
Suasana resepsi pernikahan Zeevana dan Xander berlangsung dengan meriah. Berbeda dari pesta pernikahan mereka yang pertama, kali ini ramai.
Bahkan Arsen dan Laura berduet nyanyi didepan semua orang. Disinilah Alexa dan Leo jadi tau tentang siapa pria yang disukai oleh Laura, orang itu adalah Arsen. Putra dari sahabat mereka yaitu Savana.
"Woah...Savana, sepertinya kita akan menjadi besan." Alexa tersenyum pada sahabatnya itu.
"Aku sudah tau, cepat atau lambat--ini pasti akan terjadi. Tapi apakah kalian mau menerima putraku? Usia Arsen 2 tahun lebih muda di bawah Laura." cetus Savana tidak percaya diri dengan Arsen yang menjalin hubungan bersama Laura. Secara, Laura adalah gadis cantik, dewasa dan juga baik hati.
"Usia bukan masalah, yang penting anak-anak kita saling mencintai." tukas Alexa pada sahabatnya itu.
"But Alexa, kau tau sendiri kan? Putraku yang satu ini orangnya ceplas-ceplos dan dia agak pecicilan."
"No, dia ceria mirip denganmu...dan aku menyukainya. Dia cocok dengan Laura yang dingin." Alexa tersenyum senang, ia bahagia Savana menjadi besannya.
"Pak Javier, jadi kita akan menjadi besan?" tanya Leo pada mantan bosnya itu. Dulu Leo adalah sekretaris Javier.
"Sepertinya begitu, tolong terima putraku itu ya!" cetus Javier bahagia.
"Dan sepertinya kita juga harus segera menentukan tanggal," usul Alexa pada pasangan suami-istri Savana Javier. Para orang tua itu pun tertawa-tawa dengan perasaan bahagia.
Disisi lain pasangan pengantin baru yang baru resepsi itu, terlihat sedang suap-suapan di ruangan lain. Mereka meninggalkan pelaminan untuk makan terlebih dahulu atas usul Xander. Dia harus memastikan ibu dan anaknya sehat, salah satunya ya dengan makan tepat waktu. Sementara pasutri itu tengah makan bersama di salah satu ruangan hotel didekat pantai, Aiden, Natasha, Luna dan Theo sedang duduk sambil menikmati makanan yang tersedia disana.
Luna terlihat anggun, sementara Natasha adalah kebalikannya. Makan saja belepotan dan cenderung bicara ceplas-ceplos, dia anak yang polos.
"Nath, kenapa kau makan seperti itu? Menjijikkan sekali." tegur Theo yang melihat banyaknya belepotan di wajah Natasha karena eskrim coklat.
"Memangnya kenapa? Nanti kan tinggal di bersihkan." kata Natasha dengan santainya, dia tetap melahap eskrimnya tanpa peduli komentar Theo.
"Cobalah kau lihat Luna, dia sangat anggun. Makan eskrim saja dia terlihat rapi dan bersih. Kau harus belajar darinya!" cetus Theo mengomel. Dia membandingkan Luna dengan Natasha, Luna hanya tersenyum dengan perdebatan Theo dan Natasha.
"Biarkan saja, setiap orang punya gaya masing-masing dan ini gayaku dalam memakan eskrim. Yang penting aku bisa melahapnya dengan puas." Natasha tersenyum lebar, tak peduli dengan belepotan di sudut bibir dan pipinya.
"Ish...aku jijik melihatnya." Theo beranjak dari tempat duduknya lalu dia mengambil tisu di atas meja yang ada disana. Saat Theo hendak mengusap noda di wajah Natasha, Aiden langsung merebut tisu itu dan malah dia yang mengusap noda eskrim di wajah Natasha dengan kasar.
Sontak saja Luna kesal melihatnya dan Theo terheran-heran karena sikap Aiden yang tidak bisa ditebak nya itu.
"Hey! Apa yang kau lakukan Aiden?" sentak Natasha kesal karena Aiden mengusap wajahnya dengan kasar. "Ish...sakit tau!"
"Karena aku jijik, aku tidak suka ada yang menjijikan didepan mataku." ketus anak laki-laki itu dengan cueknya, dia langsung membuang tisu itu ke tempat sampai setelah yakin bahwa wajah Natasha sudah bersih.
"Kau memang menyebalkan, huh! Aku tidak menjadikanmu jodohku, aku ingin pria yang hangat dan perhatian!" cetus Natasha dengan bibir yang mencebik.
"Aku juga tidak mau tuh denganmu." ketus anak laki-laki itu pada Natasha. Mereka pun saling memalingkan wajahnya satu sama lain, persis seperti anak kecil yang bertengkar.
****
Di salah satu restoran di hotel, Zeevana dan Xander masih menikmati makanan mereka sebelum mereka kembali ke tempat resepsi.
"Apa kau mau tambah lagi, sweetie?" tanya Xander pada istrinya.
"Ini sudah cukup bunny, aku sudah kenyang." ucap Zeevana sambil menggelengkan kepalanya, agar Xander menyudahi untuk menyuapinya. Dia sudah merasa kenyang, bahkan perutnya juga sudah penuh.
"Benarkah? Jangan coba berbohong kepadaku ya!" seru Xander seraya menatap cintanya dengan penuh kasih sayang.
"Iya, aku sudah kenyang." jawab Zeevana sambil tersenyum lebar. "Mari kita kembali ke pantai, pasti orang-orang udah nungguin kita." ucap Zeevana mengajak suaminya.
"Iya sayang, baiklah."
"Eh...tapi aku mau ke kamar mandi dulu, aku kebelet." Zeevana tiba-tiba pamit ingin pergi ke kamar mandi. Dia kebelet pipis katanya.
"Ya udah, aku temenin ya." tawar Xander perhatian.
"No, kau tunggu disini saja. Aku tak akan lama!" Zeevana meminta suaminya untuk diam saja disana. Akhirnya Xander pun kembali duduk, dia memutuskan untuk menunggu istrinya disana.
Zeevana berjalan sendiri ke toilet wanita yang tak jauh dari restoran hotel tersebut. Dia masih mengenakan gaun pengantinnya yang berwarna putih. Ia berharap saat di kamar mandi,gaunnya ini tidak menghalangi saat akan buang air. Beberapa saat kemudian, Zeevana berhasil buang air dengan susah payah karena gaunnya itu.
"Akhirnya selesai juga... syukurlah hari ini aku tidak mimisan. Semoga saja tidak! Nak, sudah mommy duga...kamu adalah kekuatan mommy." ucap Zeevana sambil mengelus perutnya penuh kasih sayang. Saat wanita itu keluar dari bilik toilet, tiba-tiba saja seseorang mencekik Zeevana dan Zeevana tak sempat melawannya.
"Kkkeuhhh...lepas..."
"Ssstt...diamlah, jalangg." bisik wanita itu pada Zeevana.
"Kak Tessa? KAU--" mata Zeevana terbelalak manakala dia menyadari siapa yang sudah mencengkram lehernya. Bahkan satu tangannya memegang pisau yang tajam seperti baru di asah.
"Diam dan ikut aku. Atau bayimu akan mati." ancam Tessa dengan menyodorkan pisaunya ke arah perut Zeevana.
"Kau mau apa? Jangan berbuat bodoh, semua orang ada disini dan kau akan ditangkap sebelum berbuat macam-macam." ucap Zeevana berusaha untuk tidak takut dengan Tessa. Dia sebenarnya tidak menyangka bahwa Tessa akan melakukan ini padanya.
"Sebelum mereka menyelamatkanmu, kau mungkin akan mati ditanganku lebih dulu Zeevana JALANGG!" sentak Tessa dengan cengkraman yang semakin kuat pada leher Zeevana.
"Sudahlah, katakan apa maumu? Aku ingin ini cepat selesai!" tanya Zeevana masih dengan ketenangan yang sama.
"Aku akan katakan setelah kau ikut denganku." kata Tessa sambil tersenyum menyeringai. Dia pun membawa Zeevana keluar dari sana dengan kedua tangan yang diikat. Tessa membawa Zeevana diam-diam ke atas gedung hotel itu. Memang kebetulan sedang tidak ada orang disana yang melihat mereka, tapi jangan lupakan kamera CCTV disana.
Zeevana juga menurut dulu pada Tessa, dia ingin tau apa yang akan dilakukan oleh mantan kekasih suaminya itu. Ia yakin sebelum Tessa melakukan sesuatu, Xander akan datang menyelamatkannya lebih dulu.
****
Di tempat resepsi pernikahan pinggir pantai, orang-orang masih berdatangan untuk memberikan ucapan selamat. Bahkan Axel saja datang ke acara pernikahan Xander dan Zeevana, ia datang bersama dengan Prisa. Ya, Axel dan Prisa sekretarisnya sudah menjalin hubungan kurang lebih 2 bulan yang lalu. Prisa menyatakan cintanya lebih dulu dan sebagai catatan mereka sudah menikah walau belum mengadakan resepsi. Prisa diketahui sudah hamil 2 Minggu. Sungguh perkembangan hubungan yang cepat untuk keduanya.
Prisa datang untuk mengobati luka hati Axel dan pria itu menerimanya dengan senang hati, meski Prisa adalah seorang janda. Ia tidak merasa keberatan dengan semua itu.
"Oh ya, uncle Javier, aunty Savana, dimana Zee dan Xander? Aku tidak melihat mereka." kata Axel pada kedua orang tua Zeevana.
"Mereka sedang makan dulu, mungkin sebentar lagi mereka akan kembali." jawab Savana ramah.
"Savana," suara seorang pria memanggil Savana dan pria itu berjalan mendekatinya sambil membawa kotak kado berwarna merah dan buket bunga mawar merah muda ditangannya.
"Halo Savana, tuan Javier." sapa Jonas ramah.
"Hai Jonas." sapa Savana seraya tersenyum. Melihat istrinya tersenyum pada pria lain, membuat Javier tampak dingin dan kesal.
"Kau tenang saja tuan Javier, aku kesini hanya untuk memberikan selamat pada putrimu. Dan--sekalian memberikan hadiah untuknya. Aku datang bersama dengan cucuku juga." kata Jonas pada Javier yang sedari tadi membuang muka. Javier sama sekali tidak menanggapi niat baik Jonas. Jonas lalu memberikan kotak hadiah itu pada Savana, bersama dengan bunganya juga.
"Kalau bunga ini untukmu, Savana. Kau suka mawar pink, aku ingat." ucap Jonas sambil tersenyum, namun matanya melirik pada Javier.
Savana terkejut, kenapa Jonas bersikap dan berkata seperti ini terlebih lagi didepan suaminya. 'Astaga, apa-apaan dia?'
Savana panik, tapi Jonas tampaknya menikmati raut wajah menyeramkan Javier saat ini..
"Maaf Jonas, tapi aku hanya menerima bunga dari suamiku." kata Savana tegas, melihat suaminya marah ia menjadi tegang.
"Tidak apa-apa sayang, berikan bunganya padaku." ucap Javier berusaha tetap santai. Savana lantas menyerahkan bunga itu pada Javier.
Javier tersenyum, kemudian merusak bunga itu didepan Jonas juga semua orang yang ada disana. Elena dan Mark yang melihatnya begitu terkejut, sebab Javier masih suka cemburu walau sudah tua. Namun tua bukan alasan untuk tidak cemburu bukan? Malahan cemburu adalah sebagian bumbu dari cinta.
"Terima kasih atas bunganya, tapi aku rasa bunga ini lebih cocok untuk diinjak." ketus Javier marah. Tatapannya begitu tajam pada Jonas.
"Hahaha...buahahaha..." Jonas, pria itu malah tertawa. Dia suka melihat Javier marah, lebih tepatnya menggoda pria itu. "Tuan Javier Sanderix, anda tenang saja...saya tidak akan menganggu istri anda. Tapi saya senang melihat anda masih begitu mencintai istri anda," cetus Jonas sambil tertawa-tawa, dia suka sekali menggoda Savana dan Javier.
"Kalau kau sudah selesai, silahkan pergi dari sini." usir Javier ketus.
"Hubby..." Savana memegang tangan suaminya seraya menenangkan emosinya.
"Baiklah baiklah! Aku akan menemui cucuku saja, sekali lagi selamat! Pak tua." Jonas sengaja menekankan kata pak tua pada Javier. Pria itu jelas semakin kesal saat mendengarnya.
Begitu Jonas pergi, Javier bahkan masih marah dan berimbas pada istrinya Savana. Sebisa mungkin Savana berusaha menenangkan emosi suaminya.
"Baby, apa aku tua? Apa aku pria tua?"
"No, kau bukan pria tua...kau priaku, pria paling tampan." Savana merayu sambil memegang tangan suaminya.
"Jujur saja, apa aku memang tua? Aku tak suka kau berbohong."
"Ya, kau memang tua tapi--"
"Sudah kuduga, aku memang tua!" Javier memotong ucapan Savana yang belum selesai. Dia udah marah duluan.
"Ayolah sayang, jangan marah begitu. Kau memang tua, tapi kau jago dalam urusan ranjang dan aku selalu puas." bisik Savana yang begitu sensual ditelinga suaminya. Ucapan sang istri membuat Javier meremang, dia tersipu malu. Beginilah cara meluluhkan Javier, dengan pujian dan kata-kata manis dengan sedikit godaan.
"Savana, nanti kalau ada yang dengar..."
"I don't care hubby. Aku cinta padamu dan kau yang terbaik, entah itu menjadi suami, ayah dan juga dalam memuaskan istri." Savana meraba-raba dada suaminya yang masih berbalut dengan kemeja putih miliknya. Javier terdiam, namun bibirnya tersenyum lebar.
"Come on dad, mom, kalian jangan lupa kalau disini masih ada aku dan yang lain." kata Elena memperingati Daddy dan mommy mudanya itu.
Savana dan Javier langsung melempar senyuman satu sama lain, mereka hampir lupa bahwa dunia bukan hanya milik mereka saja.
****
Lama menunggu istrinya yang tak kunjung tiba, akhirnya Xander menyusul istrinya ke toilet wanita. Ia melihat seorang wanita paruh baya baru saja keluar dari sana.
"Permisi nyonya, apa anda melihat ada seorang wanita memakai gaun pengantin didalam sana?" tanya Xander pada wanita paruh baya itu dengan wajah cemasnya.
"Tidak ada siapapun disana selain saya, tuan." jawab wanita paruh baya itu.
"Apa anda yakin, nyonya?" tanya Xander sekali lagi.
"Iya, saya yakin tidak ada orang lain disana selain saya." jelas wanita paruh baya itu yang membuat Xander semakin cemas.
Setelah itu dia pun bergegas mencari istrinya di sekitar hotel. Merasa ada yang tidak beres, akhirnya Xander menghubungi pihak hotel dan meminta izin untuk mendapatkan rekaman CCTV. Tubuh Xander menegang manakala ia melihat Zeevana dibawa oleh Tessa ke atas gedung dan mengancamnya.
"Tessa, apa yang mau kau lakukan?!" seru Xander geram.
Manager pemilik hotel itu, membantu Xander dan melaporkan tindakan Tessa pada pihak berwajib. Sementara Xander pergi ke atas gedung seorang diri, benar saja ia melihat wanita yang ia cintai berada disana bersama dengan Tessa. Posisi Zeevana terikat oleh tali dan Tessa menodongkan pisau kepadanya.
Aku tau kau pasti akan datang. Batin Zeevana senang.
"Xander, sayang..." sapa Tessa pada pria yang berstatus suami orang itu.
"Tessa, lepaskan istriku!" sentak Xander yang masih berdiri jauh dari Tessa. Dia berusaha untuk mendekati Tessa dan Zeevana.
"Jangan mendekat, kalau kau mendekat...akan ku dorong dia!" Tessa semakin memojokkan Zeevana ke ujung gedung. Ibu hamil itu mulai terlihat tegang, dia kesulitan untuk berlari karena keadaannya saat ini.
Xander panik dan mulai ketar-ketir. "Jangan berani kau menyentuhnya! ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU!"
"Kalau kau membunuhku, maka dia akan mati bersamaku." ancam Tessa sambil tersenyum menyeringai. Lalu dia pun menggores tangan Zeevana dengan pisau.
"Aaakhhh!" pekik wanita itu kesakitan.
"ZEE!" teriak Xander semakin panik, rupanya Tessa main-main dengan ancamannya. Dia melukai Zeevana, lengan putih mulusnya tergores dan berdarah. "Kau sudah gila!"
"Xander sayang-- dengarkan aku. Jika kau ingin aku melepaskannya dan membiarkan dia hidup, maka kau harus bercerai darinya dan menikahiku!!" kata Tessa tegas.
Deg!
Permintaan Tessa sungguh membuat Xander dan Zeevana terkejut bukan main saat mendengarnya. Xander dan Zeevana saling menatap satu kejauhan. Tak lama kemudian, anggota kepolisian dan juga semua keluarga besar Sanderix sudah berada disana.
"Zee!" teriak Savana, Arsen dan Javier cemas melihat kondisi Zeevana saat ini berada di tangan Tessa.
"Bagus, semuanya sudah berkumpul disini. Biar kalian melihatnya juga, takdir Zeevana di jalangg wanita yang sudah merebut cintaku!" Tessa berteriak histeris. Tangannya mencengkram leher Zeevana semakin kuat.
...****...