
...πππ...
Semua orang di kamar Zeevana terperangah mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Xander. Pria itu mengakui bahwa dia adalah ayah dari bayi yang dikandung oleh keponakannya sendiri.
"Aku....akulah ayah dari bayi itu."
Zeevana langsung beranjak dari ranjangnya, ia berdiri di belakang Xander. Melihat wajah semua orang yang tercengang, membuat Zeevana ketakutan.
"A-apa kau bilang? Xander, kau jangan bercanda. Kakak tau kau selalu membelanya jika dia berbuat kesalahan, dari dulu kau selalu begitu pada Zee. Tapi kali ini tolong jangan melindunginya lagi dengan kata-kata omong kosong." tutur Savana yang rupanya tak percaya begitu saja dengan perkataan Xander. Semua orang juga beranggapan bahwa Xander hanya menyembunyikan fakta siapa ayah kandung Zeevana.
"Iya Xander, terjadi hal serius seperti ini...kau tidak bisa melindunginya lagi." ucap Javier pada Xander. Tatapan Javier mengarah pada Zeevana kali ini, ia menarik pergelangan tangan gadis itu. "Katakan pada kami semua, siapa ayah dari bayimu?"
"Ayah bayi ini, dia tidak...dia...tidak ada..." Zeevana bergetar hebat, air matanya luruh begitu deras.
Xander memejamkan matanya sekejap, kemudian ia pun berkata dengan tegas. "Kak, aku ayah dari bayinya! Aku...akulah bajingan yang sudah merenggut kesucian Zee."
"Tidak, bukan dad...bukan uncle...dia bukan ayah dari bayi ini. Bukan..." Zeevana menyangkal sekuat tenaganya.
"Xander, aku bilang TUTUP MULUTMU!" sentak Javier mulai kesal pada Xander yang ikut campur. "Kakak sedang bertanya pada keponakanmu ini!"
"SEMUANYA TOLONG DENGARKAN AKU BICARA! AKU SERIUS!" seru Xander setengah berteriak hingga semua orang yang disana terdiam dan atensi mereka tertuju pada pria berprofesi sebagai dokter bedah sekaligus kepala rumah sakit itu.
Dia harus mengatakan kebenaran ini walaupun pahit dan ia harus bertanggungjawab. Pria itu mendekat ke arah Javier lalu memegang tangan Kakak yang sudah mengangkatnya sebagai adik itu.
"Uncle jangan! Uncle jangan katakan apapun!" Zeevana menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia memegang tangan Xander, tapi segera ditepis oleh pria itu.
"Kak Savana, kak Javier...maafkan aku...tapi memang benar. Akulah ayah dari bayi yang dikandung oleh Zee." ucap Xander dengan sorot mata yang sama sekali tidak ada kebohongan disana.
"Xander, jangan main-main...kau tidak mungkin--" Savana terbelalak mendengar pengakuan dari Xander.
"Kak Savana, maafkan aku...semuanya maafkan aku. Malam itu dalam pengaruh alkohol aku memperkosa Zee. Dan--aku..."
BUKK!!
Javier memukul Xander sampai pria itu terjatuh ke lantai. "Kau bilang apa barusan? Apa kau anggap ini candaan? Dimana ada seorang paman memperkos* keponakannya sendiri?" tanya Javier kesal.
"Kak, aku tidak bercanda. Kau bisa menanyakannya pada Zee." ucap Xander serius.
"Kau--"
'Aku tidak melihat ada kebohongan di dalam matanya, tapi ini tidak mungkin terjadi kan?'
"Zeevana,apa benar kau dan unclemu sudah melakukan itu? Apa benar dia ayah dari bayimu?" tanya Javier dengan sorot mata tajam pada Zeevana, putrinya.
Zeevana diam saja, ia melirik ke arah Xander yang sudah berdiri disampingnya. Xander menganggukkan kepala, mengisyaratkan pada Zeevana untuk jujur.
"Jujur saja, tenang...ada uncle disini." bisik pria itu yang menenangkan Zeevana walau sedikit.
"ZEEVANA...jawab pertanyaan Daddymu." sentak Savana pada putrinya. Semua orang menatap Zeevana, nantikan apa yang akan dikatakan oleh gadis itu.
BUGH!
"Kyaaakk!!"
Semua orang berteriak saat Javier melayangkan bogem mentahnya secara bertubi-tubi pada wajah tampan Xander. Sementara itu Savana menangis, ia tidak percaya dan syok dengan semua kenyataan ini. Elena memegangi tubuh Savana yang hampir jatuh itu. Mereka semua kecewa pada Xander dan juga Zeevana, sakit hati juga.
"Mommy Savana...tenanglah." Elena berusaha menenangkan ibu sambung sekaligus sahabatnya itu. Namun Savana masih terus menangis.
"KURANG AJAR! BERANINYA KAU MENODAI PUTRIKU, KEPONAKANMU SENDIRI? BERANINYA KAU--"
Xander membiarkan dirinya dipukul oleh Javier, sebab ia tau ia salah. Tapi semua ini tidak seberapa dengan apa yang ia lakukan pada Zeevana.
"Daddy...Daddy STOP IT! Please...jangan pukul uncle lagi!" teriak Zeevana yang mulai cemas sebab bogem mentah dari Javier tidaklah main-main. Kening, mulut, hidung, bahkan pipinya sudah terlihat membiru juga berdarah. Xander sendiri tidak membalasnya.
"Maafkan aku kak...aku...akan bertanggungjawab." lirih Xander.
"TANGGUNGJAWAB?!" teriak Javier murka. Kemudian pria paruh baya itu mengambil kap lampu dan memukul bagian depan kepala Xander, hingga pria itu tergelak lemah meski masih membuka mata.
"Daddy STOP!"
"Kau sungguh membuatku kecewa Xander, kau membuat kami kecewa. Pria yang kami pikir paling menjaga Zee, ternyata adalah pria yang merusaknya. Kau..."
BRUGH!
"Mommy!" teriak Zeevana panik melihat Mommynya jatuh pingsan.
****
Savana di periksa oleh dokter Edward yang kembali lagi ke rumah itu setelah dipanggil oleh Javier. Dokter Edward mengatakan bahwa tekanan darah Savana tinggi dan membuatnya tak sadarkan diri.
Semua orang terlihat kecewa dan tidak percaya bahwa Xander yang terkenal lembut akan melakukan hal nista itu pada Zeevana. Tapi ada juga yang membelanya yaitu Mark dan Elena. Sebab setelah mendengar penjelasan dari Xander dan Zeevana malam itu, mereka menyimpulkan bahwa malam tersebut adalah sebuah ketidaksengajaan. Walaupun begitu, mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Apalagi akan ada anak diantara Xander dan Zeevana.
Para orang tua pun bermusyawarah untuk menentukan masih Zeevana dan Xander. Namun di dalam musyawarah itu tidak ada mereka karena Zeevana tengah sibuk mengobati luka Xander.
"Uncle...apa ini sakit?" Zeevana melihat luka-luka di wajah Xander.
Alih-alih menjawab, Xander malah bertanya. "Zee, kenapa kau masih baik pada uncle setelah apa yang uncle lakukan padamu?"
"Uncle tau kan, aku sayang pada uncle...aku tidak membenci uncle. Dan entah kenapa aku ingin dekat dengan uncle, itu sebabnya aku pulang." ujar gadis itu jujur, ia memang pulang karena ingin bertemu dengan Xander. Entah kenapa ia ingin melihat pria itu.
"Sepertinya itu bawaan bayi, kau jadi ingin dekat denganku." cetus Xander sambil tersenyum menanggapi ucapan Zeevana.
"Tapi Uncle, bila Daddy meminta uncle menikahiku...apakah uncle..."
"Dia memang harus menikahimu, HARUS!" ujar seorang pria yang sudah berdiri diambang pintu ruang keluarga itu. Xander dan Zeevana menoleh ke arahnya.
...****...