
...πππ...
Terbukti sudah Xander berkhianat pada istrinya, tepat didepan mata kepala Zeevana sendiri. Ia melihat semuanya dan dia yakin wanita berambut pendek itu adalah--orang dari masa lalu Xander yaitu Tessa. Bukan hanya yakin, tapi saat wanita itu membalikkan badan. Wajahnya terlihat jelas, dia adalah Tessa. Tapi kenapa Xander bersama dengan Tessa? Bukankah hubungan mereka sudah lama berakhir?
Zeevana pergi begitu saja dari sana, tanpa ingin melihat lebih dalam lagi. Sakit hati membuat Zeevana tidak bisa berpikir panjang dan jernih. Ia tidak berpikir bahwa semua ada penjelasannya.
"Kau berbohong dengan sangat baik Xander, atau mungkin istrimu terlalu bodoh untuk mencerna semuanya. Bahwa kau telah berselingkuh darinya, denganku." kata Tessa seraya tersenyum menyeringai.
"Aku tidak pernah berselingkuh! Kau yang menjebakku berada didalam situasi seperti ini. Jika bukan karena foto dan video itu, aku tidak akan pernah ada disini bersamamu." ucap Xander marah. Entah apa foto dan video yang mereka bicarakan. Tapi foto dan video yang disebutkan itu bisa membuat seorang Xander ketakutan.
"Tapi sayang--kita benar-benar sudah melakukan itu tepat 1 bulan setelah kau menikah dengan istri kecilmu itu. Dan juga kau menikmati tubuhku, bukan? Itu faktanya! Dan kau jangan macam-macam denganku, sebab aku bisa menyebarkan video dan foto-foto ini. Lalu istrimu--dia pasti..."
"Hentikan ini! Kita sudah selesai makan kan? Aku harus pulang." ujar Xander seraya berdiri dari tempat duduknya.
"Kenapa? Kau tidak mau menemaniku dulu?" Tessa tersenyum genit para Xander.
'Xander, apa kau tidak sadar? Bahwa kau sudah berselingkuh darinya? Kau sering meninggalkan dia untukku. Dan aku berharap dia sekarang sudah tau semuanya dan mencurigaimu' batin Tessa.
"Tidak! Dan Tessa--aku selalu memenuhi keinginanmu, jadi kau jangan pernah menyebarkan video dan foto-foto itu."
"Tidak! Kau belum memenuhi semua keinginanku. Kau belum mau tidur denganku," ucap Tessa.
"Itu tidak akan pernah terjadi!" sanggah Xander, lalu ia pergi meninggalkan Tessa seorang diri disana. Tessa tersenyum menyeringai, ia suka melihat Xander sering menemuinya dan mengabaikan istrinya tanpa sadar hanya karena takut pada video syur dan foto bugil mereka berdua satu bulan yang lalu. Itulah kartu As Tessa untuk membuat Xander menuruti keinginannya.
Di dalam mobil, dalam perjalanan pulang ke apartemennya dan Zeevana. Xander terlihat tertekan, ia selalu banyak pikiran dan merasa bersalah setiap melihat istrinya yang selalu sabar dan lembut menghadapinya. Istri yang sudah mengatakan bahwa wanita itu mencintai dirinya. Tapi jujur, ia memang belum bisa. Pernikahan ini hanya bentuk tanggungjawabnya sebagai ayah si bayi. Entah kenapa dia belum merasakan perasaan itu pada Zeevana, padahal gadis itu baik dan korbannya. Kalau pada Tessa, jujur ia sudah tidak ada rasa. Yang ada hanya jijik, tapi disisi lain Xander takut Tessa membongkar video dan foto itu pada Zeevana.
Xander sengaja menuruti keinginan Tessa, dia memang datang ke apartemen gadis itu. Tapi itu semua karena dia ingin menghapus video juga foto-foto tersebut. Percayalah, Xander sudah mencoba menghapusnya di komputer, laptop Tessa secara diam-diam. Namun Tessa mempunyai banyak cadangan file.
"Sial! Sial! Kau bajingan Xander! Bajingan!" Xander memukul-mukul stirnya dengan emosi. "Kenapa kau bisa terjebak seperti ini Xander? Kenapa?!"
Pria itu selalu terluka dan merasa bersalah ketika ia mengingat 1 bulan setelah pernikahannya dan Zeevana, saat ia berada di Paris. Ia tergoda oleh kemolekan tubuh Tessa dan melakukan kesalahannya yang sama saat mabuk. Xander tidur dengan Tessa, lalu diancam oleh gadis itu dengan video dan foto-foto.
"Maafkan aku Zee, maafkan aku...saat itu aku khilaf! Maaf..." lirih Xander penuh penyesalan.
****
"Sayang, baby-ku...aku pulang!" sapa Xander seperti biasanya. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen itu dan melihat istrinya tengah duduk sambil di sofa sambil memainkan ponselnya. Xander heran, biasanya saat ia datang. Zeevana akan menyambut dirinya dengan banyak pertanyaan, tapi ini tidak.
Xander menghampiri istrinya dan mengambil tempat duduk kosong di sampingnya. Tangan Xander terulur memegang kening Zeevana, dengan cepat wanita itu menyusulnya.
"Sayang, kau kenapa? Aku hanya ingin mengecek keadaanmu saja."
"Uncle lapar kan? Sebentar aku siapkan makan dulu, sambil menunggu makanan siap...pergi mandilah." ujar Zeevana ketus dan membuat Xander semakin heran. Ada yang berbeda dari istrinya dan Xander yakin itu.
"Sayang--apa kau baik-baik saja?" tangan Xander terulur lagi untuk memegang istrinya. Tapi lagi-lagi Zeevana menepisnya.
"Aku baik-baik saja, hanya saja aku tidak mau dekat-dekat denganmu." ketus Zeevana dengan dada yang naik turun menahan marah.
Tiba-tiba saja Xander memeluk istrinya dengan erat, tanpa Zeevana sempat untuk berontak. "Lepaskan aku uncle!"
"Ada apa? Apa aku membuatmu marah? Maafkan aku sayang, aku--aku tidak tahu salahku apa. Maka dari itu, tolong katakan." pinta Xander lembut, namun malah membuat Zeevana semakin sakit hati mengingat semua bukti yang sudah ia temukan.
"Uncle tidak salah apapun....hanya saja aku ingin uncle untuk tidak menjilat ludah sendiri."
"Apa maksudmu?" Xander mengurai pelukannya kemudian dia menatap Zeevana dengan dalam penuh tanya.
"Kalau sudah tidak ada 3 K lagi dalam hubungan kita, kalau kau sudah tidak bisa menepati janjimu...kau akan membiarkanku dan anak kita pergi."
Xander langsung merinding, sorot matanya bergetar saat mendengar ucapan Zeevana yang seperti ancaman. "Zee, kenapa kau bicara seperti ini? A-apa yang terjadi?"
"Kau bisa tanya pada dirimu sendiri, apa yang terjadi. Kau berubah selama 2 bulan ini uncle, kau lebih sering berada di luar. Ya--aku tau, meskipun tidak ada cinta, seharusnya kau bisa sedikit menghargai perasaanku uncle." air mata wanita itu luruh begitu saja membasahi wajahnya. Lalu ia melemparkan bungkus pengaman, sebelah anting wanita dan kemeja Xander ke wajah pria itu dengan marah. Soal anting, Zeevana menemukannya saat mengepakkan kemeja suaminya.
"Jelaskan! Dengan masuk akal, kenapa bisa ada kedua benda itu di saku kemejamu?!" teriak Zeevana emosi. Xander terdiam memaku, entah apa yang akan dia katakan tentang semua ini. Wajah pria itu nampak bingung, seperti sama sekali tidak tahu kenapa kedua benda itu ada disana.
...*****...
Sabar-sabar ya πͺ aku kasih pahit dulu baru manis...π€§