Jangan begitu, aku minta maaf ya...please kau harus makan. Aku juga akan makan masakanmu."
"Tidak uncle, kau tidak akan bisa memakannya. Kita buang saja, uncle." Zeevana beranjak dari tempat duduknya, matanya berkaca-kaca. Xander meraih tangan Zeevana.
"Sayang, kenapa kau begitu? Maafkan aku, mari kita makan ya."
"Makanannya sudah dingin, tidak enak uncle. Lebih baik di buang saja." ucap Zeevana sedih.
"Aku akan panaskan! Kita akan makan bersama, titik! Baby kita perlu makan, sayang." kata Xander tegas. Xander dengan sigap menghangatkan semua makanan itu, sedangkan Zeevana menunggu sambil duduk duduk di sofa. Wanita itu berusaha untuk tidak emosi, sabar memang sifatnya. Ia tidak marah, tapi hanya kecewa pada Xander.
Usai makan tengah malam, Xander dan Zeevana kembali tidur. Namun sebelum itu Xander meminta maaf pada istrinya karena dia ada urusan ke rumah sakit tanpa mengatakan apapun padanya.
"Iya tidak apa-apa uncle, jangan meminta maaf lagi. Aku memang kecewa, tapi aku tidak marah uncle. Tidak apa-apa, jangan minta maaf terus. Ayo kita tidur uncle." ajak Zeevana seraya tersenyum.
"Iya Daddy, jangan diulangi lagi ya." balas Zeevana dengan menirukan suara anak kecil.Xander gemas lalu mengecup kening istrinya.
Tak berselang lama kemudian, Zeevana tertidur diatas lengan dan pelukan suaminya. Sementara Xander masih terjaga, ia memandang sang istri dengan sendu.
'Maafkan aku Zee, aku tidak bermaksud berbohong. Tapi aku harus melakukan ini, aku tidak mau kau tau tentang itu' batin Xander, kemudian ia pun tertidur lelap bersama istrinya.
...*******...
.
.
1 bulan berlalu...
Apartemen Xander dan Zeevana kedatangan Javier dan Savana. Namun saat itu Xander sedang tidak ada di sana, katanya ia ada di rumah sakit.
"Suamimu tidak ada? Kemana dia?" tanya Savana pada putrinya. Dia bertanya karena khawatir.
"Mungkin uncle sibuk operasi--mom. Jadwalnya kan tidak menentu." jawab Zeevana seraya tersenyum. Matanya terlihat sedih. Sudah 1 bulan ini Xander sering pulang malam, berangkat pagi. Bahkan terkadang dia tidak melihat suaminya pulang. Perhatian Xander mulai berkurang, padahal Zeevana selalu meluangkan waktunya untuk Xander.
"Oh begitu. Apa suamimu sering nginap di luar?"tanya Savana menginterogasi.
"Baby, jangan mulai lagi. Kau tidak lihat? Zee tidak nyaman dengan pertanyaanmu." ucap Javier menyela, ia melihat Zeevana tampak pucat dan gelisah. Javier pun mendekat pada putrinya. "Kata Laura, Xander sibuk ya?" tanya Javier pada Zeevana.
"Laura bilang pada Daddy?" wanita itu balik bertanya. Ia tidak menyangka bahwa Laura akan mengatakan curhatannya pada Javier dan Savana, sejauh mana sahabatnya itu bicara? Mengenai Laura, dia adalah putri dari Leo dan Alexa. Leo adalah asisten sekaligus orang kepercayaan Daddy Zeevana.
"Iya Laura bilang setiap dia kemari, suamimu tidak ada...Rachel juga pernah bilang begitu. Sesibuk apa suamimu, sampai dia tidak bisa menemanimu? Dia kan kepala rumah sakit, istrinya sedang hamil dan dia malah sibuk di luar!" kata Savana mendengus kesal. Ia teringat dengan Javier dulu saat ia hamil, suaminya malah sering meluangkan waktu untuknya.
"Mom, uncle sedang sibuk. Nanti malam dia juga pulang." bela Zeevana pada suaminya. Zeevana paham Savana mencemaskannya,
"Zee, apa kau tidak curiga kalau suamimu mungkin di luar sana--" kata Savana mulai curiga.
"No Mom! Uncle tidak akan begitu, dia sudah janji padaku." serka Zeevana dengan kepercayaan penuh pada Xander. Tidak terbesit sedikit pun di hati Zeevana bahwa suaminya berbuat serong di luar sana.
"Baiklah, terserah kau saja. Mommy hanya mengingatkan padamu, sebab Mommy tau--bahwa Xander belum menyatakan cinta padamu bukan? Dia belum mencintaimu, atau mungkin tidak. Kau yang duluan mencintainya, maka akan berat untukmu berjuang. Sayang, mommy hanya ingin satu hal! You happy," tutur Savana lembut.
Deg!!
Ucapan Savana berhasil membuat Zeevana terpengaruh. Wanita itu mengepalkan tangannya dengan erat. Setelah kepergian kedua orang tuanya yang berkunjung, Zeevana langsung pergi menyusul suaminya sore itu ke rumah sakit dengan perasaan gelisah. Semoga kecurigaan mommynya tidak benar.
Saat Zeevana sedang mengambil tasnya, tak sengaja ia menjatuhkan PINnya ke tempat cucian. "Ish..pakai jatuh segala lagi." Zeevana mengambil pin itu diantara tumpukan baju. Namun ia terlonjak kaget bukan main saat melihat sesuatu di dalam saku kemeja putih milik suaminya.
"A-apa ini?!" Seketika Zeevana terduduk lemas, melihat apa yang ia temukan disana.
...***...