One Night Stand With My Uncle

One Night Stand With My Uncle
Bab 57. Kemajuan besar



Xander tersentak kaget mendengar permintaan Zeevana yang ingin di elus perutnya. Ini permintaan pertama wanita itu sejak mereka berdua sama-sama mengetahui tentang kehamilan Zeevana.


Zeevana malu saat memintanya, namun entah kenapa dia ingin Xander mengelus perutnya dan rasa itu tak tertahankan lagi. Apa ini karena dia mulai mengidam? Permintaan yang aneh-aneh seorang ibu hamil dan keinginan yang tak dapat dibendung.


"Kalau uncle tidak mau, tidak apa-apa. Aku akan pergi--" cicit wanita itu pelan.


Xander menahan tangan Zeevana, dia tidak tega terus mendiamkan Zeevana walaupun dia kesal dengan sikap wanita itu sebelumnya. Dia tak akan tega menolak, dia juga takut kehilangan Zeevana lagi karena sikapnya.


"Aku akan mengelus perut mu,"


"Tapi kan uncle sedang sibuk, ti-tidak apa-apa...aku tidak mau menganggu." kata Zeevana tidak enak hati, gadis itu menundukkan kepalanya.


"Aku tidak sibuk kalau itu untukmu dan anak kita." ucap Xander yang kembali melembut pada Zeevana. Wanita itu tersenyum tipis, dia senang karena tampaknya Xander sudah tidak marah lagi padanya. Xander menggandeng tangan Zeevana dan menuntunnya masuk ke dalam ruang kerja di rumah itu.


Kini mereka pun duduk diatas sofa empuk yang ada disana dengan keadaan pintu terbuka sedikit. Zeevana malah semakin bingung dengan apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia terperanjat saat melihat suaminya membuka kancing piyama Zeevana satu persatu.


"Uncle--kau mau apa?"


"Aku mau mengelus perutmu, sayang."


"Ta-tapi kenapa kau melepaskan kancing piyamanya?" tanya Zeevana panik. Lihat saja wajahnya memerah saat ini.


"Lalu aku harus bagaimana? Bukankah lebih baik kalau disentuh secara langsung." kata Xander dengan polosnya dan tangannya masih membuka kancing piyama Zeevana.


Zeevana menahan tangan Xander yang di sedang membuka kancing piyamanya."Ti-tidak usah, elus diluar saja uncle..."lirihnya malu-malu.


Xander terpana melihat Zeevana yang cantik luar biasa ketika sedang malu-malu begini. Seketika pikiran liarnya mulai muncul, dia ingin meraup bibir itu, memeluk tubuh mungil itu dan xx dengannya. Xander tidak tahan ingin melakukan itu semua, karena wajah cantik Zeevana membuatnya gila.


Astaga Xander apa yang kau pikirkan? Zee belum menerimamu sepenuhnya, kau sudah janji tidak akan menyentuhnya sebelum dia setuju. Batin Xander yang sedang bergelut dengan pikiran liarnya.


"Uncle...cepat elus..." desahnya manja yang membuat Xander bergidik saat mendengarnya. Suara wanita itu yang minta dielus terdengar seperti alunan melodi musik yang indah di telinganya dan membangkitkan libidonya.


"Ba-baiklah." Xander membantu Zeevana mengancingkan kancing piyama istrinya itu. Lalu dia mengarahkan tangannya dan mengelus perut Zeevana yang berada di balik baju piyama tidurnya.


Zeevana merasakan kenyamanan dari sentuhan Xander, seakan keinginannya tertuntaskan. Wanita itu tersenyum lega, dengan posisi tangan Xander yang masih mengelus perutnya.


"Euhm...uncle."


"Ya? Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Xander pada istrinya itu.


"Uncle, malam ini aku mau tidur denganmu."


Sontak mata Xander terbelalak mendengar permintaan yang tidak terduga dari Zeevana. Wanita yang cuek dan selalu jaim itu, ingin tidur dengannya? Pria itu terdiam dengan wajah bingung dan linglung.


"Uncle, kalau kau tidak mau tidak apa-apa. Aku tidur sendiri saja." lagi-lagi Zeevana pikir bahwa Xander menolaknya.


"Kenapa kau mau tidur denganku Zee? Bukankah kau masih belum mau menemuiku?" tanya Xander sambil memegang tangan Zeevana, tatapannya begitu retoris dan dalam pada wanita itu.


Tiba-tiba saja Zeevana beranjak bangun, lalu dia duduk dipangkuan Xander. Tangannya mengalung dileher pria itu, ia menatap Xander disertai dengan senyuman indahnya.


Shiitt! Zee sangat cantik.


"Zee, ada apa?"


"Uncle, entah kenapa aku ingin selalu berada di dekatmu dan aku tidak mau kau jauh dariku. Uncle, aku minta maaf karena sikapku beberapa hari yang lalu saat dokter Alice datang. Bukannya aku bermaksud menolak bayi ini, ataupun meragukan hatimu--namun aku merasa bingung." Zeevana katakan segala yang ada di dalam hatinya selama beberapa hari ini, jujur dia merasa tidak nyaman dengan sikap Xander yang terkesan menjauhinya.


"Aku menerimamu uncle, sungguh--aku masih mencintaimu." kata Zeevana pada akhirnya. Dengan tubuh yang semakin menempel pada tubuh pria itu.


Deg!


Jantung Xander berpacu kencang seperti genderang yang mau perang. Kata-kata inilah yang selama ini dia nantikan dari Zeevana dan ini artinya wanita itu telah menerimanya.


"Zee, apa maksudmu?" tanya Xander dengan tangan yang mulai meraih tubuh Zeevana.


"Uncle, mari kita lupakan segalanya dan memulai semuanya dari awal. Aku, kau, Aiden dan juga anak kita yang ada di dalam sini. Ayo kita membangun keluarga yang bahagia."


Plakk!


Tiba-tiba saja Xander menampar dirinya sendiri dengan cukup keras. Zeevana terkejut dengan apa yang dilakukan oleh pria itu.


"Aw...ternyata sakit!" pekik Xander pada dirinya sendiri, pipinya yang baru saja dia tampar sendiri ternyata terasa sakit. Dan rasa sakit itu menyadarkannya bahwa ini bukan mimpi.


"Uncle, apa yang kau lakukan? Kenapa kau menampar pipimu sendiri?" tanya Zeevana dengan tangan yang membelai pipi Xander. Dia terlihat sangat mencemaskan keadaan suaminya.


Zeevana yang terus bergerak-gerak di atas pangkuan pria itu, sontak saja membuat sesuatu mengeras dibawah sana tanpa aba-aba. Zeevana juga merasakan sesuatu yang mengeras itu, dia menarik tangannya yang sempat mengelus pipi Xander. Kedua tatapan dari dua insan muda itu saling bertemu dan terlihat memanas penuh gelora.


"Uncle--"


"Boleh aku menciummu?"tanya Xander pada Zeevana, tubuhnya sudah memanas dan dia tidak tahan lagi. Mungkin dengan ciuman bibir maka panas ini akan menghilang dengan sendirinya.


"Hah? Tumben uncle bertanya, biasanya kan selalu langsung saja." gumam Zeevana bingung.


Ya, sebelumnya memang wanita itu dan suaminya telah memiliki komitmen bahwa mereka tidak bisa saling bersentuhan, tanpa persetujuan Zeevana.


"Jadi kau mau atau--"


Cup!


Tiba-tiba saja tubuh Xander seperti terkena sengatan listrik ribuan volt, saat wanita itu berinisiatif untuk mencium bibirnya lebih dulu. Ciuman yang singkat, namun bermakna kasih sayang.


"Uncle, aku mengizinkanmu. Cium aku, uncle."


"Sure." mendapatkan sinyal dari wanita itu, sontak saja Xander merasa bahagia bagaikan kucing yang dikasih ikan asin. Pria itu dengan cepat menarik tengkuk Zeevana dan tanpa berlama-lama lagi, dia membenamkan bibirnya pada bibir ranum sang istri yang sudah lama tidak dia rasakan dengan persetujuan. Kini bibir keduanya saling menempel, kemudian lidah mereka masuk ke dalam mulut dan saling bertukar saliva.


Satu tangan Xander mulai bergerilya masuk ke dalam piyama yang dikenakan oleh Zeevana. Dia mencari target sesuatu yang nikmat disana sambil berciuman.


"Ahhhh--eungh--"


Suara desahann yang keluar tanpa diminta dari si cantik Zeevana, membuat tubuh Xander semakin menginginkan lebih. Kabut gairah telah menguasai pikirannya saat ini, dia membuka kancing piyama Zeevana guna membebaskan dirinya untuk menyentuh dua benda sintal milik sang istri.


Tautan bibir mereka terlepas, Xander melepasnya lebih dulu. Dia ingin Zeevana mengambil nafas terlebih dahulu. Terlihat benang saliva di bibir mereka masing-masing. Nafas keduanya sama-sama memburu, tatapan mereka terkunci penuh gairah.


"Sayang, boleh?" Xander meminta izin, matanya menatap dua benda sintal yang masih memiliki penyangga berwarna ungu itu.


Zeevana menjawabnya dengan anggukan kepala. Dia juga tidak bisa berpikir jernih untuk saat ini. Tubuhnya panas, pandangannya berkabut.


Buru-buru pria itu mencari pengait dua benda sintal milik Zeevana, hanya butuh waktu satu detik saja agar terlepas. Dengan tidak sabar, Xander menangkup salah satu buah sintal itu dan yang satunya lagi dia nikmati dengan mulut juga lidah.


"Ahhhh--eungh--uncle...ge-geli..." tubuh Zeevana meliuk-liuk menggelinjang kegelian dengan aktivitas Xander pada buah sintalnya. Tanpa sadar tangan Zeevana menekan kepala Xander semakin merapat dengan buah sintalnya. Xander semakin bahagia dengan lampu hijau ini.


Bosan dengan buah sintal itu, Xander mendongakkan kepalanya lalu kembali meraup bibir Zeevana. Ketika tengah asyik berciuman, tiba-tiba saja terdengar suara pintu terbuka. Sontak saja Xander membalikkan tubuh Zeevana ke sofa dan menghalanginya agar tidak terlihat, sebab bagian atas tubuh wanita itu sudah setengah telanjangg.


"Mommy, uncle, ternyata kalian ada disini..." Aiden terdiam, manakala menangkap sesuatu yang aneh pada kedua orang tuanya. Zeevana terlihat panik didalam pelukan Xander, sementara pria itu berusaha setenang mungkin.


"Mommy, uncle, kalian sedang apa?" tanya Aiden dengan polosnya.


"Son, bisakah kau keluar dulu? Mommymu sedang tidak enak badan." Xander masih memeluk Zeevana, menutupi tubuh atasnya yang polos.


"Mommy tidak enak badan?" Aiden langsung mendekat, begitu mendengar dari Xander bahwa Mommynya tidak enak badan. Aiden sangat mencemaskan keadaan Zeevana.


"Tidak, jangan mendekat...biar mommymu bersama Daddy malam ini." kata Xander seraya meminta pada Aiden untuk tidak mendekat.


'Shitt! Aku lupa mengunci pintu' batin Xander.


"I-iya, mommy tidak apa-apa sayang. Mommy--hanya butuh istirahat dan butuh daddymu saat ini." kata Zeevana dengan gugup dan malu karena tubuh atasnya yang polos dilihat oleh Xander dan hampir kepergok oleh Aiden.


Astaga, ini sangat memalukan.


"Tapi mommy--" Aiden cemas.


Aiden enggan pergi dari sana, dia bersikeras ingin mendekati Mommynya dan memastikan Zeevana baik-baik saja. Namun sebelum melihat Zeevana, Javier datang kesana dan membujuk Aiden untuk ikut bersamanya.


"Cucu grandpa, ternyata ada disini! Grandpa sudah mencarimu dari tadi." Javier langsung menggendong Aiden, dia memang selalu tidak tahan bila melihat cucunya dan selalu ingin menggendong.


"Grandpa! Aku bukan anak kecil lagi, tolong jangan menggendongku!" serka Aiden cemberut.


"Kau masih anak kecil dan malam ini grandpa ingin tidur denganmu ayo." kata Javier sambil menggendong cucunya itu, dia membawanya keluar. Zeevana dan Xander terlihat lega saat melihat Javier membawa pergi Aiden..


Sebelum benar-benar keluar dari ruangan tersebut, Javier mengatakan tanpa bicara lewat bibirnya. "Lain kali lakukan di kamar!"


Sontak saja Zeevana dan Xander tersenyum malu melihat gerak bibir Javier, atau mungkin saja tadi Javier melihat apa yang mereka lakukan di ruang kerja. Xander segera membantu istrinya berpakaian setelah yakin bahwa mertua dan anaknya sudah pergi dari sana.


Tapi bagi Xander, ini adalah kemajuan yang besar untuk hubungannya dan Zeevana. Apalagi wanita itu sudah mengatakan cintanya.


"Kita lanjutkan di kamar,"


"Apanya yang dilanjutkan? A-aku mau tidur." kata wanita itu gugup. Dia malu dengan apa yang baru saja di lakukan dengan Xander.


"Mari kita tidur bersama." ajak Xander dengan raut wajah berseri-seri.


"Ah--tidak--aku pikir aku lapar uncle." Zeevana memegang perut datarnya.


"Kau mau makan apa? Aku belikan." pria itu memegang tangan sang istri. Dia siap melakukan apa saja untuk Zeevana.


"Tiba-tiba, aku mau omelette, buatan uncle." kata Zeevana meminta pada suaminya. Xander jago memasak dan Zeevana tiba-tiba ingin masakan suaminya.


"Fine, aku akan buatkan untukmu ratuku." sahut Xander dengan senang hati. Dia dan istrinya keluar dari ruang kerja lalu menuju ke dapur. Tanpa mereka sadari, Savana tersenyum bahagia melihat Zeevana dan Xander kembali akur.


...****...