
...πππ...
Tessa tidak membiarkan Xander pergi begitu saja, wanita itu mengejar mantan kekasihnya. Kedatangan dia kemari adalah untuk bicara dengan Xander, namun dia tidak menyangka bertemu dengan Zeevana lagi disana. Dia tidak tahu bahwa Zeevana dan Xander sudah kembali bersama.
"Xander sayang, kau mau kemana? Aku perlu bicara denganmu!" Tessa dengan genitnya memegang tangan Xander. Pria itu menepisnya dengan cepat, bagi Xander kehadiran Tessa adalah bencana besar yang bisa merusak hubungannya dan Zeevana. Soal Aiden yang masih hidup pun dia belum tau.
"Kenapa kau ada disini?"
"Sayang--jadi kau penasaran kenapa aku disini? Kau sangat merindukanku bukan?" tanya Tessa dengan senyuman manisnya itu yang sama sekali tidak membuat Xander tertarik.
"Jangan percaya diri! Aku bertanya karena aku takut kau punya niat jahat pada Zeevana dan aku!" sentak Xander lalu dia melangkah pergi dari sana dan lagi-lagi Tessa mencegahnya.
"Xander, apa kau kembali bersama wanita itu? Kita harus bicara Xander!"
"Lepaskan aku Tessa!!" teriak Xander lalu mendorong tubuh Tessa hingga terbentur ke tembok. Xander tidak peduli, ia memikirkan Zeevana saat ini karena nampaknya Zeevana salah paham mengira dia bertemu dengan Tessa disini.
"Kalau kau tak mau bicara padaku, lihat aja apa yang akan terjadi lusa nanti!" seru Tessa mengancam, tapi sayangnya Xander sudah pergi jauh. Entah pria itu mendengar atau tidak ucapan Tessa padanya. Tessa terlihat kesal, lihat saja apa yang akan dia lakukan besok.
Saat Tessa sedang berjalan di lorong, wanita itu berpapasan dengan Laura dan Rachel yang kebetulan akan pergi ke toilet. Mereka berdua mengenali Tessa, bahkan Rachel langsung menjambak rambut panjang wanita itu.
"Hey! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tiba-tiba menjambak rambutku?!" serka Tessa dengan kesal. Saat dia melihat siapa yang menjambaknya, dia mengenalinya.
"Kau? Keponakan si jalangg itu?" Tessa tersenyum miring.
"Apa kau bilang? Siapa yang jalangg disini? Dasar Tessakor!" Laura membela temannya, dia menatap tajam pada Tessa.
"Biar ku tebak, kau datang kemari untuk merecoki hubungan uncle dan auntyku! Kau benar-benar tidak pantang menyerah ya...apa yang harus aku lakukan padamu?" Rachel mendorong Tessa dengan kasar. Wanita itu meringis kesakitan karena rambutnya di jambak Rachel, tadi di jambak Zeevana juga. Rambutnya sudah kusut dan tak berbentuk.
"Rach, bagaimana kalau kita lakukan sesuatu padanya sebagai akhir pesta lajangmu! Ini pasti akan menyenangkan bukan." kedua wanita itu tersenyum menyeringai.
"A-apa yang kalian lakukan? Dasar anak ingusan!" seru Tessa pada kedua wanita itu.
Tak lama kemudian Agatha dan Vivian datang juga kesana, ikut meramaikan suasana. Mereka berempat mengeroyok Tessa dan terakhir mereka mengunci Tessa di toilet dengan keadaan basah kuyup.
"Kalian benar-benar keterlaluan! Aku akan melaporkan kalian pada pihak berwajib!" teriak Tessa dari salah satu bilik toilet.
"Lakukan saja! Kami tidak takut haha." Laura dan ketiga temannya itu tertawa-tawa dan menganggap ancaman Tessa sebagai hal remeh.
"Ini hadiah pesta lajang yang terbaik, judulnya melawan bibit pelakor. Hahaha..." kata Rachel dengan tawa puasnya. Dari dulu dia ingin melakukan ini pada Tessa, tapi tidak sempat karena wanita itu menghilang. Rachel teringat dengan aunty-nya yang dibuat terluka oleh Tessa dan Xander. Sebenarnya dalam hati, Rachel masih belum menerima Xander. Jika Rachel jadi Zeevana, mungkin ia tidak mau bersama pria yang sudah menyakitinya begitu dalam. Tapi apa yang bisa Rachel perbuat? Zeevana terlalu baik menurutnya dan hati setiap orang berbeda-beda. Rachel bukanlah pemaaf, jika Robby sampai seperti itu. Rachel akan langsung berpisah darinya dan tak mau kembali lagi.
"Ayo guys, kita tinggalkan saja si pelakor ini disini. Kita pergi ke rumah Rachel sekarang." ajak Laura pada Rachel dan kedua temannya yang lain.
"BRENGSEK!" umpat Tessa sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.
"Bukankah dia sangat berisik, lebih baik kita sumpal saja mulutnya!" cetus Vivian memberikan ide. Jangan salah Vivian paling bersemangat melawan pelakor, dulu saja Vivian pernah membuat mantan kekasih dan pelakornya malu didepan umum.
"Idemu sangat bagus, baiklah aku akan menyumpalnya!" sahut Rachel yang sudah bersiap membuka pintu bilik toilet wanita itu, namun Vivian menahannya.
"Jangan! Biar aku saja, kebetulan aku punya ini..." Vivian menunjukkan selotip besar dari dalam tasnya. Ketiga temannya terperangah melihat Vivian membawa selotip.
"Untuk apa kau membawa bawa selotip?" tanya Agatha heran.
"Ini adalah salah satu benda yang diperuntukkan untuk JALANGG macam dia." dagu Vivian mengarah pada bilik toilet yang ada Tessa disana. Kemudian wanita itu tersenyum psikopat.
"Woah kau hebat sekali! Bagus-bagus! Kau sudah siap siaga untuk melawan pelakor." Laura dan Rachel bertepuk tangan dengan kepiawaian Vivian membawa benda itu.
Vivian dengan senang hati menyumpal mulut Tessa dengan selotip yang dibawanya. Bahkan ia juga membawa-bawa pisau, cutter, cairan cabe dan tali di tasnya. Wanita bernama Vivian ini memang siap siaga. Setelah membuat Tessa tak berdaya, mereka bertempat pergi dari sana begitu saja dengan hati senang.
"Ngomong-ngomong dimana Zee? Jangan-jangan tadi dia sudah bertemu dengan si jalangg?" tanya Agatha yang tidak melihat Zeevana lagi setelah gadis itu izin pergi ke kamar mandi.
"Dia pasti sudah bertemu dengannya. Mungkin dia kesal lalu pulang." sahut Vivian.
Laura dan Rachel tampak diam, sepertinya mereka setuju dengan apa yang dikatakan oleh Vivian. Mereka berjalan keluar dari club' tersebut, lalu Laura dan Rachel sontak terkejut melihat ada Robby dan Arsen disana.
"Kalian?! Sedang apa kalian disini?" tanya Rachel kepada paman dan juga calon suaminya. Kedua pria itu malah nyengir seolah tidak bersalah.
****
Di jalanan lain, Zeevana terlihat kesal dan bingung. Kepalanya berputar karena dia berada dalam pengaruh alkohol. "Dasar uncle bajingan! Ternyata dia janjian disini dengan wanita itu." gerutu Zeevana kesal. "Oh...aku harus mencari taksi."
Gadis itu berjalan sempoyongan, dia lemah terhadap alkohol walau hanya sekedar cokctail saja sudah membuatnya pusing.
"Zee!" seseorang memegang tubuhnya saat Zeevana limbung.
"Sayang kau salah paham, aku akan jelaskan semuanya. Aku dan Tessa tidak--"
Zeevana lantas menutup bibir Xander dengan satu jarinya. "Tidak tidak tidak! Aku tidak mau kau menyebut nama wanita itu dan lau tidak perlu menjelaskan apapun padaku." wanita itu tersenyum hambar.
"Kau mabuk?"
"Tidak! Aku tidak mabuk, apa kau tidak lihat aku ini sedang marah uncle? Aku--ma--rah!" kata Zeevana seraya mendorong tubuh Xander yang memegangnya. Gadis itu kembali roboh, beruntung Xander kembali memeganginya.
"Ya baiklah--aku tahu kau marah tapi kau imut. Sudahlah, lebih baik kita pulang sekarang. Bukankah percuma jika bicara dengan orang mabuk?" gumam Xander sambil menggandeng tangan Zeevana. Namun gadis itu menepisnya.
"Zee, ayo pulang!" Xander menahan pergelangan tangan Zeevana.
"No! Aku tak mau pulang denganmu, aku tak mau...kau pulang saja bersama si tisu." ucap gadis itu dengan raut wajah konyol dan mata memicing. Xander gemas melihat Zeevana mabuk, ini kedua kalinya dia melihat gadis itu kehilangan akal. Dan yang pertama saat Zeevana SMA, setelah bermain bersama Dave. Saat itu hampir saja Zeevana di gagahi okeh Dave kalau bukan karena Xander yang menolongnya.
Zeevana melepaskan sepatu heelsnya dan melempar ke sembarang arah. Xander mengambil sepatu Zeevana, lalu saat ia mencoba memegang tangan Zeevana lagi, gadis itu sudah pergi ke restoran seafood.
"Zee, apa yang kau lakukan?!"
Xander terkejut saat melihat Zeevana sedang mengambil cumi-cumi hidup dari akuarium yang ada di luar restoran itu. Hingga si pemilik restoran seafood itu keluar dari restorannya.
"Nona! Apa yang kau lakukan?" tanya si pemilik restoran.
"Wah...ini pasti sangat enak, aku mau cumi." wanita itu hendak memasukkan cumi ke dalam mulutnya, namun Xander langsung mengambil cumi itu dan meletakkannya kembali ke dalam akuarium.
"Maafkan saya tuan, istri saya mabuk." ucap Xander pada pemilik restoran itu.
"Tolong jaga istrimu itu."
"Jangan marah, saya akan membayar untuk cumi ini...maafkan saya." Xander memohon maaf kepada si pemilik restoran itu kemudian dia mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan dia berikan kepada si pemilik restoran.
Setelah membayar ganti rugi, meski cuminya tidak apa-apa. Xander mencari Zeevana yang sudah menghilang lagi.
"Zee! Astaga!" pekik Xander saat melihat istrinya sedang menaiki mobil-mobilan di depan toko mainan.
"Bum...bum...Aiden lihatlah mommy, mommy bisa mengendarai mobil. Bum...bum..." Zeevana tersenyum lebar, sambil memegang setir kemudi mobil-mobilan itu. Padahal mobilnya tidak bergerak, tapi fantasi Zeevana merasa bahwa mobil itu melaju kencang.
Lagi-lagi Xander harus meminta maaf kepada si pemilik toko karena tingkah Zeevana. "Maafkan saya tuan...maaf." kata Xander tak enak hati. Dia memegang tangan Zeevana dan satu tangannya lagi memegang heels milik istrinya. Dia sangat kerepotan.
"Urus istrimu tuan!" ujar si pemilik toko kesal.
"Zee, ayo pulang..."
"Aku tidak mau, aku mau cumi...aku mau naik mobil, sekarang aku mau permen." ucap Zeevana dengan bibir yang mengerucut. Sial! Zeevana sangat imut di mata Xander. Xander tidak menyangka bahwa Zeevana sangat imut saat mabuk.
"Ya, nanti aku akan belikan cumi, nanti aku ajak kau naik mobil, juga makan permen. Sekarang ayo kita pulang!" ajak Xander membujuk.
"Tak mau!" gadis itu menggelengkan kepalanya.
Terpaksa pria itu menaikkan Zeevana ke punggungnya dengan susah payah karena Zeevana tidak mau diam. Xander terkekeh melihat istrinya seperti ini. Ya, mungkin setelah Zeevana sadar barulah dia bisa bicara dengannya. Tapi sekarang ada satu hal yang membuat Xander penasaran dan dia tidak tahan untuk menanyakannya.
"Zee, apa kau cemburu?"
"Pada siapa?"
"Aku dan Tessa."
"Bukan cemburu, tapi marah...MA-RAH." kata gadis itu dengan bibir memanyun sedari tadi.
Xander terdiam, namun bibirnya tersenyum. Ya, setidaknya dia menyadari bahwa Zeevana memang cemburu padanya. Itu artinya Zeevana masih mencintainya.
Kondisi Zeevana yang mabuk tidak memungkinkan untuk Xander membawanya pulang. Apa nanti kata Aiden dan apa yang akan di pikirkan semua orang di rumah? Akhirnya Xander membawa Zeevana ke apartemen yang dulu dia tempati di Chicago.
Sesampainya disana, ia membaringkan tubuh Zeevana ke atas ranjang. "Aku memaafkanmu karena kau imut, paham?"
Saat Xander akan pergi mengambil minuman untuk Zeevana agar meredakan mabuknya. Tiba-tiba saja tangannya ada yang menarik dan tubuhnya terjatuh di atas tubuh Zeevana.
"I love you uncle.."
Xander terkesiap manakala Zeevana membungkam bibirnya dengan ciuman basah di bibir.
...****...